LOGINAku spontan memukul lengannya, lalu kembali memperhatikan bagaimana syahdunya suasana di dalam resto saat ini.Pelayan kemudian mulai menyajikan makanan satu per satu.Aroma makanan hangat memenuhi udara.Namun yang paling menggangguku justru bagaimana Ravyan terus memandangiku."Hampir satu bulan gak ketemu, kamu makin cantik."Aku mencebik. Namun jantungku berdetak lebih cepat.Aku menunduk. Pura-pura fokus pada makanan. Padahal sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan senyum."Satu bulan itu lama sekali, My Butterfly." Suara Ravyan terdengar lebih pelan.Aku mengangkat kepala. Tatapan kami bertemu.Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memikirkan perasaanku sendiri.Sampai lupa kalau lelaki di hadapanku juga menjalani hal yang sama.Tidur sendirian.Merindukanku.Menghitung hari."Kamu tahu, Pak Mayor?""Hmm?""Aku hampir nangis tiap mala
82."Mi, kami pamit. Terimakasih sudah jagain Lyra."Tidak sampai satu jam kedatangannya di rumah Mami, aku dan Ravyan sepakat untuk segera pulang. Tapi sebenarnya bukan sepakat, melainkan aku yang sangat antusias untuk segera pulang dari rumah Mami dan kembali ke rumah kami."Yakin mau langsung mau pulang? Padahal kamu baru banget sampai, Nak Ravyan. Istirahat dulu lah, makan dulu. Kamu pasti capek.""Istirahat di rumah aja, Mi. Sekalian mandi," jawabku yang tak menjauh dari sisinya sejak ia datang. Bahkan tak segan bergelayut manja di lengannya."Iya, Mi. Sekalian melepas kangen juga," timpal Ravyan hingga Mami tampak mengulum senyumnya.Aku mencubit pelan perut Ravyan, meski tidak benar-benar mencubitnya karena perutnya yang keras dan nyaris tanpa lemak itu."Ya sudah, hati-hati kalau begitu. Kapan-kapan ke sini lagi," pinta Mami.Aku dan Ravyan lantas bergantian mencium tangan Mami, lalu masuk ke dalam mobilku di mana
Hari-hari berikutnya berjalan jauh lebih baik dari yang kubayangkan.Ternyata keputusan untuk tinggal sementara di rumah Mami adalah keputusan yang tepat.Setidaknya aku tidak harus pulang ke rumah yang sunyi setiap hari.Tidak harus membuka pintu dan disambut keheningan yang menyakitkan.Tidak harus makan malam sendirian sambil menatap kursi kosong di depanku.Di rumah Mami selalu ada suara.Selalu ada aktivitas.Selalu ada seseorang yang bisa diajak bicara.Meski terkadang seseorang itu justru membuatku ingin pindah rumah lagi.Seperti Kak Elina, misalnya.Hari-hari terus berganti.Pekerjaan mulai kembali normal.Fokusku perlahan pulih.Proyek yang sempat hampir lepas berhasil diselamatkan.Bahkan Aina sudah mulai berhenti menggodaku setiap lima menit sekali. Meski tetap saja setiap kali ponselku berbunyi, perempuan itu akan langsung menyeringai dan kepo.
Video call itu sempat terhenti, karena aku harus mandi dan makan malam. Tapi akhirnya kembali berlanjut, bahkan hingga cukup lama. Meski kami tidak membicarakan hal penting. Hanya hal-hal sederhana dan receh sampai akhirnya aku mulai menguap berkali-kali.Aku membawa ponsel menuju kamar.Mengganti posisi menjadi rebahan di atas kasur.Biasanya di jam seperti ini aku akan merapat ke dada Ravyan.Mencuri kehangatan tubuhnya. Atau diam-diam mengganggu tidurnya. Namun malam ini hanya ada wajahnya di dalam layar ponsel."Pak Mayor.""Iya?""Aku tidur dulu."Ravyan tersenyum. "Selamat tidur, My Butterfly.""Selamat tidur.""Saya sayang kamu."Dadaku menghangat mendengarnya. "Aku juga sayang kamu."Beberapa detik kami hanya saling menatap. Tidak ada yang ingin mengakhiri panggilan lebih dulu. Namun akhirnya Ravyan mengangkat satu tangan."Pejamkan mata."Aku menuru
Aku duduk di sofa ruang televisi. Melepas flatshoes yang basah. Memijat pelipis lalu leher yang terasa pegal."Hari ini benar-benar buruk," ucapku dengan perasaan berat menekan dada.Kepalaku sedikit berdenyut memikirkan semua yang terjadi hari ini.Tidak ada suamiku. Rapat di kantor tidak berjalan dengan baik. Dan terakhir malah bertemu mantan tunangan brengsek yang sekarang menjadi sopir taksi online.Rasanya hidup seperti sedang mengajak bercanda.Drrrtttt Drrrtttt Drrrtttt.Ponsel di dalam tasku berdering disertai vibrasinya.Nama Ravyan tertera di layar. Aku pun langsung menerimanya."Sudah pulang?" tanya Ravyan di seberang sana."Udah. Baru aja sampai.""Gimana mobil kamu?""Masuk bengkel. Mesinnya bermasalah. Tapi aku gak begitu ngerti apa kata mekaniknya tadi.""Pulang pergi kerja kamu gimana?""Ya ... aku pesan ojek atau taksi online.""Coba kamu pak
Masih melalui pantulan spion tengah, aku melihat senyum seringai lelaki itu di balik setir kemudi.Ada perasaan tak nyaman yang menyusup. Otakku berpikir lebih cepat, tapi reaksiku terlambat. Belum sempat aku menyentuh pintu mobil untuk membukanya, suara kunci otomatis terdengar mendahului."Kita belum sampai Nyonya," ucap Mas Arland dengan tatapan tajamnya. "Jangan membahayakan diri dengan mendadak keluar mobil, karena kalau terjadi apa-apa, aku malas bertanggungjawab."Rasa panik seketika menyerang. Berbarengan dengan rasa takut. Namun, aku tidak boleh menunjukkan kepanikan ini atau Mas Arland akan memainkan psikologisku.Aku berdehem pelan. "Bawa mobilnya sesuai titik lokasi," ucapku dengan tegas."Tentu saja, Sa—yang."Rahangku mengeras. Rasa jijik menyergap mendengar ia memanggilku seperti barusan."Jangan kurang ajar atau aku kasih kamu rating buruk!" Aku mengancam terang-terangan."Silakan. Artinya kamu s
Aku dan Ravyan saling berpandangan beberapa saat sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang."Masuk dulu."Aku mengangguk cepat.Kami berjalan berdampingan memasuki rumah.Ravyan melepas sepatu boots-nya di teras, lalu melonggarkan kerah dari kemeja hitamny
Aku masih duduk di kursi tunggu cukup lama.Ponselku tergeletak di pangkuan dengan layar yang sudah mati.Entah berapa menit aku hanya memandangi lantai rumah sakit sambil menenangkan diri.Membuka kembali semua jejak tentang Mas Arland ternyata lebih melelahkan daripad
Perawat segera menyiapkan suntikan yang sudah beberapa kali digunakan untuk menenangkan Alana.Aku mundur selangkah.Entah kenapa rasanya makin sulit melihat semua ini.Di atas ranjang rawat, Alana masih terus bergerak meski tenaganya sudah jauh berkurang. Namun, mulutn
Aku langsung berjalan menuju ruangan tempat Alana dirawat.Semakin dekat dengan ruangannya, langkahku justru semakin berat.Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman yang menggelayuti dada sejak tadi.Mungkin karena video semalam. Mungkin juga karena aku takut melihat send







