Share

02

Author: Eselitaa
last update Last Updated: 2025-06-21 17:14:51

“Assalamu’alaikum Ra. Maaf ganggu,” kata Zayna ramah.

“Wa’alaikumussalam Za. Nggak ganggu kok kebetulan udah mau istirahat ini. Kenapa Za?” tanya Raisa.

“Maaf sekali lagi. Aku minta tolong padamu jangan kasih tahu siapapun ya? Tolong banget ini cuma jadi rahasia diantara kita berdua,” ucap Zayna.

“...Tiba-tiba banget Za?”

“Tolong ya!”

“Iya Za. Santai saja kayak sama siapa. Jadi ada apa?”

“Teman tunangan kamu, yang namanya Zafran itu…boleh tahu sedikit?”

“Zafran ya? Aku malah nggak tahu kalau dia punya teman namanya Zafran. Nanti coba aku tanyakan.”

“Eh kamu kalau tanyakan jangan kasih tahu itu untukku ya? Please Raisa. Aku hanya ingin tahu sedikit saja. Intinya jangan pernah bawa-bawa aku. Bilang saja apalah gitu.”

“Oke-oke tetapi tumben banget kamu tanya-tanya soal lelaki? Ini pertama kalinya kan? Ada untungnya juga kamu datang ke acara pertunanganku bukan?”

Zayna cuma terkekeh.

“Makasih banyak Ra. Kalau begitu aku akhiri dulu ya teleponnya. Assalamu’alaikum. Sekali lagi, semoga lancar sampai hari h.”

“Sama-sama Za. Wa'alaikumussalam. Amin.”

Zayna memutuskan sambungan telepon dengan Raisa.

“Zayna, buka pintunya dong! Abi sama umi khawatir banget tahu sama kamu!” kata Maisha sedikit keras sambil mengetuk pintu kamar Zayna.

Zayna membuka pintu kamarnya dan tersenyum ramah.

“Alhamdulillah kamu sudah nggak menangis. Kenapa menangis hm?” tanya Maisha.

“Nggak apa-apa,” jawab Zayna kemudian menghampiri orang tuanya yang sedang membaca buku.

“Ayah, ibu, aku ingin menikah,” kata Zayna yang langsung membuat buku yang dipegang orang tuanya jatuh ke karpet.

Mereka terperangah. Maisha juga.

“A-apa? Menikah?” tanya si ayah.

Zayna menganggukkan kepalanya mantap. “Tadi ketika dia acara lamaran Raisa, aku terpaku pada seorang lelaki. Aku sudah sebisa mungkin menjaga pandangan tetapi hatiku seperti bilang, pokoknya aku ingin dia.”

Orang tuanya syok. Maisha juga.

“Nak, kamu sadar kan sama apa yang kamu bilang?” tanya si ibu.

“Sangat sadar,” jawab Zayna. “Aku rasa ini bisa mempengaruhi hidupku. Kalian juga pasti khawatir kalau diriku malah fokus memikirkan lelaki itu bukannya menjadi dokter.”

Orang tua Zayna saling pandang dan dengan Maisha.

“Kamu bicara sama dia?” tanya si ayah.

Zayna menggelengkan kepalanya kemudian menceritakan semuanya dan alasan mengapa dia menangis. Selesai bercerita, Zayna izin pada keluarganya untuk masuk kamar karena dia ingin mengaji sekaligus menenangkan diri.

Malam itu, orang tua Zayna dan kakaknya yang hampir tidak pernah khawatir pada Zayna mulai khawatir lagi.

Zayna bekerja di sebuah rumah sakit swasta Aurum Vitae sebagai dokter umum.

“Assalamu’alaikum.”

Zayna mengucapkan salam begitu dia memasuki rumah sakit. Beberapa orang membalas salamnya dan mengucapkan selamat pagi kepadanya.

Zayna memicingkan kedua matanya mendapati sosok yang familiar duduk di depan sebuah ruangan. Mungkinkah karena terlalu kepikiran jadi dia berhalusinasi?

Namun pakaiannya sama persis dengan yang dipakai Zafran. Perawakannya, potongan rambutnya, dan caranya menundukkan wajah, membuat jantung Zayna berdebar kencang.

“Gak mungkin kan?” batin Zayna kemudian mengucap istighfar.

Lelaki itu menoleh dan Zayna melebarkan kedua matanya. Hampir saja langkahnya berhenti.

Lelaki itu langsung menunduk lagi. Tampaknya ekspresinya semakin dingin. Zayna berjalan lebih cepat. Semakin cepat.

“Kenapa dia bisa ada disini?!” batin Zayna berteriak kencang.

Bruk!

Karena berjalan begitu cepat, Zayna menabrak seseorang di belokan.

“Dokter Zayna, sejak kapan kamu berlarian di rumah sakit? Aku nggak percaya ini!”

Zayna mengalihkan pandangan dan langsung menjaga jarak dari Langit Kanagara, dokter spesialis bedah saraf yang telah berteman dengannya sejak dia memasuki rumah sakit ini.

“Maaf banget Dokter Langit. Aku lagi buru-buru. Permisi,” ucap Zayna ramah kemudian berlalu begitu saja.

Langit mengernyitkan alisnya. Apakah ada pasien yang gawat darurat dan harus segera ditangani?

Bahkan jika terburu-buru, Zayna biasanya tetap tenang.

Zayna mati-matian menenangkan diri. Namun dia terus bertanya-tanya dalam benaknya kenapa Zafran berada di rumah sakit ini.

Sejak kapan? Zayna yakin dia tidak pernah melihat Zafran sebelumnya di rumah sakit ini.

Jam menunjukkan pukul 10 ketika seorang gadis remaja berusia sekitar 15 tahun masuk ke ruang periksa Zayna.

Setelah berhadapan dengan beberapa pasien, Zayna sudah lebih tenang.

“Pagi, silahkan duduk,” kata Zayna lembut.

Gadis itu duduk di depan Zayna.

“Apa yang kamu rasakan?”

“Saya… sering pusing. Tiap bangun tidur kayak muter. Terus mual. Saya kira masuk angin, tapi sudah tiga hari begini.”

Zayna meminta izin pada gadis itu untuk memeriksanya. Gadis itu mengangguk.

“Kamu sempat makan pagi sebelum datang ke sini?” tanya Zayna.

“Enggak, Dok. Saya sering enggak nafsu makan belakangan ini.”

Waktu semakin berlalu. Kini Zayna bisa istirahat. Dia sudah selesai sholat dzuhur dan membaca Al-Qur’an beberapa ayat.

Saat Zayna pergi ke kantin, dia disambut oleh seorang perawat yang berteman dengannya.

“Dokter sebentar lagi 25 tahun kan? Nih aku ada buku buat dokter,” kata perawat itu.

Zayna asal menerimanya. Judul bukunya adalah menemukan cinta. Zayna menghela nafas ingin komplain tetapi temannya sudah pergi.

Dua dokter menghampiri Zayna dan menyapanya.

“Selamat siang, Dokter Zayna,” ucap Dokter Nadira.

Zayna menyapa balik seraya tersenyum. “Siang juga, Dokter Nadira.”

Nadira mengambil buku yang terletak diatas meja.

“Tumben banget Za kamu baca buku kayak gini!” kata Nadira.

“Itu dari Erna!” jawab Zayna.

“Buku apa coba liat?” tanya Kevin penasaran.

Nadira memberikan buku tersebut ke Kevin.

“Ngomong-ngomong, Dokter Ardea tadi di lorong cath lab. Katanya baru keluar dari tindakan. STEMI lagi, pasien usia 48. Cukup kritis. Kamu nggak mau coba bicara dengannya Za?” tanya Nadira.

Zayna terperanjat. “STEMI anterior?”

“Kayaknya iya,” jawab Nadira, mengangguk pelan. “Dua stent sekaligus. Tindakan selesai dalam 45 menit. Kesempatan besar buat kamu. Jadiin alasan buat ngobrol sama dia.”

“Pikir baik-baik Za! Dokter Ardea itu jauh lebih dingin daripada Dokter Langit Kanagara,” elak Kevin.

“Keduanya sama saja,” sahut Nadira.

“Masya Allah. Jadi semakin pengin belajar,” ucap Zayna.

Nada suaranya ringan, tapi sorot matanya tidak berbohong—ada rasa hormat yang dalam di sana.

“Nadira malah terkagum-kagum sama wali pasiennya,” ketus Kevin.

Nadira menutup wajahnya karena malu. “Nggak usah ngomongin itu bisa? Zayna juga nggak suka.”

“Wali pasien?”

“Yang ditangani sang dokter itu ibunya si lelaki ini.”

Zayna terkejut. Dia kepikiran Zafran lagi.

“Lelaki yang pakai kemeja biru?” tanya Zayna.

“Nah kan! Kalau kamu ngeh dia pakai kemeja biru artinya kamu memperhatikan,” ucap Nadira.

Kedua pipi Zayna memerah dan dia langsung melesatkan kedua matanya ke arah lain.

Apakah ini takdir?

Zafran berada di rumah sakit ini karena ibunya kena serangan jantung. Menjadi dokter spesialis jantung adalah keinginan Zayna.

“Nyoba bicara sama Dokter Ardea apa ya? Siapa tahu…” batin Zayna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   155

    Zayna membayangkan. Dia melihat dirinya di laboratorium modern, mengenakan jas dokter, dihormati oleh banyak orang.Tetapi pulang ke apartemen yang sepi, tidak ada yang menyambut, tidak ada yang peduli apakah dia sudah makan atau belum."Sekarang bayangkan kamu menikah dengan Zafran, punya keluarga, tetapi tidak jadi dokter spesialis. Apakah kamu bahagia?" lanjut Summayah.Zayna membayangkan lagi. Dia melihat dirinya di rumah yang hangat, Zafran menyambutnya dengan senyuman, mungkin ada anak-anak yang berlari memeluknya. Tetapi ada rasa kosong di hatinya, ada impian yang tidak tercapai."Aku... aku tidak bahagia di kedua skenario itu, umi," bisik Zayna."Karena kamu sebenarnya ingin keduanya, sayang. Kamu ingin karir dan cinta. Dan itu tidak salah," ucap Summayah. "Pertanyaannya adalah, apakah Zafran adalah lelaki yang bisa memberikan keduanya untukmu?"Zayna terdiam. Pertanyaan ibunya membuatnya berpikir."Zayna, coba bicara dengan Zafran. Sampaikan tentang beasiswa ini. Lihat reaksi

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   154

    Zayna menundukkan kepalanya, mengaduk-aduk sup di hadapannya tanpa selera makan. "Dokter, aku... aku bingung."Dokter Langit meletakkan sendoknya dan menatap Zayna dengan penuh perhatian. "Bingung tentang apa? Tunangan kamu itu?"Zayna mengangguk pelan. Air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata. "Tadi aku melihat Zafran berbicara dengan perempuan lain. Mereka terlihat sangat akrab, tertawa bersama. Dan aku..." suaranya bergetar. "Aku merasa dadaku sesak, dokter.""Kamu cemburu," ucap Dokter Langit datar."Tetapi seharusnya aku senang kan? Kalau Zafran tertarik dengan perempuan lain, aku bisa membatalkan pertunangan dengan mudah. Tetapi kenapa aku malah merasa sakit?" Zayna akhirnya menangis.Dokter Langit menghela nafas panjang. Dia meraih tisu dan memberikannya pada Zayna. "Zayna, dengarkan aku baik-baik. Perasaan itu hanya ilusi. Kamu merasa cemburu bukan karena cinta, tetapi karena ego. Kamu merasa kepemilikan terhadap Zafran karena dia adalah tunanganmu. Itu wajar, tetapi jangan

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   153

    Summayah melihat putrinya yang termenung sambil melempar pakan ikan dengan gerakan mekanis. Ada yang tidak beres dengan Zayna, dan sebagai seorang ibu, Summayah bisa merasakannya."Zayna sayang, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Summayah sambil duduk di samping putrinya.Zayna menghela nafas panjang. "Umi, aku melihat Zafran berbicara dengan perempuan lain. Mereka terlihat sangat akrab.""Dan itu membuatmu...?" Summayah menggantung pertanyaannya, menunggu Zayna melanjutkan."Aku tidak tahu, umi. Harusnya aku senang kan? Kalau Zafran tertarik dengan perempuan lain, itu memudahkanku untuk membatalkan pertunangan. Tetapi kenapa..." suara Zayna bergetar. "Kenapa dadaku sesak melihat mereka?"Summayah tersenyum lembut, mengelus rambut putrinya. "Itu namanya cemburu, nak.""Tetapi umi, aku kan tidak mencintai Zafran. Aku bahkan ingin membatalkan pertunangan ini. Kenapa aku harus cemburu?" Zayna menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca."Zayna, hati itu tidak bisa dibohongi. Kamu bisa saja

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   152

    Setelah Zafran masuk ke ruangan lagi, teman-teman Zayna akhirnya menyusul Zayna. Mereka sebelumnya akan menyusul tetapi mereka melihat Zafran tampaknya memeriksa Zayna jadi mereka mengurungkan. Alisha dan Ira menghampiri Zayna yang bengong di suatu sudut."Za, kamu tidak apa-apa?!" tanya Alisha.Zayna terdiam tetapi kemudian menganggukkan kepalanya."Kalau tidak enak badan, mau istirahat dulu di kamar Raisa?!""Tidak enak lah masa istirahat di kamar pengantin baru?" tanya Alisha terkejut."Aku ingin pulang saja sebentar lagi," jawab Zayna."Baiklah. Bagaimana kalau ditemani?!" tawar Alisha.Alisha juga kurang nyaman disini karena dia introvert dan sekarang acaranya ramai ditambah banyak laki-laki. Dia merasa tidak nyaman. "Jangan dong! Kalian harus menemani Raisa sampai akhir. Aku malah berpikir kalau diriku egois tetapi aku emrasa tidak kuat lagi berada disini," kata Zayna."Apa karena Zafran?" tanya Ira.Zayna menoleh ke Ira. Dia tidak mengatakan apapun tetapi kedua matanya meleba

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   151

    Ketika Zayna, Ira, dan Alisha makan di dalam ruangan, sebab mereka malu untuk makan di luar dimana para tamu terus berdatangan. "Makanannya benar-benar enak. Akankah jika kalian menikah, kalian akan catering ini?" tanya Ira. Zayna tersedak. Dia mengulurkan tangan meminta minum pada Ira dan Ira memberikannya. Sementara itu, Alisha tidak menanggapi dan malah dia menyuruh Ira untuk tidak berbicara ketika sedang makan. "Makan itu tidak boleh diganggu tahu," ucap Zayna. "Maafkan aku," ucap Ira. Zayna menggelengkan kepalanya seolah mengatakan tidak masalah. Alisha cuma tersenyum ke anggota keluarga Raisa yang beberapa kali lewat. Sampai akhirnya rekan-rekan dari pihak mempelai pria masuk dan mulai duduk disekitar mereka.Alisha, Zayna, dan Ira panik."Bagaimana ini?!'" bisik Alisha yang paling tidak nyaman. Zayna justru bertatapan dengan Zafran. Tidak cuma itu, teman-teman Zafran yang sudah mengenal Zayna pun meledek Zafran dengan menyenggol lengannya atau tersenyum padanya. Na

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   150

    Aula pernikahan itu dipenuhi nuansa lembut bernuansa putih gading dan hijau zaitun.Kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an menghiasi beberapa sudut, berpadu dengan rangkaian bunga segar yang sederhana namun elegan.Lantunan shalawat mengalun pelan, menenangkan hati siapa pun yang hadir. Tidak berlebihan, tidak gemerlap—semuanya terasa khidmat, sebagaimana doa yang dipanjatkan sejak pagi.Zayna berdiri di ruang persiapan bersama Alisha dan Ira. Mereka bertiga mengenakan gaun bridesmaid syar’i dengan potongan longgar, lengan panjang, dan kerudung yang menjuntai anggun.Warna gaun mereka serasi—lembut, menenangkan—seakan menyatu dengan suasana sakral hari itu.Alisha memandang Zayna dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum lebar. “MasyaAllah, Za. Kamu cantik sekali hari ini.”Ira mengangguk setuju. “Cantik yang adem. Bikin orang tenang lihatnya.”Zayna tersenyum malu, menunduk sambil membenahi lipatan kerudungnya. “Kalian juga cantik. Jangan berlebihan, ya.”“Ini bukan berlebihan,” sahut Ali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status