首頁 / Romansa / Dikejar Mantan Boss! / Bab 7 Lembur Berdua

分享

Bab 7 Lembur Berdua

作者: Suci Awaliah
last update publish date: 2026-09-03 00:33:30

"Uhuk! U-uhuk! Pak, ini asap apa?!" jerit Anindya sambil menutup hidung dan mulutnya pakai ujung lengan baju. Bau menyengat langsung bikin matanya perih.

Reno bergerak cepat. Pria itu melepaskan jas mewahnya, lalu membungkuskan kain itu ke kepala dan wajah Anindya. "Tahan napasmu, Anindya! Jangan dihirup!"

"Tapi Bapak gimana?!" cicit Anindya dari balik jas Reno, panik setengah mati melihat bosnya mulai terbatuk-batuk.

"Saya baik-baik saja," bisik Reno serak. Tanpa buang waktu, pria itu melompat ringan, meraih pinggiran kap atas lift, lalu menarik tubuhnya ke atas dengan satu gerakan bertenaga.

Brak!

Reno membuka kap darurat lift. Di sana, di balik tumpukan kabel, ada sebuah kotak hitam kecil yang berkedip merah—alat pemancar asap sekaligus peretas sistem lift milik musuh. Tanpa ragu, Reno mencabut paksa kabel indikatornya sampai percikan api kecil menyembur.

BUZZ!

Suara desisan asap mendadak berhenti. Sistem keamanan darurat gedung langsung mengambil alih, membuka pintu lift secara manual di lantai 11!

"Lari keluar, Nin!" panggil Reno melompat turun kembali ke kabin lift, lalu merengkuh pinggang Anindya dan membawanya keluar menerobos pintu lift yang terbuka separuh.

Hah... hah...

Keduanya jatuh terduduk di lantai koridor yang sepi. Anindya terbatuk-batuk sembari meraup udara segar, dadanya naik turun.

"Bapak nggak apa-apa?" tanya Anindya cemas, spontan menyentuh pipi Reno yang sedikit terkena jelaga hitam.

Reno memegang tangan Anindya yang ada di pipinya, menatap gadis itu tajam di remang lampu koridor. "Kamu lebih mengkhawatirkan saya dibanding diri kamu sendiri?"

"Ya iyalah! Kalau Bapak pingsan, siapa yang bayar gaji saya?!" cerocos Anindya asal, bikin suasana tegang itu mendadak pecah.

Reno terkekeh pelan. Pria itu menyandarkan kepalanya di dinding koridor, mengusap wajahnya yang lelah. "Hendra sudah mulai nekat. Dia tahu posisi perusahaannya makin terdesak setelah bom audit tadi pagi."

"Terus sekarang kita gimana, Pak? Ibu aman, kan?"

"Aman. Tim pengawal sudah memindahkan Ibumu ke rumah aman milik keluarga saya," ujar Reno pasti. Pria itu lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Anindya. "Sekarang, tugas kita belum selesai."

Anindya menatap uluran tangan itu dengan kening berkerut. "Maksudnya?"

"Malam ini... kita lembur berdua."

Pukul sembilan malam. Ruang kerja CEO yang sangat luas itu kini hening. Hanya terdengar suara dentingan ketikan keyboard dan desir pendingin ruangan.

Anindya duduk di sofa empuk dengan tumpukan berkas keuangan di meja. Sementara Reno duduk di sampingnya, melepas dasi dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga menyisakan kesan maskulin yang kelewat tampan.

"Pak, ini laporan transaksi tahun 2023 kok ada nama 'Nyonya Maya' ya? Katanya tadi toko emas udah tutup dari tiga tahun lalu?" tanya Anindya serius, menunjuk angka-angka di kertas.

Reno mendekatkan posisinya, menyandarkan satu tangannya di sandaran sofa di belakang Anindya—seolah-olah sedang merangkul gadis itu dari belakang.

"Itu nama samaran yang dipakai Dion untuk menyamarkan pencucian uang Hendra," bisik Reno tepat di samping telinga Anindya.

Anindya merinding seketika. Bau parfum maskulin Reno yang khas bercampur aroma kopi makin membuat fokusnya buyar.

"P-Pak... bisa agak geseran dikit nggak? Sempit nih," cicit Anindya dengan pipi merona merah.

"Sofa ini luasnya tiga meter, Anindya," balas Reno santai, malah makin mengikis jarak sampai bahu mereka saling bersentuhan. "Kamu yang deg-degan, makanya kerasa sempit."

"Ih, pede banget!" sergah Anindya cepat-cepat mengalihkan pandangan ke laptop. "Saya cuma mau cepat beres! Saya mau tidur!"

"Ya sudah, selesaikan bagian verifikasi itu. Kalau beres sebelum jam sepuluh, saya traktir mie instan pakai telur kornet di pantry."

Mata Anindya seketika berbinar. "Pake cabai rawit potongan nggak?"

"Pakai. Sama kerupuk kalau mau."

"Deal! Awas ya kalau bohong!" seru Anindya mendadak bersemangat 45 membongkar berkas.

Reno tersenyum tipis melihat tingkah polos gadis di sampingnya. Di tengah badai konflik dan ancaman bisnis yang makin panas, kepolosan Anindya justru jadi satu-satunya penawar rasa lelahnya.

Satu jam berlalu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.15.

Reno baru saja menyelesaikan laporan ke kepolisian saat suasana ruangan mendadak sangat hening. Tidak ada lagi suara ketikan sibuk dari sampingnya.

Pria itu menoleh. Anindya ternyata sudah tertidur pulas di sofa. Kepalanya terkulai menyender di bahu tegap Reno, dengan selembar kertas laporan masih tergenggam di tangannya.

Reno menghentikan gerakannya. Pria itu menatap wajah polos Anindya yang terlelap. Napas gadis itu teratur, bibirnya sedikit terbuka kecil—sangat menggemaskan.

"Dasar... katanya mau makan mie instan," gumam Reno pelan.

Dengan lembut, Reno mengambil kertas dari genggaman Anindya. Pria itu lalu membetulkan posisi tidur Anindya, merebahkannya perlahan di sofa, lalu menyelimutinya dengan jas hitam miliknya.

Reno berlutut di samping sofa, menatap jemari Anindya yang melingkar cincin pemberiannya. Tangannya terulur, mengusap lembut rambut gadis itu.

"Saya pastikan besok pagi... Hendra dan Dion tidak akan punya celah lagi untuk menyentuhmu," bisik Reno penuh tekad.

Namun, tepat saat Reno hendak berdiri, telepon genggam milik Anindya yang tergeletak di atas meja mendadak menyala dan bergetar nyaring!

BZZZ! BZZZ!

Reno melirik layar ponsel Anindya. Sebuah nama pemanggil asing muncul di layar, disertai sebuah pesan pop-up yang membuat rahang Reno seketika mengeras kaku:

"Anin, ini Dion. Ibu kamu sebenarnya ada di tangan saya, bukan di rumah aman Reno! Datang ke gedung tua dekat pelabuhan sekarang kalau mau lihat Ibumu selamat!"

Reno mencengkeram ponsel itu dengan erat. Tatapannya membeku, mengintai layar yang terus berkedip-kedip. Rahangnya mengeras sampai urat-urat di lehernya menegang.

Ia tidak langsung menyanggupi atau menelepon balik. Pria itu menyapukan jarinya di layar, lalu mengetik pesan balasan pendek dengan nada sangat dingin.

"Kirim video bukti kalau dia benar-benar sama kamu. Jangan cuma gertak sambal."

Hanya dalam hitungan detik, ponsel Anindya bergetar lagi. Sebuah rekaman video berdurasi lima detik masuk.

Reno memutar video itu. Di layar, terlihat seorang wanita paruh baya sedang duduk terikat di kursi dengan mulut ditutup lakban hitam. Lampu remang-remang di sekelilingnya memperlihatkan dinding semen tua yang lembap. Dan di sudut video, wajah Dion muncul menyeringai tipis.

"Gimana, Reno? Masih mikir ini gertakan?" bunyi pesan menyusul tepat setelah video berakhir. "Jangan sok pintar bawa polisi. Gue cuma butuh berkas audit asli yang ada di tangan lu. Kalau dalam empat puluh lima menit lu nggak muncul di gudang pelabuhan nomor 4, ibu dari calon istri tercintamu ini bakal gue tenggelamkan ke laut!"

Reno menghembuskan napas berat. Pria itu menoleh ke arah Anindya yang masih tertidur pulas. Selimut jas mewahnya masih membungkus tubuh gadis itu dengan hangat.

"Reno... mie instannya mana...?" gumam Anindya dalam tidurnya, menggeledet pelan lalu memeluk jas Reno makin erat.

Reno mengusap rambut Anindya pelan. Rasa bersalah seketika merayapi dadanya. Gadis polos ini sama sekali tidak tahu kalau hidup ibunya sedang dipertaruhkan demi ambisi kotor orang lain.

Kalau Anindya bangun dan baca pesan ini, dia pasti bakal nekat berlari ke sana tanpa pikir panjang, batin Reno.

Pria itu merogoh ponsel pribadinya, lalu menghubungi kapten pengawal khususnya.

"Bagas, lacak sinyal dari nomor yang baru saja kirim pesan ke ponsel Anindya," perintah Reno cepat dengan suara sangat pelan. "Siapkan tiga unit mobil. Kita berangkat ke area pelabuhan sekarang."

"Siap, Pak! Bagaimana dengan Nona Anindya?" tanya suara di seberang telepon.

"Biarkan dia tidur di ruang kerja. Kunci pintu dari luar dan tempatkan dua pengawal di depan pintu. Jangan sampai dia keluar sebelum saya kembali."

Reno mematikan sambungan. Pria itu mengambil map berisi berkas audit asli di atas meja, lalu menyelipkannya ke dalam tas kulit. Sebelum melangkah keluar, Reno berlutut sebentar di samping sofa tempat Anindya terlelap.

Ia mengecup dahi Anindya dengan lembut dan berbisik lirih, "Tunggu di sini. Saya akan bawa Ibumu pulang dengan selamat."

Reno berdiri, mematikan lampu utama ruangan hingga menyisakan lampu meja yang temaram, lalu melangkah keluar dan mengunci pintu rapat-rapat.

Tiga puluh menit kemudian.

Anindya menggeliat pelan. Lengannya meraba-raba sofa yang terasa dingin. Saat matanya perlahan terbuka, ia mendapati ruangan kerja sudah sepi dan gelap. Hanya ada lampu meja yang menyala remang.

"Pak Reno...?" panggil Anindya dengan suara serak khas bangun tidur.

Ia mengusap matanya, lalu mendudukkan diri. Jas hitam Reno yang tadi menyelimutinya merosot ke pangkuan. Anindya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 23.00.

"Lho, Pak Reno ke mana? Katanya mau ngeracik mie instan?" gumam Anindya cemberut.

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Begitu layarnya menyala, matanya yang tadi mengantuk seketika melotot lebar. Ada notifikasi pesan dari Dion yang sudah dibaca!

Anindya membaca setiap bait kalimat ancaman itu, lengkap dengan rekaman video ibunya yang terikat di gedung tua.

"I-Ibu... Ya Tuhan, Ibu!" pekik Anindya histeris. Lututnya langsung lemas seketika.

Dengan tangan gemetaran, Anindya langsung berlari menuju pintu ruangan. Ia memutar gagang pintu, tapi pintu itu terkunci rapat dari luar!

KLEK! KLEK!

"Buka! Tolong buka pintunya!" jerit Anindya sambil menggedor-gedor pintu kayu yang tebal itu.

"Nona Anindya, tolong tenang," suara pengawal dari luar pintu terdengar. "Pak Reno memerintahkan kami untuk menjaga Nona di dalam sampai beliau kembali."

"Pak Reno ke mana?!" bentak Anindya panik, air matanya mulai menetes.

"Pak Reno sedang menuju ke pelabuhan untuk menyelesaikannya sendiri, Nona."

Jantung Anindya rasanya mau meledak. Gila! Pak Reno nekat pergi sendirian ke sarang penjahat itu?! Dion itu licik, dia pasti udah nyiapin jebakan!

Anindya mundur beberapa langkah, menatap sekeliling ruangan yang luas itu dengan napas memburu. Ia tidak bisa cuma duduk manis menanti nasib ibu dan calon suaminya dipertaruhkan.

Mata Anindya mendadak tertuju pada pintu balkon kecil di sudut ruang kerja CEO—jalur pembuangan AC yang terhubung ke tangga darurat luar!

Gadis itu menyapu air matanya kasar. "Awas ya Pak Reno... kalau sampai Bapak sama Ibu kenapa-napa, saya nggak bakal mau jadi sekretaris Bapak lagi!"

Anindya berlari menuju jendela balkon, meraih tiang besi pembatas, dan bersiap menerobos keluar malam itu juga.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 20 Hadiah Misterius di Meja Kerja

    Pukul 07.15 WIB. Gedung Graha Nusantara, Jakarta Pusat.Suasana di luar gedung pencakar langit itu seperti medan perang. Puluhan preman sewaan berjas hitam milik Tuan Wijaya memblokir gerbang utama, sementara puluhan wartawan berjejal di balik pagar barikade."Laporan langsung dari lokasi RUPS! Pihak Tuan Wijaya baru saja menyatakan bahwa rapat pemungutan suara Direktur Utama akan dimulai tepat pukul delapan pagi tanpa kehadiran Reno Dirgantara yang diduga kabur bersama buronan—"WUSH-WUSH-WUSH!Suara kibasan baling-baling helikopter memotong laporan reporter itu. Sebuah helikopter komersial berwarna hitam legam bertuliskan logo Dirgantara Group menukik turun dari langit pagi Jakarta, mendarat mulus tepat di helipad atap gedung!Para pengawal Tuan Wijaya di atap kaget setengah mati. Belum sempat mereka bereaksi, pintu helikopter terbuka. Tiga belas pengawal pribadi berseragam taktis turun duluan, membanting barikade atap dan membuka jalan.Reno keluar lebih dulu dengan jas abu-abu gel

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 19 Menghindari Sang Ex-Boss

    "Jangan ngawur, Reno! Kamu mau dikeroyok puluhan polisi?!" seru Anindya panik. Tangannya makin erat meremas kemeja hitam Reno.Reno membalikkan badan, lalu menangkup kedua pipi Anindya dengan hangat. "Dengar saya. Mereka ke sini bawa surat perintah atas nama kamu, bukan saya. Selama mereka nggak punya izin geledah resmi yang ditandatangani hakim malam ini, mereka nggak bisa asal masuk. Saya cuma perlu ulur waktu sepuluh menit.""Tapi—""Lari, Anin. Sekarang!" potong Reno tegas.Anindya menyambar tas dokumennya dari kursi, lalu berlari kencang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa begitu berat karena rasa takut yang membakar dada.BRAMMM!Di bawah, pintu utama vila dibuka lebar oleh Reno. Suara gemuruh hujan dan raungan sirene langsung menerobos masuk ke dalam vila.Dari balik celak celak pembatas tangga lantai dua, Anindya mengintip dengan napas terengah-engah.Dion berdiri di paling depan bersama Pengacara Wijaya dan lima petug

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 18 Pengakuan Singkat

    "Surat perintah penangkapan...?" cicit Anindya. Suaranya bergetar hebat. Sendok di tangannya terlepas, jatuh terbentur piring porselen dengan bunyi nyaring.Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Reno memintanya menikah, dan kini ia menjadi buronan atas tuduhan kejahatan berat yang tidak pernah ia lakukan."Pak Bagas, ini nggak salah?!" desak Anindya panik, matanya berkaca-kaca menatap ponsel di meja. "Saya bahkan nggak pernah pegang dokumen asli milik almarhum Ayah Pak Reno!""Skenario Tuan Wijaya sangat rapi, Nona Anindya!" seru Bagas dari balik telepon. "Dia memanfaatkan pengacara lama keluarga untuk bikin draf warisan palsu, lalu memotong video rekaman CCTV kantor seolah Nona menyusup ke ruang arsip! Media sudah menggoreng beritanya, dan polisi dalam perjalanan ke Surabaya setelah melacak sinyal terakhir!"Napas Anindya memburu, kepalanya mendadak pusing membayangkan dirinya diborgol di depan media seluruh Indonesia."Bagas," potong Reno dingin, memutus histeria

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 17 Makan Malam Canggung

    "Pak, gimana ini?! Kalender jam lima pagi mereka udah siap bikin beritanya melayang ke mana-mana!" Anindya panik setengah mati seraya meremas map dokumennya.Reno dengan cepat memancing kancing kemeja hitamnya sampai rapi, lalu mengenakan jasnya kembali. Wajahnya begitu tenang, tapi sorot matanya tajam bagai belati."Tenang, Anin. Ikut saya lewat lorong evakuasi belakang," bisik Reno seraya meraih jemari Anindya."Tapi dokumennya—""Dokumen itu tetap aman sama kamu. Mari kita kasih Dion dan media pertunjukan yang beda."Lewat pintu rahasia staf hotel dan pengawalan ketat tim cadangan, mereka berhasil mengecoh massa Dion dan keluar dari area hotel tanpa tercium media. Namun, menyadari perjalanan kembali ke Jakarta masih berbahaya dan waktu RUPS tinggal menghitung jam besok pagi, Reno membawa Anindya ke sebuah vila pribadi milik keluarga inti yang tersembunyi di pinggiran Surabaya.Pukul tujuh malam. Vila Kayu, Surabaya.Keheningan melingkupi vila mewah berdinding kaca itu. Hujan gerimi

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 16 Kamar Hotel yang Tertukar

    "Serahkan tas itu, Anindya!" bentak Dion seraya memberi isyarat pada anak buahnya.Suara benturan besi dan teriakan pecah di tengah rintik hujan. Maya dan dua pengawal pria bertarung habis-habisan menahan belasan preman."Nona! Lari!" teriak Maya seraya mengunci pergerakan dua anak buah Dion.Tanpa berpikir panjang, Anindya memeluk tas dokumennya erat-erat dan berlari menembus kegelapan pinggir jalan tol. Napasnya memburu, kakinya yang terluka akibat benturan terasa makin perih. Di belakangnya, suara derap langkah Dion dan dua preman terdengar makin mendekat.BIP-BIP!Tiba-tiba, sebuah mobil van hitam melaju kencang dari arah belakang, membanting stir dan berhenti tepat di samping Anindya. Pintu geser terbuka lebar."Nona Anindya, cepat naik!" teriak seorang pria berseragam pengawal tim cadangan Reno.Tanpa ragu, Anindya melompat masuk. Mobil langsung tancap gas, meninggalkan Dion yang memaki habis-habisan di tengah hujan. Anindya menyandarkan punggungnya, dadanya naik turun tajam. Ia

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 15 Tugas Luar Kota Tiba-Tiba

    "Pak Reno! Keputusannya harus sekarang!" desak Bagas dengan wajah pucat pasi. "Pintu RUPS sudah dikunci dari dalam oleh orang-orang Tuan Wijaya. Kalau Bapak tidak masuk sekarang, pemungutan suara akan dianggap sah tanpa sanggahan!"Anindya meremas jemari Reno yang makin teraba dingin. "Pak... Ibu. Nyonya Besar lebih butuh Bapak sekarang."Reno memejamkan mata sejenak. Tarikan napasnya terasa amat berat, seolah beban seluruh dunia dihantamkan ke pundaknya. Begitu matanya kembali terbuka, kilat tegas dan dingin terpancar jelas dari manik hitamnya."Bagas,dobrak pintu RUPS itu pakai pengawal," perintah Reno dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Tahan mereka. Jangan biarkan ada satu pun kertas hasil pemungutan suara yang ditandatangani sampai saya kembali.""Tapi Pak—""Lakukan sekarang!" potong Reno tanpa bantahan. Ia lalu menoleh lurus pada Anindya. "Anin, kamu ikut saya ke rumah sakit.""I-iya, Pak!"Anindya langsung menyambar map tebalnya dan berlari kecil menyamai langkah tegap

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status