Share

Bab 98

Author: Felix Harrington
Eric berkata, "Orang yang kusuruh kamu habisi itu adalah anak muda berusia 20-an, baru lulus kuliah, namanya Ryan. Dia membuat keluargaku hancur, aku harus melenyapkannya!"

Davin merasa waswas dalam hati. "Pak Eric, menghabisi orang itu urusan besar. Risikonya sangat tinggi. Kalau nggak terpaksa sekali, aku nggak menyarankanmu melakukan itu."

Perlu diingat, kalau menyuruhnya berkelahi atau melukai seseorang itu masih bukan masalah besar. Bahkan, kalaupun harus membuat lawan lumpuh, dia masih ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 609

    "Oke!" Vania juga meneguk sedikit air, lalu menarik kursi dan duduk."Ryan, sudah terlalu malam. Di sini susah cari taksi. Malam ini jangan pulang dulu," kata Vania. "Nanti kamar Chaziel aku rapikan, kamu bisa tidur di sana."Sudah lewat pukul 1 dini hari. Ryan juga merasa lelah dan tidak ingin repot pulang, jadi dia mengangguk.Vania bangkit dan pergi ke kamar Chaziel untuk membersihkannya. Namun, dia baru sadar bahwa dirinya meremehkan tingkat berantakannya kamar itu.Di atas ranjang dan selimut ada banyak noda, entah cat atau apa. Terlihat sangat kotor dan berantakan.Biasanya Chaziel tidak mengizinkannya masuk ke kamar, jadi dia tidak tahu kondisinya seperti ini.Ryan ikut mendekat dan mengernyit. "Ini parah sekali.""Sudahlah, malam ini kamu tidur di kamarku saja. Aku yang tidur di kamar dia," kata Vania."Jangan begitu dong," kata Ryan. "Aku bisa tidur seadanya saja di sini.""Jangan!" tolak Vania. "Hari ini aku sudah merasa nggak enak sekali. Turuti saja aku. Cepat tidur di kama

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 608

    "Ah! Kalau begitu, aku bereskan sofa saja!"Vania tersadar dan merasa sangat canggung, lalu buru-buru merespons, "Oh!"Ryan melepaskan tangannya, menggaruk belakang kepala, lalu lanjut memungut botol-botol bir. Keduanya bekerja sama. Setelah lebih dari satu jam, akhirnya rumah itu kembali bersih."Ryan, bajumu kotor karena aku. Kasih ke aku saja, sekalian aku cuci," kata Vania.Sebelumnya kemeja Ryan terkena lipstiknya dan sekarang karena membantu membereskan rumah, juga terkena noda lain. Dia merasa tidak enak hati."Nggak perlu, Bu Vania ... eh, Kak Vania," kata Ryan. "Aku pulang saja dan cuci pakai mesin.""Noda lipstik nggak bisa hilang dengan mesin cuci, harus dicuci tangan," jelas Vania sambil membantu membuka kancing kemejanya. "Biar aku saja yang mencucinya!"Melihat Vania begitu bersemangat, Ryan sulit menolak. "Baiklah, biar aku lepas sendiri."Ryan melepas kemejanya. Di dalam, dia mengenakan kaus dalam putih tanpa lengan. Dada bidang dan lengannya yang kekar terlihat jelas.

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 607

    Busa bir mengalir dari kedua sudut bibir gadis itu. Warna putih susunya membuat orang berimajinasi liar.Kamar Chaziel berada serong menghadap pintu utama. Sekilas pandang, Vania melihat ke dalam kamar. Chaziel sedang bermesraan dengan seorang gadis. Dia menindih gadis itu di atas ranjang. Keduanya berciuman dengan penuh gairah, seolah-olah lupa diri.Pemandangan itu membuat kulit kepala Vania terasa kesemutan. Orang-orang di dalam rumah yang melihat Vania masuk pun terdiam. Namun, tidak ada sedikit pun rasa bersalah atau panik di wajah mereka, malah tersirat ejekan.Melihat rumah yang berantakan, wajah Vania memerah karena marah. Dengan seluruh tenaganya, dia berteriak keras, "Keluar! Kalian semua keluar!""Ibu?" Detik berikutnya, Chaziel buru-buru keluar dari kamar dan terkejut. "Kenapa Ibu pulang jam segini? Bukannya Ibu kerja?"Melihat pemandangan di depannya, wajah Vania pucat karena marah. Giginya bergemeletuk. "Chaziel, bukankah sudah kubilang jangan bawa mereka pulang?"Chaziel

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 606

    "Ah!" Vania berteriak kaget.Namun, mobil masih berguncang keras, membuat Vania sama sekali tidak bisa duduk dengan stabil. Kedua tangannya menekan bahu Ryan, ingin melepaskan diri, tetapi tubuhnya terhuyung kembali oleh guncangan dan sekali lagi menabrak pelukan Ryan.Ryan sudah berhasil menstabilkan diri. Kedua kakinya menahan kuat di bawah. Satu tangannya memegang pinggang Vania, sebisa mungkin menjaga tubuhnya tetap seimbang. Dia bertanya kepada sopir di depan, "Pak, ada apa?""Ketemu orang goblok! Hampir saja tabrakan!" teriak sopir."Pelan saja, nggak perlu terburu-buru," kata Ryan.Saat itu, Vania juga sudah duduk tegak kembali. Dia melihat di kerah kemeja putih Ryan ada noda merah. Kemungkinan lipstiknya tanpa sengaja menempel di sana. Dia buru-buru berkata, "Ryan, maaf ya, bajumu jadi kotor.""Nggak apa-apa, Kak Vania!" Ryan memanggilnya dengan lancar, lalu bertanya, "Kamu nggak terbentur, 'kan?"Vania menyibakkan rambutnya yang berantakan dan tersenyum lembut. "Aku nggak apa-

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 605

    "Apa?"Vania mengira dirinya salah dengar.Kenny berkata, "Bu Vania adalah guru Ryan, tentu saja aku harus memberi lampu hijau untukmu. Kalau kamu merasa nggak masalah, istirahatlah beberapa hari, lalu datang bekerja di tempatku. Tentu saja di perusahaanku, nggak ada yang berani menyentuhmu sedikit pun!"Vania terharu sampai matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, terima kasih!"Kenny berkata, "Kalau mau berterima kasih, berterima kasihlah pada sahabatku. Pengaruhnya besar sekali! Hahaha!"Untuk sesaat, Vania tidak tahu harus bagaimana berterima kasih pada Ryan. "Hubungan kalian benar-benar dekat ya!"Kenny tertawa keras. "Hahaha, tentu saja! Kayak lirik lagu itu. Ada kehidupan ini, di kehidupan ini jadi saudara. Kalau nggak ada kehidupan berikutnya, di kehidupan berikutnya merindukanmu! Benar nggak, Ryan?""Hahaha!" Ryan juga ikut tertawa karena digodanya."Sudah larut, biar aku antar kalian pulang!" kata Kenny. "Aku sudah pesan sopir pengganti!"Ryan berkata, "Nggak perlu, nggak searah.

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 604

    Saat itu, di ruang VIP lantai dua.Melihat pemandangan itu, hati Merly terasa sangat lega, seolah-olah beban yang menekan dadanya akhirnya terlepas."Mantap!" Mata besar Merly berkedip-kedip. Wajah cantiknya tampak semakin memesona karena suasana hatinya yang sedang baik."Kak Darshen, kamu harus percaya, dunia ini tetap dunia yang adil! Lihat saja, Ryan bukan hanya menghajar para penjahat itu, tapi juga bisa pergi tanpa terluka. Benar-benar memuaskan!"Kesan Merly terhadap Ryan pun meningkat drastis. Namun saat ini, Darshen justru menggertakkan giginya karena marah.Malam ini dia dipermalukan berkali-kali. Hatinya sangat kesal. Ketika tahu bahwa orang yang mempermalukannya di bawah tadi adalah Ryan, dia semakin murka.Kalau bukan karena Ryan, mungkin rencana Tigor sudah berhasil. Dia juga tidak perlu menanggung tekanan sebesar ini dan mati-matian melawan Waterfall Group.'Ryan ini, cepat atau lambat akan kubunuh.' Meskipun berpikir demikian, Darshen tidak menunjukkannya. Dia tersenyum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status