MasukDi antara dua pusara yang berdampingan, Andreas terkulai lemah. Di satu sisi, makam Alina, wanita yang dicintainya lebih dari apa pun. Di sisi lain, makam Hansen, sahabat sekaligus saudara yang selalu ada untuknya. Dua orang yang begitu berarti dalam hidupnya kini telah tiada, meninggalkan luka menganga yang tak mungkin tersembuhkan.
Dirga, dengan setia berdiri di belakang Andreas, memberikan dukungan tanpa kata. Ia tahu, tidak ada kalimat yang mampu mPagi itu terasa lebih terang. Rayhan sudah bangun. Duduk bersandar di ranjang. Wajahnya masih pucat namun jauh lebih tenang.Aku duduk di sampingnya. Sementara Andreas berdiri tidak jauh. Pintu terbuka. Dokter masuk sambil membawa berkas."Bagaimana hari ini?"Rayhan menatapnya sekilas lalu mengangguk kecil. Dokter tersenyum tipis. Lalu membuka hasil observasi."Kondisinya stabil."Aku langsung sedikit lega."Retakan di tulang rusuknya tidak bertambah.""Dan respon tubuhnya cukup baik."Andreas menyilangkan tangan.Fokus."Artinya?"Dokter menutup berkasnya."Dia sudah boleh pulang."Aku menatapnya cepat."Serius?"Dokter mengangguk."Namun tetap harus istirahat total di rumah.""Tidak boleh banyak bergerak.""Tidak boleh aktivitas berat."Ia melirik ke arah Rayhan."Kalau terasa nyeri, jangan dipaksakan."Rayhan menatap dokter lalu mengangguk pelan. Dokter melanjutkan."Kita juga tetap pantau secara berkala.""Kontrol rutin."Ia berhenti sejenak."Khusus untuk kondisi mentalnya…"Aku
Ruangan perawatan itu akhirnya tenang. Lampu redup. Suara mesin medis berdetak pelan. Rayhan sudah tertidur. Wajahnya jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.Napasnya teratur.Tangannya masih menggenggam ujung selimut.Aku duduk di sampingnya. Masih setia menjaga. Mataku lelah. Namun aku tidak ingin beranjak. Pintu terbuka pelan. Andreas masuk tanpa suara. Langkahnya ringan. Namun kehadirannya langsung terasa. Ia berdiri di belakangku beberapa detik. Mengamati. Lalu perlahan tangannya terangkat. Menyentuh pundakku.Hangat.Ia memijat pelan.Lembut.Hati-hati."Sayang…"Suaranya rendah."Kamu pasti lelah."Aku menutup mata sesaat.Menikmati sentuhan itu."Lelah…"bisikku pelan."Tapi aku gak bisa ninggalin dia."Andreas tidak langsung menjawab. pijatan di pundakku tetap berlanjut.Teratur.Menenangkan."Aku tahu."Suaranya lebih lembut dari biasanya."Aku juga gak akan biarin dia sendiri."Aku menoleh sedikit. Menatapnya. Tatapannya berbeda. Bukan dingin seperti tadi.Hangat. Namun di
Rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Bukan tenang. Tapi menekan. Rayhan duduk di sofa. Tubuhnya kaku. Tangannya menggenggam ujung bajunya erat. Aku duduk di sampingnya. Tidak jauh. Namun juga tidak terlalu dekat. Memberinya ruang.Andreas berdiri di dekat jendela.Diam.Namun tatapannya tidak pernah lepas dari Rayhan.Tak lama pintu terbuka. Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah cepat. Tas medis di tangannya."Maaf terlambat," ucapnya singkat.Dokter Willy.Andreas mengangguk."Periksa dia."Dokter Willy langsung mendekat. Ekspresinya berubah serius saat melihat kondisi Rayhan."Rayhan…"suaranya lembut.Rayhan tidak menjawab. Hanya menatap sekilas lalu menunduk lagi. Dokter mulai memeriksa. Pelan.Hati-hati.Tangannya menyentuh lengan Rayhan.Lalu bahu. Tidak ada reaksi berarti. Namun saat tangannya berpindah ke punggung dan sedikit menekan. Tubuh Rayhan langsung menegang.Refleks.Napasnya tercekat. Wajahnya meringis. Aku langsung bangkit."Rayhan…"Dokter Willy menari
Ruangan itu membeku. Saat pria berseragam itu melihat wajah Andreas. Matanya melebar. Tubuhnya kaku. Bibirnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar. "Kamu…" Suaranya nyaris tidak terdengar. Tangannya mulai bergetar. Bukan sedikit. Tapi jelas. Nyata. Seluruh keberaniannya seolah runtuh dalam sekejap. Sementara itu, Andreas berdiri. Perlahan. Tenang. Langkahnya ringan saat berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat suasana makin menekan. Ia berhenti tepat di depan pria itu. Menatapnya lurus. "Jadi…" Andreas sedikit memiringkan kepala. Suaranya dingin. "Bapak Irawan yang arogan ini…" ia melirik sekilas ke arah Irawan. "…adalah putra sulung dari Bapak Komisaris Jenderal Wira Kusumo." Nada suaranya penuh penekanan. Tajam. Tanpa hormat berlebihan namun cukup untuk menunjukkan ia tahu persis siapa yang dihadapinya. Wira Kusumo menelan ludah. Tidak menjawab. Tidak berani. Andreas melanjutkan. "Menarik." Ia tersenyum tipis. Namun matanya dingin. "Seorang kepala polisi…"
Pintu kantor sekolah terbuka keras. Aku melangkah masuk tanpa ragu. Andreas di belakangku. Aura kami berdua cukup membuat ruangan itu langsung tegang. Beberapa guru yang sedang duduk langsung berdiri. "Bu… ada yang bisa kami bantu?" Nada mereka sopan. Namun terlihat jelas gugup. Aku tidak basa-basi. Aku membuka laptop. Menaruhnya di meja. "Jelaskan ini." Video langsung kuputar. Suasana berubah. Wajah-wajah itu memucat. Tidak ada yang langsung bicara. Namun salah satu guru akhirnya mencoba. "Bu… mungkin ini hanya salah paham" "SALAH PAHAM?" Suaraku naik. Aku menatapnya tajam. "Ini kamu sebut salah paham?" Video masih berjalan. Rayhan didorong. Dihina. Menangis. Dan mereka. Guru-guru itu. Hanya diam. Ruangan jadi sunyi. Tidak ada lagi yang berani menyangkal. Andreas melangkah maju. Tangannya menekan meja. Keras. "Ini terjadi di sekolah kalian." Suaranya rendah. Namun penuh tekanan. "Dan kalian membiarkannya?" Salah satu guru menunduk. Keri
Di sekolah. Halaman belakang. Sudut yang jarang tersentuh pengawasan. Sepi namun bukan tenang. Rayhan berdiri sendirian.Tasnya tergantung di satu bahu, sedikit melorot. Di sekelilingnya lima anak.Lebih besar.Lebih keras.Lebih berisik.“Eh, lihat deh…”salah satu dari mereka menyenggol temannya sambil tertawa.“Anak bisu.”Tawa langsung pecah.Kasar. Tanpa beban.Rayhan diam.Matanya menunduk.“Ngomong dong!”Salah satu dari mereka mendorong bahunya. Tubuh Rayhan terhuyung ke samping. Hampir jatuh namun ia tetap berdiri.Tidak melawan.“Eh, dia gak bisa ngomong ya?”Nada itu penuh ejekan.“Pantesan…”“Anak cacat.”Kata itu jatuh seperti pisau. Tajam. Dalam. Rayhan menutup mata sejenak. Tangannya menggenggam erat tali tasnya hingga jemarinya memutih. Namun ia tetap diam.“Katanya dia juga anak yang dibuang…”bisik salah satu.Pelan tapi cukup jelas untuk melukai.“Makanya gak ada yang mau.”Tawa kembali pecah.Lebih keras. Lebih kejam.“Anak sialan.”Rayhan menunduk lebih dalam. Pun
Lorong NICU Rumah Sakit Andara terasa dingin dan sunyi, hanya terdengar suara mesin dan monitor yang berdetak pelan. Begitu pintu bergeser terbuka, keluarga Vaughan masuk dengan langkah pelan. Nadine menggenggam lengan Alexander erat, sementara Alina berjalan di depan bersama Andreas dan seorang pe
Rumah besar keluarga Vaughan di Selvara pagi itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Para pelayan mondar-mandir membawa koper, perlengkapan bayi, dan setumpuk hadiah yang Nadine beli semalam. Bahkan halaman depan dipenuhi mobil yang sedang dipanaskan untuk perjalanan ke Andara.Di tengah hiruk-p
Dikta menahan napas di balik batang pohon besar itu. Luka di perutnya berdenyut setiap kali ia bergerak, membuat pandangannya berkunang-kunang. Dari kejauhan, lolongan hewan liar menggema, tapi yang lebih memekakkan telinga justru suara hatinya sendiri. “Aku… kenapa hidupku jadi seperti ini?” bisi
Ruangan gelap hanya diterangi cahaya layar monitor. Hansen duduk tenang sambil memperhatikan dua titik panas yang bergerak di peta termal pulau Maudy dan… seseorang lagi.Dikta.Hansen tersenyum miring.Ia menekan tombol radio kecil yang terhubung pada anak buahnya.Hansen:“Zona tiga sudah aktif?”







