Share

Pertarungan Melawan Waktu

Author: Senjaaaaa
last update Last Updated: 2025-10-31 11:29:37

Di dalam ruang operasi yang serba putih dan dingin, Dokter Bram dan tim medisnya bekerja dengan cekatan dan penuh konsentrasi. Lampu operasi yang terang benderang menyoroti tubuh Nana yang terbaring lemah di atas meja operasi.

Dokter Bram mengenakan masker dan sarung tangan steril, tatapannya fokus pada monitor yang menampilkan detak jantung dan tekanan darah Nana. Ia memeriksa kembali peralatan medis dan memastikan semuanya siap digunakan.

"Tekanan darah menurun, Dokter," ujar seorang perawat dengan nada khawatir.

"Siapkan epinefrin," perintah Dokter Bram dengan nada tenang, namun tegas.

Seorang perawat segera menyuntikkan epinefrin ke dalam infus Nana. Detak jantung Nana mulai stabil, namun kondisinya masih sangat kritis.

"Kita harus bertindak cepat. Waktu kita tidak banyak," ujar Dokter Bram dengan nada mendesak.

Ia mengambil pisau bedah dan mulai membuat sayatan di perut Nana dengan hati-hati. Asistennya membantu membuka lebar luka sayatan, memperlihatkan rahim Nana yang membengka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mimpi Buruk Lagi

    Aku keluar dari kamar dan mendapati Andreas sedang bergelut dengan laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, rahangnya mengeras, sorot matanya serius. Entah mengapa pria itu selalu terlihat sibuk, seolah beban dunia bertumpu di pundaknya seorang diri. Aku duduk di sebelahnya sambil mendengus pelan. “Ada apa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Aku mulai khawatir sama Kak Hansen,” ucapku akhirnya. Andreas berhenti mengetik. Ia menoleh, menyipitkan mata. “Kenapa tiba-tiba?” Aku menggeleng. “Aku nggak tahu. Cuma… pirasat. Rasanya nggak enak. Kayak ada sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak paham.” Belum sempat Andreas menjawab, ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan itu. Aku tak bisa mendengar jelas suara di seberang, tapi cukup melihat perubahan di wajahnya tegang, lalu panik. Ia langsung bangkit, menyambar jaket, dan memasukkan ponsel ke saku celananya. “Aku pergi dulu,” katanya singkat. “Kemana?” tanyaku. “Ini sudah larut.” “Ad

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Satu Bathtub Dengan Andreas

    Aku baru sampai dari kantor. Tubuhku lengket oleh keringat dan kelelahan. Andreas tidak menjemput. Kesalku menumpuk. Kalau saja tahu dia akan seenaknya begini, lebih baik tadi aku bawa mobil sendiri. Aku menurunkan tubuh ke dalam bathtub. Air hangat merendamku. Aroma terapi memenuhi udara, perlahan meredakan penat. Aku memejamkan mata, mencoba tenang. Lalu aku merasakan sentuhan hangat di wajahku. Aku membuka mata. Andreas duduk di sisi bathtub, menatapku. Refleks aku menutupi tubuhku dengan tangan, meski air dan busa sudah menutupinya. “Hei! Kamu ngapain?” tanyaku panik. Andreas berdiri dan melangkah ke belakangku. Kehadirannya terasa dekat. Terlalu dekat. “Bagaimana kalau aku bantu kamu mandi?” ucapnya singkat. “Dasar cabul,” balasku cepat. Ia tidak membantah. Hanya menatapku sejenak tatapan yan

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Jalur yang Salah

    “Enggak ngapa-ngapain?” “Iya,” jawab Andreas datar. “Tentu saja. Aku bukan orang yang suka memanfaatkan orang yang nggak sadar.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Aku lebih suka kalau kamu memberikannya dengan sadar.” Tubuh Andreas condong ke arahku. Wajahnya semakin dekat. Aku bisa merasakan hangat napasnya menyentuh kulitku. Aku segera mendorong dadanya dengan ujung telunjuk. “Apasih?” kataku gugup. “Lagian aku lagi hamil muda, tahu. Nggak boleh gituan.” Andreas terkekeh pelan. “Gituan apa?” Ia mencondongkan wajahnya sedikit. “Gini?” Bibirnya menyentuh bibirku singkat. Sialnya, aku tidak menolak. Aku justru memejamkan mata dan membalas ciumannya. Kepalaku kosong. Semua nasihat dokter, semua rasa takut, mendadak menguap. Saat ciuman itu mulai kehila

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Antara Marah dan Malu

    Itu adalah rasa takut Anda sendiri.” Ruangan hening. “Apakah saya gila, Dok?” tanyaku akhirnya. Dr. Melita menggeleng. “Tidak. Anda hanya kelelahan secara mental. Dan Anda butuh waktu untuk memisahkan mimpi dari kenyataan.” Ia tersenyum tipis. “Dan satu hal penting selama Anda masih bisa mempertanyakan mimpi itu, Anda masih sepenuhnya waras.” Tanganku mengepal perlahan. Namun entah kenapa… rasa takut itu belum sepenuhnya pergi. Dr. Melita kembali membuka catatannya. “Nadira, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi mimpi-mimpi itu,” katanya tenang. Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat. “Pertama, jangan melawan mimpi itu.” Aku mengernyit. “Maksudnya?” “Semakin Anda takut dan berusaha menghindarinya, otak justru menganggap mimpi itu sebagai ancaman nyata,” jelasnya. “Akhirnya mimpi itu terus berulang, bahkan semakin detail.” Aku mengangguk pelan. “Kedua,” lanjutnya, “Anda perlu membedakan waktu sadar dan waktu tidur. Sebelum tidur, laku

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Bertemu Psikiater

    Ya, kenapa aku bisa nggak kepikiran sampai sana? Semua itu cuma mimpi. Kenapa aku harus setakut ini? Catalina menatapku lalu mendengus kecil. “Aku kira kamu harus ke dokter jiwa, deh,” katanya sambil meledek. Aku hampir membalas ketika pintu kamar terbuka. Andreas masuk membawa keranjang buah. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Catalina melirikku, lalu berdiri. “Aku pulang dulu, ya.” Ia mendekat dan berbisik di telingaku sambil melirik Andreas yang sedang menaruh buah di nakas. “Kamu belum cerita soal dia.” Aku hanya menatapnya kesal. Catalina lalu sedikit membungkuk ke arah Andreas. “Tuan Andreas, aku permisi dulu.” Andreas hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Setelah Catalina pergi, Andreas duduk di sisi ranjang. “Kamu mau makan buah?” tanyanya. “Mau,” jawabku. “Kamu mau apa?” “Apel.” Ia bangkit, mengambil satu apel, lalu mengupasnya dengan tenang. Setelah selesai, apel itu diserahkan padaku tanpa kata-kata tambahan. Tak lam

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mulai Sadar

    Aku membuka mata. Aroma obat-obatan langsung menyusup ke hidungku. Tenggorokanku terasa kering, kepalaku masih berat. Samar-samar, aku mendengar percakapan dua orang yang suaranya sangat kukenal. “Sumpah, aku nggak tahu,” suara Catalina terdengar panik. “Aku datang, aku bicara, dia bengong lalu natap aku aneh, kayak ketakutan. Habis itu dia pingsan.” “Apa yang kamu katakan?” suara Andreas terdengar datar, tapi ada tekanan di sana. “Aku cuma nanya apa dia serius mau menikah sama Dikta. Itu pertanyaan biasa. Sebelumnya aku juga sering nanya hal yang sama.” Aku memejamkan mata lagi. Jelas aku yang berlebihan. Terlalu larut dalam mimpi. Terlalu takut pada sesuatu yang bahkan belum tentu nyata. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka. Langkah kaki yang kukenal mendekat. Aku tidak membuka mata, pura-pura masih tertidur. Aroma itu. Aku tahu. Andreas. Ia duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tanganku, hangat. Lalu bibirnya menyentuh punggung tanganku dengan lemb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status