Mag-log inRosalia menceritakan pada Maura pembicaraan dengan Jeandra. Maura mengajak untuk langsung melihat keadaan Valerie sehingga jadilah hari ini ibu dan anak itu datang ke rumah sakit. Rosalia tiba dengan langkah gontai. Wajahnya agak pucat. Matanya sedikit sembap setelah semalaman tidak bisa tidur memikirkan kata-kata Jeandra. Ia masih mencoba menyangkal, mencoba berpikir bahwa Jeandra hanya menakut-nakutinya agar ia menjauhi Valerie. "Maaf, Bu. Selain keluarga inti dan penyidik, tidak diperkenankan masuk," cegat seorang petugas polisi di depan ruang isolasi. "Saya kerabatnya. Tolong, saya hanya ingin memastikan kondisinya," pinta Rosalia dengan suara gemetar. Maura ikut membujuk. Bahkan perempuan itu sampai menunjukkan identitasnya bahwa ia adalah seorang dokter. Tapi tetap saja tidak ada pengaruhnya. Setelah perdebatan panjang, Rosalia dan Maura akhirnya diizinkan melihat melalui kaca kecil di pintu kamar isolasi. Detik itu juga jantung Rosalia seolah berhenti berdetak.
Masih hangat di ingatan Zelena semua kejadian mengerikan itu.Wajah Sandra, yang awalnya masih menyeringai penuh kemenangan, akhirnya telah kehilangan bentuk manusianya. Cairan korosif itu bekerja dengan kecepatan yang mengerikan, menghisap kelembapan dari pori-porinya dan meninggalkan jaringan yang mati seketika. Kulit pipinya yang semula kencang mengerut dan berubah warna menjadi abu-abu kehitaman, mengeluarkan asap tipis dengan bau menyengat yang memenuhi rongga hidung. Tidak jauh dari sana, Valerie mengalami nasib yang lebih tragis. Siraman membabi buta dari Sandra tepat mengenai bagian tengah wajahnya. Cairan itu merembes masuk ke celah bibir dan hidungnya, membakar kulit porselen yang selama ini ia puja-puja dan ia rawat dengan biaya mahal. Kecantikan yang ia jadikan senjata untuk memikat Jeandra kini benar-benar leleh, seolah-olah topeng lilin yang diletakkan di atas bara api. Cairan itu tidak berhenti di permukaan, tapi terus memakan lapisan dermis hingga ke jaringan otot, m
Setelah telepon ditutup, Zelena segera menceritakan hasil percakapannya tadi pada Jeandra. Tak sampai dua menit setelahnya sebuah pesan gambar masuk ke handphonenya. Detik itu juga Zelena membukanya. Tampak di sana sebuah mobil hitam yang akan melaju menjauhi gerbang sekolah. Meski fotonya sedikit miring karena diambil secara tersembunyi, plat nomornya terlihat sangat jelas. Zelena menyodorkan ponselnya ke depan wajah Jeandra dengan tangan yang gemetar karena amarah. "Je, ini mobilnya. Ayo cari sekarang!” suruh Zelena. Ia tidak sabar ingin mengata-ngatai Valerie. Setelah sikap elegan yang digunakannya selama ini, izinkan Zelena satu kali saja melampiaskan sakit hatinya.Jeandra ikut mengamati foto mobil tersebut dengan saksama kemudian memberikan perintah pada Beryl yang multifungsi dan selalu bisa diandalkan."Ryl! Lacak plat nomor ini sekarang. Hubungi perusahaan transportasi online. Saya mau tahu posisi mobil ini detik ini juga. Jangan sampai dia sempat ganti kendaraan lagi.”
Wajah Zelena seketika pias sepucat kertas. Dunianya seolah runtuh dalam satu kalimat pendek dari Kavita. Ia tidak lagi mendengar suara adiknya yang terus-menerus meminta maaf di seberang telepon. Yang ada di pikirannya hanyalah bayangan putri kecilnya yang ceria harus berjuang melawan rasa sakit sementara ia sedang bersenang-senang di Bali."Je,” suara Zelena tercekat di tenggorokan, air matanya luruh seketika. "Aira, Je... Aira keracunan. Dia masuk rumah sakit semalam."Jeandra langsung menyambar benda pipih itu. Matanya memancarkan kilat amarah yang belum pernah Zelena lihat sebelumnya."Nayaka! Kasih teleponnya ke Nayaka!" perintah Jeandra dengan suara rendah yang menggetarkan.Di Jakarta, Kavita yang gemetar langsung menyerahkan ponsel itu kepada Nayaka. Nayaka menghela napas berat sebelum menempelkan ponsel ke telinganya."Ya, Je," sapa Nayaka tenang, meski ia tahu badai akan segera datang."Brengsek kamu, Ka! Kenapa kamu sembunyiin ini dari aku?!" bentak Jeandra. "Dia anak
Zelena tentu terkejut mendengar ucapan Jeandra. Dari isi perkataan suaminya seolah-olah dia sangat mengenal perempuan itu cukup lama.“Jadi kamu kenal dia? Kenapa kamu hafal jam tangannya? Memangnya kamu lihat di mana? Siapa orang itu, Je?” rentet Zelena bertubi-tubi.“Dia Valerie, Zel," jawab Jeandra setelah helaan napas berat.Zelena tersentak kaget. “Valerie? Sahabat kamu sekaligus pacar yang nggak pernah mau kamu akui?”“Aku nggak pernah pacaran sama dia,” bantah Jeandra. “Kami memang dekat tapi nggak ada hubungan lebih dari itu.”Perasaan sakit kembali merayapi hati Zelena ketika ingat dulu Jeandra lebih mengutamakan dan meratukan Valerie. Padahaljelas-jelas Zelena istrinya. Tapi ia tidak memberi izin pada rasa itu untuk merusak kebahagiaannya. Semua sudah lewat. Zelena sudah berdamai dengan masa lalu.“Kalau aku jujur, kamu jangan marah ya, Sayang,” imbuh Jeandra tidak enak hati lantaran tidak ingin melukai Zelena lagi.“Ya, aku nggak akan marah. Bilang aja, Je.”“Soal jam tang
Setelah mendapatkan penanganan, kondisi Aira stabil dengan cepat. Karena tidak ada demam tinggi atau tanda infeksi sistemik yang membahayakan, dokter mengizinkan Aira pulang dengan syarat obat-obatan harus diminum di rumah dan apabila terjadi kondisi darurat harus segera dibawa secepatnya ke rumah sakit.Jadi, mereka pulang ke rumah malam itu juga.Mobil Nayaka berhenti di rumah tepat sebelum subuh. Aira sudah tertidur lelap di pangkuan Kavita. Wajahnya masih sangat pucat namun napasnya sudah teratur.Nayaka menggendong Aira dan melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Kavita yang berjalan gontai karena kelelahan luar biasa. Begitu sampai di kamar, Nayaka meletakkan Aira dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur, menyelimutinya hingga sebatas dada.Kavita memandangi Nayaka dari belakang. Ada rasa kagum yang menyeruak di hatinya melihat bagaimana pria itu begitu lembut memperlakukan keponakannya."Om," panggil Kavita.Nayaka menoleh, memberikan isyarat agar mereka bicara di







