LOGINAluna adalah seorang gadis bisu yang hidup dengan penuh keterbatasan. Sejak kecil ia tidak mampu berbicara, sehingga hanya bisa berkomunikasi melalui tulisan di buku kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Demi bertahan hidup, Aluna bekerja sebagai pelayan di rumah seorang pengusaha muda yang terkenal dingin dan sulit didekati. Pria itu adalah Arsen Wijaya. Arsen dikenal sebagai majikan yang tegas, dominan, dan tidak suka orang lain mencampuri urusannya. Namun sejak kehadiran Aluna di rumahnya, sikapnya perlahan berubah. Tanpa ia sadari, perhatian Arsen terhadap gadis bisu itu menjadi semakin besar. Ia tidak suka melihat Aluna dekat dengan orang lain. Ia mudah cemburu. Ia juga selalu ingin memastikan Aluna berada di bawah perlindungannya. Perhatian Arsen yang begitu intens membuat banyak orang merasa iri dan mulai memandang Aluna dengan tidak suka. Di tengah perbedaan status dan berbagai konflik yang muncul, hubungan mereka pun perlahan berubah menjadi semakin rumit. Sementara itu, Aluna hanya bisa menyimpan semua perasaannya dalam diam. Karena meskipun hatinya dipenuhi banyak kata. Ia tetap tidak mampu mengucapkannya.
View More"Siapa kamu?" tanya pria itu dengan kening yang mengerut saat membuka pintu rumahnya.
Di depan pintu berdiri seorang gadis dengan pakaian sederhana. Rambut panjangnya sedikit basah karena hujan. Ia tampak gugup ketika pria tinggi di hadapannya menatapnya dengan tajam. Gadis itu tidak menjawab. Sebaliknya, ia membuka tas kecil yang ia bawa. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah buku kecil dan pena. "Kamu tidak mendengar pertanyaanku?" tanya pria itu lagi dengan nada sedikit tidak sabar. Gadis itu segera menulis sesuatu di buku kecilnya. Setelah itu, ia mengangkat buku tersebut agar bisa dibaca oleh pria di depannya. Tulisan di buku itu berbunyi: "Saya pelayan baru yang dikirim oleh agen." Pria itu membaca tulisan tersebut dengan alis yang sedikit terangkat. "Lalu kenapa kamu tidak bicara?" tanyanya dengan tatapan menyelidik. Gadis itu kembali menunduk dan menulis. "Saya tidak bisa bicara." "Kamu bisu?" tanya pria itu dengan nada terkejut tipis. Gadis itu mengangguk pelan sambil menggenggam buku kecilnya dengan gugup. Suasana menjadi hening beberapa saat. Pria itu memperhatikan wajah gadis di depannya dengan tatapan menilai. Kemudian ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah. "Masuk," ucapnya singkat tanpa menoleh. Gadis itu sedikit terkejut, tetapi segera mengikuti pria tersebut masuk ke dalam rumah besar yang terlihat sangat mewah itu. Ruang tamu rumah itu tampak luas dengan perabotan mahal di setiap sudutnya. Gadis itu berdiri dengan canggung sambil memegang buku kecilnya erat-erat. Pria itu berhenti berjalan dan menoleh kepadanya. "Aku Arsen Wijaya," ucapnya dengan nada datar. "Pemilik rumah ini." Gadis itu segera menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Lalu ia kembali menulis di buku kecilnya. "Nama saya Aluna." Arsen membaca tulisan itu dengan ekspresi datar. "Kamu tahu pekerjaanmu di sini?" tanyanya sambil menyilangkan tangan di dada. Aluna kembali menulis dengan cepat. "Saya akan bekerja sebagai pelayan rumah." Arsen menatapnya beberapa saat. "Kamu bisa memasak?" tanyanya dengan nada menguji. Aluna mengangguk cepat. "Bersih-bersih?" tanya Arsen lagi dengan alis yang sedikit terangkat. Aluna kembali mengangguk. Arsen memperhatikan gadis itu beberapa detik. Wajahnya terlihat sedang berpikir. Biasanya ia tidak suka memiliki banyak orang di rumahnya. Terlebih lagi orang yang bahkan tidak bisa berbicara. Namun gadis ini terlihat berbeda. Wajahnya polos, matanya jernih, dan sikapnya sangat hati-hati. Arsen menghela napas pelan. "Baiklah," ucapnya akhirnya dengan nada memutuskan. Aluna langsung mengangkat wajahnya dengan mata yang berbinar. "Kamu mulai bekerja hari ini," lanjut Arsen dengan nada tegas. Aluna segera membungkuk kecil sebagai tanda terima kasih. Namun Arsen kembali berbicara. "Tapi ingat satu hal," ucapnya dengan tatapan serius. Aluna menatapnya penuh perhatian. "Jangan membuat masalah di rumah ini," kata Arsen dengan nada dingin. Aluna segera mengangguk cepat. Arsen berbalik untuk pergi menuju tangga. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak. Tatapannya kembali jatuh kepada gadis yang masih berdiri canggung di ruang tamu itu. Entah kenapa, kehadiran gadis bisu itu terasa sangat mencolok di rumah yang selama ini selalu sepi. Arsen tidak tahu bahwa sejak hari itu hidupnya akan mulai berubah. Semua karena seorang gadis yang bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Dan tanpa ia sadari, gadis itu perlahan akan menjadi seseorang yang paling ingin ia miliki. Saat Arsen benar-benar sudah pergi, Aluna tampak berdiri canggung di ruang tamu yang luas itu. Ia melirik ke sekeliling dengan ragu. Rumah sebesar ini terasa asing baginya. Aluna tampak bingung harus pergi ke mana. Ia tidak ingin membuat kesalahan di hari pertama bekerja, apalagi setelah majikannya tadi memperingatkannya agar tidak membuat masalah. Namun, tak lama kemudian langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. Aluna refleks menoleh. Seorang wanita paruh baya berjalan ke arahnya dengan wajah yang tampak ramah dan senyum lembut. "Kamu pelayan baru di sini?" tanya wanita itu dengan nada hangat saat sudah berdiri di depan Aluna. Aluna menganggukkan kepalanya pelan. Wanita itu memperhatikannya beberapa detik, lalu tersenyum lebih lebar. "Oh, perkenalkan. Saya kepala pelayan di sini," ucapnya ramah sambil menepuk dadanya pelan. "Nama saya Inara, tapi semua orang biasanya memanggil saya Bi Ina." Aluna segera membuka tas kecilnya dan mengeluarkan buku serta pena. Dengan cepat ia menulis sesuatu, lalu menunjukkan tulisannya kepada wanita itu. "Nama saya Aluna." Bi Ina membaca tulisan itu dengan seksama. Kemudian ia kembali menatap Aluna. "Aluna?" ulangnya sambil tersenyum. "Nama yang cantik." Aluna membalasnya dengan senyum kecil yang malu-malu. Namun tak lama kemudian Bi Ina tampak menyadari sesuatu. "Tunggu sebentar," ucapnya dengan alis yang sedikit terangkat. "Kenapa kamu menulis?" Aluna kembali menunduk dan menulis di bukunya. "Saya tidak bisa berbicara." Bi Ina membaca tulisan itu dengan mata yang sedikit melebar karena terkejut. "Kamu… tidak bisa bicara?" tanyanya dengan nada pelan. Aluna hanya mengangguk pelan. Beberapa detik Bi Ina terdiam, seolah sedang mencerna informasi itu. Namun kemudian wajahnya kembali melembut. "Kalau begitu tidak apa-apa," ucapnya dengan senyum menenangkan. "Yang penting kamu bisa bekerja dengan baik." Aluna langsung mengangguk cepat. "Baiklah," lanjut Bi Ina dengan nada ramah. "Ayo ikut saya. Saya akan menunjukkan kamar pelayan dan tempat-tempat yang perlu kamu ketahui di rumah ini." Aluna segera mengikuti langkah Bi Ina. Meski masih merasa sedikit gugup, setidaknya sekarang ia tidak lagi berdiri sendirian di rumah besar yang terasa begitu asing baginya."Apa Aluna akan baik-baik saja bersama Tuan Arsen?" gumam Bi Ina pelan, tanpa sadar didengar oleh pelayan lain di dekatnya. Pelayan itu adalah Sara, orang yang cukup dekat dengan Bi Ina. Ia memahami betul perasaan wanita itu saat ini. "Bi, tenang saja. Aluna pasti akan baik-baik saja," ucap Sara dengan lembut, berusaha menenangkan. Bi Ina hanya menghela napas panjang. Wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran. "Bi Ina merasa kasihan dengan Aluna," ucapnya pelan, suaranya terdengar lirih. "Kenapa gadis polos seperti dia harus merasakan kerasnya dunia ini? Bahkan dia seorang gadis bisu." Sara terdiam, mendengarkan dengan serius. "Apa tidak ada yang menyayanginya? Sampai-sampai dia harus bekerja sekeras ini," lanjut Bi Ina dengan nada penuh iba. Sara menatap Bi Ina, lalu menundukkan pandangannya sejenak. "Setiap orang punya cerita hidupnya masing-masing, Bi," ucap Sara pelan. "Mungkin… Aluna juga punya alasan kenapa dia ada di sini." Bi Ina terdiam. Perkataan itu membuatnya berpikir
"Kamu pasti sudah tahu, bukan, alasan kamu ada di kamarku?" tanya Arsen dengan nada dingin, tatapannya tajam mengarah pada Aluna. Aluna hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Ia tidak berani menatap wajah Arsen. Rasa takut membuatnya menunduk, jantungnya berdebar tidak karuan. "Lihat aku saat aku berbicara," ucap Arsen dengan nada rendah namun penuh tekanan. Namun, Aluna tetap tidak menurut. Ia justru semakin menundukkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan itu. Sikap itu membuat kesabaran Arsen menipis. Dalam sekejap, tangannya terangkat dan menarik dagu Aluna dengan kasar. "Ukh—" tubuh Aluna tersentak. Wajahnya terangkat paksa, membuat kedua matanya langsung bertemu dengan tatapan Arsen. Tatapan itu dingin, tajam, dan menekan. Aluna membeku. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya lagi. "Siapa yang mengizinkanmu untuk menghindar?" tanya Arsen dengan wajah yang menakutkan, tatapannya tajam menekan. Aluna tidak langsung menjawab. Ia hanya menelan ludah pelan, mencoba men
"Aluna, kamu di sini?" ucap Rena saat akhirnya menemukan Aluna di taman belakang, napasnya terdengar sedikit terengah. Aluna langsung menoleh saat mendengar suara Rena. Matanya sedikit melebar karena terkejut. Belum sempat ia mengambil buku kecilnya, Rena sudah lebih dulu menarik tangannya. "Ayo masuk!" ujar Rena dengan nada terburu-buru, wajahnya terlihat panik. "Tuan mencarimu. Dia sangat marah pagi ini." Mata Aluna langsung terbelalak. Tubuhnya menegang seketika. Ia menatap Rena dengan ekspresi cemas, jantungnya mulai berdebar cepat. "T-tuan Arsen sangat marah?" gumamnya dalam hati, rasa takut mulai menyelimuti dirinya. Langkahnya terasa berat, tetapi ia tidak bisa menolak saat Rena terus menariknya masuk ke dalam rumah. Di sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Ia tahu— Pertemuan kali ini tidak akan berjalan dengan baik. Setelah beberapa menit, mereka tiba di ruang tengah, tempat semua pelayan sudah berkumpul. Suasana terasa tegang, tidak a
"Bi, ada apa?" tulis Aluna di buku kecilnya, lalu menunjukkannya saat melihat Bi Ina berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah bingung. Bi Ina tampak sangat gelisah. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar itu kepada Aluna. Beberapa detik ia hanya terdiam, membuat Aluna semakin penasaran. "A-anu… Aluna," ucap Bi Ina dengan suara pelan, terlihat ragu. "Ada sesuatu yang harus Bi sampaikan." Aluna menatapnya dengan penuh perhatian. Ia lalu menulis sesuatu lagi di bukunya dan mengangkatnya. "Ada apa, Bi?" Bi Ina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Kamu… dipanggil Tuan Arsen," ucapnya hati-hati, matanya tidak lepas dari wajah Aluna. Aluna terlihat sedikit terkejut. Alisnya mengerut kecil. Ia segera menulis lagi. "Sekarang?" Bi Ina menggeleng pelan. "Bukan sekarang," jawabnya dengan suara lembut. "Mulai besok." Aluna tampak semakin bingung. Bi Ina kembali menarik napas sebelum akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya. "Mulai beso
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.