Masuk"Hiss!" Semua orang menarik napas dingin.Sambaran petir kedua, ketiga, keempat .... Setiap sambaran semakin kuat, tetapi Luther justru semakin ganas dalam bertarung!Dia menahan petir surgawi dengan tubuhnya. Setiap pukulan menghancurkan sambaran petir. Kilatan listrik berkelindan di sekeliling tubuhnya, membuatnya bagaikan dewa petir yang turun ke dunia!"Tubuhnya ... ditempa dalam petir, makin lama makin kuat!" gumam Yogi."Inilah jalan sejati seorang ahli. Bukan menghindari petaka langit, melainkan menghadapi dan menaklukkannya!" Mata Misandari berkilat.Sambaran ketujuh, kedelapan, kesembilan! Pada sambaran terakhir, sekaligus yang terkuat, petir ilahi berwarna ungu keemasan menghantam turun dari langit! Kekuatannya bagaikan pedang dewa yang membelah langit dan bumi! Kekuatan serangan ini cukup untuk menghancurkan segalanya!Luther mendongak ke langit dan meraung panjang. Seluruh kekuatannya terkumpul di tinju kanan, lalu dia melancarkan pukulan.Saat tinju dan petir bertabrakan,
Pada saat yang krusial ini, sebuah sosok diam-diam mendekati Pil Transendensi Roh yang melayang itu. Itu adalah Roman!Sejak tadi dia bersembunyi di kegelapan, menunggu kesempatan. Kini melihat Ignis dan Sesepuh Bayangan Hantu bertarung hingga sama-sama terluka, sementara yang lain fokus pada pertempuran, akhirnya dia bergerak!Tubuhnya melesat. Dalam sekejap, dia tiba di depan Pil Transendensi Roh dan langsung meraihnya!"Berhasil!" Roman sangat gembira, lalu berbalik hendak kabur.Saat itu juga, Ignis tiba-tiba meninggalkan Sesepuh Bayangan Hantu dan menghantamkan telapak tangan ke arahnya. Ternyata meskipun sedang bertarung sengit, Ignis tetap menyisakan sebagian kesadaran untuk mengawasi pil itu.Roman terkejut, berusaha menahan dengan segenap kekuatan. Namun, bagaimana mungkin dia menandingi Ignis? Dalam satu pukulan, dia memuntahkan darah dan terpental jauh. Pil Transendensi Roh pun terlepas dari tangannya.Pil itu melayang di udara, lalu jatuh ke pinggiran kerumunan, tepat di de
Dalam sekejap, semua serangan menghantam ke arah Ignis!Ignis mencibir dingin. Cahaya emas di sekujur tubuhnya meledak dan meningkat, menahan keras serangan sambil terus maju. Serangan-serangan itu menghantam tubuhnya, tetapi hanya sedikit memperlambat langkahnya, sama sekali tak mampu melukainya secara nyata."Kak, biar aku bantu!" teriak Gwyn. Di tangannya muncul sebilah pedang berwarna perak putih. Tebasan pedangnya menyapu, memaksa mundur beberapa musuh yang menerjang.Tiga pengawal dari Keluarga Edison juga mati-matian menahan serangan dari kedua sisi. Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Pemimpin baru Aliansi Kultivator Pengembara nekat menahan luka dan akhirnya berhasil menerobos hingga ke depan Ignis. Dia menghantamkan telapak tangan ke punggung Ignis!Alis Ignis berkerut. Dia terpaksa berbalik untuk menahan. Keterlambatan sesaat itu membuat yang lain ikut mengepung. Pertempuran kacau pun meledak!Misandari tidak ikut bertarung. Dia membawa rombongannya mundur ke samping, mengam
Luther berkata dengan pelan, "Waylon, ingat pedangmu. Pedangmu adalah pedang pelindung untuk melindungi kakakmu dan keluargamu. Keyakinan ini lebih kuat daripada kekuatan apa pun."Waylon tertegun sejenak. Dia memejamkan matanya, lalu bayangan kakaknya yang tersenyum, wajah anggota Keluarga Andrasta, dan rekan-rekan yang bertarung bersamanya selama ini muncul di benaknya. Saat dia kembali membuka matanya, tatapannya sudah jernih dan tekanan tak kasatmata itu pun seolah-olah berkurang beberapa tingkat."Terima kasih, Kak Luther," kata Waylon dengan pelan, lalu menegakkan punggungnya dan melanjutkan pendakian.Di anak tangga ke sembilan puluh sembilan.Ignis melangkah naik dan berdiri di puncak Tangga Langit dengan Gwyn mengikuti di belakangnya. Di hadapan mereka, sebuah istana raksasa melayang di kehampaan dan itu adalah Istana Buana. Gerbang istana itu tertutup rapat dan dipenuhi ukiran simbol-simbol misterius yang memancarkan aura yang menggetarkan jiwa.Kilatan panas muncul di mata I
Luther bergumam, "Mungkin inilah makna sejati dari fana. Bukan menunggu pemulihan kultivasi secara pasif, melainkan menempa jiwa dan menimbun fondasi dalam proses menjadi fana itu. Saat waktunya tiba, kekuatan akan meledak sekaligus."Pagi hari di hari ketujuh, suara agung itu kembali terdengar. "Ujian terakhir dimulai. Naik Tangga Langit dan masuk ke Istana Buana. Siapa pun yang mencapai puncak, akan mendapatkan Pil Transendensi Roh serta ... warisan lengkap Dewa Buana."Begitu suara itu selesai, tanah di tengah Aula Perunggu tiba-tiba terbelah dan sebuah tangga giok yang menjulang ke langit perlahan-lahan muncul dari celah itu. Tangga itu menembus awan hingga tak terlihat ujungnya dan setiap anak tangganya memancarkan cahaya keemasan yang samar-samar.Ignis menatap tangga itu dan kilatan panas terlintas di matanya. "Inilah Tangga Langit. Warisan Dewa Buana, Keluarga Edison pasti akan mendapatkannya."Dia menjadi orang pertama yang melangkah naik, lalu Gwyn dan tiga pengawal mengikuti
Ujian Hani adalah Luther. Dia melihat Luther menikah dengan Bianca dan mereka berpelukan dengan bahagia, sedangkan dia berdiri di tengah kerumunan dan hanya bisa diam-diam mendoakan mereka."Apa kamu rela?"Saat itu, sebuah suara tiba-tiba berbisik di telinga Hani, "Kamu berjuang mati-matian dan menumpahkan darah untuknya, tapi dia hanya menganggapmu sebagai adik. Apa kamu rela?"Hani mengepalkan tinjunya dan air mata berkilau di matanya. Namun, dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Aku rela. Selama dia bahagia, aku rela. Bagiku, dia adalah Kakak Luther dan akan selalu begitu selamanya."Ilusi pun hancur, lalu Hani mendapati dia sedang berdiri di sebuah arena latihan. Di hadapannya, ada sebuah tombak panjang merah menyala yang melayang dan bahkan lebih kuat dari tombak yang didapatkannya sebelumnya.Suara itu berkata, "Jalanmu adalah jalan perlindungan. Kamu punya sesuatu yang dijaga hatimu, tanpa dendam dan tanpa penyesalan. Dapat Tombak Api Pembakar Langit, semoga kamu nggak me
"Tenang saja, sekarang aku sangat rendah hati. Aku juga jarang muncul ke publik. Aku sudah menyerahkan urusan perusahaan pada orang-orang kepercayaan," kata Bianca sambil tersenyum."Baguslah kalau begitu," kata Luther sambil menganggukkan kepala.Beberapa hari kemudian setelah Oppie pergi, kehidupa
Udara di sekitar kawah seakan-akan membeku. Semua mata terpaku pada pria tampan di dalam peti yang tiba-tiba membuka mata, jantung mereka berdebar kencang hingga hampir keluar dari dada.Tatapan itu terlalu dalam, seolah-olah menyimpan ribuan tahun penderitaan dan niat membunuh yang dingin. Hanya de
Di ruang meditasi di Vila Dervana.Berbeda dengan suasana megah dan penuh wibawa di kediaman raja, suasana di vila ini terasa tenang dan hening. Namun saat ini, kamar utama justru dipenuhi aroma ramuan obat yang kuat dan hawa kematian yang berat.Walter, Raja Atlandia yang dahulu keberadaannya mengg
Cahaya melesat, menempuh ratusan kilometer dalam sekejap. Hanya dalam setengah hari, Luther telah membawa semua orang melintasi lautan tak berujung dan kembali ke daratan tengah.Dia tidak berhenti di wilayah pesisir mana pun, melainkan langsung menuju jantung Negara Drago, yakni Midyar.Di bawah aw







