Share

51

last update Huling Na-update: 2026-02-04 21:52:47

Hidup Bima belakangan terasa seperti bayangan panjang yang terus mengikutinya kemanapun ia pergi.

Rasa bersalah terhadap Rania tidak pernah benar-benar hilang. Justru semakin hari semakin menekan dadanya, membuat setiap langkah terasa berat.

Setiap kali ia melihat sosok wanita itu berjalan di lorong kantor dengan sikap tenang, profesional, dan seolah tak pernah mengenalnya, hatinya seperti diremas perlahan.

Hari ini, Bima akhirnya membuat keputusan besar.

Keputusan yang bahkan membuat dirinya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   56

    Setelah kembali ke kantor, Rania langsung tenggelam dalam tumpukan pekerjaan. Berkas demi berkas ia periksa dengan teliti, beberapa email penting ia balas, dan sesekali ia melakukan panggilan dengan beberapa rekan bisnis.Ia begitu fokus hingga sama sekali tidak menyentuh ponselnya yang sejak siang tadi diletakkan begitu saja di sudut meja.Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam.Rania menghela nafas panjang sambil meregangkan bahunya yang terasa pegal. Ia merapikan dokumen di atas meja, lalu bersiap untuk pulang.Namun baru saja ia berdiri, suara gemuruh terdengar dari luar. Langit yang tadinya cerah mendadak berubah mendung. Dalam hitungan detik, hujan turun deras membasahi kaca jendela kantornya.Rania melangkah mendekat ke jendela besar di belakang kursinya. Ia menatap butiran air hujan yang jatuh beruntun, menciptakan garis-garis buram di permukaan kaca.Entah kenapa, hujan selalu membuat perasaannya menjadi lebih sensitif. Ingatan-i

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   55

    Pagi-pagi sekali Rania sudah meninggalkan rumah orang tuanya. Ia harus kembali ke apartemennya karena tidak membawa baju ganti. Udara pagi masih terasa dingin ketika mobilnya melaju membelah jalanan kota yang belum sepenuhnya ramai.Sesampainya di apartemen, Rania langsung bergegas masuk. Ia melirik jam dinding.07.30 pagi.“Ah… hampir terlambat,” gumamnya pelan.Tanpa membuang waktu, Rania segera menuju kamar. Ia berganti pakaian dengan cepat, memilih setelan kerja berwarna cream yang dipadukan dengan blazer coklat muda. Rambutnya ia ikat sederhana namun tetap terlihat elegan.Begitu selesai bersiap, Rania meraih tas dan kunci mobilnya. Namun saat hendak keluar, ponselnya berbunyi.Tring…Sebuah notifikasi pesan masuk dari salah satu akun media sosialnya.Rania sempat melirik layar ponsel itu sekilas. Alisnya sedikit mengernyit melihat nama pengirimnya. Namun ia tidak membuka pesan tersebut.“Nanti saja kalau sudah sampai kantor,” gumamnya.Saat ini pikirannya hanya tertuju pada mee

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   54

    Sementara itu, di dalam toilet wanita, Rania berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya sendiri dengan nafas masih tersengal pelan.Tangannya menempel di wastafel marmer dingin, mencoba menenangkan diri.“Kenapa sih kamu segugup ini, Rania…” gumamnya pelan.“Aku belum siap… aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama,” bisiknya lirih.Rania mengambil tisu, lalu menepuk pelan sudut matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia menegakkan punggung, mencoba kembali menjadi wanita kuat yang selama ini ia bangun.Saat ia hendak keluar dari toilet, pintu tiba-tiba terbuka dari luar.Rania sedikit terkejut ketika melihat Ardi berdiri di sana. Pria itu tampak ragu, seolah takut kehadirannya malah membuat keadaan semakin canggung.“Maaf… aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja,” ucap Ardi pelan.Rania terdiam beberapa detik, lalu mengangguk kecil.“Aku baik kok. Tadi cuma… kaget aja.”Ardi menatapnya lekat, mencoba membaca perasaan yang disembunyikan wanita itu.“Kamu nggak perlu merasa terbeba

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   53

    Hari telah berganti minggu, dan minggu telah berganti bulan.Perlahan, Rania mulai mampu menata kembali hidupnya. Luka yang dulu terasa begitu menganga kini mulai mengering, meskipun bekasnya masih jelas tertinggal di relung hatinya. Ia belajar tersenyum tanpa memaksa diri, belajar tertawa tanpa bayangan masa lalu yang terus menghantui.Kariernya melesat cepat. Nama Rania kini dikenal luas di kalangan pebisnis. Banyak perusahaan besar yang ingin menjalin kerja sama dengannya. Ketegasan, kecerdasan, dan profesionalitasnya membuat banyak orang kagum.Tak hanya itu… banyak pria kaya dan berpengaruh yang mencoba mendekatinya.Namun Rania selalu menolak mereka dengan cara halus. Senyumnya tetap ramah, sikapnya tetap sopan, tetapi jaraknya selalu ia jaga.Pernikahannya dengan Bima meninggalkan trauma yang tidak mudah dihapus. Rasa percaya pada pria seolah terbelah menjadi dua. Sebagian kecil dalam dirinya masih ingin percaya pada cinta, namun sebagian lainnya terus mengingatkan bahwa luk

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   52

    “Wah, tempatnya bagus juga ya,” ucap Rania begitu mereka memasuki area belakang kafe yang merupakan outdoor.Udara siang itu terasa sejuk meski matahari masih bersinar cukup terik. Area outdoor kafe tersebut dihiasi taman buatan dengan kolam kecil di tengahnya. Air mancur mini mengalir lembut, memantulkan cahaya matahari hingga menciptakan kilauan yang menenangkan mata. Di sekelilingnya, bunga-bunga warna-warni tertata rapi, sementara beberapa lampu gantung dekoratif tergantung di antara pepohonan kecil, menambah kesan hangat dan romantis.“Tentu saja, pilihanku gak pernah salah,” sahut Ardi percaya diri.“Ck. Sombong.”“Haha….”Ardi malah tertawa puas, sama sekali tidak merasa tersindir. Rania hanya menggeleng kecil melihat tingkah sahabat lamanya itu.Keduanya memilih duduk di meja pinggir taman, tempat yang langsung menghadap kolam kecil dengan air yang beriak pelan. Suasana di sana tidak terlalu ramai, hanya beberapa pasangan dan keluarga kecil yang tampak menikmati makan siang me

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   51

    Hidup Bima belakangan terasa seperti bayangan panjang yang terus mengikutinya kemanapun ia pergi.Rasa bersalah terhadap Rania tidak pernah benar-benar hilang. Justru semakin hari semakin menekan dadanya, membuat setiap langkah terasa berat. Setiap kali ia melihat sosok wanita itu berjalan di lorong kantor dengan sikap tenang, profesional, dan seolah tak pernah mengenalnya, hatinya seperti diremas perlahan.Hari ini, Bima akhirnya membuat keputusan besar.Keputusan yang bahkan membuat dirinya sendiri ragu.Ia memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan milik mantan istrinya.Langkahnya terasa berat saat menuju ruangan HRD. Tangannya sempat menggenggam gagang pintu cukup lama sebelum akhirnya ia mendorongnya masuk. Ruangan itu terasa begitu dingin, atau mungkin perasaannya saja yang sedang tidak baik-baik saja.Dengan suara yang berusaha terdengar tegar, ia menyerahkan surat pengunduran dirinya.Prosesnya tidak lama. Lima belas menit kemudian, Bima keluar dari ruangan HRD denga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status