Se connecterAkibat perjanjian Orang tua di Masalalu, Mereka akhirnya Terpaksa Menikah, Tanpa Cinta. Axel dan Ellena. Pernikahan mereka baru jalan dua bulan, saat itu. Tapi dari awal pernikahan mereka... mereka tidak pernah melakukan 'itu' . Dengan Prinsip Axel yang tidak cinta, bahkan dia sudah punya kekasih dan Ellena, yang tidak mau disentuh sebab Axel yang belum selesai dengan dirinya juga. Sampai suatu malam, kejadian gelap itu terjadi. Axel pulang dalam keadaan kacau. Mabuk berat, hingga akhirnya terjadi sesuatu yang... Baca kelanjutannya sampai tuntas.
Voir plus"Lo pikir, dengan berdandan dan berpakaian kayak gitu, gue bakal minat? Sorry, lo itu jauh banget dari Safira! Kalau bukan karena perjodohan konyol ini, mana mau gue sama lo? Cih!"
"Hei, terus kamu pikir aku mau menikah sama kamu? Sama sekali enggak! Aku juga punya impian dan cita-cita yang harusnya aku wujudkan, daripada harus menikah dengan pria yang sama sekali nggak punya hati!" "Ooo, bagus kalau gitu! Ayo, sana! Lo bilang ke bokap lo buat batalin pernikahan konyol ini. Sana bilang! Bilang ke bokap lo, bilang ke bokap gue, kalau pernikahan ini harusnya berakhir bahkan sebelum dimulai!" ucap Axel lantang sembari menuding wajah Elena. Tatapan matanya menyalang, sarat akan kekesalan yang meluap. Sementara Elena seketika terbungkam. "Kenapa? Nggak mau, kan? Nggak berani, kan? Emang dasarnya lo aja yang kegatelan pengen pernikahan ini tetap terjadi. Tapi jangan harap, sampai kapan pun, gue nggak akan pernah sudi ngelihat lo!" sentak Axel. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Elena sendirian di mini bar rumah mereka. Secangkir cokelat panas kini menjadi satu-satunya teman di sore yang dingin, usai rintik hujan mengguyur ibu kota. Elena duduk merenung. Suara sendok yang beradu pelan dengan dinding gelas menjadi satu-satunya pengisi keheningan di ruangan itu. "Non Elena tidak apa-apa?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru dua bulan ini bekerja di rumah mereka. "Ah, ya. Aku nggak apa-apa kok, Bik. Cokelatnya terlalu panas, tadi sedikit kena tanganku." "Aduh, maaf, Non. Biar saya ganti dengan yang baru, ya?" "Ah, nggak usah, Bik. Nggak apa-apa, kok." Kehangatan pun lama-lama akan mendingin jika dibiarkan terlalu lama, batin Elena miris. "Ya sudah, Non. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu, ya. Pekerjaan saya sudah selesai semua. Dan... sudah jam lima sore, Non." "Oh iya, Bik. Boleh. Terima kasih banyak ya, Bik," ucap Elena. Wanita paruh baya itu mengangguk sopan, lalu melangkah perlahan ke arah pintu belakang. "Eh, Bik. Tunggu!" Langkah pelayan itu terhenti. "Eh, iya, Non? Ada apa? Apa ada yang masih perlu saya bantu?" "Eum... tidak, Bik. Saya cuma mau berpesan. Tolong... jangan katakan apa pun kepada siapa pun tentang apa yang terjadi hari ini. Saya harap, masalah ini cukup Bik Ida saja yang tahu." "Oooh. Iya, Non. Siap, saya mengerti." "Ya sudah, Bik Ida boleh pulang sekarang." "Baik, Non." Rumah megah itu kini kembali sunyi. Seperti biasa, Elena akan sendirian sampai tengah malam tiba. Sejak dua bulan lalu, sejak perjodohan yang diatur oleh orang tua mereka, hidupnya berubah total. Ia yang biasanya bebas bekerja dan bersenang-senang, kini bagai burung di dalam sangkar emas. Bahkan, sangkar yang sengaja dibiarkan kelaparan. Dua bulan baginya terasa seperti seabad. Terjebak bersama seorang lelaki yang sebelumnya hanya pernah ia lihat lewat pertemuan singkat. Mungkin lelaki itu terlihat baik bagi orang lain. Namun di matanya, Axel tak lebih dari seorang musuh yang selalu menganggapnya sebagai penghalang cinta. "Jadi, sampai kapan kamu mau bertahan sama dia, Axel? Aku harus sabar kayak gimana lagi? Dua bulan, loh. Dua bulan! Kamu pikir aku nggak tersiksa?" ucap seorang wanita berambut curly dengan nada menuntut. Mereka sedang berada di sebuah bar, tempat yang biasa mereka jadikan basecamp untuk nongkrong. "Iya, sabar dulu dong, Sayang. Aku janji, setelah aku ceraiin dia, aku akan langsung nikahin kamu." "Ck. Tapi kapan, Axel? Ini udah dua bulan! Hubungan kita jadi nggak bebas. Kita harus ketemu diam-diam, sembunyi-sembunyi. Aku nggak bisa nemuin kamu dengan leluasa, bahkan main ke rumah kamu aja aku nggak boleh!" "Iya, Sayang... iya. Sabar, ya," bujuk Axel sembari membelai lembut rambut Safira. "Atau jangan-jangan... kamu mulai punya perasaan ya sama cewek itu? Atau mungkin, kalian sudaaah—" "Enggak lah, Sa! Nggak ada kayak gitu, sumpah!" "Bohong! Nggak mungkin kalian tinggal satu atap tapi nggak ngelakuin apa-apa. Nggak mungkin!" "Sumpah, Sa. Aku nggak menyentuh dia sedikit pun!" "Bohong. Jahat kamu, Axel!" Safira menepis tangan Axel dengan kasar. Ia langsung bangkit berdiri dan melangkah pergi begitu saja. "Safira!!! Safira, tunggu aku dong!" "Nggak! Jangan sentuh aku dan jangan temui aku lagi sebelum kamu ceraiin dia! Aku kasih waktu dua hari!" "Sa... Sa!!! Arghh!!!!" Axel menggeram frustrasi. Kepalanya nyaris pecah karena Safira pergi begitu saja akibat salah paham dan mengira dirinya telah menyentuh Elena. "Syiittt!!!!" Suara denting gelas dan dentuman musik bass rendah memenuhi ruangan. Lampu bar yang tadinya temaram kini terasa semakin menggelap, menyisakan sorotan neon merah yang menyeruak di antara kepulan asap rokok tipis. Axel merosot di kursi, menunduk dalam-dalam sambil mencengkeram kuat gelas wiski di tangannya. "Dua hari..." gumam Axel pelan, menertawakan nasibnya sendiri. "Dia pikir semua ini semudah itu." Ia menenggak habis minumannya dalam satu tegukan, membiarkan panas alkohol membakar tenggorokannya. Namun, rasa terbakar itu tetap tidak cukup untuk meluruhkan ego dan gengsi yang menumpuk di kepalanya. "Gue harus berhadapan sama Papa Ares, Om Theo... dan seluruh fasilitas gue. Kekayaan, bahkan warisan bakal didepak dari nama gue kalau sampai gue menceraikan perempuan itu. Arghhhh!!! Menyusahkan!" Sementara itu… Rumah besar itu tampak seperti museum. megah, luas, namun mati. Lampu ruang tengah yang disetel temaram hanya menyisakan pantulan warna emas hangat di atas lantai marmer. Tidak ada tawa. Tidak ada percakapan. Hanya ada ketukan halus dari ujung pensil yang menyentuh permukaan kertas. Elena duduk bersila di atas sofa panjang ruang kerjanya. Rambutnya hanya diikat asal-asalan, dibalut T-shirt oversized dan sweater tebal yang menggantung longgar di bahu kecilnya. Di depannya, terbentang puluhan sketsa gaun dengan berlapis kain, siluet mewah, dan permainan ruffles yang anggun. Di sudut meja, sebuah mug berisi cokelat panas telah mendingin sempurna. Uapnya sudah lama hilang, sama seperti semangat yang pernah membumbung di hatinya sebelum dua bulan yang lalu. "Gaun pernikahan..." gumamnya lirih, menekan ujung pensil pada garis lengkung pinggang sketsanya. "Yang ini lebih cocok untuk orang yang menikah karena cinta... bukan karena perjodohan." Ia menghentikan gerakan tangannya. Pikirannya melayang jauh. Sore tadi, Axel menghinanya tanpa ampun. Sebenarnya bukan hanya sore tadi, tapi setiap kali mereka berpapasan atau tak sengaja bersenggolan. Kalimat-kalimat tajam itu terngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang terus berputar. ‘Lo pikir gue minat?’ ‘Jauh dari Safira!’ ‘Jangan harap gue bakal ngelihat lo!’ Elena mengembuskan napas berat. Jemarinya membeku tepat ketika sketsa detail kain brokat itu hampir selesai. "Elena... kamu bodoh," bisiknya pada diri sendiri dengan nada sedingin es. "Kamu bisa pergi kapan pun kamu mau. Tapi kenapa kamu tetap bertahan di sini? Untuk siapa? Untuk apa?" Ia menunduk lagi, memaksakan jemarinya kembali menari di atas kertas. Sebuah coretan baru tercipta. Namun, kali ini bukan lagi gaun pernikahan putih yang suci. Di atas kertas itu kini tergambar sebuah gaun pesta hitam pekat dengan potongan punggung rendah, dipercantik detail renda yang rumit di bagian bahu. Lebih berani. Lebih dewasa. Dan... tampak lebih menyakitkan. "Elena Wardhana," gumamnya, nyaris menyerupai bisikan angin. "Kalau kamu tidak bisa mengubah keadaan... setidaknya, kamu harus bisa mengubah dirimu sendiri." Kepalanya terasa penuh, namun coretan sketsanya justru terlihat semakin tajam dan tegas. Di luar, rintik hujan kembali turun membasahi bumi. Jakarta perlahan tenggelam dalam simfoni gemercik air, hingga tiba-tiba... Bruuukkk! "Astaga! Suara apa itu?" Elena tersentak. Ia segera membereskan peralatan menggambarnya dan berlari ke arah sumber suara. Ia yakin barusan mendengar suara benda berat—atau seseorang—yang jatuh tepat di luar pintu rumahnya. Langkahnya sempat ragu. Rasa takut perlahan merayap, khawatir jika ada orang berniat jahat di luar sana. Elena melirik jam dinding besar yang menggantung di ruang tengah. Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Tidak biasanya Axel pulang secepat ini. Pria itu biasanya baru menginjakkan kaki di rumah paling cepat jam dua belas malam, atau bahkan tidak pulang sama sekali. Kecuali jika orang tua mereka datang berkunjung, baru Axel akan menampakkan diri sekitar jam sebelas malam. Dengan waswas, Elena mengintip sedikit dari celah jendela. Di sana, lamat-lamat ia melihat sesosok tubuh kolaps, terkapar tepat di depan pintu. Tanpa berpikir panjang lagi, Elena langsung memutar kunci dan membuka pintu lebar-lebar. "Ya ampun, Axel!!!" Elena menghambur mendekat, berjongkok di sebelah tubuh pria itu untuk memastikan keadaannya. "Axel... kamu mabuk?""Buat apa aku bercanda hal ginian, Ax. Aku serius. Aku udah cek beberapa kali dan dengan alat yang berbeda dan hasilnya sama. Aku hamil !" ucap Safira agak keras. Hingga beberapa pelanggan lain sempat menoleh dan menatap mereka sinis.Lalu mereka langsung memelankan intonasinya. "Maksud aku, kamu serius itu anak aku ?" 'Braakkk'"Maksud kamu apa bilang kayak gitu, Ax. Kita tidur bareng, malam itu dan kamu melakukannya. KAMU, AXEL ! jahat kamu. Aku hamil gara-gara kamu tapi kamu ... ""Sssttt stttt.. oke oke, pelan-pelan aja ngomongnya, mereka lihatin kita. Oke kita bahas pelan-pelan, oke. Sekarang kamu duduk, ya ?"Safira akhirnya duduk lagi, dan Axel mulai bicara. "Tapi, itu cuma sekali, Safira. Masa iya langsung jadi. Dan itupun aku ... nggak begitu sadar.""Terus, maksud kamu aku tidur dengan laki-laki lain, begitu ? Kamu pikir aku cewek apaan, Axel ! Kamu ! Kamu yang melakukannya, Axel. Dan sekarang kamu mau lari dari tanggung jawab, ha ? Tega kamu, Ax ! Jahat kamu. Hiks. Kalau
one month later... "Hoek... Hoek..." "Ah... Ya Ampun, rasanya mual sekali." ucap Elena sembari bersandar di dinding kamar mandi.Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lemas karena sejak kemarin sore, tak sedikitpun makanan masuk ke perutnya. Bahkan air putih pun harus ia paksa. "Hoeek.." 'Huftt...' Ia sedekit menghela nafas, dan mengatur rasa mualnya."Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa kerja." ucapnya sembari mengelus perutnya agar sedikit hangat. Lantas ia keluar dari kamar mandi dan duduk diranjang kamarnya. Kamar itu lumayan besar, walau tidak sebesar kamarnya dirumah orang tuanya. Sejak sebulan yang lalu ia tiba di London, lalu memutuskan untuk tinggal di sebuah aparteman kecil di pinggir kota.Ia juga memutuskan untuk tidak menghubungi siapapun kecuali Mama Papanya. Itu pun hanya sekedar agar mereka tak khawatir dan tidak mencarinya. "Tanggal 16. Seharusnya... aku datang bulan Enam hari yang lalu. Tapi..." ucapnya menggantung, tangannya masih menyentuh kalender kecil berbe
Tuuut... tuuut... Panggilan diputus sepihak. Wajah Axel seketika pias. Ia buru-buru mendekati Safira dengan raut panik yang tidak bisa disembunyikan. "Safira, sepertinya aku harus pulang ke rumah sekarang juga." "Loh, kok pulang? Kan kita baru aja sampai, Axel?!" protes Safira langsung merengut kesal. "Safira, ini darurat. Papa telepon aku dan suaranya serius banget. Aku nggak punya waktu lagi, aku harus pulang sekarang. Nanti kamu pulang naik taksi dulu, ya?" ucap Axel cepat tanpa menunggu jawaban. "Axel, tapi tas ini gimana dong?!" "Aduh... ya udah, kamu pilih-pilih aja dulu yang kamu mau, nanti aku balik lagi ke sini buat bayar!" seru Axel yang sudah melangkah cepat, setengah berlari meninggalkan Safira yang menghentakkan kakinya kesal di dalam butik. Untuk kesekian kalinya hari ini, Axel membawa mobilnya secara ugal-ugalan demi memangkas waktu perjalanan. Begitu berbelok memasuki halaman rumahnya, jantung Axel mencelos. Sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat ia k
"Dyyyymm !!! Apa yang mau lo lakuin di sana, Safira?!" bisik Axel panik.Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya sempat melirik ke arah gerbang rumah orang tuanya yang tinggal sejengkal lagi. Namun, foto ketinggian gedung yang dikirimkan Safira benar-benar merenggut kewarasannya. Di satu sisi, ia harus segera melacak keberadaan Elena. Namun di sisi lain, ego lelaki dan rasa cintanya tidak akan sanggup membiarkan Safira melakukan tindakan konyol itu."Agrrrhhh! Bangsat!"Akhirnya Axel membanting setir, memutar balik mobilnya dengan kasar. Kendaraan itu menderu membelah jalanan, melesat menuju gedung yang menjadi latar foto kiriman Safira.Sepanjang perjalanan, isi kepala Axel seolah mau pecah. Ibu jarinya tak berhenti menekan tombol panggil pada nomor Safira, tetapi wanita itu tetap menolak panggilannya."Ayolah, Fira... lo jangan gila kayak gini dong," gumamnya frustrasi.Sepagian ini, Axel terus-menerus menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.