LOGINAluna adalah seorang gadis bisu yang hidup dengan penuh keterbatasan. Sejak kecil ia tidak mampu berbicara, sehingga hanya bisa berkomunikasi melalui tulisan di buku kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Demi bertahan hidup, Aluna bekerja sebagai pelayan di rumah seorang pengusaha muda yang terkenal dingin dan sulit didekati. Pria itu adalah Arsen Wijaya. Arsen dikenal sebagai majikan yang tegas, dominan, dan tidak suka orang lain mencampuri urusannya. Namun sejak kehadiran Aluna di rumahnya, sikapnya perlahan berubah. Tanpa ia sadari, perhatian Arsen terhadap gadis bisu itu menjadi semakin besar. Ia tidak suka melihat Aluna dekat dengan orang lain. Ia mudah cemburu. Ia juga selalu ingin memastikan Aluna berada di bawah perlindungannya. Perhatian Arsen yang begitu intens membuat banyak orang merasa iri dan mulai memandang Aluna dengan tidak suka. Di tengah perbedaan status dan berbagai konflik yang muncul, hubungan mereka pun perlahan berubah menjadi semakin rumit. Sementara itu, Aluna hanya bisa menyimpan semua perasaannya dalam diam. Karena meskipun hatinya dipenuhi banyak kata. Ia tetap tidak mampu mengucapkannya.
View More"Kau berubah," ucap Jack sambil menatap Arsen yang sedang menyelesaikan beberapa berkas di ruang kerjanya. Arsen mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?" Jack menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kau bahkan bisa menahan dirimu." Arsen mengernyit. "Aku tidak mengerti." Jack terkekeh pelan. "Biasanya kalau sedang tertekan atau emosimu tidak stabil, kau selalu pergi ke bar." "Tapi sekarang tidak lagi." Arsen kembali menatap berkas di depannya. "Aku sudah berhenti." Jawaban singkat itu membuat Jack mengangkat sebelah alisnya. "Berhenti?" "Iya." Jack tersenyum tipis. "Kalau tidak salah, dulu kau bilang itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiranmu." Arsen menghela napas pelan. "Itu dulu." "Lalu sekarang?" Arsen terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Sekarang aku punya alasan untuk berhenti." Jack memperhatikan ekspresi sahabatnya itu. "Aluna?" Arsen tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. Jack terkekeh kecil. "Aku benar-benar tidak menyang
"Bagaimana kabarnya Bella?" tanya Arsen saat mereka sedang duduk di ruang kerjanya. Jack yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam beberapa saat. Tatapannya menerawang ke luar. "Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. Arsen langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa begitu?" Jack tertawa kecil. Namun tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. Justru terdengar pahit. "Aku sudah tidak lagi ingin tahu tentang dia." Arsen menatap sahabatnya lekat. Sedangkan Jack mengembuskan napas panjang. "Karena aku begitu kecewa berat dengannya." Suasana ruangan mendadak menjadi hening. Arsen memahami perasaan itu. Bagaimanapun juga, Jack mencintai Bella selama bertahun-tahun. Bukan sebentar. Bukan satu atau dua bulan. Melainkan bertahun-tahun. Dan semua perasaan itu berakhir dengan cara yang sangat menyakitkan. "Aku tidak marah karena dia hamil," lanjut Jack dengan nada tenang. "Aku juga tidak marah karena anak itu bukan anakku." Arsen tetap diam mendengarkan. "Tapi aku kecewa karena dia m
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jack kepada Aluna dengan bahasa isyarat. "Sudah sangat membaik," balas Aluna dengan bahasa isyarat. Senyuman kecil terukir di bibirnya. "Jangan tersenyum kepada Jack," tegur Arsen tiba-tiba. Seketika Jack mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanyanya heran. Arsen yang sedang duduk di sofa hanya menatap Aluna dengan wajah datar. "Aku tidak suka." Jack langsung menatap sahabatnya itu beberapa saat. Lalu dia menunjuk dirinya sendiri. "Kamu sedang berbicara tentang aku?" "Iya." Jack langsung memegangi dahinya. "Arsen, kamu serius?" "Tentu saja." Jawaban cepat itu membuat Jack benar-benar tidak percaya. Sementara Aluna hanya memandang mereka bergantian dengan wajah bingung. "Kamu cemburu kepadaku?" tanya Jack sambil terkekeh kecil. Arsen langsung menatap tajam ke arahnya. "Aku tidak cemburu." "Kamu jelas cemburu." "Aku hanya tidak suka." Jack langsung tertawa. "Bedanya di mana?" Arsen terdiam. Membuat Jack semakin yakin dengan dugaanny
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Arsen sambil memperhatikan Aluna yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Aluna langsung menganggukkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa minggu lalu. Bahkan warna pucat di wajahnya sudah mulai berkurang. Melihat itu, Arsen akhirnya merasa sedikit lega. "Baiklah." Arsen berdiri dari kursinya lalu merapikan jas yang dikenakannya. "Hari ini kita pulang." Seketika mata Aluna langsung berbinar. Senyuman kecil muncul di wajahnya. Hal itu membuat Arsen terkekeh pelan. "Kamu senang sekali?" Aluna langsung mengangguk cepat. Sejak dua minggu berada di rumah sakit, akhirnya hari yang ditunggunya datang juga. Sebenarnya, sejak beberapa hari lalu Aluna sudah ingin pulang. Dia sudah bosan melihat dinding kamar rumah sakit setiap hari. Namun Arsen selalu menolaknya. Pria itu terus memaksanya untuk tetap dirawat sampai dokter benar-benar mengizinkan pulang. Dan karena tidak punya pilihan lain— Aluna ak
"Arsen, sepertinya kau benar-benar khawatir dengan keadaannya," ucap Jack. Arsen langsung menoleh, tatapannya dingin. "Apa maksudmu?" tanyanya singkat. Jack menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak langsung menjawab. Hanya memberi isyarat dengan dagunya ke arah Aluna yang mas
"Bi, jangan izinkan siapa pun masuk ke dalam kamarku. Dan laporkan apa pun yang terjadi di rumah ini," ucap Arsen dengan nada tegas. "Baik, Tuan," jawab Bi Ina dengan cepat. Dua hari telah berlalu sejak kedatangan Jack. Sejak saat itu, Arsen mulai memikirkan perasaannya sendiri terhadap Aluna.
"Aluna, kemarilah," ucap Arsen dengan nada tegas, namun lebih rendah dari sebelumnya. Aluna perlahan melepaskan kedua tangannya yang menutupi telinganya. Napasnya masih belum stabil. Dengan ragu, ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Arsen yang berdiri tidak jauh dari mereka. Tatapan itu me
"Aluna, kamu di sini?" ucap Rena saat akhirnya menemukan Aluna di taman belakang, napasnya terdengar sedikit terengah. Aluna langsung menoleh saat mendengar suara Rena. Matanya sedikit melebar karena terkejut. Belum sempat ia mengambil buku kecilnya, Rena sudah lebih dulu menarik tangannya. "Ayo


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews