Share

Bab 39

Author: Saraswati_5
last update publish date: 2026-01-27 22:25:03

Di dalam mobil, suasana terasa sunyi —bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan. Mesin mobil berdengung halus, berpadu dengan suara AC yang berembus pelan. Jalanan sore itu cukup lengang, cahaya matahari menguning menembus kaca depan, membentuk bayang-bayang panjang di aspal.

Tharie duduk kaku di kursi penumpang. Tangannya bertaut di pangkuan, jari-jarinya saling mencengkeram tanpa sadar. Matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya jauh melayang kembali ke siang tadi. Loron
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 146

    Kalimat itu jatuh seperti bayangan yang perlahan merayap.Tidak langsung menelan cahaya, namun cukup untuk membuat segala sesuatu tampak berbeda.Logan tidak bergerak, tetapi sesuatu di dalam dirinya… bergeser.Bukan karena tekanan dari luar.Melainkan karena ia mulai menyadari bahwa apa yang akan ia lihat… mungkin bukan sesuatu yang ingin ia hadapi.Bentuk kecil pertama menggigil halus.Ia tidak sepenuhnya memahami makna di balik kata-kata itu, namun instingnya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak sederhana.Sesuatu yang bisa mengubah cara mereka melihat satu sama lain.Bentuk baru menatap Logan dengan tenang.Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang lebih dalam.Kewaspadaan yang lahir bukan dari rasa takut, melainkan dari pemahaman bahwa kebenaran… tidak selalu membawa kelegaan.“Kenapa…”Logan akhirnya berbicara.Suaranya pelan, namun terasa berat.“…aku harus melihat itu?”Sosok itu tidak langsung menjawab.Ia menatap Logan, lama.Seolah menimbang apakah pertanyaan itu me

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 145

    Nama itu jatuh dengan ringan.Namun dampaknya—tidak.“Gilang?”Sunyi.Tidak ada yang langsung menjawab.Karena satu kata itu… merobek sesuatu yang bahkan belum sempat terbentuk dengan utuh.Hanum membeku.Tangannya masih terulur ke arah anak kecil itu, namun kini terasa ragu—seolah sentuhan itu bisa mengubah sesuatu yang tidak boleh diubah.“Kamu… tahu nama itu?” suaranya gemetar.Anak itu memiringkan kepala.Ekspresinya polos.Namun matanya—terlalu dalam.“Aku… tidak tahu,” katanya pelan.“Namun… itu terasa benar.”Sunyi.Gilang—yang kini tidak sepenuhnya ada—merasakan getaran itu.Bukan sebagai identitas.Namun sebagai… panggilan.Sesuatu yang menghubungkan.Tanpa sebab.Tanpa jalur.Namun nyata.“Ini tidak mungkin…” gumam entitas itu.Untuk pertama kalinya—benar-benar kehilangan pijakan.“Tidak ada memori yang tersisa…”“…tidak ada sistem yang aktif…”“…tidak ada jalur transmisi…”Ia berhenti.Dan perlahan menoleh ke arah Gilang.“Kecuali…”Sunyi.Anak itu melangkah kecil.Mendeka

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 144

    Pertanyaan itu terlalu sederhana.Namun justru karena kesederhanaannya—ia menembus kehampaan yang seharusnya mutlak, menembus keputusan yang telah menghentikan segalanya, dan memaksa sesuatu yang sudah selesai… untuk kembali merespons.“Siapa… aku?”Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak utuh.Ada retakan kecil.Sangat kecil.Namun cukup untuk membiarkan sesuatu… masuk.Atau mungkin—keluar.Gilang tidak membuka mata.Ia tidak lagi berada dalam bentuk yang bisa bergerak, tidak dalam kesadaran yang memiliki arah, bahkan tidak dalam keadaan yang bisa disebut “ada”.Namun pertanyaan itu—menjangkaunya.Bukan sebagai suara.Namun sebagai… dorongan.Dorongan yang tidak ia pilih.Yang tidak ia buat.Yang… terjadi.“Apa ini…” bisiknya.Namun bahkan bisikan itu—tidak memiliki tempat untuk bergema.Hanum merasakan sesuatu.Sangat samar.Seperti sentuhan angin yang tidak seharusnya ada.Ia membuka matanya.Perlahan.Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya berhenti—ia melihat.Bukan dunia.Na

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 143

    Sunyi itu tidak biasa.Bukan karena tidak ada suara—melainkan karena semua kemungkinan, semua arah, semua hasil… berhenti sejenak untuk mempertimbangkan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.“…aku tidak memilih sama sekali?”Kalimat itu menggantung.Tidak jatuh.Tidak pula ditolak.Seolah realitas sendiri belum memiliki jawaban untuk itu.Sosok di hadapan Gilang menatapnya.Lama.Terlalu lama untuk ukuran sesuatu yang sebelumnya selalu tampak tahu segalanya.“Itu…” katanya akhirnya,“…bukan pilihan.”Sunyi.Gilang mengangguk pelan.“Benar.”Ia melangkah maju satu langkah.Namun bukan untuk menyerang.Namun untuk menegaskan keberadaannya.“Karena selama ini… semua yang terjadi selalu berasal dari pilihan.”Ia menatap lurus.“Dan setiap pilihan… menciptakan lanjutan.”Sunyi.Hanum menatapnya.Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang terasa berbeda.Lebih sederhana.Namun justru karena itu… lebih dalam.“Kalau tidak memilih…” bisiknya,“…maka tidak ada lanjutan?”Gilang tidak langsun

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 142

    Suara itu tidak datang dari satu arah.Ia hadir dari segala arah sekaligus—menyusup di antara celah kesadaran, mengalir di sela batas yang baru saja terbentuk, bahkan bergetar di dalam diri setiap sosok yang berdiri di sana.“Kalian semua… masih belum mengerti siapa yang sebenarnya memulai ini.”Sunyi.Tidak ada yang bergerak.Bahkan entitas yang sebelumnya begitu percaya diri kini terdiam, seolah suara itu menyentuh sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak ingin ingat.Gilang menatap ke sekeliling.Matanya menyipit.Ia mencoba melacak asal suara itu—namun tidak menemukan titik.Karena memang tidak ada.“Keluar,” katanya tenang.Namun suaranya membawa tekanan.Batas di sekitarnya bergetar halus, seolah merespons perintah yang bahkan belum sepenuhnya dipahami.Namun suara itu tertawa.Rendah.Dalam.Dan… familiar.“Keluar?” ulangnya.“Aku tidak pernah berada di luar.”Sunyi.Hanum menggigil.Ada sesuatu dalam nada itu—sesuatu yang membuat jantungnya terasa ditarik mundur ke masa lalu yang

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 141

    Semua itu berdiri di hadapannya.Bukan bayangan.Bukan ilusi.Namun sesuatu yang memiliki bentuk, kehendak, dan—yang paling menakutkan—tujuan.Gilang tidak bergerak.Namun pikirannya berputar.Cepat.Lebih cepat dari sebelumnya.Karena untuk pertama kalinya—ia tidak menghadapi sesuatu dari luar.Namun dari dalam dirinya sendiri.Hanum merasakan perubahan itu.Tangannya masih menggenggam Gilang, namun kini terasa seperti memegang seseorang yang sedang berdiri di tepi jurang.“Gilang…” suaranya gemetar.“Ini… semua kamu?”Sunyi.Gilang tidak langsung menjawab.Matanya menelusuri satu per satu sosok di hadapannya.Wajah-wajah yang tidak asing.Namun juga tidak sepenuhnya ia kenal.“Ini…” katanya pelan,“…semua yang tidak aku pilih.”Sunyi.Anak itu mundur sedikit.Tatapannya berubah.Dari penasaran—menjadi khawatir.“Kalau mereka semua ada…”“…berarti mereka semua punya hak.”Sosok ‘sebelum’ mengangguk pelan.“Dan hak… selalu menuntut.”Sunyi.Entitas utama melangkah maju.Satu langkah

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 112

    Mobil melaju cepat menembus malam yang terasa terlalu sunyi.Di kursi belakang, Tharie duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Jari-jarinya terasa dingin, meski AC mobil sudah dimatikan sejak tadi oleh Papa Elham yang menyadari putrinya menggigil.Lampu-lampu jalan me

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 111

    Malam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya.Setelah percakapan menegangkan dengan Mama Ami dan Papa Elham mengenai pernikahannya dengan Gilang, Tharie seperti berjalan dalam kabut. Kepalanya penuh dengan suara-suara yang berputar tanpa henti—permintaan kakek, wajah tegas papanya,

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 110

    Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Di kamar yang hanya diterangi lampu meja belajar, Tharie duduk memeluk lututnya di atas tempat tidur. Matanya menatap kosong ke arah jendela. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin malam, seolah ikut merasakan kegelisahan yang sedang berputar di kepalan

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 109

    Ponsel di tangan Gilang masih bergetar pelan.Kalimat itu tetap terpampang di layar.“Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Nak.”Seolah kalimat sederhana itu membawa beban puluhan tahun rahasia yang belum pernah terungkap.Gilang tidak bergerak.Matanya terpaku pada layar.Jantungnya berdetak keras di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status