เข้าสู่ระบบPukul lima sore, jam kerja akhirnya selesai. Aku baru saja merapikan beberapa berkas, tapi seketika seorang karyawan menghampiriku."Mas Vino, Bu Mala sudah menunggu di mobilnya."Aku langsung menoleh."Bu Mala?""Iya. Katanya Mas Vino diminta langsung menemui beliau."Aku terdiam sejenak. Entah kenapa, perasaanku mendadak tidak tenang.Aku teringat ucapan Bu Mala tadi pagi yang memintaku menginap lagi di rumahnya. Sebenarnya aku masih ragu, tetapi aku juga tidak tahu bagaimana cara menolaknya."Baik, terima kasih," jawabku singkat.Setelah karyawan itu pergi, aku menghela napas panjang.Apa aku harus benar-benar menginap di sana lagi?Aku tidak ingin berpikiran buruk tentang Bu Mala. Selama ini beliau sudah banyak membantuku, bahkan bersedia menanggung biaya operasi kakekku. Namun, permintaannya kali ini membuatku bertanya-tanya.Aku takut penolakanku justru menimbulkan masalah di tempat kerja. Bagaimanapun, Bu Mala adalah direktur perusahaan. Aku tidak ingin hubunganku dengannya men
Keadaan warung yang tadinya hanya beberapa orang, perlahan mulai dipenuhi pelanggan.Beberapa buruh pabrik datang silih berganti.Suara obrolan bercampur dengan dentingan gelas membuat suasana semakin ramai.Aku mengembuskan napas pelan."Yah..."Andin menoleh. "Kenapa, Kak?"Aku melirik ke arah Mbak Julia yang sedang sibuk melayani pelanggan."Aku jadi nggak enak mau tanya soal pabrik."Andin ikut memperhatikan keadaan warung."Iya juga sih rame. Kalau nanya sekarang, nanti malah didengar orang."Aku mengangguk pelan. "Itu yang aku pikirin."Andin kemudian tersenyum tipis."Udah lah, Kak.""Maksudnya?""Kita kerja dulu aja."Aku menatapnya. "Nanti kalau ada waktu luang, kita balik lagi ke sini."Aku berpikir beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk."Iya deh. Lagian udah mau jam tujuh." Aku melihat jam tangan.Waktu masuk kerja sudah hampir tiba."Ya udah, ayo."Kami segera menghabiskan kopi lalu membayar pesanan.Setelah berpamitan kepada Mbak Julia, kami langsung menuju pabrik.B
Begitu kami kembali ke ruang tunggu, suasana langsung terasa hening.Aku masih belum bisa menghilangkan bayangan kejadian di depan toilet. Dadaku masih berdebar setiap kali mengingat sosok yang kukira Andin, padahal ternyata bukan.Dengan Aku mengusap wajah lalu mengembuskan napas panjang."Dod... Andin..."Mereka berdua langsung menoleh."Aku makin yakin.""Yakin apa?" tanya Dodi."Semuanya ini bukan kebetulan." Aku menatap mereka bergantian. "Kejanggalan yang selama ini terjadi semakin nyata."Andin mengangguk pelan. "Aku juga ngerasain itu, Kak."Aku kembali berkata, "Aku merasa... mungkin Laras memang terus mengikutiku."Dodi mengernyit. "Tapi kenapa harus kamu?""Itu dia. Aku juga nggak tahu." Aku menggeleng pelan. "Padahal aku cuma karyawan baru."Andin menggenggam kedua tangannya. "Bisa jadi memang ada alasan di balik itu, Kak."Aku menghela napas."Masalahnya aku nggak tahu alasan itu apa."Dodi berpikir beberapa saat sebelum akhirnya berkata,"Vino. Kalau menurutku...""Apa?
Perlahan aku membalikkan badan.Dadaku berdebar begitu keras hingga rasanya memekakkan telinga.Namun ternyata, tidak ada siapa-siapa. Lorong rumah sakit tetap kosong. Lampu putih di atas hanya berkedip pelan, sementara aroma melati masih memenuhi udara."Astaga..." gumamku lirih.Aku mencoba menarik napas panjang. "Mungkin cuma perasaanku."Belum sempat rasa lega itu datang, tiba-tiba...Sebuah tangan menyentuh pundakku dari belakang.Deg!Seluruh tubuhku langsung membeku.Napas tercekat. Jantungku seperti berhenti berdetak selama beberapa detik. Keringat dingin mengalir di pelipisku. Aku tidak berani langsung menoleh.Perlahan mataku mengarah ke pundak. Terlihat sebuah tangan yang berlumuran darah.Sontak saja mataku membelalak."A... apa..."Tubuhku gemetar hebat. Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku langsung membalikkan badan."Hah!"Aku tersentak."Andin?"Ternyata Andin berdiri di belakangku. Wajahnya justru terlihat bingung."Kak Vino?"Aku masih terengah-engah."Kok kaget
Waktu terus berjalan.Jarum jam menunjukkan malam hari. Aku, Andin, dan Dodi masih duduk di ruang tunggu rumah sakit.Beberapa menit yang lalu, perawat sudah membawa kakek ke ruang operasi.Kini kami bertiga hanya bisa menunggu. Aku menatap pintu ruang operasi tanpa berkedip. Dalam hati terus berdoa agar semuanya berjalan lancar."Semoga kakek cepat sembuh," gumamku pelan.Andin yang duduk di sebelahku langsung mengangguk."Amin ... Yang sabar, Kak."Dodi juga ikut mengamini. "Iya, semoga operasinya berhasil."Suasana terasa sepi dan aneh. Tak ada satu pun dari kami yang benar-benar tenang. Rasa gelisah terus aku rasakan.Sesekali dokter atau perawat melintas di koridor, membuatku tanpa sadar selalu menoleh berharap ada kabar.Beberapa saat kemudian Dodi memecah keheningan."Vino."Aku menoleh. "Kenapa?""Aku penasaran," ujar Dodi serius."Penasaran apa?" Aku mengernyitkan dahi.Dodi menyandarkan tubuh ke kursi."Soal cerita yang kamu bilang sering diganggu di pabrik."Aku menghela na
"Kak Vino?"Suara Andin membuyarkan lamunanku.Aku langsung tersentak."Hah iya?""Kok bengong lagi sih?"Aku menghela napas pelan."Maaf .. Hmm."Andin memperhatikanku beberapa saat. "Kak Vino mikirin apa sih?""Ya kepikiran apa yang kamu ceritakan itu," jawabku pelan.Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya aku memutuskan untuk jujur."Soalnya begin, Ndin, sebenarnya ada satu hal yang belum pernah kuceritakan lengkap."Andin langsung memasang wajah serius. "Apa itu, Kak?""Sosok perempuan yang sering kulihat... Dia pernah bilang namanya Laras."Andin mengernyit. "Laras?"Aku mengangguk. "Iya. Setiap muncul, dia selalu bilang hal yang sama.""Emang dia bilang apa sih?""'Tolong aku.'"Suasana kantin mendadak terasa lebih sunyi bagi kami.Aku melanjutkan, "Itu yang bikin aku terus kepikiran."Andin tidak lagi tertawa seperti biasanya."Makanya dari awal Kak Vino selalu bilang kalau pabrik itu nggak beres?""Iya begitu lah.""Aku dulu nggak percaya, Kak."Aku tersenyum hambar. "Aku ta
Mataku langsung menyapu ke segala arah. Sama sekali tidak ada yang aneh, tapi wangi melati itu masih terus menusuk hidungku. Hingga tiba-tiba, tirai di jendela bergerak dengan sendirinya, seperti ada yang menggerakkan dari belakangnya. Jantungku langsung berdegup kencang. “Woy, siapa itu?” pekikk
“K–Kak …” ujarku terkejut, tapi masih dengan posisi itu. “K–kamu ngapain?” tanya Priska tak kalah terkejut sambil sesekali melihat ke arah bawahku. “Aku … anu …” Aku menatap ke arah bawah sejenak, lalu buru-buru berdiri tegak dan menyembunyikan alat itu di belakang punggung. “M–maaf, Kak.” Aku
Aku langsung menoleh ke arah sana dan mendorong tubuh Priska dari atasku. “I–itu siapa?!” tanyaku bingung dan panik. Priska langsung berdiri merapikan bajunya dan menatapku bingung, lalu melempar pandangan ke arah mataku melihat. “Siapa? Gak ada siapa-siapa itu,” kata Priska ikut bingung. Aku m
Ketika aku membuka mata, aroma obat–obatan langsung menyeruak ke dalam hidungku. Pandanganku menyapu ke segala arah, jelas ini bukan ruangan uji coba tadi. Tak lama, suara seorang perempuan muncul dari balik pintu. Wajahnya imut, rambutnya pendek, tapi tubuhnya tidak kalah seksi dengan Priska. “H







