Share

bab 3

Penulis: Addarayuli
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-01 15:47:02

Ren menatap Flo yang tengah tertidur dengan lelap, setelah pergumulan mereka tadi, Flo langsung tertidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Ren tersenyum melihat wajah damai Flo, dia mengangkat tangannya lalu merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan. Ren juga membenarkan selimut istrinya hingga sebatas leher.

"Terima kasih sudah mau menerima aku yang banyak kekurangan ini Flo." gumam Ren.

Dia mengelus hidung mancung Flo lalu mengecupnya pelan. Ren bangkit perlahan dari tidurnya agar tak membangunkan istrinya. Hanya mengenakan kimono, dia duduk disofa lalu menuang minuman alkohol ke gelasnya kemudian menyesapnya pelan.

Seketika dia teringat hadiah yang dia letakan disaku jasnya tadi. Dia kembali bangkit dari duduknya lalu mencari keberadaan jasnya, setelah menemukan jasnya dia lekas mengambil kotak yang tersimpan disaku.

"Apa yang dia berikan padaku?" gumam Ren.

Ren menatap kotak berukuran sedang berwarna hitam ditangannya. Dia kembali ke sofa lalu duduk, sambil kembali meminum minumannya Ren perlahan membuka kotak itu.

"Sapu tangan?"

Kening Ren berkerut melihat sapu tangan berwarna coklat muda di dalam kotak, dia mengambilnya dan tak lama ada kertas yang jatuh dari dalam lipatan sapu tangan.

Ren mengambil kertas yang terjatuh di lantai, ada sebuah tulisan disana.

"Selamat menempuh hidup baru, aku turut bahagia dengan pernikahanmu. Namun ada satu hal yang selama ini aku sembunyikan, suatu saat nanti saat kamu tahu ku harap kamu tidak menyesali apa yang kamu lakukan hari ini." ucap Ren membaca surat itu.

Ren terdiam sebentar, dia ingat sesuatu. Sapu tangan yang ada ditangannya saat ini adalah sapu tangan yang dia berikan untuk mendiang adik mantan kekasihnya.

"Apa ini? Kenapa dia menulis surat seperti ini?" ucap Ren bingung.

Ren meremas sepotong kertas itu kemudian membuangnya ke tempat sampah. Dia tak habis pikir dengan tindakan mantan kekasihnya, kata-kata yang tertulis dikertas itu seolah memperingatinya akan hari pernikahannya yang terjadi hari ini.

"Tidak, aku tidak boleh asal percaya begitu saja. Meski kita sudah berteman baik namun dia begitu mencurigakan."

"Enghh..Ren."

Ren segera menyembunyikan sapu tangan itu ke belakang tubuhnya.

"Kamu belum tidur?" tanya Florensia serak.

"Aku ke toilet sebentar ya, setelah ini aku akan tidur."

Florensia mengangguk kemudian kembali memejamkan matanya. Ren bernafas lega saat istrinya tak curiga sama sekali, dia menenggak habis minuman digelasnya lalu beranjak dari duduknya.

Ren meletakan sapu tangan itu ke jasnya lalu menyusul Florensia ke ranjang. Dia mengecup pipi istrinya lalu menyelusupkan lengannya ke belakang leher Florensia dan memeluk erat tubuh istrinya.

"Aku akan menyuruh Vegas menyelidiki semua ini." batin Ren kemudian memejamkan matanya.

Sedangkan disebuah ruangan bernuansa cahaya merah, seorang gadis cantik tengah menatap papan berwarna putih yang penuh dengan coretan tinta merah serta beberapa foto.

Dia tersenyum miring saat satu persatu teka teki yang selama ini dia susun perlahan mulai menunjukkan hasilnya.

"Aku tidak menyangka, ternyata semuanya begitu mudah. Hanya aku yang lamban menyadari."

Wanita cantik itu mengambil sepidol merah kemudian mulai memberi tanda silang pada foto seorang pria.

"Kalian salah bermain-main dengan ku, jangan kalian pikir aku akan melupakan semuanya dengan mudah."

Dia mengenggam erat sepidol ditangannya hingga buku-buku tabgannya memutih.

"Ada harga yang harus dibayar karena satu nyawa hilang." desisnya tajam.

Dia tersenyum smrik melihat beberapa foto yang tertempel, tatapannya tertuju pada dua foto pria dan wanita muda yang sengaja dia sandingkan.

"Untuk mencapai puncak, maka aku harus mulai memanjatnya dari bawah." ucapnya sambil mendengus sinis.

"Sayang sekali kamu harus terlibat dengan kekacauan ini, tapi dengan adanya kamu akan semakin mempermudah aku untuk menghancurkan mereka secara perlahan."

Lagi-lagi wanita itu tersenyum miring.

"Aku akan memberikan waktu untuk kalian bersenang-senang sebelum tiba waktunya aku bertindak."

Wanita itu mengelus foto pria muda.

"Perlu kamu ingat, aku masih selalu mencintaimu sampai kapanpun. Saat aku berhasil menghancurkan mereka, maka saat itu juga aku akan merebutmu kembali."

Drrtt.

Drrtt.

Ponsel wanita itu bergetar, dia mengambil ponsel lalu menatap siapa yang menghubunginya.

"Halo."

"Maaf menganggu, saya sudah berhasil rekaman cctv yang sempat hilang."

"Bagus, jangan biarkan orang lain tahu dulu. Tetap selidiki terus."

"Baik nona."

Setelah panggilan telepon terputus, wanita itu tertawa dengan keras.

"Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi dan aku akan memberikan keadilan untuk kamu."

Pagi harinya, Florensia bangun lebih dulu. Tubuhnya terasa sakit semua terutama dibagian intinya. Dia meringis kecil saat hendak bangun daru tidurnya.

"Aw." pekiknya.

Florensia menutup mulutnya karena takut membangunkan suaminya. Perlahan dia mulai bergerak ke tepi ranjang sambil melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya.

Florensia bernafas lega saat kakinya berhasil mengingak lantai, dengan segala usaha yang dia lakukan tadi meski harus menahan rasa sakit yang luar biasa.

Ren meraba sisi tubuhnya yanh sudah kosong, dia segera membuka matanya dan melihat istrinya yang berjalan tertatih sangat pelan menuju kamar mandi. Dia tersenyum penuh kemenangan saat melihat noda merah yang tertinggal diranjang serta merasa lucu dengan cara berjalan istrinya.

"Tapi kasihan juga melihat Flo kesusahan seperti itu." gumam Ren.

Ren lekas bangkit dari tidurnya lalu menghampiri Florensia yang tengah berdiri sambil mengatur nafasnya.

"Kok sakit banget sih?" gumam Florensia dengan mata berkaca-kaca.

"Sayang."

"AAA." pekik Florensia terkejut saat mendengar suara Ren dari belakang.

"Ren kamu ngagetin."

Ren tertawa pelan, tanpa meminta persetujuan Flo dia menggendong Flo ala bridal lalu membawanya ke kamar mandi.

"Lain kali jangan sendiri, hem? Kamu bisa bangunin aku."

Flo mengerucutkan bibirnya. "Aku nggak mau ngerepotin kamu Ren."

Sampai di kamar mandi, Ren mendudukkan Flo di toilet lalu mengisi bathup dengan air panas dan dingin bersamaan.

"K-kamu keluar dulu, aku mau pipis." ucap Florensia gugup.

"Kenapa aku harus keluar sayang? Tadi malam aku sudah melihat semuanya, kenapa masih malu?" goda Ren.

Wajah Florensia memerah saat mengingat kejadian tadi malam, Ren begitu perkasa diatanya hingga membuatnya mabuk kepayang.

"Tapi kamu jangan ngintip ya?"

"Iya." Ren berbalik badan saat istrinya hendak buang air.

Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Flo melepaskan selimut yang melilit tubuhnya lalu menuntaskan hajatnya. Matanya kembali berkaca-kaca saat miliknya terasa perih.

"Sudah?" tanya Ren.

"Ren, sakit." ringis Florensia.

Merasa khawatir, Ren berbalik lalu menghampiri istrinya. Florensia tak memikirkan malu lagi, saat ini hanya rasa sakit yang mendominasi tubuhnya.

"Aku bantu ya?"

Florensia mengangguk, dengan telaten Ren mulai menyemprotkan jet washer ke bagian inti Florensia yang terdapat bercak darah mengering.

"Sakit?"

Florensia kembali mengangguk.

"Kamu mandi dulu ya biar tubuhnya rileks. Sebentar aku matikan dulu kran airnya."

Ren beranjak dari duduknya lalu mematikan kran yang airnya hampir memenuhi bathup. Dia juga menyalakan lilin aroma terapi dan memasukan bath bomb ke dalam bathup. Selesai menyiapkan air untuk istrinya, Ren kembali menghampiri Florensia lalu kembali mengendongnya

Sampai didekat bathup, Ren menurunkan Flo lalu membantu Flo masuk ke dalam bathup.

"Kurang panas airnya?"

Florensia menggeleng, dia menenggelamkan tubuhnya pada air hangat. Tubuhnya yang tadi terasa lemas dan sedikit kaku seketika berubah sedikit lebih nyaman.

Ren membuka kimononya membuat Florensia seketika panik.

"Ren, kamu mau ngapain?"

"Mandi, apa lagi."

Tanpa menunggu Florensia menjawab, Ren sudah lebih dulu masuk ke bathup bersama Florensia. Dia memposisikan tubuhnya berada di belakang tubuh Florenisa lalu memeluknya erat.

Meski sudah melihat semuanya, rasa canggung dan malu masih Florensia rasakan.

"Kamu deg-degan?" tanya Ren saat tangannya meraba dada istrinya.

"A-aku...masih sakit Ren."

Cup.

Ren mencium pipi Florensia dari samping.

"Aku janji kita hanya mandi, tidak lebih."

"Janji?"

Ren mengangguk, dia mulai membantu Florensia menggosok punggung putih sang istri sambil sesekali mengecupnya.

"Ren, geli." ucap Florensai sambil tertawa.

Mereka asyik berendam sambil bercanda, Florenisia beruntung karena bisa melihat sisi lembut dan hangat Ren yang jarang atau bahkan tak pernah dia perlihatkan pada orang lain.

Keduanya saling bertatapan dengan senyum lebar, tangan Florensia terangkat lalu menyibakan rambut suaminya ke belakang.

"Maaf ya, rambut kamu nutupin wajah."

Usapan lembut tangan Florensia pada rambutnya membuat Ren memejamkan matanya. Dia sangat suka ketika Flo mengelusnya dibagian kepala.

"Sayang, kamu bikin Ren junior bangun."

Usapan pada rambut Ren seketika berhenti.

"Ren, kamu udah janji." rengek Florensia.

Ren menarik tangan Florensia hingga tubuh istrinya kembali membelakanginya. Florensia merasakan sesuatu menusuk-nusuk pinggangnya. Ren memeluk tubuh Florensia dari belakang lalu menyandarkan kepalanya ke punggungnya.

"Biarkan seperti ini dulu sayang." bisik Ren.

Mendengar suara serak suaminya membuat Florensia merasa tak tega. Sebelum menikah, mamanya sudah lebih dulu memberinya wejangan agar melayani suaminya dengan ikhlas.

"Tapi aku malu." batin Florensia.

"Ren."

"Kenapa sayang? Masih terasa sakit?"

Florensia menggeleng.

"Lalu ada apa? Kamu lapar?"

Lagi-lagi Florensia menggeleng membuat Ren bingung.

"B-boleh, tapi hanya satu kali." cicitnya.

Sudut bibir Ren terangkat, meski sudah mendengar jelas ucapan istrinya tapi dia ingin mengoda istrinya.

"Apa sayang? Kamu bilang apa? Kurang jelas, aku nggak dengar."

"Kamu boleh itu, tapi cuma sekali aja."

Mendapatkan lampu hijau dari istrinya membuat Ren senang bukan main, dia membalik tubuh Florensia kemudian melahap bibir merah muda alami itu dengan rakus. Siapa yang tahan melihat tubuh molek istrinya dan hanya didiamkan saja? Bahkan hasrat Ren sudah mencapai ubun-ubun.

Florensia merasa kewalahan mengimbangi suaminya, dia hanya bisa pasrah saat kembali digempur Ren. Meski masih terkesan lembut namun permainan kali ini sedikit kasar dari semalam.

Gerakan keduanya membuat air didalam bathup keluar bercacar dilantai kamar mandi. Erangan keenakan Florensia membuat api semangat di tubuh Ren berkobar-kobar.

Selesai dengan kegiatan pertempuran mereka, kini mereka tengah bersiap untuk sarapan yang sudah kesiangan.

"Hati-hati sayang."

Flo mengangguk, meski intinya terasa masih sedikit sakit namun dia berusaha berjalan senormal mungkin. Mereka turun ke restoran hotel pukul sepuluh pagi, beberapa pelayan mulai menyiapkan sarapan untuk sepasang pengantin baru itu.

"Kapan kita pulang?" tanya Florensia.

"Rencananya siang nanti kita pulang, aku sudah menyiapkan tiket bulan madu untuk kita."

"Bulan madu?"

Ren mengangguk. "Tapi aku hanya bisa mengajak kamu di dalam negeri saja, tidak papa kan?"

"Tidak papa Ren, aku senang mendengarnya."

"Makan yang banyak."

"Permisi tuan."

Ren dan Florensia menoleh saat Vegas, asisten pribadi Ren menghampiri mereka.

"Ada apa Vegas?"

"Tuan dan nyonya besar berpesan untuk kembali hari ini. Ada sesuatu yang ingin disampaikan tuan besar pada anda."

"Ya, rencananya siang nanti aku dan Flo akan pulang. Bilang sama papa kalau aku akan kembali nanti siang."

"Baik tuan."

Vegas masih berdiri didekat Ren untuk berjaga-jaga jika tuannya membutuhkan sesuatu. Dia sempat tak sengaja melihat bekas merah pada bahu Flo yang sedikit terbuka.

"Rupanya tuan ganas juga." batin Vegas.

Setelah selesai sarapan, mereka memuruskan untuk kembali ke kamar untuk membereskan pakaian mereka. Dari belakang, Vegas lagi-lagi dipertontonkan cara berjalan Florensia yang terlihat seperti bebek.

"Jaga pandangan kamu Vegas." bisik Ren sambil mlirik kebelakang.

Vegas hanya tersenyum tipis sambil mengacungkan jari jempolnya.

"Apa kak Vegas tinggal di mansion utama?" tanya Flo pada suaminya.

"Tidak, dia tinggal diapartemen dekat mansion. Ada apa sayang?"

"Apa boleh Karina ikut tinggal bersama kita?" tanya Florensia lirih.

Ren merapatkan pelukannya dipinggang istrinya.

"Jika Karina mau, tentu saja boleh. Masih banyak kamat kosong di mansion utama."

"Maaf jika permintaanku terlalu berlebihan."

"Tidak sayang, apapun yang membuat kamu nyaman sebisa mungkin aku akan menurutinya."

"Terima kasih."

Pukul satu siang, mobil yang dikendarai Vegas masuk ke masnion Louhan. Setelah mobil berhenti, Vegas turun lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk bosnya dan sang istri.

"Selamat datang dirumah kita." ucap Ren.

Florensia mendongak lalu tersenyum, mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Namun ada sesuatu yang mencuri perhatian Florensia yaitu sebuah box bersar yang terletak di halaman rumah.

Saat masuk ke dalam, beberapa pengawal dan asisten rumah tangga menyambut kedatangan anggota keluarga baru Louhan. Mereka menunduk saat Ren dan juga Florensia masuk ke dalam rumah.

"Selamat datang anak perempuan mama." sambut Sofia pada Florensia.

"Terima kasih mah."

"Ada apa papa menyuruh kamu pulang hari ini?" tanya Ren.

"Flo, ayo ikut papa." ajak Raditya pada menantunya.

Florensia mengangguk lalu mengikuti papa mertuanya kembali ke luar. Sofia tersenyum lalu merangkul lengan putra pertamanya saat melihat cara berjalan menantunya.

"Apa berhasil?" tanya Sofia.

Ren tersenyum tipis sambil mengangguk. "Mama doakan saja."

"Mama nggak sabar pengen cepat-cepat menimang cucu."

Sofia dan Ren mengikuti Flo dan papanya yang berjalan keluar dari mansion.

"Apa ini pah?" tanya Flo pada papanya saat mereka berdiri tak jauh dari boks besar tadi.

"Rio, buka boksnya." ucap Raditya pada kepala pengawal.

"Siap tuan."

Rio mendekati boks itu kemudian menarik talinya, seketika boks besar itu terbuka dan muncul lah sebuah mobil berwarna putih seri terbaru.

"Ini hadiah dari papa untuk pernikahan kamu."

Florensia membelakan matanya, dia tak menyangka akan mendapat hadiah mobil baru dari papanya.

"Pa, terima kasih." ucap Flo sambil memeluk Raditya yang sudah dia anggap seperti papanya sendiri.

"Flo, mama juga punya hadiah buat kamu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati Suami, Ku Nikahi Adik Ipar   bab 66

    Ting.Pintu lift terbuka, Florensia keluar dari lift kemudian berjalan menuju dapur. Disana dia melihat beberapa asisten rumah tangga tengah sibuk mempersiapkan bahan makanan untuk mereka masak untuk menu makan malam nanti."Selamat sore nyontya Flo." sapa para asisten rumah tangga bergantian."Sore bik, ada yang bisa Flo bantu?"Asisten rumah tangga saling tatap saat nyonya muda mereka menanyakan pekerjaan yang bisa nyonya mereka bantu, mereka hanya diam dan saling menatap.Florensia yang tak emndapatkan jawaban apapun mengerutkan keningnya, dia berniat membantu karena memang tak memiliki pekerjaan."Maaf nyonya, lebih baik anda menungggu di luar saja.""Loh, memangnya kenapa bik?" tanya Florensia bingug."Biarkan kami saja yang memasak ini nyonya, nanti tangan anda kotor."Florensia tertawa kecil menengar jawaban asiaten ruma tangganya. "Tidak papa bik, saya di rumah mama juga sering membantu mama memasak."

  • Dikhianati Suami, Ku Nikahi Adik Ipar   bab 65

    Florensia terdiam sambil menatap ke luar jendela mobil, saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang dari kafe setelah bertemu dengan sahabatnya. Sejak pembicaraannya dengan Noela tadi, dia jadi lebih banyak diam bahkan sampai membuat Karina bingung.Sesekali Karina melihat kebelakang melewati kaca spion, dia memperhatikan Florensia yang semakin murung dan banyak diam. Dia menghela nafas pelan, dia sama sekali tidak tahu pembicaraan bos dan sahabatny tadi karena dia sengaja memberi ruang agar tidak terlalu tahu masalah yang dibahas oelh Florensia.Karina sedikit khawatir melihat Florensia, dia takut masalah yang dihadapinya cukup berat."Nona, anda melamun?"Florensia menoleh ke depan saat Karina menegurnya. "Tidak, aku hanya sedikit banyak pikiran saja.""Anda bisa bercerita dengan saya nona, jangan terlalu dipendam sendiri.""Nanti aku ceritakan."Karina mengangguk, dia paham mungkin saat ini Florensia belum siap untuk mencerit

  • Dikhianati Suami, Ku Nikahi Adik Ipar   bab 64

    Megan dan Ren berjalan bersama meninggalkan rumah sakir menuju mobil mereka, keduanya tampak terlihat mengobrol ringan sambil sesekali tersenyum bersama. Dibelakang mereka, asisten mereka hanya terdiam sambil sesekali memperhatikan interaksi bos mereka, terutama Vegas. Vegas melirik Tania yang biasa saja melihat kedekatan Ren dan Megan seolah sama sekali tidakmerasa was-was. Berbeda dengan dirinya yang sedikit cemas karena takut ada yang melihat mereka dan melaporkannya pada nyonya muda Louhan alias Florensia."Ehem."Tania menoleh ke arah Vegas yang berdehem pelan. "Ada apa?"Vegas menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, tenggorokanku sedikit sakit saja."Sampai di tempat parkir, Megan menghentikan langkahnya didekat mobilnya yang kebetulan bersebelahan dengan mobil Ren."Kamu masih ingat makam Maki kan?"Ren mengangguk. "Masih.""Kalau begitu alku duluan ya, kita bertemu disana nanti.""Iya."Megan lekas masuk kedalam mobil bersama dengan Tania kemudian pergi ke lebih dulu meninggalk

  • Dikhianati Suami, Ku Nikahi Adik Ipar   bab 63

    "Terima kasih kak.""Sama-sama nona."Florensia keluar dari salon kemudian menghampiri asistennya yang sudah menunggunya di lobi sambil meminum kopi. Melihat Florensia sudah datang buru-buru Karina bangkit dari duduknya."Bagaimana nona? Sudah lebih baik?"Floensia mengangguk mengiyakan, tubuhnya sudah lebih ringan dari sebelumnya, dia merasa lebih fresh dan kembali besemangat lagi."Ayo kita ke kafe, Noela dan Angel sudah menunggu." ajak Florenisa.Karina mengangguk. "Mari nona."Florensia berjalan lebih dulu, dia sudah tidak sabar bertemu dengan para sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu. Mereka berdua lekas masuk ke dalam mobil kemudian menuju lokasi tempat biasa Florensia dan dua sahabatnya nongkrong.Namun yang membuat Florenisa penasaran adalah topik pembahasan mereka yang akan Noela sampaikan nanti. Enath apa yang diketahui oleh sahabatnya tentang Ren hingga Noela mengajaknya bertemu untuk membahas Ren.Florens

  • Dikhianati Suami, Ku Nikahi Adik Ipar   bab 62

    Drrtt..Drrtt..Ponsel milik Ren kembali bergetar, dia mengambil ponselnya kemudian melihat nama Megan yang tertera pada layar ponselnya. Tanpa menangkatnya, Ren langsung pergi begitu saja.Ceklek.Dua bodyguard sedikit menyingkir dari depan pintu saat pintunya terbuka."Ren, aku tidak boleh masuk." adu Megan.Kedua bodyguard itu menundukkan kepala mereka takut."Maafkan kami tuan." ucap mereka kompak."Masuk." ucap Ren datar.Megan segera masuk ke dalam sambil mengukuti Ren dari belakang, mereka berdiri tak jauh dari ranjang pasien. Megan mendekati ranjang pasien itu kemudian menatap priayang sedang terbaring lemah."Bagaimana keadaan bapak....""Desta, nama saya Desta." lirih pria bernama Desta.Megan mengangguk. "Bagaimana keadaan bapak? Saya minta maaf atas tindakan saya kemarin, tadi saya sudha diberi tahu Ren tentang semuanya.""Tidakpapa nona, semua ini juga salah saya.""Tidak, ba

  • Dikhianati Suami, Ku Nikahi Adik Ipar   bab 61

    "Ada apa Vegas?" tanya Ren saat keduanya sudah berada didalam ruang kerja Ren."Saya baru saja mendapat kabar jika pria yang saat ini dimarkas jatuh sakit tuan." jawab Vegas.Ren memberlakan matanya terkejut. "Apa, sakit? Bagaimana bisa?""Menurut laporan, pria itu sama sekali tidak makan dan minum selama disana tuan. Dan saat ini dia sedang dirawat di rumah sakit terdekat."Ren menghembuskan nafasnya kasar, dia masih kesal lantaran salah mendapat target dan sekarang pria itu malah sakit. Ren masih pusing dengan masalah ini karena sampai saat ini masih belum juga menemukan titik terang terkait pelaku utama kecelakaan Maki. Ren menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil meraup wajahnya kasar."Bagaimana ini?""Anda tidak perlu khawatir tuan, sebelum pria itu pingsan dia sempat memberikan keterangan terkait kepemilikan mobilnya."Mendengar ucapan Vegas barusan membuat Ren menegakkan duduknya, dia menatap asistennya dengan tatapan tak percaya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status