LOGIN-Hening.Aku langsung menyambung sebelum Ravyan salah paham. "Aku gak bisa nahan diri lagi, tanganku langsung menampar dia."Terdengar helaan napas dari seberang. "Sayang ....""Maaf.""Saya bukan mau memarahimu.""Lalu?""Saya sedang berusaha membayangkan wajahmu saat menamparnya."Aku terdiam beberapa saat. Kemudian tanpa sadar tertawa kecil. "Pak Mayor!""Saya serius.""Jangan malah bercanda.""Saya tidak bercanda."Aku bisa membayangkan ekspresi Ravyan yang sedang menahan senyum."Tamparannya keras?""Banget.""Bagus."Aku tertawa lagi. "Kenapa bagus?""Supaya dia tahu batas."Aku menyandarkan tubuh ke kursi dan akhirnya napasku terasa lebih ringan. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal."Pak Mayor?""Hm?""Dia bilang ini bukan pertemuan terakhir.""Dia mengatakan itu?" Nada suar
-Aku menatap layar laptop yang masih menyala.Desain rumah itu masih terpampang di sana.Ruang keluarga yang sengaja kubuat luas. Jendela-jendela besar agar cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa. Dapur semi-terbuka yang kupikirkan berdasarkan kebiasaan pasangan yang akan tinggal di dalamnya. Bahkan taman kecil di belakang rumah pun sudah kubuat sedemikian rupa.Semuanya terlihat begitu nyata.Padahal tanahnya saja tidak ada.Aku memejamkan mata.Entah kenapa, fakta itu kembali membuat dadaku terasa sesak.Bukan karena aku kehilangan proyek.Bukan pula karena Mas Arland tidak jadi membayar seluruh pekerjaanku.Aku marah karena merasa dibodohi.Selama berhari-hari aku duduk di ruangan ini, memikirkan proyek tersebut dengan serius. Aku bahkan sempat membayangkan seperti apa rumah itu setelah selesai dibangun.Dan ternyata, sejak awal, fondasinya hanyalah sebuah kebohongan.
"Jadi benar kalau tanahnya memang sudah dijual."Mas Arland menunduk. "Aku sebenarnya mau menjelaskan.""Sejak kapan?"Ia tidak menjawab."Sejak kapan tanah itu dijual?""Gak lama setelah aku dan Alana menikah."Aku menghela napas, mengurai kesal dalam dada. Dia tahu tanah itu sudah bukan miliknya, tetapi masih datang kepadaku membawa cerita tentang rumah yang akan dibangun di atas tanah tersebut."Dan kamu masih meminta aku membuat desain rumah untuk tanah yang sudah bukan milikmu?""Aku punya rencana lain."Aku langsung mengangkat tangan."Jangan."Ia terdiam."Jangan mulai membuat alasan baru."Aku menatapnya lurus. "Kalau memang sejak awal kamu sudah menjual tanah itu, kenapa kamu bilang tanah itu masih ada?""Aku ....""Kenapa?!"Mas Arland mengusap wajahnya. "Aku takut kamu menolak menjadi konsultan."Aku mengernyit. "Kenapa a
-Mas Arland menatapku dengan kening mengernyit. "Informasi yang kamu dapat? Informasi apa? Kamu ... Sewa mata-mata?"Aku mendecih pelan. Pertanyaannya terlalu konyol. "Sekarang cukup kamu jawab apa proyek ini masih akan dilanjutkan atau ... batal?"Terdengar ia mendecak. "Batal apa sih, maksudnya? Desainnya bahkan sudah selesai kamu buat. Dan kalau aku deal, artinya rancangan itu akan segera berubah wujud menjadi bangunan. Kenapa kamu malah berpikir proyek kerjasama kita ini akan batal?"Dia bertanya dengan enteng. Seolah-olah apa yang dia katakan adalah memang kenyataan. Padahal jelas-jelas dia hanya sedang bersandiwara.Aku menatapnya beberapa detik. "Karena aku mendapat informasi kalau tanah yang kamu maksud sudah dijual."Senyum di wajah Mas Arland langsung menghilang.Aku tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. "Dan informasi itu bukan dari orang yang aku bayar untuk menguntitmu."Ia tampak menelan ludah
-Aku langsung tertawa sampai hampir tersedak."Pak Mayor, serius sedikit!""Saya serius.""Mana ada orang menyelesaikan masalah dengan melempar kursi?""Kalau kursinya kuat, mungkin masalahnya selesai."Aku menggeleng sambil menahan tawa lalu mendecak. "Gak membantu."Ravyan ikut tertawa kecil. Namun setelah itu, ekspresinya kembali serius."Kalau menurut saya, jangan lakukan apa pun saat kamu sedang emosi."Aku terdiam. "Besok kamu tetap kerja seperti biasa. Tiga hari lagi, datang ke pertemuan itu sebagai konsultan. Jangan kasih dia kesempatan untuk membuat kamu kehilangan kendali."Aku memainkan ujung sendok di atas piring. "Lalu?""Kalau memang dia terbukti berbohong, kamu sampaikan dengan tenang.""Kalau dia tetap ngeyel?""Batalkan kerja samanya."Aku mengangkat wajah. "Sesederhana itu?"Ravyan mengangguk lalu meraih tanganku dan menggenggamnya. "Sesederhana itu. Dan kamu gak punya kewajiban menyelesaikan rumah yang bahkan gak pernah benar-benar dia rencanakan untuk dibangun."
-Malam mulai turun ketika suara mesin kendaraan terdengar dari halaman rumah.Aku yang sejak tadi duduk di ruang keluarga langsung menoleh.Pintu depan terbuka beberapa detik kemudian, memperlihatkan Ravyan yang baru pulang. Seragamnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya terlihat cukup lelah."Baru pulang?" tanyaku sambil bangkit.Ravyan mengangguk. "Kamu belum tidur?""Belum. Aku nunggu, Pak Mayor."Senyum kecil langsung muncul di wajahnya. Ia meletakkan tas kerja di sofa, kemudian menghampiriku."Kenapa ditungguin?""Pengen makan malam bareng."Ravyan melirik ke arah meja makan. Beberapa hidangan sudah tersusun rapi di sana.Ia mengangkat alis. "Kamu masak?"Aku menggeleng cepat. "Aku pesan."Ravyan tertawa kecil. "Saya sudah menduga.""Kenapa?""Karena kalau kamu masak, biasanya dapurnya lebih berantakan daripada makanannya."Aku langsung memukul lengannya pelan. "Enak aja."Ia terkekeh sambil merangkul bahuku. "Ya sudah. Ayo kita makan."Kami kemudian duduk berhadapan di
Pagi hari sekali, aku keluar dari dari gedung rumah sakit dan segera masuk ke dalam mobil. Mayor Ravyan diperbolehkan pulang dua jam lagi, sedangkan Kak Elina sudah pulang lebih dulu. Sebelum matahari terbit, ponselku tidak berhenti berbunyi dan memunculkan nama Mas Arland di layarnya. Namun, tida
Aku masih menatap laki-laki di atas ranjang itu dengan perasaan campur aduk. Namun lelaki yang mengaku sebagai seorang mayor itu justru terlihat tenang meski perban melingkar di kepalanya dan pelipisnya masih kemerahan akibat benturan tadi. Sedangkan aku? Belum selesai mencerna pengkhianatan Mas
Aku terpaku cukup lama di dalam mobil. Sampai beberapa menit terlewati dan korban yang kutabrak tak menunjukkan gerakan. “Ya Tuhan ... satu masalahku belum selesai, kenapa harus ditambah masalah baru?” gumamku panik. Akhirnya aku turun dari mobil dan mendekati seseorang yang masih terkapar di ata
DIKHIANATI MAS DOKTER, DINIKAHI PAK MAYOR ******* “Aghh, pelan-pelan, Mas. Sakit!” “Sakit ... atau enak?” Senyumku seketika lenyap setelah berdiri tepat di depan pintu ruangan praktik Mas Arland, seorang dokter pintar yang merupakan calon suamiku. Tanganku yang seharusnya mendorong gagang







