LOGINMalam itu suasana sepi. Semua penghuni rumah tersebut berada di kamar masing-masing, kecuali Ariyan. Zelena sedang duduk di tepi tempat tidur. Sebuah album foto tebal berada di pangkuannya. Ia sedang memandangi foto-foto lama, lembar demi lembar, mencari ketenangan di masa lalu. Jeandra yang baru saja keluar dari kamar mandi berjalan mendekati Zelena. "Sayang, Ari belum pulang?" tanya Jeandra pelan sambil melirik jam di dinding. Malam sudah larut. Zelena mengesah kecil. Sepasang matanya masih terpaku pada sebuah foto bayi mungil yang sedang tertawa. "Belum, Papa Je. Katanya masih ada berkas proyek yang harus diselesaikan. Akhir-akhir ini dia memang jadi gila kerja." Jeandra duduk di samping Zelena, merangkul bahu istrinya dan ikut melihat album foto itu. "Mungkin dia lagi semangat-semangatnya membuktikan diri. Usia 24 tahun dengan kesuksesan seperti itu nggak semua orang bisa. Dia memang anak yang luar biasa." Zelena tersenyum tipis. Tangannya mengelus foto Ariyan saat bal
Mobil yang dikendarai Ariyan memasuki halaman rumah. Sedangkan di dalam rumah sana Zelena dan Jeandra sudah menunggu. Pintu terbuka. Sosok Aira melangkah masuk dengan aura yang benar-benar berbeda. Zelena sedikit terpaku. Putrinya bukan lagi gadis remaja yang ia kirim ke Brazil empat belas tahun yang lalu. Aira kini adalah wanita dewasa yang memesona, dengan tatapan mata yang seolah bisa membaca setiap pikiran mereka. "Kakak..." Zelena memberi senyum lalu memeluk sang putri, merasakan parfum mahal yang asing dari tubuh wanita itu. "Selamat datang di rumah, Sayang. Mama sama Papa kangen kamu,” ucapnya tulus. "Makasih, Ma. Aku juga kangen sama semua orang di sini," jawab Aira singkat. Ia membalas pelukan Zelena, lalu pindah pada Jeandra. "Papa, apa kabar?" Jeandra membalas pelukan Aira sekenanya karena ia tahu anak gadisnya itu sudah dewasa. “Kabar baik. Gimana penerbangannya?” “Lancar, Pa. Nggak ada masalah.” “Syukurlah.” Zelena merasa ada yang kurang. Ia tidak melihat cal
Sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata betapa hancurnya hati Zivanya menyaksikan adegan mesra laki-laki yang dicintainya dengan perempuan lain di depan matanya sendiri.Ia mengusap matanya yang bertelaga sebelum bulir-bulir bening itu jatuh menuruni pipinya.“Ariyan,” panggilnya sambil menyentuh punggung lelaki itu, yang membuat Ariyan segera tersadar dan mengurai pagutan bibirnya dari Aira.“Eh, ada Zivanya.” Aira yang merespons. “Maaf ya, Ziva. Habisnya Ariyan terlalu kangen sama kakaknya,” lanjut Aira dengan nada bicara yang ringan, seolah-olah apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah candaan hangat antar keluarga. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.Ariyan memutar tubuh. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Ia malah menatap Zivana dengan pandangan yang asing, seolah perempuan di depannya hanyalah orang asing yang kebetulan lewat, bukan tunangannya.“Aku nggak bisa ngantar kamu pulang. Aku panggilin taksi,” ucapnya pada Zivanya.Zivanya menggeleng. Ia butuh penj
Pasca kejadian hari itu, Ariyan tidak pernah bertingkah lagi. Ia menjadi anak yang sangat penurut dan tekun dalam studinya.Setelah tamat SMU, Ariyan melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Padahal tadinya Jeandra dan Zelena tidak keberatan jika anak itu ingin kuliah di luar negeri. Zelena tidak ingin mengekang, apalagi untuk pendidikan Ariyan. Tapi entah mengapa sang putra satu-satunya memilih Indonesia. Sangat berbeda dengan teman-teman seangkatannya.Tanpa ada yang mengarahkan, Ariyan mengambil jurusan teknik sipil, sama seperti Jeandra. Di sela-sela jadwal kuliahnya, Ariyan mulai belajar dari Jeandra cara mengelola perusahaan. Kalau ada waktu luang ia akan ikut dengan Jeandra ke lokasi proyek, bertemu klien, atau sekadar ikut mendampingi Jeandra dalam rapat-rapat strategis di kantor pusat. Bagi Jeandra, melihat Ariyan yang begitu bersemangat mendalami dunia konstruksi adalah kebanggaan luar biasa. Ia melihat replika dirinya yang lebih muda, namun d
Ariyan menyambar ponsel Zelena dengan cepat. Ia segera menekan nomor Aira dan menghubungi melalui panggilan video. Wajahnya masih merah karena amarah yang tersisa. Cukup lama baru Aira menjawab dengan muka mengantuk karena di sana masih dini hari.“Ariyan? Kenapa nelpon jam segini?”"Kak, Mama udah di sini. Ini lagi sama aku. Sekarang batalkan kuliah S3-nya. Pulang ke Indonesia sekarang. Mama udah setuju. Nggak ada yang bisa maksa-maksa Kakak lagi!" ucap Ariyan dengan nada mendesak. Zelena hanya bisa mendengarkan dengan perasaan sedih. Kata-kata tajam Ariyan, tuduhan anak itu tentang kopi dan tangannya yang menggebrak meja masih terngiang dengan jelas di telinga Zelena. Ia menunggu kalimat kepulangan dari Aira yang akan semakin menghancurkan hatinya.Namun, di layar ponsel, ekspresi Aira tidak tampak bahagia. Ia malah terlihat tenang, bahkan sedikit menyesal."Ari... tunggu dulu," suara Aira terdengar lembut, sangat kontras dengan teriakan Ariyan sebelumnya."Tunggu apa lagi, Ka
Malam itu Aira tidak bisa tidur. Pikirannya tidak jauh-jauh dari Ariyan. Keesokan harinya setelah membeli handphone baru ia langsung menghubungi adiknya itu.Ariyan awalnya tidak mau menjawab karena masih kecewa. Tapi setelah Aira mengirim pesan permohonan maaf yang menjelaskan kondisinya, barulah Ariyan mau menerima panggilan darinya.“Kangen kamu, Ariyan,” ucap Aira dengan suara dan ekspresi penuh kerinduan. Ariyan hanya diam memandangi Aira di layar.“Masih marah ya sama aku?”Ariyan tetap belum membuka mulut.“Maaf deh, maaf. Aku rencananya, kan, mau kasih surprise. Mana kutahu kalau itu handphone bakalan rusak.”“Kapan kamu pulang?” Mendengar pertanyaan dingin nan menusuk dari Ariyan, Aira menarik napas panjang. Wajahnya berubah sedih."Itu dia masalahnya. Mama ngelarang aku pulang."Dahi Ariyan berkerut dalam. "Maksudnya? Bukannya kamu udah wisuda?”“Udah, tapi Mama maksa aku lanjut S3 di sini.”“Apa? Maksa? Mama udah gila ya?” kaget Ariyan tidak percaya.“Mungkin.” Aira men
“Baik, Pak,” ucap Zelena pasrah. Itu satu-satunya jawaban yang bisa ia berikan tanpa terlihat tidak profesional, atau lebih buruk, emosional.Dani mengangguk puas. “Bagus. Tolong pastikan semuanya jelas. Saya nggak mau ada miskomunikasi soal proyek ini.”Zelena membalas dengan anggukan singkat. Ia
Jeandra tidak serta-merta menjawab. Tatapannya mengikuti arah kepergian Melisa dan Hartono beberapa detik, memastikan pasangan itu benar-benar tidak lagi memerhatikan mereka. Baru setelah itu ia menoleh pada Zelena. “Karena mereka mengenal kita seperti itu,” ucapnya. “Sebagai suami istri yang masi
Jeandra menyentuh pipinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan Zelena. Agaknya mantan istrinya itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menampar Jeandra."Zel ...," erangnya kesakitan. "Aku nggak bermaksud kurang ajar. Tadi aku hanya melakukan pertolongan pertama," ujarnya menjelaskan."Perto
Jeandra sempat terdiam ketika melihat anggukan kecil itu. Tadinya ia pikir Zelena akan menolak mentah-mentah niat baiknya. Tapi ternyata dugaannya salah. “Ayo, Zel,” ajaknya setelah terbangun dari ketermanguan. “Kita ke mana?” “Mall,” jawab Zelena singkat. Jeandra membukakan pintu mobilnya un







