Se connecter"Ibu...""Jangan menatapnya seperti itu."Ucap Nathan mengusap pelipisnya pelan.Sementara ibunya sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Loraine."Kenapa? Ibu cuma melihat calon menantuku."Nathan langsung menutup mata."Ibu mulai lagi..." batinnya. "Dia bisa saja merasa tak nyaman," ucap Nathan akhirnya. Namun ibunya tidak menggubrisnya, justru tersenyum semakin lebar dan mulai bertanya, “namanya siapa?"Nathan baru hendak menjawab. Ibunya sudah kembali bertanya."Umur berapa?""Kerja di mana?""Suka makanan apa?""Kalian kenal sejak kapan?""Siapa yang menyatakan cinta dulu?"Nathan menarik napas panjang dan mulai membuka mulut, "Bu..."Belum selesai Nathan bicara, Ibunya lanjut lagi."Sudah berapa lama pacaran?""Sudah pernah bertengkar belum?""Tanggal nikahnya kapan?""Anak pertama nanti ma
Tepat saat tangan mereka saling berjabat—Ting tong.Bel rumah berbunyi.Nathan menoleh ke arah pintu, “sepertinya makanan sudah datang."Pria itu melepaskan jabatan tangannya dengan Loraine lalu berjalan menuju pintu depan.Loraine mengangguk pelan, “baik, Pak."Nathan berjalan menuju pintu tanpa curiga. Begitu pintu dibuka…"..."Yang berdiri di depan pintu sama sekali bukan kurir. Melainkan seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan dengan senyum lebar di wajahnya. Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya berkacamata yang membawa sebuah kotak makanan besar.Nathan membeku."Ibu...""...Ayah."Ibunya tersenyum cerah, “nah, akhirnya dibuka juga."Nathan masih belum bergerak."Kalian... kenapa ada di sini?"Ibunya mengangkat kantong makanan yang ada di tangannya."Di depan gerbang kami bertemu kurir makanan. Jadi sekalian ibu bawaka
“Astaga!” refleks Loraine.Jantungnya berdegup kencang. Ia langsung menoleh ke belakang."..."Nathan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Loraine menghela napas lega."Pa-Pak Nathan..."Nathan mematung sejenak, “apakah saya mengejutkan Anda?"Loraine buru-buru menggeleng."Ti-tidak."Namun saat matanya melihat wajah Nathan. Ia langsung membeku."Kok… mata beliau..." batinnya. Lingkaran hitam di bawah mata Nathan terlihat sangat jelas."Hitam sekali..." pikirnya. Loraine spontan ingin bertanya apakah Nathan sakit. Namun bibirnya segera terkatup rapat."Jangan. Nanti beliau tersinggung."Nathan melihat ekspresi Loraine yang berubah-ubah."...""Kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya datar.Loraine langsung panik, “ti-tidak ada apa-apa, Pak!"Nathan mengangguk singkat, “begitu ya."Pria itu sama sekali tidak sadar kalau dirinya sekarang memiliki mata panda akibat hanya tidur sekitar dua jam.Beberapa jam sebelumnya.Pukul 05.08Nathan terbangun saat suara notifikasi tablet terden
"Lalu mulai dari mana?”Nathan menatap layar laptopnya cukup lama. Kursor kecil itu masih terus berkedip di halaman kosong."..."Ia melirik jam digital di sudut layarㅡpukul 02.17. Pria itu menarik napas panjang dan menghembuskannya."Dua jam...""Sudah dua jam aku menatap layar kosong."Ia memijat pelipisnya pelan."Ternyata membuat kontrak nikah lebih sulit daripada menyusun proposal investasi."Nathan kembali mencoba mengetik ‘Pasal 1’. Beberapa detik kemudian ia kembali menghapusnya."...""Aku menyerah."Nathan mengambil ponselnya dari atas meja. Jemarinya berhenti pada satu namaㅡJackson. Tanpa ragu ia langsung menekan tombol panggil.Tut… tut… tut…Telepon baru diangkat setelah dering kelima. Suara mengantuk langsung terdengar dari seberang."...Halo."Nathan menjawab singkat, “bangun."Jackson mengusap wajahnya di balik sambungan telepon."Bro... ini masih jam dua pagi. Ada masalah?"Nathan menjawab datar, “ada."Nada suaranya yang serius membuat Jackson langsung duduk tegak."
"Masuklah,” ucap Nathan. Loraine menarik napas pelan sebelum akhirnya melangkahkan kaki memasuki rumah Nathan. Begitu melewati pintu utama, matanya langsung membulat. Rumah itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Ruang tamunya memiliki langit-langit tinggi dengan lampu gantung sederhana. Furniturnya tidak berlebihan, tetapi semuanya tampak rapi dan elegan. Lantai marmer mengkilap memantulkan cahaya lampu hangat yang membuat suasana rumah terasa nyaman."..."Loraine berdiri mematung.Nathan yang sudah lebih dulu masuk menoleh, “kenapa?"Loraine buru-buru menggeleng."Bukan apa-apa, Pak."Nathan hanya mengangguk pelan lalu menaruh kedua koper di dekat dinding."Silakan duduk."Loraine mengangguk kecil. Namun beberapa detik berlalu… ia tetap berdiri. Nathan melirik sekilas."Kenapa masih berdiri?" batinnya.Ia menoleh lagi, "Bu Loraine.""Iya, Pak?" jawa
"Silakan masuk, Pak,” ucap Loraine. Nathan mengangguk pelan lalu melangkah masuk.Satu detik.Dua detik.Langkahnya perlahan berhenti."..."Nathan berdiri mematung di ambang pintu. Ia tercengang saat tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan. Apartemen itu… kosong.Benar-benar kosong. Tidak ada televisi, tidak ada sofa, tidak ada rak buku, bahkan tidak ada lukisan, tanaman hias, atau dekorasi apa pun. Yang ada hanya meja makan kecil dengan dua kursi, dapur mungil, serta beberapa perabot bawaan apartemen.Nathan berkedip pelan."Ini benar-benar tempat tinggal?" batinnya. Loraine yang menyadari Nathan tidak bergerak ikut menoleh ke arah Nathan. "Ada apa, Pak?"Nathan langsung tersadar, “tidak... tidak ada apa-apa."Ia akhirnya masuk.Loraine menutup pintu, “silakan duduk, Pak."Nathan melihat sekeliling. Karena tidak menemukan sofa. Akhirnya ia duduk di salah satu kursi meja makan."Rumah tanpa ruang tamu..." batinnya.Sementara itu Loraine berjalan menuju dapur."Bapak mau minum







