MasukRen berjalan dengan wajah datar menemui beberapa kolega bisnis perusahaan keluarganya, dia menerima ucapan selamat atas pernikahan yang baru saja di gelarnya.
"Selamat atas pernikahan anda tuan Ren." ucap Fajar. "Terima kasih atas kehadiran anda tuan Fajar." Fajar tersenyum kemudian mengangguk. "Suatu kehormatan bagi saya bisa menghadiri acara yang meriah ini tuan Ren." "Anda terlalu berlebihan tuan, silakan dinikmati pestanya. Saya ke sana dulu." "Ah ya, tentu saja tuan Ren." Selesai berbincang dengan Fajar, Ren menghampiri kedua sahabatnya yabg tengah duduk disalah satu meja. "Jack Van." sapa Ren. "Selamat atas pernikahanmu kawan." Ucap Jackson sambil memeluk Ren. Ren mengangguk, Jackson dan Evan bergantian memeluknya sambil mengucapkan selamat. "Dimana Flo?" tanya Evan. "Dia sedang istirahat, kakinya sakit karena terlalu lama berdiri." jawab Ren. "Benar-benar suami pengertian." goda Jackson. Ren hanya tersenyum tipis, tak lama pelayan datang sambil membawa minuman. Ren mengambil satu lalu menyuruh pelayan itu pergi. "Gimana rasanya menikah?" tanya Evan. "Aku baru saja melakukan pengucapan janji suci, bagaimana bisa kamu bertanya seperti itu?" Jackson tertawa. "Siapa tahu sebelum menikah kalian sudah." ucap Jackson sambil memperagakan kedua tangannya. "Sialan, aku tidak sebrengsek itu." desis Ren. Kedua sahabatnya tertawa, diantara mereka hanya Ren yang masih memegang teguh sex setelah menikah. Mereka salut dengan keteguhan Ren, meski memiliki kekasih yang cantik-cantik namun dia sangat menjaga kekasihnya. Lama mereka bercengkerama, Ren merasakan tepukan pada bahunya. Dia pun menoleh ke belakang dan mendapati dua orang yang amat dikenalnya. Seketika Ren langsung berdiri dan tersenyum pada dua orang itu. "Om tante." sapa Ren. Jackson dan Evan hanya saling tatap, keduanya tahu Ren sangat dekat dengan sepasang suami istri dihadapan sahabatnya itu. "Selamat ya nak, akhirnya kamu menikah juga." ucap Luna lembut. "Terima kasih tante." "Meski gagal menjadi menantu kami, tapi kami turut bahagia atas pernikahan kamu nak." ucap Harvin sambil menepuk pundak Ren. Ren kembali tersenyum, dia celingukan mencari seseorang. Baik Luna maupun Harvin tahu siapa yabg tengah dicari pria tampan berpakaian pengantin itu. "Dia tidak datang nak, ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan." ucap Luna sambil mengelus lengan Ren. Ren mengangguk. "Tidak apa-apa tante, Ren mengerti kesibukannya." "Om senang kalau kalian bisa berteman baik seperti ini." "Ah iya tante lupa, putri tante menitipkan ini untuk kamu." Luna membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah kotak kemudian memberikannya kepada Ren. Ren menerima kotak itu dengan baik. "Apa ini tante?" "Tante nggak tahu isinya, kamu buka saja sendiri nanti ya." Ren mengangguk. "Sampaikan ucapan terima kasih saya kepadanya tante." Luna mengangguk. "Pasti nak." "Kalau begitu kami permisi dulu Ren, kami belum menemui orang tua kamu." ucap Harvin. "Sialakan om tante." Setelah sepasang suami istri itu pergi, Ren kembali duduk sambil menatap kotak kecil ditanganya. "Semoga bukan sesuatu yang aneh." batin Ren. Jackson memperhatikan mimik wajah Ren yang tampak datar. "Kamu masih berhubungan baik dengan dia?" tanyanya. Ren mendongak lalu menyimpan kotak itu disaku jasnya. "Ya, kami berteman baik." "Bagaimana bisa? Apa Flo tahu?" heran Evan. Ren mengangguk. "Tidak ada satupun hal yang aku sembunyikan dari Florensia." "Syukurlah jika Flo tahu, bagaimana pun kalian adalah mantan kekasih dan hal itu sangat sensitif untuk pasangan baru kamu." ucap Jackson. "Sok paling mengerti wanita." sindir Ren. "Tapi apa yang dikatakan Jack memang benar Ren, jangan sampai hal ini menjadi bumerang untuk hubungan kalian." ucap Evan membela Jackson. "Ya, aku tahu." Pluk! Jackson menepuk pundak Ren. "Diantara semua wanita yang pernah aku dekati, tak ada satupun dari mereka yang memiliki sifat seperti Flo." Ren tersenyum miring. "Flo memang wanita baik dan lemah lembut, aku beruntung memilikinya." "Jaga istrimu baik-baik, sebelum dengan kamu banyak yang mengantre untuk mendapatkannya." ucap Evan. "Termasuk kamu juga?" sarkas Ren. Evan sedikit gelagapan, dulu sebelum Ren mendekati Florensia dia juga sempat mendekati gadis itu namun rupanya cintanya ditolak. Kejadian itu sudah lama sebelum akhirnya Ren, sahabatnya, kenal dengan Florenisa dan menjadi kekasih gadis incarannya. Jackson sudah tertawa melihat raut Evan yang terlihat seperti maling yang tertangkap basah mencuri. Benar kata pepatah, sedalam-dalamnya mengubur bangkai lama-lama baunya akan tercium juga. Seperti tindakan Evan yang dulu diam-diam suka pada Florensia, saat Ren mendekati gadis itu, dia baru jujur pada sahabatnya. "Calm down Van, aku hanya bercanda. Lagi pula itu sudah lama, yang terpenting saat ini Flo sudah menjadi miliku." Acara pernikahan Florensia dan Ren Abraham berlangsung selama empat jam. Pukul delapan malam para tamu undangan mulai meninggalkan venue pernikahan mereka. Hanya tinggal keluarga inti saja yang berkumpul untuk makan malam bersama. Ren melepas jasnya lalu menyampirkannya ke lengan kiri. Dia berjalan tegap menuju kamar yang saat ini ditempati istrinya. Tok. Tok. Ceklek. Pintu kamar terbuka, Karina menunduk hormat saat melihat suami dari bosnya. "Dimana Flo?" "Nona sedang tidur tuan, beliau terlihat kelelahan." Ren mengangguk. "Kamu boleh pergi." Karina keluar dari kamar Flo tak lupa menunduk sopan pada Ren. Ren segera masuk ke kamar pengantin mereka tak lupa mengunci pintunya. Dia tersenyum melihat Florensia yang tengah tertidur pulas. Dia berjalan mendekat kemudian duduk ditepi ranjang. Tatapannya begitu hangat, perlahan tangannya terangkat lalu mengelus pipi istrinya. "Kamu selalu cantik Flo, dan aku tak akan bisa berhenti mengagumi kamu." gumam Ren. Merasakan elusan pada wajahnya, Flo perlahan mengerjabkan matanya. "Ren." Ren tersenyum, dia menjauhkan tangannya dari wajah istrinya. "Maaf sayang, aku membangunkanmu." Florensia tersenyum kemudian bangun dari tidurnya. "Tidak papa Ren, aku bahkan tidak sadar kalau ketiduran." Ren merapikan anak rambut Florensia yang menutupi wajah cantiknya. "Kamu pasti capek." Florensia bersingut lalu memeluk tubuh Ren yang saat ini sudah sah menjadi suaminya. "Maafkan aku yang tidak menemani kamu menemui tamu undangan." Ren meletakkan jasnya ke ranjang lalu membalas pelukan Flo. "Tidak masalah sayang, kenyamanan kamu adalah yang utama." Florensia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya, Ren selalu bisa mengerti dirinya. Dia berharap suaminya akan terus seperti ini hingga mereka tua nanti. Tok. Tok. Florensia melepaskan pelukannya saat pintu kamar mereka diketuk. "Aku buka pintu dulu." Florensia mengangguk, Ren mengecup kening istrinya sebelum pergi. Saat pintu terbuka, Ren melihat asiaten pribadinya berdiri didepan pintu. "Maaf menganggu waktu anda tuan." "Ada apa Vegas?" "Tuan sudah menunggu anda dan nyonya muda untuk makan malam." ucap Vegas. "Kami akan segera turun." Vegas mengangguk lalu pergi. Ren kembali menutup pintu lalu menghampiri Florensia. "Ada apa Ren?" "Papa sudah menunggu kita untuk makan malam." "Aku sudah menyiapkan jas baru untuk kamu, kamu sebaiknya ganti baju dulu." "Terima kasih sayang." Selagi Ren berganti pakaian, Flo membetulkan riasan wajah serta gaun hitam yang digunakannya. Dia kemudian merapikan rambut panjangnya yang sengaja dia biarkan tergerai. Greb! Sepasang tangan melingkari perut rampingnya, Florensia tersenyum melihat pantulan wajah suaminya dicermin. "Selalu cantik dan luar biasa." puji Ren. "Ren." ucap Florensia tersenyum malu. Melihat wajah malu-malu istrinya membuat Ren tak sabar untuk segera memakan Florensia. Namun saat ini mereka harus mengahdiri acara makan malam bersama keluarga mereka. "Tunggu sampai acara selesai dan aku tidak akan membiarkan kamu begitu saja, Florenisa." bisik Ren. Cup! Ren mengecup tengkuk mulus istrinya membuat Florensia merasa merinding sekaligus takut. "Ayo kita pergi." ajak Ren. Flo mengangguk, tanganya digenggam erat oleh Ren. Mereka berjalan bersama sembari bergandengan tangan menuju tempat makan malam. Sampai di lokasi, semua keluarga sudah berkumpul termasuk asisten Ren dan juga asisten Flo. "Maaf kami terlambat." ucap Florensia lembut. "Silakan duduk." ucap Raditya. Ren menarikkan kursi untuk Flo tepat di sebelah Kenan adiknya. Dia juga ikut duduk disebelah mamanya. "Karena semua keluarga sudah berkumpul, mari kita mulai acara makan malam ini." ucap Raditya. Seluruh anggota keluarga mengangguk termasuk keluarga Florensia. Florenisa menatap banyak hidangan didepannya, saat hendak mengambil untuk dirinya sendiri seketika dia teringat jika dia sudah menjadi seorang istri. "Aku harus melayani Ren terlebih dahulu." batinnya. "Sayang, kamu mau pakai apa?" tanya Flo. "Apa saja yang kamu ambilkan akan aku makan." "Ehem." dehem Kenan cukup keras. "Wah, sepertinya kak Kenan iri dengan kemesraan kak Ren dan kakak ipar." sindir Marissa. Meski umur Marissa dan Kenan sama-sama 28 tahun, namun Marissa tetap memanggil Kenan kakak. Talita dan Sofia saling tatap lalu tersenyum. "Marissa, jika kamu menikah nanti kamu juga harus melayani suami kamu seperti yanh dilakukan Flo pada Ren." ucap Vanesa. "Apa keluarga kita akan segera mengelar pesta kembali?" tanya Sofia. "Tante, Marissa masih ingin bekerja." "Tapi umur kamu sudah cukup matang untuk menjadi seorang istri Ca." ucap Raditya. "Kalian ini sama saja." sahut Marissa kesal. Mereka tertawa saat berhasil membuat satu-satunya wanita keturunan Louhan kesal. Selesai makan malam, semua anggota keluarga pamit untuk pulang. "Flo kira kalian akan menginap." "Tidak nak, papa mama harus kembali. Nikmati malam pertama kalian." ucap Talita. Florensia tersenyum malu. "Mama." "Ren, papa mama pulang dulu." Ren mengangguk. "Hati-hati Pah." Kenan menepuk pundak kakaknya. "Bikinkan Ken keponakan yang lucu kak." Ren menepuk keras lengan Kenan yang hanya disambut tawa kecil dari adiknya itu. Setelah berpamitan pada sepasang pengantin baru itu, mereka kemudian pergi. Hanya tersisa Ren dan Florensia yang mengantarkan kepergian mereka. "Ke kamar sekarang?" tanya Ren sambil menatap lapar Florensia. "Jangan berikan tatapan seperti itu Ren, terlalu menakutkan." ucap Florensia sambil sedikit menjauh dari suaminya. Dengan sekali hentakan, Ren berhasil menggendong tubuh Florenisa. Sepontan Florensia mengalungkan lengannya ke leher Ren. "Ren, aku takut jatuh." Cup! Ren mencuri kecupan dibibir istrinya, tanpa menjawab istrinya dia berjalan membawa istrinya kembali ke kamar. Florensia menyembunyikan wajahnya ke dada bidang suaminya. Malam ini, dia akan menyerahkan kehormatannya untuk sang suami. Dia akan menjadi wanita seutuhnya. Saat masuk ke dalam kamar, suasana kamar tak seterang saat mereka keluar tadi. Kamar mereka disulap menjadi kamar pengantin yang penuh taburan bunga diranjang. Aroma manis dan menenangkan seketika tercium saat mereka masuk ke dalam. Lilin-linin kecil berjejer rapi menyambut mereka, Florensia tertegun melihat kamar mereka sudah berubah. "Ren?" "Kamu suka?" Florensia mengangguk sambil tersenyum. Perlahan Ren merebahkan tubuh Florensia dengan lembut ke atas ranjang. Ditatapnya manik hitam Flo yang mampu membawanya ke dalam jurang keindahan istrinya. "Kamu siap malam ini?" tanya Ren. Flo yang masih mengalungkan lengannya ke leher Ren seketika terdiam. "Tidak papa jika kamu belum siap, aku bisa men-" "Aku siap Ren." ucap Flo cepat. Ren tersenyum, dia mendekatkan wajahnya lalu mulai mengecup kening, kedua mata, pipi, hidung, dan terakhir bibir Florensia. Dia mengecupi lembut bibir istrinya, perlahan tanpa ada paksaan sama sekali. Florensia memejamkan matanya, meski masih kaku dia mencoba mengimbangi gerakan bibir Ren. Terhanyut dalam ciuman suaminya, Florensia tak sadar jika Ren berhasil melepaskan resleting gaunnya. Ren menegakkan tubuhnya, dia mulai melepaskan jas serta membuka satu persatu kancing kemeja yang digunakannya. Florensia menatap kagum bentuk tubuh suaminya yang kekar, otot perut dan dadanya terbetuk sempurna. Bibir keduanya kembali bertemu, tangan Ren perlahan menurunkan gaun yang digunakan Florensia hingga tersisa kain menutup asetnya saja. Ciuman Ren turun ke leher dan dada Flo, membuat Flo memejamkan mata merasakan kenikmatan yang baru pertama dia rasakan. "Aku tidak tahan sayang." bisik Ren. Ren mulai melepaskan sisa pakaian yang mereka gunakan, saat ini keduanya sudah bersih tanpa sehelai benangpun. Merasa malu, Flo menutupi asetnya sendiri. Melihat milik suaminya yang sudah berdiri tegak membuatnya meneguk ludah kasar. "Apa itu akan muat?" batin Flo. "Rileks sayang, aku akan melakukannya perlahan." Ren membuka kaki Flo lalu meletakkan tubuhnya diantara kaki istrinya. Dia kembali mencium Florensia sambil memainkan dada istrinya yang sangat pas ditangannya. Saat sudah cukup panas, dia mulai mengarahkan miliknya ke milik Flo. "Akh." pekik Flo. "Argh, kenapa sempit sekali." Ren menegakan tubuhnya, menggunakan tangannya dia mulai membantu adiknya untuk masuk ke milik Flo. "Sa-kit." ringis Flo. Ren terus berusaha hingga ujungnya masuk sedikit, dia kembali membungkuk lalu mencium Florenisa untuk mengalihkan rasa sakit yang Flo rasakan. Perlahan dia menekan pinggangnya hingga miliknya masuk sebagian. Air mata Flo sudah mengalir saat merasakan miliknya seperti disobek, terasa panas dan perih bercampur jadi satu. "Ren." Bles! "Awwww, sakit." seru Florensia sambil terus meneteskan air mata. Dengan sekali hentakan milik Ren masuk sepenuhnya, dia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya saat milknya terasa terjepit didalam sana. Ren membuka mata lalu mengusap air mata dipipi istrinya, dia tersenyum saat merasakan hangat seperti mengalir pada miliknya. Ren sedikit mengeluarkan miliknya dan seketika terlihat bercak darah pada miliknya. "Aku akan melakukannya perlahan sayang." Setelah memastikan milik Flo nyaman, Ren mulai menggerakan pinggulnya. Erangan keduanya saling bersahutan dikamar itu. Rasa sakit yang tadi Flo rasakan berubah menjadi rasa nikmat yang tak tergatikan. Tubuhnya terkulai lemas dengan keringat yang bercucuran disekujur tubuhnya, nafas keduanya terengah-engah. Cup! Ren mengecup lama kening Flo. "Terima kasih sayang."Ting.Pintu lift terbuka, Florensia keluar dari lift kemudian berjalan menuju dapur. Disana dia melihat beberapa asisten rumah tangga tengah sibuk mempersiapkan bahan makanan untuk mereka masak untuk menu makan malam nanti."Selamat sore nyontya Flo." sapa para asisten rumah tangga bergantian."Sore bik, ada yang bisa Flo bantu?"Asisten rumah tangga saling tatap saat nyonya muda mereka menanyakan pekerjaan yang bisa nyonya mereka bantu, mereka hanya diam dan saling menatap.Florensia yang tak emndapatkan jawaban apapun mengerutkan keningnya, dia berniat membantu karena memang tak memiliki pekerjaan."Maaf nyonya, lebih baik anda menungggu di luar saja.""Loh, memangnya kenapa bik?" tanya Florensia bingug."Biarkan kami saja yang memasak ini nyonya, nanti tangan anda kotor."Florensia tertawa kecil menengar jawaban asiaten ruma tangganya. "Tidak papa bik, saya di rumah mama juga sering membantu mama memasak."
Florensia terdiam sambil menatap ke luar jendela mobil, saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang dari kafe setelah bertemu dengan sahabatnya. Sejak pembicaraannya dengan Noela tadi, dia jadi lebih banyak diam bahkan sampai membuat Karina bingung.Sesekali Karina melihat kebelakang melewati kaca spion, dia memperhatikan Florensia yang semakin murung dan banyak diam. Dia menghela nafas pelan, dia sama sekali tidak tahu pembicaraan bos dan sahabatny tadi karena dia sengaja memberi ruang agar tidak terlalu tahu masalah yang dibahas oelh Florensia.Karina sedikit khawatir melihat Florensia, dia takut masalah yang dihadapinya cukup berat."Nona, anda melamun?"Florensia menoleh ke depan saat Karina menegurnya. "Tidak, aku hanya sedikit banyak pikiran saja.""Anda bisa bercerita dengan saya nona, jangan terlalu dipendam sendiri.""Nanti aku ceritakan."Karina mengangguk, dia paham mungkin saat ini Florensia belum siap untuk mencerit
Megan dan Ren berjalan bersama meninggalkan rumah sakir menuju mobil mereka, keduanya tampak terlihat mengobrol ringan sambil sesekali tersenyum bersama. Dibelakang mereka, asisten mereka hanya terdiam sambil sesekali memperhatikan interaksi bos mereka, terutama Vegas. Vegas melirik Tania yang biasa saja melihat kedekatan Ren dan Megan seolah sama sekali tidakmerasa was-was. Berbeda dengan dirinya yang sedikit cemas karena takut ada yang melihat mereka dan melaporkannya pada nyonya muda Louhan alias Florensia."Ehem."Tania menoleh ke arah Vegas yang berdehem pelan. "Ada apa?"Vegas menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, tenggorokanku sedikit sakit saja."Sampai di tempat parkir, Megan menghentikan langkahnya didekat mobilnya yang kebetulan bersebelahan dengan mobil Ren."Kamu masih ingat makam Maki kan?"Ren mengangguk. "Masih.""Kalau begitu alku duluan ya, kita bertemu disana nanti.""Iya."Megan lekas masuk kedalam mobil bersama dengan Tania kemudian pergi ke lebih dulu meninggalk
"Terima kasih kak.""Sama-sama nona."Florensia keluar dari salon kemudian menghampiri asistennya yang sudah menunggunya di lobi sambil meminum kopi. Melihat Florensia sudah datang buru-buru Karina bangkit dari duduknya."Bagaimana nona? Sudah lebih baik?"Floensia mengangguk mengiyakan, tubuhnya sudah lebih ringan dari sebelumnya, dia merasa lebih fresh dan kembali besemangat lagi."Ayo kita ke kafe, Noela dan Angel sudah menunggu." ajak Florenisa.Karina mengangguk. "Mari nona."Florensia berjalan lebih dulu, dia sudah tidak sabar bertemu dengan para sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu. Mereka berdua lekas masuk ke dalam mobil kemudian menuju lokasi tempat biasa Florensia dan dua sahabatnya nongkrong.Namun yang membuat Florenisa penasaran adalah topik pembahasan mereka yang akan Noela sampaikan nanti. Enath apa yang diketahui oleh sahabatnya tentang Ren hingga Noela mengajaknya bertemu untuk membahas Ren.Florens
Drrtt..Drrtt..Ponsel milik Ren kembali bergetar, dia mengambil ponselnya kemudian melihat nama Megan yang tertera pada layar ponselnya. Tanpa menangkatnya, Ren langsung pergi begitu saja.Ceklek.Dua bodyguard sedikit menyingkir dari depan pintu saat pintunya terbuka."Ren, aku tidak boleh masuk." adu Megan.Kedua bodyguard itu menundukkan kepala mereka takut."Maafkan kami tuan." ucap mereka kompak."Masuk." ucap Ren datar.Megan segera masuk ke dalam sambil mengukuti Ren dari belakang, mereka berdiri tak jauh dari ranjang pasien. Megan mendekati ranjang pasien itu kemudian menatap priayang sedang terbaring lemah."Bagaimana keadaan bapak....""Desta, nama saya Desta." lirih pria bernama Desta.Megan mengangguk. "Bagaimana keadaan bapak? Saya minta maaf atas tindakan saya kemarin, tadi saya sudha diberi tahu Ren tentang semuanya.""Tidakpapa nona, semua ini juga salah saya.""Tidak, ba
"Ada apa Vegas?" tanya Ren saat keduanya sudah berada didalam ruang kerja Ren."Saya baru saja mendapat kabar jika pria yang saat ini dimarkas jatuh sakit tuan." jawab Vegas.Ren memberlakan matanya terkejut. "Apa, sakit? Bagaimana bisa?""Menurut laporan, pria itu sama sekali tidak makan dan minum selama disana tuan. Dan saat ini dia sedang dirawat di rumah sakit terdekat."Ren menghembuskan nafasnya kasar, dia masih kesal lantaran salah mendapat target dan sekarang pria itu malah sakit. Ren masih pusing dengan masalah ini karena sampai saat ini masih belum juga menemukan titik terang terkait pelaku utama kecelakaan Maki. Ren menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil meraup wajahnya kasar."Bagaimana ini?""Anda tidak perlu khawatir tuan, sebelum pria itu pingsan dia sempat memberikan keterangan terkait kepemilikan mobilnya."Mendengar ucapan Vegas barusan membuat Ren menegakkan duduknya, dia menatap asistennya dengan tatapan tak percaya







