MasukIni bukan ciuman pertamaku, tetapi dari cara Lucien menciumku, Lucien sudah sangat berpengalaman dengan wanita. Jauh berpengalaman dibanding diriku yang masih begitu muda dan hanya memiliki Nick. Juga pria misterius, yang bahkan tidak kuingat bagaimana kami bisa memiliki anak bersama.
“Manis sekali.” Lucien mengusap bibirku yang masih basah dengan ibu jari. “Aku penasaran, apa saja yang bisa dilakukan mulut ini?” “Tidak ada.” Wajahku seperti terbakar. “Untuk sekarang.” Ujung bibir Lucien tersenyum dan aku menatapnya. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan kotak berwarna hitam dan membukanya. “Cincin pertunangan.” Sejenak aku terpana dengan keindahan kilau dari batu merah gelap yang menjadi mata cincin, lalu terpukau dengan kecantikan desain tersebut. Sangat tidak berlebihan kalau Blackstone bisa menjadi perusahaan perhiasan mewah yang berkembang pesat di pasar global. Popularitasnya tidak lebih kecil dari ketenaran Blackwood, tetapi mungkin lebih besar sedikit. Karena darah Blackstone ada di sana dan di sini. “Kau suka?” “Ya, lebih baik dari yang diberikan Nick.” “Jauh lebih baik pastinya.” Lucien mengambil tanganku dan menyelipkan cincin tersebut di jari manisku. “Pengecut seperti dia tidak akan sanggup membeli perhiasan Blackstone.” Aku tersenyum dengan kalimat terakhirnya. Menatap cincin yang melingkar pas di jari manisku. Jauh lebih baik. “Dan ini bukan pilihan selingkuhanmu, kan?” “Aku tidak berselingkuh.” Mataku menyipit, meragukan pernyataan tersebut. Mengingat nama Lucien yang selalu menjadi trending di kolom gosip, bersama deretan wanita yang tidak perlu diingatnya. “Kami bersenang-senang dan itu kesepakatan dua … atau tiga orang. Aku tidak mungkin membuat luka hatimu kembali menganga dengan pereselingkuhan, kan?” “Karena pengkhianat tidak dibayar murah?” dengusku. “Aku sedikit tidak terlalu menaati peraturan lainnya. Tapi selingkuh bukan gayaku.” “Maksudku, aku tidak mempermasalahkan apa pun kesenanganmu sebelum bertemu denganku.” “Begitu?” “Setidaknya kau bukan tikus got.” “Sangat jauh, tidak bisa dibandingkan.” “Aku sangat tahu.” Aku menyentuh batu di cincinku dan mengusapnya. “Besok kau harus menemui tuan Brian Miles. Dia memiliki saham yang cukup di perusahaanmu dan akan mendukungmu, jika kau berhasil menarik hatinya.” “Aku juga harus mencairkan sahamku sendiri.” Aku mengatakan apa yang kupikirkan seharian ini. “Sudah cair.” Aku menggeleng pelan. “Aku hanya tidak cukup memiliki bukti. Belum.” “Dan cara untuk mencairkannya?” “Kapan kita bisa menikah?” Lucien membeku, sejenak. “Butuh waktu yang cukup untuk mempersiapkan pernikahan. Well, aku bisa mengaturnya. Pertanyaannya, apakah kau siap …” “Lebih dari siap. Hari ini seharusnya aku menikah.” “Oke.” Lucien tersenyum. Untuk pertama kalinya. “Sepertinya kita memiliki urutan yang harus diubah. Pernikahan dan restu keluarga Blackstone.” “Kakekmu?” “Aku bisa mengurusnya.” “Oke.” Suaraku melambat. Tiba-tiba merasa tak yakin dengan apa yang kuinginkan. Tatapan Lucien mengamatiku. Tak berkedip dan membuat napasku tertahan. “Sekarang?” Aku tersedak. Hampir melompat turun dari sofa. “S-sekarang?” “Cincin, pendeta, dua saksi. Ada lagi yang dibutuhkan?” Aku diam, sekali lagi menatap mata sebiru lautan tersebut. “Ini sudah jam sebelas.” Itu hanya alasanku. “Ada gereja terdekat di sini. Yang biasa kudatangi untuk membersihkan hatiku.” Aku menarik napas, panjang dan dalam sebelum mengangguk. Sebelum pikiranku kembali waras. *** “Aku bersedia.” Aku mengucapkannya dengan mantap. Setelah Lucien mengucapkan janji pernikahan kami. Saling mencintai dan hidup bahagia untuk selamanya. Singkat, padat, dan jelas. Menyelipkan cincin pernikahan di jari manis kami. Dan bukan cincin pertunangan kami. Pendeta menyatakan kami sah sebagai pasangan suami dan istri. Mempersilahkan kami untuk … Lucien menarik pinggangku hingga tubuh kami saling berbenturan. Dan kali ini ciuman pria itu lebih panjang dan intens dari sebelumnya. Hingga suara deheman Lukas menyela di antara kami dan Lucien melepaskanku. Aku menormalkan napas sambil mengipasi wajahku yang memanas. “Aku menyukai rasanya,” gumam Lucien dari sampingku. Setelah semua prosesi selesai, berkas-berkas yang harus ditandatangani dan sertifikat pernikahan berada dalam genggaman kami. Kami berjalan keluar, dengan Lukas dan Kael yang mengekor di belakang. “Jadi, bagaimana selanjutnya?” Lucien memberikan sertifikat pernikahannya pada Lukas. Aku menatap Lukas, yang masih berdiri di tempatnya. “Dia bisa dipercaya. Dia menjadi asistenku karena dia salah satu anak haram ayahku. Dan sejauh ini semuanya aman karena dia.” Aku percaya pada Lucien. Hanya itu yang bisa kumiliki. “Setelah menemui tuan Brian Miles, kita akan menemui pengacara keluargaku. Maksudku, mantan pengancara keluargaku.” “Dan lusa kita akan menemui kakekku. Aku tak yakin berapa lama …” Lucien mengangkat jemarinya yang dilingkari cincin pernikahan. “Ini bisa disembunyikan. Tak sulit untuk mencari tahunya meski aku bisa saja menutup mulut di sana dan di sini.” Aku mengangguk setuju. Mereka tidak punya banyak waktu untuk dibuang. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi sekumpulan Blackstone di sarang mereka. Tangan Lucien yang masih terangkat di udara menarik wajahku. Lebih dekat hingga napas Lucien terasa panas di permukaan wajahku. “Dan aku tak sabar untuk menyempurnakan pernikahan kita.” Napasku tertahan dan menelan ludah. Perutku terasa melilit oleh alasan yang terasa tidak masuk akal. Lucien bukan pria pertama yang menyentuh dan menciumku, tapi aku belum pernah dibuat segugup ini setiap kali berinteraksi dengan Lucien. Mungkin karena pria itu berbahaya? Aura dominasi Lucien begitu kuat. Tidak hanya mempengaruhikuku, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Inilah alasan para wanita itu tidak bisa berpikir panjang saat berhadapan dengan Lucien. Dan kuharap aku selamat dari kutukan itu. Hanya Tuhan yang tahu. “Apa aku sudah mengatakannya?” “Belum.” Dengan hati-hati aku melepaskan tangan Lucien dari wajahku. “Ini sudah malam, aku harus kembali ke apartemen. Untuk terlihat sempurna di jamuan besok.” Lucien hanya tersenyum, membukakan pintu belakang mobil dan melemparkan kunci pada Kael. Aku memanjat naik dan Kael duduk di balik kemudi. Membawaku menjauh dari Lucien dan kembali mendapatkan napasku. “Sekarang kau bekerja padanya?” Aku bertanya saat Kael memutar setir di ujung jalan. Pertanyaan yang sudah kutahan sejak kami bertemu di depan gereja. “Blackstone suka kaki tangan yang setia.” “Aku serius, Kael. Kau tidak tahu …” “Saya tahu yang saya lakukan, Nona. Ehm, Nyonya Blackstone.” “Jangan mengucapkannya dengan cara seperti itu.” “Saya hanya menuruti apa yang diinginkan Blackstone.” “Seperti itu caramu memanggil majikanmu?” Kael tak langsung menjawab, tapi aku bisa melihat matanya yang berputar dari kaca spion. “Vance menunda bulan madunya. Harus.” “Mereka benar-benar menikah.” “Baik untuk bayi mereka,” komentar Kael. “Kenapa?” Aku kembali pada informasi pertama. Kael memaksa kembali terlibat dengan peperangan ini bukan dengan tangan kosong, kan?” “Brian Miles, Vance belum mendapatkan dukungannya. Direksi dan elit sedang bimbang, tidak tahu harus membuat keputusan untuk mendukung Vance secara penuh atau pewaris yang mungkin akan bangkit lagi. Tidak sulit membuktikan kalau foto-foto tersebut hasil rekayasa dan tentang video kita di tepi kolam renang, beberapa memutuskan tidak perlu ikut campur urusan pribadi Anda meski tingkah laku Anda tetap akan menjadi sorotan.” “Nick mengambil keputusan yang tolol dengan menikahi Grace, kenapa aku tidak terkejut. Lalu?” “Saya mendapatkan rekaman full di kolam renang. Tidak perlu menjelaskan kalau kaki Anda kram saat berenang dan saya hanya memberi napas buatan.” “Oke. Satu masalah selesai. Atau mungkin dua.” “Kita baru saja membicarakannya.” Aku menoleh keluar, melihat Nick yang berdiri di teras gedung apartemen. Masih mengenakan setelan putih tanpa jas. “Saya akan …” “Aku akan menemuinya.” Aku melompat turun, Nick langsung menemukan keberadaanku dan berjalan mendekat. “Kudengar kau tinggal di sini?” Aku terkejut dengan suara Nick yang lebih ramah dibandingkan pertemuan terakhir kami. “Ada yang harus kubicarakan denganmu.” “Atau ada yang harus kaudapatkan lagi dariku? Kau sudah mengambil semuanya, Nick.” “Aku akan menikahimu.”Aku tersentak kaget saat mataku terbuka dan menemukan Amy yang berdiri di ujung ranjang. Bersandar di tiang ranjang dengan pandangan yang terpaku ke arah wajah Lucien. Dan berpakaian.“Dia selalu tampan saat sedang tidur.” Senyum Amy berubah dingin saat menoleh ke arahku. “Bukan berarti dia tidak tampan saat tidak sedang tidur. Hanya saja, aku suka setiap kali melihatnya sedang tidur. Begitu tenang dan damai, dan saat matanya terbuka. Mereka berada di dunia lain. Kau mengerti?”Aku bangun terduduk, masih menahan selimut tetap menempel di dada untuk menutupi dadaku yang telanjang. Dan sama sekali tak memahami maksud kata-kata Amy yang setengah melantur.“Saat tidur, dia terlihat seperti malaikat.”Aku menoleh ke samping, menatap wajah tampan Lucien yang bernapas dengan teratur. Garis rahangnya tidak kaku, helaian rambut jatuh sembarangan di dahi. Secara keseluruhan, ekspresi Lucien terlihat lebih lembut dengan mata yang terpejam. Yang tak pernah ditunjukkan saat pria itu terjaga.Mungk
Emmit Blackstone tak punya pilihan untuk mengakui keberadaanku. Meja makan besar sudah dipenuhi semua anggota keluarga Blackstone. “Dia tidak seharusnya ada di sini.” River langsung menemukan keberadaanku di samping Lucien. “Ayah sudah memberi persetujuan.” Lucien melirik Emmit yang duduk di seberang meja. Membuat Amy dan Daniel menoleh cepat.“Dia tidak bertanya.” Emmit hanya mengedikkan bahu. Membuatku bergerak tak nyaman di kursiku.“Dia berada di tempat yang salah.”Aku menoleh, menangkap suara yang pertama kali kudengar. Adik laki-laki Emmit, Evan Blackstone. Di sampingnya istri dan putri mereka. Freya dan Nicole. “Grace Sinclair, mengirim salam.”Evan membeku.“Untuk Nicole, maksudku.” Aku menatap Nicole. Evan tidak bersuara lagi.“Terima kasih, Nyonya Blackstone” bisik Lucien. Dan tidak ada lagi yang bersuara setelah makanan disajikan di meja. Makan malam berlangsung terlalu hening. Selesai dengan cepat dan tanpa konfrontasi berarti seperti sambutan penuh antusias mereka.Kel
“Wanita bergaun hitam?” Suara Lukas datar dan penuh ketenangan. Nyaris seperti Kael. “Dia sudah keluar beberapa menit yang lalu.”“Kau yakin?” Grace tak menyerah. “Aku yakin …”“Kita pergi sekarang.” Kemudian suara langkah kaki keduanya semakin menjauh. Aku kembali mendapatkan napasku. Kelegaan tersebut hanya bertahan satu detik, aku tersadar dan melompat turun. Hampir terjerembab ke lantai kalau Lucien tidak menangkap pinggangku.“T-terima kasih.”“Terima kasih?”Aku menurunkan pandangan. Mengambil dompetku. “Kita harus keluar.”“Setelah kita bertemu ayah dan kakekku, tidak ada lagi yang harus disembunyikan, kan?”Aku tahu.“Aku sudah mengurus semua barang-barang di apartemen. Tidak banyak. Besok pagi aku akan menjemputmu.”“Apa?” Aku menoleh dengan cepat.“Anggota Blackstone punya aturan ketat untuk anggota keluarga utama.”“Dan apa itu?”“Keturunan sah Blackwood, tetap tinggal di tempat Blackwood.”Langkahku terhenti, seluruh tubuhku membeku.“Apa aku sudah memberitahumu?”“Belum.”
Aku membeku, apakah aku tidak salah dengar? Secepat ini Nick membutuhkanku?“Kita bisa membicarakan semuanya dengan baik-baik. Aku akan memberimu kesempatan untuk meminta maaf.”“Minta maaf? Maaf, apa aku tidak salah dengar?”“Kau yang tidak punya pilihan, Lilith. Kau harus menikah untuk mendapatkan saham ayahmu, kan?”“Belum cukup yang kau curi dariku?”Nick menyambar lenganku, menyentakkan tubuhku hingga membentur dadanya. Wajahku mengeras dan bibirnya menipis.Tanganku terangkat saat Kael bereaksi dengan sikap ramah Nick yang hanya bertahan beberapa detik.“Aku bukan orang yang tidak terima kasih. Jika kau tidak membuat masalah dengan pengumuman konyolmu, aku tidak akan senekat ini untuk …”“Memanipulasi wasiat kakekku?”Nick memucat meskipun wajahnya tetap mengeras. Aku melepaskan lenganku. “Di negara ini, tidak ada peraturan untuk menikahi dua wanita, Nick. Kau bisa pindah kenegaraan kalau tertarik memiliki dua istri. Tapi salah satunya sudah pasti bukan aku.”“Aku dan Grace tida
Ini bukan ciuman pertamaku, tetapi dari cara Lucien menciumku, Lucien sudah sangat berpengalaman dengan wanita. Jauh berpengalaman dibanding diriku yang masih begitu muda dan hanya memiliki Nick. Juga pria misterius, yang bahkan tidak kuingat bagaimana kami bisa memiliki anak bersama.“Manis sekali.” Lucien mengusap bibirku yang masih basah dengan ibu jari. “Aku penasaran, apa saja yang bisa dilakukan mulut ini?”“Tidak ada.” Wajahku seperti terbakar.“Untuk sekarang.” Ujung bibir Lucien tersenyum dan aku menatapnya. Tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan kotak berwarna hitam dan membukanya. “Cincin pertunangan.”Sejenak aku terpana dengan keindahan kilau dari batu merah gelap yang menjadi mata cincin, lalu terpukau dengan kecantikan desain tersebut. Sangat tidak berlebihan kalau Blackstone bisa menjadi perusahaan perhiasan mewah yang berkembang pesat di pasar global. Popularitasnya tidak lebih kecil dari ketenaran Blackwood, tetapi mungkin lebih besar sedikit. Karena darah Blacksto
Kekejaman dan kebencian keluarga Blackstone adalah informasi yang sudah menjadi bagian dari diriku sebagai penerus satu-satunya Blackwood. Dan Lucien Blackstone, tampan dan sangat menyadari ketampanannya, semua perwujudan sikap brengsek orang kaya. Cukup mendeskripsikan cucu tertua dari River Blackstone. Yang akan memegang kendali selanjutnya setelah Emmit Blackstone.Tidak sulit menemukan wanita-wanita cantik yang berpose di lengan Lucien dengan berbusana minim. Menyukai yang terbaik dari yang terbaik, tercantik dari yang tercantik, dan yang tersempurna dari yang sempurna. Dibandingkan keturunan Blackstone yang keseluruhannya nyaris selalu menghancurkan apa pun tanpa menggunakan otak mereka, Lucien terobsesi dengan mengoleksi barang-barang yang cantik.“Blackwood?” Suara rendah yang membuat bulu di tengkukku berdiri segera mengalihkan perhatianku dari vas di meja. Sejenak mengagumi koneksi kaki tangan kakek untuk mempertemukanku dengan Lucien Blackstone. Di ruang pribadi di salah klu







