LOGIN"Satu... dua... tiga!"
Anindya memejamkan mata rapat-rapat saat nekat melompati pembatas besi balkon, mendarat dengan lutut bergetar di atas tangga darurat luar gedung. Beruntung, sepatu hak tingginya sudah ia copot sejak tadi dan ia pegang rapat-rapat di tangan kiri. Awas kamu ya Dion, berani-beraninya nyentuh Ibu! batin Anindya membara. Tanpa membuang waktu, gadis itu berlari menuruni anak tangga besi hingga sampai di gang samping gedung. Ia langsung menyetop taksi yang kebetulan melintas dan menyodorkan seluruh uang tunai yang ada di tasnya. "Pak, ke gudang pelabuhan nomor 4! Cepat ya, Pak, taruhannya nyawa ini!" seru Anindya panik. Sementara itu, di dalam gudang pelabuhan yang gelap dan berbau garam. Suara langkah sepatu beradu dengan lantai semen yang berdebu. Reno melangkah masuk sendirian, tangannya menggenggam tas kulit berisi berkas audit asli. Di belakangnya, tim pengawal Bagas sudah mengepung area luar secara diam-diam. "Tepat waktu seperti biasa, Reno," panggil sebuah suara dari balik kegelapan. Dion muncul. Di sampingnya, dua pria berbadan tegap memegangi Ibu Anindya yang terikat di kursi. "Mana berkasnya?!" bentak Dion dengan senyum penuh kemenangan. "Kasih ke gue, dan wanita tua ini bisa pulang!" Reno menatap Dion tanpa rasa takut sedikit pun. "Lepaskan dia dulu. Berkas ini ada di tangan saya, kamu nggak punya posisi untuk menawar." "Gue bilang kasih sekarang!" Dion menarik pistol dari balik pinggangnya dan mengarahkannya tepat ke kepala Ibu Anindya. Ibu Anindya terbelalak, berteriak tertahan dari balik lakban yang menutup mulutnya. Reno menggerakkan rahangnya. Ia perlahan mengangkat tas kulitnya. "Oke. Jangan gegabah." Namun tepat saat Reno hendak melangkah maju, suara decitan rem taksi mengejutkan semua orang di luar gudang. Pintu samping gudang mendadak terdorong keras. BRAK! "IBU!" jerit Anindya dari pintu masuk, napasnya terengah-engah dengan rambut berantakan dan kaki tanpa alas sepatu. Reno seketika menoleh, matanya terbelalak sempurna. "Anindya?! Kenapa kamu bisa ada di sini?!" "Ya saya larilah! Mana tega saya tidur nyenyak saat Ibu sama Bapak dalam bahaya!" sergah Anindya spontan, berlari mendekat tanpa memedulikan bahaya. "Waduh, lengkap sudah!" Dion tertawa menyebalkan. "Bagus, calon pengantinnya datang sendiri! Serahkan berkas itu sekarang Reno, atau dua-duanya bakal gue habisi!" "Anindya, mundur ke belakang saya!" perintah Reno tegas, menggeser tubuh tingginya untuk melindungi Anindya sepenuhnya. Anindya yang ketakutan reflek meremas bagian belakang kemeja putih Reno yang sudah berdebu. Namun di tengah kepungan bahaya itu, mata Anindya tak sengaja bertabrakan dengan tatapan mata Reno yang menoleh sedikit ke arahnya. Tatapan itu... tatapan yang sama. Tatapan mata elang yang penuh perlindungan, kehangatan, dan ketenangan yang pernah ia lihat lima tahun lalu—saat seorang pria asing menyelamatkannya dari keroyokan preman di pasar malam, sebelum pria itu hilang tanpa jejak. Tunggu... jadi pria lima tahun lalu itu... Pak Reno?! batin Anindya terpaku. "Pak... Bapak yang waktu itu di pasar malam, kan?" bisik Anindya terbata-bata, lupa situasi. Reno menyunggingkan senyum tipis di tengah kepungan musuh. "Baru sadar sekarang, Hm?" "Bicara apa kalian?! Serahkan berkas itu!" bentak Dion hilang kesabaran. Jari tangannya mulai bersiap menekan pemicu pistol. Reno tidak menanggapi Dion. Ia hanya berbisik pelan pada Anindya tanpa berpaling, "Begitu saya hitung tiga, merunduk dan pejamkan matamu." "Hah? Maksudnya—" "Satu." Dion mengarahkan tembakan ke arah Reno. "Dua." Reno tiba-tiba melempar tas kulit tebal itu tepat ke wajah Dion! BUK! "Tiga!" BANG! Suara tembakan meletus memecah kegelapan gudang. Anindya menjerit histeris sembari merunduk memeluk lututnya. Di saat yang sama, tim pengawal Bagas menerobos masuk mendobrak pintu besi. Suasana menjadi kacau balau. Baku hantam dan teriakan pecah di mana-mana. Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, suara keributan mendadak henti. Anindya perlahan membuka matanya dengan tubuh gemetaran. Di depannya, Dion sudah tersungkur di lantai dengan tangan terikat kabel oleh Bagas. Dua anak buahnya juga sudah dilumpuhkan. "Ibu!" Anindya langsung berlari menghampiri ibunya, melepaskan lakban dan ikatan tali dengan tangan gemetar. "Ibu nggak apa-apa, kan? Ada yang sakit?" "Ibu nggak apa-apa, Nak... hiks, Ibu takut banget," tangis sang ibu pecah sembari memeluk anak semata pembaginya. Anindya mengusap air matanya, lalu buru-buru menoleh mencari keberadaan bosnya. "Pak Reno!" Reno berdiri beberapa langkah di samping meja kayu. Pria itu tersenyum tenang menatap Anindya. "Ibumu selamat, Anindya. Saya sudah menepati janji." Namun, senyum Anindya mendadak sirna saat matanya menangkap cairan merah pekat yang menetes deras dari sela-sela jari Reno yang memegangi perut sampingnya. Kemeja putih mewahnya sudah bersimbah darah! "Pak Reno! Darah!" jerit Anindya histeris, berlari memeluk tubuh Reno yang mendadak hilang keseimbangan dan tumbang ke pangkuannya. "Peluru Dion... cuma menyerempet sedikit..." bisik Reno serak, suaranya makin melemah. Tangan Reno yang berdarah terangkat, menyentuh pipi Anindya pelan. "Kenapa menangis? Katanya... cuma takut nggak digaji..." "Jangan bercanda dalam kondisi kayak gini, Pak!" tangis Anindya pecah, menahan pendarahan di perut Reno dengan kedua tangannya. "Pak Reno tahan! Buka matanya!" Reno perlahan memejamkan matanya, menyisakan Anindya yang menjerit memanggil namanya di dalam gudang yang dingin itu. "Bagas! Panggil ambulans sekarang! Cepat!" jerit Anindya histeris. Air matanya mengalir makin deras membasahi pipi. Tangan Anindya gemetaran hebat saat terus menekan luka di perut Reno. Darah hangat terus merembes keluar, mengotori jemari dan baju Anindya. "Pak Reno... buka matanya, Pak! Jangan bikin saya takut!" isak Anindya, mendudukkan kepala Reno di pangkuannya. "Katanya Bapak CEO hebat, masa cuma kena tembak gini langsung pingsan?! Buka matanya, Reno!" Bagas dan dua pengawal langsung melangkah cepat menghampiri mereka. Dengan cekatan, Bagas membebat perut Reno menggunakan kain bersih untuk menahan pendarahan. "Nona, ambulans terlalu lama. Kita bawa Pak Reno pakai mobil operasional sekarang!" tegas Bagas sambil memapah tubuh tinggi Reno bersama anak buahnya. "Iya, iya! Bu, ayo ikut!" Anindya menuntun ibunya yang masih syok berat menuju mobil. Selama perjalanan menuju rumah sakit, sirene mobil meraung menembus kegelapan malam. Di kursi belakang, Anindya memangku kepala Reno yang tak sadarkan diri. Jemari Anindya menggenggam erat tangan dingin bosnya, tak peduli bajunya sudah bersimbah darah. "Kenapa Bapak nggak pernah bilang kalau pria di pasar malam lima tahun lalu itu Bapak...?" bisik Anindya lirih, menatap wajah tegas Reno yang kini pucat pasi. Pikiran Anindya melayang ke masa lalu. Lima tahun lalu, saat ia hampir dilecehkan dan dirampok segerombolan preman di gang gelap pasar malam, seorang pria tinggi berjaket hitam datang menerobos kegelapan dan menyelamatkannya. Sebelum Anindya sempat menanyakan nama, pria itu sudah pergi menghilang. Hanya tatapan mata elang yang penuh kehangatan itu yang tertanam kuat di ingatan Anindya. Dan malam ini, di tengah hujan peluru dan ancaman maut, tatapan yang sama kembali menyelamatkannya. "Dasar bos jahat... pura-pura jadi bos galak, padahal sengaja nempel-nempelin cincin ini biar bisa ngelindungin saya," gumam Anindya sambil mengusap cincin berlian di jari manisnya sendiri, air matanya menetes jatuh ke pipi Reno. Rumah Sakit Internasional Grand Medika. Lampu operasi yang merah menyala tegak di atas pintu. Anindya duduk lemas di kursi tunggu, menunduk dengan tangan yang masih tercoreng bercak darah kering. Ibunya duduk di sampingnya, mengusap punggung Anindya dengan lembut. "Anin... Pak Reno itu orang baik, Nak. Dia rela tertembak demi nyelamatin Ibu sama kamu," bisik sang Ibu pelan. "Iya, Bu... Pak Reno emang sok tahu dan nyebelin, tapi... Anin nggak mau Pak Reno kenapa-napa," sahut Anindya dengan suara parau. Suara langkah kaki tergesa-gesa mendadak menggema di koridor rumah sakit. Dua pengacara perusahaan dan seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun—ibu kandung Reno—berjalan mendekat dengan raut wajah panik. "Bagaimana keadaan putra saya?!" tanya Ibu Reno dengan suara bergetar pada Bagas. "Pak Reno masih di dalam ruang operasi, Nyonya Besar. Dokter sedang berusaha mengeluarkan pelurunya," jawab Bagas penuh hormat. Pandangan Ibu Reno mendadak tertuju pada Anindya yang terduduk lemas dengan pakaian berdarah-darah. Wanita anggun itu melangkah mendekati Anindya. Anindya berdiri refleks, merasa sangat canggung dan bersalah. "N-Nyonya... maafkan saya. Pak Reno tertembak gara-gara nolongin saya dan ibu saya..." Namun, alih-alih marah atau memaki, Ibu Reno justru merengkuh tubuh Anindya ke dalam pelukannya. "Kamu Anindya, kan?" bisik Ibu Reno lembut, mengusap rambut Anindya. "Reno sudah sering cerita soal kamu. Jangan minta maaf, Nak. Reno melakukan apa yang harus dilakukan seorang pria untuk melindungi wanita yang dia cintai." Anindya membeku di dalam pelukan itu. Wanita yang dia cintai...? KLEK! Pintu ruang operasi mendadak terbuka. Dokter berpakaian hijau keluar sembari melepas maskernya. Anindya dan keluarga Reno langsung mengerumuni sang dokter. "Dokter, bagaimana kondisi anak saya?!" tanya Ibu Reno panik. Dokter menghela napas lega dan tersenyum tipis. "Operasinya berjalan lancar. Peluru tidak mengenai organ vital dan pendarahan berhasil dihentikan. Pasien sudah melewati masa kritis, tapi masih dalam pengaruh obat bius." Anindya menghembuskan napas panjang, lututnya mendadak lemas sampai harus berpegangan pada sandaran kursi. Alhamdulillah... Pak Reno selamat. Dua jam kemudian. Ruang rawat VIP. Bau karbol dan aroma obat-obatan menyeruak di ruangan yang hening. Reno terbaring di atas bangsal dengan perban tebal melingkari perutnya dan selang infus terpasang di tangan. Anindya duduk sendirian di samping ranjang, sementara ibu dan keluarga Reno sedang mengurus administrasi di luar. Gadis itu memperhatikan garis wajah tegas Reno yang kini tampak lebih tenang saat tertidur. Jemari Anindya bergerak ragu, lalu perlahan merapikan poni rambut Reno yang sedikit berantakan. "Cepetan bangun, Pak," bisik Anindya pelan. "Siapa lagi yang bakal traktir saya mie instan pakai telur kornet kalau Bapak merem terus?" Mendadak, jemari Reno yang terpasang infus bergerak pelan. Kelopak matanya bergetar sebelum perlahan terbuka. "Pak Reno?!" pekik Anindya kaget, langsung mendekatkan wajahnya. "Bapak udah sadar?! Ada yang sakit nggak? Saya panggilin dokter ya!" Saat Anindya hendak berbalik, pergelangan tangannya mendadak ditahan oleh cengkeraman lemah jemari Reno. Reno menatap Anindya dengan tatapan mata elang yang masih sedikit sayu akibat pengaruh bius. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang kelewat tampan. "Jangan ke mana-mana... tetap di sini, Sekretaris Anindya," suara Reno terdengar sangat serak dan pelan. "Saya nggak ke mana-mana, Pak! Saya cuma mau panggil dokter!" cerocos Anindya dengan mata berdaya-daya menahan haru. "Saya tidak butuh dokter..." bisik Reno, menuntun tangan Anindya yang meremas jarinya ke atas dadanya. "Saya cuma butuh calon istri saya." Pipi Anindya seketika merona merah padam sampai ke telinga. "Iish! Masih sempat-sempatnya gombal dalam kondisi perut bolong gitu!" Reno terkekeh pelan meski sedikit meringis menahan nyeri di perutnya. "Kamu... sudah ingat tentang pasar malam lima tahun lalu?" Anindya mengangguk pelan, menundukkan kepalanya malu-malu. "Ingat... Kenapa Bapak nggak pernah cerita dari awal?" "Kalau saya cerita dari awal, kamu bakal mikir saya sengaja memanfaatkan situasi untuk mendekatimu," jawab Reno jujur, menatap Anindya tanpa berpaling. "Saya mau kamu ada di samping saya bukan karena rasa utang budi... tapi karena kamu memang butuh saya, seperti saya butuh kamu." Jantung Anindya berdegup kencang tak beraturan. Kata-kata tegas dari bos dingin itu sukses meluluhkan pertahanan hatinya sepenuhnya. KLEK! Pintu kamar rawat mendadak terbuka keras. Bagas masuk dengan raut wajah sangat tegang dan panik. "Pak Reno! Mohon maaf mengganggu!" potong Bagas cepat. Reno mengerutkan dahi, posisinya sedikit menegak. "Ada apa, Bagas?" "Tuan Hendra... dia baru saja kabur dari tahanan kepolisian saat pemindahan berkas! Dan laporan dari intelijen kita, dia sedang bergerak menuju rumah sakit ini membawa bom rakitan!"Pukul 07.15 WIB. Gedung Graha Nusantara, Jakarta Pusat.Suasana di luar gedung pencakar langit itu seperti medan perang. Puluhan preman sewaan berjas hitam milik Tuan Wijaya memblokir gerbang utama, sementara puluhan wartawan berjejal di balik pagar barikade."Laporan langsung dari lokasi RUPS! Pihak Tuan Wijaya baru saja menyatakan bahwa rapat pemungutan suara Direktur Utama akan dimulai tepat pukul delapan pagi tanpa kehadiran Reno Dirgantara yang diduga kabur bersama buronan—"WUSH-WUSH-WUSH!Suara kibasan baling-baling helikopter memotong laporan reporter itu. Sebuah helikopter komersial berwarna hitam legam bertuliskan logo Dirgantara Group menukik turun dari langit pagi Jakarta, mendarat mulus tepat di helipad atap gedung!Para pengawal Tuan Wijaya di atap kaget setengah mati. Belum sempat mereka bereaksi, pintu helikopter terbuka. Tiga belas pengawal pribadi berseragam taktis turun duluan, membanting barikade atap dan membuka jalan.Reno keluar lebih dulu dengan jas abu-abu gel
"Jangan ngawur, Reno! Kamu mau dikeroyok puluhan polisi?!" seru Anindya panik. Tangannya makin erat meremas kemeja hitam Reno.Reno membalikkan badan, lalu menangkup kedua pipi Anindya dengan hangat. "Dengar saya. Mereka ke sini bawa surat perintah atas nama kamu, bukan saya. Selama mereka nggak punya izin geledah resmi yang ditandatangani hakim malam ini, mereka nggak bisa asal masuk. Saya cuma perlu ulur waktu sepuluh menit.""Tapi—""Lari, Anin. Sekarang!" potong Reno tegas.Anindya menyambar tas dokumennya dari kursi, lalu berlari kencang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa begitu berat karena rasa takut yang membakar dada.BRAMMM!Di bawah, pintu utama vila dibuka lebar oleh Reno. Suara gemuruh hujan dan raungan sirene langsung menerobos masuk ke dalam vila.Dari balik celak celak pembatas tangga lantai dua, Anindya mengintip dengan napas terengah-engah.Dion berdiri di paling depan bersama Pengacara Wijaya dan lima petug
"Surat perintah penangkapan...?" cicit Anindya. Suaranya bergetar hebat. Sendok di tangannya terlepas, jatuh terbentur piring porselen dengan bunyi nyaring.Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Reno memintanya menikah, dan kini ia menjadi buronan atas tuduhan kejahatan berat yang tidak pernah ia lakukan."Pak Bagas, ini nggak salah?!" desak Anindya panik, matanya berkaca-kaca menatap ponsel di meja. "Saya bahkan nggak pernah pegang dokumen asli milik almarhum Ayah Pak Reno!""Skenario Tuan Wijaya sangat rapi, Nona Anindya!" seru Bagas dari balik telepon. "Dia memanfaatkan pengacara lama keluarga untuk bikin draf warisan palsu, lalu memotong video rekaman CCTV kantor seolah Nona menyusup ke ruang arsip! Media sudah menggoreng beritanya, dan polisi dalam perjalanan ke Surabaya setelah melacak sinyal terakhir!"Napas Anindya memburu, kepalanya mendadak pusing membayangkan dirinya diborgol di depan media seluruh Indonesia."Bagas," potong Reno dingin, memutus histeria
"Pak, gimana ini?! Kalender jam lima pagi mereka udah siap bikin beritanya melayang ke mana-mana!" Anindya panik setengah mati seraya meremas map dokumennya.Reno dengan cepat memancing kancing kemeja hitamnya sampai rapi, lalu mengenakan jasnya kembali. Wajahnya begitu tenang, tapi sorot matanya tajam bagai belati."Tenang, Anin. Ikut saya lewat lorong evakuasi belakang," bisik Reno seraya meraih jemari Anindya."Tapi dokumennya—""Dokumen itu tetap aman sama kamu. Mari kita kasih Dion dan media pertunjukan yang beda."Lewat pintu rahasia staf hotel dan pengawalan ketat tim cadangan, mereka berhasil mengecoh massa Dion dan keluar dari area hotel tanpa tercium media. Namun, menyadari perjalanan kembali ke Jakarta masih berbahaya dan waktu RUPS tinggal menghitung jam besok pagi, Reno membawa Anindya ke sebuah vila pribadi milik keluarga inti yang tersembunyi di pinggiran Surabaya.Pukul tujuh malam. Vila Kayu, Surabaya.Keheningan melingkupi vila mewah berdinding kaca itu. Hujan gerimi
"Serahkan tas itu, Anindya!" bentak Dion seraya memberi isyarat pada anak buahnya.Suara benturan besi dan teriakan pecah di tengah rintik hujan. Maya dan dua pengawal pria bertarung habis-habisan menahan belasan preman."Nona! Lari!" teriak Maya seraya mengunci pergerakan dua anak buah Dion.Tanpa berpikir panjang, Anindya memeluk tas dokumennya erat-erat dan berlari menembus kegelapan pinggir jalan tol. Napasnya memburu, kakinya yang terluka akibat benturan terasa makin perih. Di belakangnya, suara derap langkah Dion dan dua preman terdengar makin mendekat.BIP-BIP!Tiba-tiba, sebuah mobil van hitam melaju kencang dari arah belakang, membanting stir dan berhenti tepat di samping Anindya. Pintu geser terbuka lebar."Nona Anindya, cepat naik!" teriak seorang pria berseragam pengawal tim cadangan Reno.Tanpa ragu, Anindya melompat masuk. Mobil langsung tancap gas, meninggalkan Dion yang memaki habis-habisan di tengah hujan. Anindya menyandarkan punggungnya, dadanya naik turun tajam. Ia
"Pak Reno! Keputusannya harus sekarang!" desak Bagas dengan wajah pucat pasi. "Pintu RUPS sudah dikunci dari dalam oleh orang-orang Tuan Wijaya. Kalau Bapak tidak masuk sekarang, pemungutan suara akan dianggap sah tanpa sanggahan!"Anindya meremas jemari Reno yang makin teraba dingin. "Pak... Ibu. Nyonya Besar lebih butuh Bapak sekarang."Reno memejamkan mata sejenak. Tarikan napasnya terasa amat berat, seolah beban seluruh dunia dihantamkan ke pundaknya. Begitu matanya kembali terbuka, kilat tegas dan dingin terpancar jelas dari manik hitamnya."Bagas,dobrak pintu RUPS itu pakai pengawal," perintah Reno dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Tahan mereka. Jangan biarkan ada satu pun kertas hasil pemungutan suara yang ditandatangani sampai saya kembali.""Tapi Pak—""Lakukan sekarang!" potong Reno tanpa bantahan. Ia lalu menoleh lurus pada Anindya. "Anin, kamu ikut saya ke rumah sakit.""I-iya, Pak!"Anindya langsung menyambar map tebalnya dan berlari kecil menyamai langkah tegap







