공유

BAB 18

작가: Riichan
last update 게시일: 2026-07-17 16:13:46

"Silakan masuk, Pak,” ucap Loraine.

Nathan mengangguk pelan lalu melangkah masuk.

Satu detik.

Dua detik.

Langkahnya perlahan berhenti.

"..."

Nathan berdiri mematung di ambang pintu. Ia tercengang saat tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan. Apartemen itu… kosong.

Benar-benar kosong. Tidak ada televisi, tidak ada sofa, tidak ada rak buku, bahkan tidak ada lukisan, tanaman hias, atau dekorasi apa pun. Yang ada hanya meja makan kecil dengan dua kursi, dapur mungil, serta beberapa perabot baw
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 21

    “Astaga!” refleks Loraine.Jantungnya berdegup kencang. Ia langsung menoleh ke belakang."..."Nathan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Loraine menghela napas lega."Pa-Pak Nathan..."Nathan mematung sejenak, “apakah saya mengejutkan Anda?"Loraine buru-buru menggeleng."Ti-tidak."Namun saat matanya melihat wajah Nathan. Ia langsung membeku."Kok… mata beliau..." batinnya. Lingkaran hitam di bawah mata Nathan terlihat sangat jelas."Hitam sekali..." pikirnya. Loraine spontan ingin bertanya apakah Nathan sakit. Namun bibirnya segera terkatup rapat."Jangan. Nanti beliau tersinggung."Nathan melihat ekspresi Loraine yang berubah-ubah."...""Kenapa menatapku seperti itu?" tanyanya datar.Loraine langsung panik, “ti-tidak ada apa-apa, Pak!"Nathan mengangguk singkat, “begitu ya."Pria itu sama sekali tidak sadar kalau dirinya sekarang memiliki mata panda akibat hanya tidur sekitar dua jam.Beberapa jam sebelumnya.Pukul 05.08Nathan terbangun saat suara notifikasi tablet terden

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 20

    "Lalu mulai dari mana?”Nathan menatap layar laptopnya cukup lama. Kursor kecil itu masih terus berkedip di halaman kosong."..."Ia melirik jam digital di sudut layarㅡpukul 02.17. Pria itu menarik napas panjang dan menghembuskannya."Dua jam...""Sudah dua jam aku menatap layar kosong."Ia memijat pelipisnya pelan."Ternyata membuat kontrak nikah lebih sulit daripada menyusun proposal investasi."Nathan kembali mencoba mengetik ‘Pasal 1’. Beberapa detik kemudian ia kembali menghapusnya."...""Aku menyerah."Nathan mengambil ponselnya dari atas meja. Jemarinya berhenti pada satu namaㅡJackson. Tanpa ragu ia langsung menekan tombol panggil.Tut… tut… tut…Telepon baru diangkat setelah dering kelima. Suara mengantuk langsung terdengar dari seberang."...Halo."Nathan menjawab singkat, “bangun."Jackson mengusap wajahnya di balik sambungan telepon."Bro... ini masih jam dua pagi. Ada masalah?"Nathan menjawab datar, “ada."Nada suaranya yang serius membuat Jackson langsung duduk tegak."

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 19

    "Masuklah,” ucap Nathan. Loraine menarik napas pelan sebelum akhirnya melangkahkan kaki memasuki rumah Nathan. Begitu melewati pintu utama, matanya langsung membulat. Rumah itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Ruang tamunya memiliki langit-langit tinggi dengan lampu gantung sederhana. Furniturnya tidak berlebihan, tetapi semuanya tampak rapi dan elegan. Lantai marmer mengkilap memantulkan cahaya lampu hangat yang membuat suasana rumah terasa nyaman."..."Loraine berdiri mematung.Nathan yang sudah lebih dulu masuk menoleh, “kenapa?"Loraine buru-buru menggeleng."Bukan apa-apa, Pak."Nathan hanya mengangguk pelan lalu menaruh kedua koper di dekat dinding."Silakan duduk."Loraine mengangguk kecil. Namun beberapa detik berlalu… ia tetap berdiri. Nathan melirik sekilas."Kenapa masih berdiri?" batinnya.Ia menoleh lagi, "Bu Loraine.""Iya, Pak?" jawa

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 18

    "Silakan masuk, Pak,” ucap Loraine. Nathan mengangguk pelan lalu melangkah masuk.Satu detik.Dua detik.Langkahnya perlahan berhenti."..."Nathan berdiri mematung di ambang pintu. Ia tercengang saat tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan. Apartemen itu… kosong.Benar-benar kosong. Tidak ada televisi, tidak ada sofa, tidak ada rak buku, bahkan tidak ada lukisan, tanaman hias, atau dekorasi apa pun. Yang ada hanya meja makan kecil dengan dua kursi, dapur mungil, serta beberapa perabot bawaan apartemen.Nathan berkedip pelan."Ini benar-benar tempat tinggal?" batinnya. Loraine yang menyadari Nathan tidak bergerak ikut menoleh ke arah Nathan. "Ada apa, Pak?"Nathan langsung tersadar, “tidak... tidak ada apa-apa."Ia akhirnya masuk.Loraine menutup pintu, “silakan duduk, Pak."Nathan melihat sekeliling. Karena tidak menemukan sofa. Akhirnya ia duduk di salah satu kursi meja makan."Rumah tanpa ruang tamu..." batinnya.Sementara itu Loraine berjalan menuju dapur."Bapak mau minum

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 17

    “Sekarang apa lagi?” gerutu Nathan dalam hati.Suara tepuk tangan pelan itu membuat seluruh perhatian tertuju kepada pria yang berdiri beberapa meter dari mereka.Leon tersenyum tipis sambil berjalan mendekat ke arah Loraine dan Nathan berada, “selamat malam."Tatapannya lebih dulu berhenti pada Loraine sebelum beralih kepada Nathan, “aku senang akhirnya kita bertemu lagi."Nada bicaranya begitu tenang. Tidak ada sedikit pun kemarahan yang terlihat di wajahnya.Beberapa penghuni apartemen yang masih sibuk mengangkut barang sempat melirik ke arah mereka. Namun karena Leon tetap tersenyum ramah, tidak ada seorang pun yang menganggap ada sesuatu yang aneh.Nathan menyadari hal itu."Dia sedang menjaga citranya,” batinnya. Nathan melangkah setengah langkah ke depan, berdiri sedikit di depan Loraine."Selamat malam, untuk apa Anda datang ke sini?” tanyanya. Leon hanya tersenyum."Saya hanya ingin menemui mantan istri saya."Nathan mengangguk pelan, “tapi menurut saya sekarang bukan waktu

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 16

    "Ehhhh?" batin Nathan sangat tercengang.“...”Nathan masih menatap Loraine tanpa berkedip. Selama beberapa detik, pikirannya benar-benar kosong. Wanita di depannya itu... baru saja menerima usulan yang bahkan menurutnya sendiri terdengar gila.Loraine merasa canggung melihat Nathan tidak mengatakan apa pun. Keheningan diantara mereka itu terasa mencekik, memaksa matanya bergerak gelisah ke segala arah—menatap ke piring di depannya, lalu beralih menunduk ke jemarinya yang meremas roknya, kemudian kembali melirik wajah Nathan yang masih terdiam."Apa... saya salah bicara?" tanyanya pelan.Nathan langsung tersadar."Ah... tidak."Ia berdeham pelan, berusaha mengembalikan ekspresi datarnya."Hanya saja... saya tidak menyangka Anda akan langsung menerimanya."Loraine menundukkan pandangan."Saya juga tidak pernah membayangkan akan membuat keputusan seperti ini."Nathan mengangguk pelan.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status