LOGINRentetan suara klakson dari kendaraan di belakang mereka karena lampu hijau sudah menyala membuat keduanya terperanjat.Nayaka memutus ciuman dengan cepat. Ia menarik diri. Napasnya tidak teratur. Bibirnya masih terasa hangat dari bekas sentuhan Kavita, dan itu adalah masalah yang tidak boleh ia pikirkan lebih dari tiga detik.Ia menginjak gas.Kavita terdiam. Tangannya gemetar saat meraih sabuk pengaman dan mengenakannya kembali. Ia tidak berani melirik ke arah Nayaka. Tidak berani berbicara. Alkohol yang tadi terasa mengambang di kepalanya kini seperti diusir paksa oleh sesuatu yang jauh lebih memabukkan sekaligus membekukan, yaitu rasa malu yang menghantam dirinya.Kavita mengalihkan wajah ke jendela, menatap deretan lampu yang melesat, mencoba menjadikan cahaya-cahaya itu sebagai sesuatu yang bisa ia fokuskan agar tidak tenggelam dalam rasa malunya.Hanya saja Kavita tidak habis pikir. Kenapa Nayaka membalas ciumannya?Di balik kemudi, Nayaka tidak membiarkan dirinya berpikir. Itu
Nayaka melirik jam digital di dasbor.23.45.Hanya ada waktu sekitar dua jam sebelum pesawat yang membawa Jeandra dan Zelena menyentuh landasan bandara.Nayaka menghitung cepat dalam kepala. Tiga puluh menit lagi untuk sampai ke kelab, tiga puluh menit untuk mencari dan menyeret Kavita keluar, lalu satu jam untuk memacu mobil ke bandara. Waktunya sangat mepet, nyaris mustahil jika ia harus mengantar Kavita pulang ke rumah terlebih dahulu.Sesampainya di depan kelab malam yang penuh dengan lampu neon mencolok, Nayaka langsung turun. Nayaka mengabaikan sapaan ramah di lobi depan. Ia melewati detektor logam dengan langkah lebar, bahkan tidak sabar saat penjaga memintanya berhenti sejenak untuk diperiksa.Begitu pintu kedap suara kedua terbuka, dentuman musik, bau asap rokok, uap vape, dan alkohol yang tajam menyeruak. Cahaya lampu strobe yang berkedip cepat membuat laki-laki itu merasa sedikit pening, namun matanya dengan tajam menyapu setiap sudut ruangan.Di sebuah sofa VIP yang t
[Ka, aku dan Jeandra pulang ke Indonesia hari ini. Kalau semuanya lancar, kemungkinan tiba di sana jam 2 malam. Nggak usah kasih tahu Aira ya, Ka, Biar dia nggak nunggu.] Pesan itu dikirimkan Zelena pada Nayaka sebelum keberangkatan. Seluruh keluarga besar Jeandra melepas keberangkatan mereka dengan sedikit berat hati karena keduanya hanya sebentar di sana. Tapi setelah Jeandra mengatakan kemungkinan besar akan kembali lagi, senyum di wajah Oma Helga dan para tante baru benar-benar muncul kembali. Penerbangan panjang pun dimulai. Setelah melewati proses check in yang kilat, mereka kini sudah berada di dalam first class suite. Kabin tersebut hanya berisi 8 kursi, namun saat itu hanya terisi 4 orang, termasuk Zelena dan Jeandra. Setiap suite memiliki pintu geser setinggi 1,5 meter yang memberikan privasi mutlak seolah mereka berada di kamar hotel pribadi di atas awan. Kursi kulit yang sangat lebar itu bisa direbahkan 180 derajat menjadi tempat tidur full flat yang empuk. Zelena
Tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata betapa bahagianya perasaan kedua pasangan itu.Pikiran Zelena sudah melayang terbang ke Indonesia. Ia membayangkan kembali menjalani hari-hari sebagai arsitek. Ia rindu ingin kembali menggenggam stylus pen dan membiarkan jemarinya menari di atas layar tablet, merancang garis-garis presisi yang kelak akan menjadi hunian impian seseorang. Ia rindu aroma kopi yang bercampur dengan bau kertas cetakan blueprint yang baru saja keluar dari mesin plotter.Tapi Jeandra memiliki pikiran yang berbeda dengan Zelena. Ia tidak ingin langsung pulang."Prof," panggil Jeandra, suaranya kini terdengar lebih serius. "Ini berita yang luar biasa. Tapi, bolehkah saya bertanya satu hal lagi? Mengingat kondisi istri saya sebelumnya, apakah aman kalau saya membawa istri saya jalan-jalan keliling Jerman dulu? Mungkin perjalanan darat yang santai untuk menikmati musim panas?"Zelena menatap Jeandra dengan binar di matanya. Ia setuju. Ia sudah berbulan-bulan hanya melihat
Minggu demi minggu telah terlewati dengan begitu cepat. Tanpa terasa sudah dua setengah bulan Zelena dan Jeandra berada di Jerman.Jika saat kedatangannya di usia kandungan enam minggu udara masih terasa segar dengan kuncup bunga yang mulai bermekaran di musim semi, kini alam telah berganti rupa. Munchen sedang berada di puncak musim panas.Matahari bersinar terik di atas langit Bavaria, namun angin sepoi-sepoi yang sesekali berembus tetap membawa sisa kesejukan pegunungan Alpen. Suhu udara berkisar di angka 25°C, membuat taman-taman di sepanjang jalan menuju Ludwig Maximilians University dipenuhi warna hijau yang pekat dan bunga-bunga yang mekar sempurna.Di dalam kamar hotel mereka, Zelena berdiri di depan cermin besar, merapikan dress musim panas yang longgar. Perutnya kini tidak lagi rata. Ada tonjolan yang semakin kentara."Je, kamu sudah siap?” panggil Zelena sambil menyapukan pelembap bibir.Jeandra muncul dari balik pintu kamar mandi. Pria yang semakin gagah dari hari ke h
"Tante Kavitaaa!"Aira berlari kecil dari arah ruang tengah, wajahnya sumringah luar biasa. Anak kecil itu langsung memeluk Kavita dengan erat, seolah sudah berminggu-minggu tidak bertemu."Anak Tante udah mandi? Wangi banget," sapa Kavita sambil mengelus rambut Aira, mencoba meredam gemuruh di dadanya dengan senyuman tulus."Udah, Tante. Tante tahu nggak? Kemarin aku senaaaang sekali!!" seru Aira tanpa diminta. Matanya berbinar-binar menceritakan petualangannya. "Aku jalan-jalan sama Om Nayaka, terus ada Tante Sheila juga. Kita nonton film kartun yang ada princess-nya, Tante."Kavita tertegun. Tangannya yang mengelus rambut Aira mendadak kaku. Meskipun ia sudah tahu mereka jalan bertiga, tapi tetap saja ada rasa sakit yang menjalar di hatinya. "Oh ya? Nonton sama Tante Sheila juga?""Iya. Terus habis nonton Om Nayaka beliin aku es krim coklat. Tante Sheila juga makan es krim stroberi. Kita duduk bertiga, terus Om Nayaka ketawa-ketawa terus sama Tante Sheila," celoteh Aira polos
Zelena menegang. Jari-jarinya refleks mengerat di gagang pintu mobil. Ia hafal, bahkan sangat mengenal suara itu. Suara yang sudah sangat familier dengannya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menoleh.Seketika ia mendapati Marcel dan Diana sedang berdiri di belakangnya. Tepat seperti dugaan Zel
Jeandra terus naik tanpa hambatan menuju apartemen Zelena karena perempuan itu sudah memberinya akses. Jadi ia bisa datang kapan pun sesuai yang diinginkannya. Itu pun dengan menggunakan Aira sebagai senjata. Zelena sudah bersiap-siap untuk ke kantor ketika bel berbunyi yang menggema ke seluruh su
Dugaan Jeandra terbukti tidak salah. Sejak mengetahui kedatangan orang tua Valerie perasaannya tidak enak. Dan kini ketidaknyamanan itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih berat.Jeandra akhirnya duduk meski tubuhnya kaku. Ia memilih kursi paling ujung, seolah ingin menjaga jarak dari percakapan ya
"Je, kamu di sini juga?" Abi bertanya setelah berhasil meredakan rasa terkejutnya."Iya," jawab Jeandra ringan seakan kehadirannya di sana merupakan sesuatu yang wajar.Tatapan Abi pindah dari Jeandra pada Aira, lalu kembali pada Zelena. Ada jeda yang aneh di antara mereka bertiga.“Jadi … ini?” Ab







