Share

04

Author: Eselitaa
last update Last Updated: 2025-06-21 17:14:56

“Dokter Langit, maaf meminta waktumu,” kata Zayna.

Dokter Langit tertawa kecil. Entah kenapa kadang mendengar Zayna memanggilnya Dokter Langit, rasanya ingin tertawa.

“Sudah dibilang berapa kali jangan panggil aku dokter langit. Kalau bisa panggil Kanagara.”

Zayna menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin saya berani.”

“Pakai saya lagi, jujur saja, menyebalkan Za,” kata Langit seraya melipat kedua tangannya di dada.

Zayna dan Langit sudah berteman cukup lama. Orang yang pertama kali membantu Zayna di rumah sakit ini saat dia ada masalah waktu itu adalah Langit.

Zayna sedikit tidak suka dengan sikap Langit yang seperti ini. Awalnya dia memanggil Langit pakai nama saja, bahkan terkadang memanggilnya Kanagara, alias nama belakangnya.

Namun beberapa temannya bercanda menegurnya untuk memanggil Dokter Langit pakai dokter.

Zayna sudah berusaha sopan pada Langit tetapi Langit malah…

“Saya ingin meminta tolong,” kata Zayna lembut.

“Minta tolong apa? Pakai aku saja!”

Zayna menurut karena tidak mau terlibat percakapan panjang dengan Langit.

“Aku ingin ikut membantu Dokter Ardea. Kemarin mendengar kerja keras beliau,” kata Zayna.

Langit diam sejenak. “Ingin aku bicara padanya?”

Zayna menganggukkan kepalanya.

Langit terdiam. Dia sama sekali tidak dekat dengan Dokter Ardea tetapi bukan berarti bermusuhan atau semacamnya.

Bagaimanapun, mereka adalah rekan sejawat. Tetapi hanya, tidak dekat saja.

“Aku coba dulu ya Za,” kata Langit.

“Terima kasih banyak dok,” kata Zayna.

Langit menganggukkan kepalanya kemudian pamit pergi karena dia sangat sibuk.

Zayna juga bergegas kembali ke ruang pemeriksaan. Sebentar lagi, dia pulang.

“Harusnya aku ngomong langsung kan ke Dokter Ardea bukannya malah minta Langit?” batin Zayna.

Hati Zayna semakin hancur.

Malamnya, Zayna dihubungi melalui pesan oleh Dokter Langit.

Pastikan kamu tidak mengganggu alur kerja tim.

Observasi diperbolehkan saat tindakan dan visit, mulai besok pagi pukul 07.30. Jangan terlambat.

Zayna sumringah. Setidaknya, rasa sakit hatinya terobati.

Keesokan harinya, Zayna datang ke rumah sakit lebih pagi dari biasanya.

Zayna mendengar sedikit keributan di ruang administrasi.

Zayna mencoba bertanya pada salah satu staff.

“Ada apa?”

“Ada wali pasien yang janji akan bayar minggu ini tetapi sampai sekarang belum ada kabar,” jawab staff.

“Berapa?”

“Dokter mau bayarin? Dengar-dengar sekitar 200 juta lebih.”

“Siapa itu?”

“Dokter tahu kan? Pasien yang ditangani Dokter Ardea?”

Nafas Zayna tercekat.

“Seorang lelaki ya?”

Staff itu menganggukkan kepalanya. “Dengar-dengar dia bakal nyerahin sertifikat rumahnya. Padahal dengar-dengar dia sangat kaya, seorang arsitek.”

Zayna tidak mengatakan apapun. Dia berlalu.

Tak disangka ternyata Zafran belum membayar ke rumah sakit.

“Dalam seminggu dia berjanji 200 juta, tapi dia belum bayar sampai sekarang, mungkin ada kendala lain bukan karena dia nggak mampu bayar,” batin Zayna.

Tentu saja, Zayna paham kalau dia tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Setiap orang punya masalah masing-masing.

Zayna menjadi ikut sedih. Padahal Zafran bukan siapa-siapanya ditambah lelaki itu mana peduli padanya.

Seperti yang dikatakan Bilal, menyerah saja karena Zafran sangat dingin tetapi Zayna malah semakin suka.

Akhirnya Zayna bisa ikut memeriksa Ibu Zafran bersama Dokter Ardea.

Zayna menyapa ramah pada wanita yang ia kira tunangannya Zafran.

“Selamat pagi dok,” sapa wanita itu pada Dokter Ardea dan Dokter Zayna.

Zayna mulai memeriksa Ibu Zafran.

“Reguler, tidak ada murmur. Nadi perifer teraba kuat. Ekstremitas hangat, tidak ada edema,” lapornya dengan singkat tapi jelas.

“Ya. Kamu bisa keluar dulu. Nanti ikut saya ke ruang rawat 306, kita observasi pasien post-PCI lainnya!” ucap Dokter Ardea.

“Baik dok,” jawab Zayna.

Begitu keluar, Zayna langsung didekati wanita yang ia kira tunangan Zafran.

“Dokter, bagaimana keadaan kakak saya?”

Zayna terdiam sejenak. Dia berkata di dalam hati, “Jadi dia bukan tunangan Zafran tetapi bibinya.”

“Stabil untuk saat ini. Tekanan darah dan nadinya sudah jauh membaik,” jawab Zayna.

“Dokter, mengenai biaya rumah sakit, tolong kasih sedikit waktu lagi buat keponakan saya. Pasti dia bayar kok beberapa hari ini,” kata wanita itu.

Zayna tidak tahu harus berkata apa. Jadi dia cuma tersenyum dan mengangguk. Pada saat yang sama, terdengar suara langkah sepatu mendekat.

Zayna terpaku di tempatnya ketika menoleh ke samping, terlihat Zafran menghampiri ke arahnya lebih tepatnya ke bibinya dengan langkah cepat.

Zafran sama sekali tidak menatap Zayna. Ekspresinya datar tetapi tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya.

“Bagaimana keadaan umi?” tanya Zafran.

Zayna seperti tidak bisa bergerak.

Penampilan Zafran benar-benar rapi.

Sangat menawan.

Jantung Zayna berdegup sangat kencang. Dia berharap Zafran tidak tahu.

“Masa dia beneran belum punya calon?” batin Zayna.

Bahkan Bilal tidak tahu banyak tentang Zafran karena lelaki itu sangat tertutup.

“Membaik kata dokter,” jawab si wanita itu.

“Alhamdulillah.”

Zayna merasa tidak bisa menghadapi Zafran. Sebelum Zafran berbalik dan menyapanya, dia pergi lebih dulu.

“Mari,” kata Zayna pada wanita itu.

Zafran sama sekali tidak melihat Zayna seolah-olah menganggap gadis itu tidak pernah ada disana.

Wanita itu mengangguk ramah pada Zayna.

Zayna menatap kosong ke lantai.

Zayna curiga Zafran sudah punya calon. Mengapa dia begitu dingin padanya padahal dia baru saja memeriksa ibunya?

Persetan soal dia memeriksa ibunya, tidakkah Zafran sedikit menghormatinya sebagai manusia?

“Apa yang kupikirkan Zayna, malah kesannya kamu kayak mengharapkan perhatian, mana boleh kamu begini,” batin Zayna kesal.

“Zayna, kamu kenapa?”

Zayna tidak sadar kalau kedua matanya berkaca-kaca. Zayna melotot ke Langit yang berpas-pasan dengannya.

“Kamu menangis!”

Zayna mengusap kedua matanya.

“Enggak! Selamat pagi dokter Langit!” sapa Zayna ramah.

“Apa kamu dimarahi Dokter Ardea?” tanya Langit.

Zayna seperti tersadar kembali. “Oh iya, aku harus bersiap buat observasi lagi.”

“Beneran dimarahi?” tanya Langit dengan ekspresi tajam.

“Enggak! Justru aku makasih banget sama Dokter Ardea,” jawab Zayna.

“Jangan bohong Za! Jangan menutup-nutupi!” tukas Langit.

“Serius dok. Aku nggak ada masalah apapun sama Dokter Ardea. Aku nangis karena kebawa suasana saja tadi di ruang pasien ngeliat dia jadi tiba-tiba ngebayangin ibu sendiri,” kata Zayna.

“Bohong! Zayna yang kukenal nggak mungkin ngebayangin kayak gitu! Bohongnya juga sudah sangat kelewatan,” kata Langit.

Zayna terperangah. Dia sendiri juga bingung sama dirinya sendiri.

“Maaf dok. Tapi saya beneran nggak apa-apa,” kata Zayna.

“Aku bakalan tanya sama Dokter Ardea!”

“Jangan!” Sentak Zayna. “Dokter, serius aku nggak apa-apa. Jangan bikin masalah!”

Langit terdiam sejenak memperhatikan Zayna yang terlihat sangat panik.

Setahu Langit, Zayna terkadang punya masalah tetapi gadis itu hebat, seolah-olah tidak terpengaruh oleh badai masalahnya. Bahkan jika Zayna berada di titik terendah, gadis itu berusaha kuat.

Namun Zayna baru saja menangis. Langit sangat penasaran.

“Za, kita sudah jadi teman kan? Kalau ada masalah, cerita aja siapa tahu aku bisa bantu!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   155

    Zayna membayangkan. Dia melihat dirinya di laboratorium modern, mengenakan jas dokter, dihormati oleh banyak orang.Tetapi pulang ke apartemen yang sepi, tidak ada yang menyambut, tidak ada yang peduli apakah dia sudah makan atau belum."Sekarang bayangkan kamu menikah dengan Zafran, punya keluarga, tetapi tidak jadi dokter spesialis. Apakah kamu bahagia?" lanjut Summayah.Zayna membayangkan lagi. Dia melihat dirinya di rumah yang hangat, Zafran menyambutnya dengan senyuman, mungkin ada anak-anak yang berlari memeluknya. Tetapi ada rasa kosong di hatinya, ada impian yang tidak tercapai."Aku... aku tidak bahagia di kedua skenario itu, umi," bisik Zayna."Karena kamu sebenarnya ingin keduanya, sayang. Kamu ingin karir dan cinta. Dan itu tidak salah," ucap Summayah. "Pertanyaannya adalah, apakah Zafran adalah lelaki yang bisa memberikan keduanya untukmu?"Zayna terdiam. Pertanyaan ibunya membuatnya berpikir."Zayna, coba bicara dengan Zafran. Sampaikan tentang beasiswa ini. Lihat reaksi

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   154

    Zayna menundukkan kepalanya, mengaduk-aduk sup di hadapannya tanpa selera makan. "Dokter, aku... aku bingung."Dokter Langit meletakkan sendoknya dan menatap Zayna dengan penuh perhatian. "Bingung tentang apa? Tunangan kamu itu?"Zayna mengangguk pelan. Air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata. "Tadi aku melihat Zafran berbicara dengan perempuan lain. Mereka terlihat sangat akrab, tertawa bersama. Dan aku..." suaranya bergetar. "Aku merasa dadaku sesak, dokter.""Kamu cemburu," ucap Dokter Langit datar."Tetapi seharusnya aku senang kan? Kalau Zafran tertarik dengan perempuan lain, aku bisa membatalkan pertunangan dengan mudah. Tetapi kenapa aku malah merasa sakit?" Zayna akhirnya menangis.Dokter Langit menghela nafas panjang. Dia meraih tisu dan memberikannya pada Zayna. "Zayna, dengarkan aku baik-baik. Perasaan itu hanya ilusi. Kamu merasa cemburu bukan karena cinta, tetapi karena ego. Kamu merasa kepemilikan terhadap Zafran karena dia adalah tunanganmu. Itu wajar, tetapi jangan

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   153

    Summayah melihat putrinya yang termenung sambil melempar pakan ikan dengan gerakan mekanis. Ada yang tidak beres dengan Zayna, dan sebagai seorang ibu, Summayah bisa merasakannya."Zayna sayang, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Summayah sambil duduk di samping putrinya.Zayna menghela nafas panjang. "Umi, aku melihat Zafran berbicara dengan perempuan lain. Mereka terlihat sangat akrab.""Dan itu membuatmu...?" Summayah menggantung pertanyaannya, menunggu Zayna melanjutkan."Aku tidak tahu, umi. Harusnya aku senang kan? Kalau Zafran tertarik dengan perempuan lain, itu memudahkanku untuk membatalkan pertunangan. Tetapi kenapa..." suara Zayna bergetar. "Kenapa dadaku sesak melihat mereka?"Summayah tersenyum lembut, mengelus rambut putrinya. "Itu namanya cemburu, nak.""Tetapi umi, aku kan tidak mencintai Zafran. Aku bahkan ingin membatalkan pertunangan ini. Kenapa aku harus cemburu?" Zayna menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca."Zayna, hati itu tidak bisa dibohongi. Kamu bisa saja

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   152

    Setelah Zafran masuk ke ruangan lagi, teman-teman Zayna akhirnya menyusul Zayna. Mereka sebelumnya akan menyusul tetapi mereka melihat Zafran tampaknya memeriksa Zayna jadi mereka mengurungkan. Alisha dan Ira menghampiri Zayna yang bengong di suatu sudut."Za, kamu tidak apa-apa?!" tanya Alisha.Zayna terdiam tetapi kemudian menganggukkan kepalanya."Kalau tidak enak badan, mau istirahat dulu di kamar Raisa?!""Tidak enak lah masa istirahat di kamar pengantin baru?" tanya Alisha terkejut."Aku ingin pulang saja sebentar lagi," jawab Zayna."Baiklah. Bagaimana kalau ditemani?!" tawar Alisha.Alisha juga kurang nyaman disini karena dia introvert dan sekarang acaranya ramai ditambah banyak laki-laki. Dia merasa tidak nyaman. "Jangan dong! Kalian harus menemani Raisa sampai akhir. Aku malah berpikir kalau diriku egois tetapi aku emrasa tidak kuat lagi berada disini," kata Zayna."Apa karena Zafran?" tanya Ira.Zayna menoleh ke Ira. Dia tidak mengatakan apapun tetapi kedua matanya meleba

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   151

    Ketika Zayna, Ira, dan Alisha makan di dalam ruangan, sebab mereka malu untuk makan di luar dimana para tamu terus berdatangan. "Makanannya benar-benar enak. Akankah jika kalian menikah, kalian akan catering ini?" tanya Ira. Zayna tersedak. Dia mengulurkan tangan meminta minum pada Ira dan Ira memberikannya. Sementara itu, Alisha tidak menanggapi dan malah dia menyuruh Ira untuk tidak berbicara ketika sedang makan. "Makan itu tidak boleh diganggu tahu," ucap Zayna. "Maafkan aku," ucap Ira. Zayna menggelengkan kepalanya seolah mengatakan tidak masalah. Alisha cuma tersenyum ke anggota keluarga Raisa yang beberapa kali lewat. Sampai akhirnya rekan-rekan dari pihak mempelai pria masuk dan mulai duduk disekitar mereka.Alisha, Zayna, dan Ira panik."Bagaimana ini?!'" bisik Alisha yang paling tidak nyaman. Zayna justru bertatapan dengan Zafran. Tidak cuma itu, teman-teman Zafran yang sudah mengenal Zayna pun meledek Zafran dengan menyenggol lengannya atau tersenyum padanya. Na

  • Dikejar Lelaki Dingin yang Menolakku   150

    Aula pernikahan itu dipenuhi nuansa lembut bernuansa putih gading dan hijau zaitun.Kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an menghiasi beberapa sudut, berpadu dengan rangkaian bunga segar yang sederhana namun elegan.Lantunan shalawat mengalun pelan, menenangkan hati siapa pun yang hadir. Tidak berlebihan, tidak gemerlap—semuanya terasa khidmat, sebagaimana doa yang dipanjatkan sejak pagi.Zayna berdiri di ruang persiapan bersama Alisha dan Ira. Mereka bertiga mengenakan gaun bridesmaid syar’i dengan potongan longgar, lengan panjang, dan kerudung yang menjuntai anggun.Warna gaun mereka serasi—lembut, menenangkan—seakan menyatu dengan suasana sakral hari itu.Alisha memandang Zayna dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum lebar. “MasyaAllah, Za. Kamu cantik sekali hari ini.”Ira mengangguk setuju. “Cantik yang adem. Bikin orang tenang lihatnya.”Zayna tersenyum malu, menunduk sambil membenahi lipatan kerudungnya. “Kalian juga cantik. Jangan berlebihan, ya.”“Ini bukan berlebihan,” sahut Ali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status