LOGINAku membeku, apakah aku tidak salah dengar? Secepat ini Nick membutuhkanku?
“Kita bisa membicarakan semuanya dengan baik-baik. Aku akan memberimu kesempatan untuk meminta maaf.” “Minta maaf? Maaf, apa aku tidak salah dengar?” “Kau yang tidak punya pilihan, Lilith. Kau harus menikah untuk mendapatkan saham ayahmu, kan?” “Belum cukup yang kau curi dariku?” Nick menyambar lenganku, menyentakkan tubuhku hingga membentur dadanya. Wajahku mengeras dan bibirnya menipis. Tanganku terangkat saat Kael bereaksi dengan sikap ramah Nick yang hanya bertahan beberapa detik. “Aku bukan orang yang tidak terima kasih. Jika kau tidak membuat masalah dengan pengumuman konyolmu, aku tidak akan senekat ini untuk …” “Memanipulasi wasiat kakekku?” Nick memucat meskipun wajahnya tetap mengeras. Aku melepaskan lenganku. “Di negara ini, tidak ada peraturan untuk menikahi dua wanita, Nick. Kau bisa pindah kenegaraan kalau tertarik memiliki dua istri. Tapi salah satunya sudah pasti bukan aku.” “Aku dan Grace tidak menikah secara sah. Kami hanya membuat persiapan pernikahan itu tidak menjadi sia-sia. Dan tebak semua ini karena siapa?” “Tidak mungkin spesial untukku, kan?” Nick menggeram, menunjuk wajahku. “Grace menangis di kamarnya, jika sampai terjadi sesuatu dengan kandungannya, aku tidak akan pernah memaafkanmu.” “Aku memang tidak membutuhkannya.” Aku berjalan ke samping, sudah cukup pembicaraan tolol ini. “Kita belum selesai bicara.” Nick mencengkeram lenganku, kali ini aku membiarkan Kael membantuku. “Jangan ikut campur, Lackey.” Kael jelas bukan tandingan Nick. Tubuh Nick kurus dan tinggi, sementara Kael besar dan berotot. Dan yang terutama, lebih memiliki otak dibandingkan Nick. Kael dengan mudah menarik Nick. Menjauh dariku. “Kau sudah mendapatkan jawaban untuk … lamaranmu, Nick. Jangan patah hati.” Aku memberikan anggukan pada Kael untuk melepaskan kerah kemeja Nick. “Brengsek sialan!” maki Nick melepaskan dasi kupu-kupu di lehernya dan membuangnya. “Kau pikir siapa pria tolol di dunia ini yang mau melamarmu selain aku, hah?!” “Bagaimana kalau aku bilang, aku bisa mencairkan saham tersebut tanpa bantuanmu?” Nick meludah. Tatapannya penuh cemooh. “Dan aku memang tidak menerima pria tolol. Pria paling tolol di dunia ini.” Aku melanjutkan langkahku. Mendengarkan sumpah serapah Nick, yang tidak lagi bergerak mendekatiku. Padaku dan Kael. *** Brian Miles, pria berumur 50 tahun yang masih terlihat muda. Bukan seseorang yang sulit untuk kubujuk. Meski menyangsikan keputusanku menggunakan Lucien dalam rencanaku. “Kau seorang Blackwood, ada banyak rumor yang beredar. Tapi aku mengenal kakekmu. Dia tidak mungkin membuang satu-satunya darah Blackwood ke jalanan.” “Terima kasih atas kepercayaan Anda, Tuan Miles. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik dengan dukungan Anda.” “Dan sekarang kau juga seorang Blackstone?” “Ada banyak rumor yang beredar, tetapi saya bisa pastikan semua itu tidak akan mempengaruhi Blackwood Group.” “Bukan, bukan seperti itu. Maksudku, kalian bisa memegang keduanya. Blackstone dan Blackwood. Tetapi kekuasan yang terlalu besar, seringkali menuntut harga yang mahal. Menjadi kutukan atau anugerah, aku akan mempercayakannya padamu.” Aku tak benar-benar memahami kata-kata tuan Miles. Hanya membalas dengan seulas senyum saat kami berjabat tangan. Kami berpisah di depan pintu ruang pribadi. Tuan Miles kembali bergabung ke tengah jamuan, dan aku ke toilet. Kami akan bertemu di lantai dua, bersama-sama menemui tuan Joshua. Aku sedang mencuci tangan saat terkejut dengan keberadaan Lucien di pintu toilet. “Toilet yang salah.” “Tempat yang tepat.” Lucien berjalan mendekat. “Urusanmu sudah selesai?” Aku tidak perlu menjawab. “Aku melihat Vance dengan istrinya. Sedang kesal setelah tuan Miles menolak bicara dengannya.” Aku bisa membayangkan wajah mendidik Nick. “Kau terlihat puas.” “Yeah, berkat kau.” Aku mengambil dompetku. “Setelah acara ini selesai, kita menemui tuan Joshua sekarang?” Lucien tak menjawab, menatap wajahku sambil memiringkan kepala. Tangannya terulur, menyentuhkan ujung jemari di sepanjang garis rahangku. “Ucapan terima kasih?” “Terima kasih.” Suaraku mulai bergetar. “Demi kepuasanmu, istriku.” Aku menelan ludah. Tatapan Lucien seolah menelanjangiku. Istri? Aku lupa kami telah menikah, bahkan dengan rencana akan menemui tuan Joshua untuk menunjukkan sertifikat pernikahan kami. Satu detik kemudian, Lucien mengangkat tubuhku. Mendudukkanku di meja wastafel dan menutup jarak di antara bibir kami. Lengannya melilitku, tubuh besar dan tingginya berdiri di hadapanku. Memaksa kedua kakiku terbuka. Ciuman Lucien mulai membuatku kewalahan. Aku mendorong dadanya dan bernapas. Menatap mata Lucien mengamatiku dengan senyum tipis. Ujung jemarinya menyelipkan rambut ke belakang telingaku. “Aku suka seks yang kilat.” Aku membeku, wajahku yang memanas, mendingin dengan cepat. Kata-kata Grace memenuhi kepalaku. Menciptakan rasa mual di perut. Tepat ketika suara Grace tertangkap telingaku. “Siapa kau? Ini toilet wanita.” Aku menoleh ke pintu toilet. Jantungku kembali berdegup kencang. “Sedang ada perbaikan.” Suara Lukas menjawab. “Jangan konyol. Aku melihat saudariku masuk ke dalam sana.” Saudari? Aku mendengus dalam hati. “Maaf.” “Kau yakin melihatnya masuk ke dalam sana?” Kali ini suara Nick terdengar. “Ya, Nick. Kau pikir aku berbohong? Kau pikir aku salah lihat? Kita mengenal Lilith bertahun-tahun. Aku tidak mungkin salah mengenalinya.” “Lilith?” panggil Nick dengan suara yang lebih keras. Mendengar keributan yang semakin keras. Sementara kedua kakiku masih melilit di pinggang Lucien. “Lilith!”Aku menurunkan ponselku dan menekan tombol merah. Mempertahankan pandangan kami yang saling mengunci.“Aku tak ingin mengakuinya, tapi sepertinya …”“Jangan katakan apa pun.” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Penuh keyakinan dan memang itulah yang harus kuucapkan. Untuk apa pun yang akan dikatakan Lucien.Lucien mendengkus. Berjalan masuk dan berhenti di belakang sofa panjang. Menyandarkan tubuhnya di sana dengan kedua lengan tersilang di depan dada. Posisinya menghadapku, sehingga jarak di antara kami membuatku bisa melihat dengan jelas seluruh permukaan wajahnya.Aku hampir tidak pernah bisa membaca dengan baik ekspresi Lucien. Bahkan beberapa saat yang lalu. Tidak pernah, sampai saat ini. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum mencemooh karena aku punya keberanian untuk memerintahnya. “Kau bilang apa?”“Aku tahu apa yang akan kau katakan, tapi aku tidak akan mendengarnya.”“Kau pikir itu akan menghentikanku untuk mengatakannya?”“Dan kau pikir aku akan mendengarnya meskipun k
“Lepaskan dia.” Kedua tangan Lucien mengepal di sisi tubuhnya. Napasku tercekik oleh tekanan lengan Emmit yang semakin mengencang. Menyeret tubuhku mundur.“Atau apa anak sialan?” Emmit menjambak rambutku hingga wajahku terdongak. “Blackwood. Blackstone. River. Lucien.” Pria itu tertawa, kali ini lebih menyeramkan. “Dan sekarang kau membawa anak itu ke dunia seolah semua ini layak diwariskan? Anak ini sama sialannya denganmu.”“Sekali kau menyentuhnya, aku akan membuatmu membayar mahal …” Ada jeda sejenak. Bibir Lucien tak bergerak saat menyebut Emmit dengan panggilan. “Kakak?”“Lepaskan aku!” Aku berusaha meronta. Tetapi Emmit jelas lebih kuat dan badannya lebih besar dariku. Menarikku ke arah balkon kecil di sisi ruang rawat. Lucien sudah akan menerjang ke arah kami, tetapi seketika terhenti saat Emmit berhasil memungut pisau di lantai dan menempelkannya di leherku.Tubuhnya yang tampak menegang, berhenti diujung ranjang River. Emmit membuka pintu kaca dan jantungku terasa akan mel
“Emmit bicara dengan Daniel?” Aku mengulang pertanyaanku dan kali ini dengan nada yang sedikit mendesak.“Kalaupun ayahku bicara dengan Daniel, apa urusannya denganmu, Blackwood?”Kepalaku menggeleng pelan. Ponsel dalam genggamanku berdering, bersamaan dengan dering ponsel di tangan Sophia. Sophia langsung menjawab panggilan tersebut.Aku mengamati perubahan wajah Sophia, yang kini sepucat Amy. “Apa maksudmu suamiku kabur?”“Apa?” Amy membelalak.Sophia turun dari tepi ranjang. “Jangan berbohong. Bagaimana mungkin orang bisa memalsukan serangan jantungnya? Suamiku memang …” Kalimat Sophia terhenti dan aku melihat tangannya yang gemetar. “Aku tidak tahu apa pun tentang rencana ini, Freya.”Sophia kembali mendengarkan sejenak. Lalu mengakhiri panggilan. “Aku akan ke sana sekarang dan bicara dengan petugas yang menjaganya.”“Ada apa?” Amy turun dari ranjang pasien. Setengah terhuyung dan berpegangan pada tiang infus. “Ayah kabur?”Sophia mengangguk. Memegang pundak Amy. “Kembali ke tempa
Setelah konferensi pers, tentu saja pekerjaan baru saja dimulai. Lucien dan Lukas membicarakan tentang mengalihkan perhatian dengan pengumuman proyek baru dan inovasi perusahaan. Ditambah dengan keberhasilan proyekku, semua tindakan tersebut cukup untuk mengembalikan kepercayaan pasar.Namun itu hanya masalah pekerjaan yang akan kami tangani. Lucien dengan Blackstone, sementara aku dan Lukas kembali fokus pada Blackwood Group. Masalah lainnya tentu saja masih ada.Mobil Lucien berhenti saat lampu depan menyorot mobil merah muda yang terparkir di depan pintu gerbang kediaman kakek. Sementara Amy sedang berhadapan dengan dua petugas yang berjaga, memaksa untuk masuk. Keributan tersebut terhenti, Amy berbalik dan menghampiri pintu depan mobil. Kemarahan di wajahnya semakin pekat saat kepalan tangannya menggedor kaca jendela.“Kau benar-benar keterlaluan, Lucien. Apa maksudnya kau seorang Blackwood?!” sembur suara Amy begitu Lucien menurunkan kaca jendelanya.“Bagaimana mungkin kau memboh
Setelah Lukas menutup pintu, hanya ada aku dan Lucien, yang masih berdiri di depan meja kerjaku. Kedua tangannya memegang sisi meja, punggung tampak menegang dan aku menghampirinya dengan langkah perlahan.“Ada hal lainnya yang kau cemaskan?” Kepala Lucien menoleh, aku menatapnya selama beberapa detik dan mencoba membaca kecemasan yang disembunyikan dengan baik. Tetapi bukan berarti aku tidak bisa merasakannya badai di dalamnya.Lucien berpaling, menegakkan punggungnya dan menatap dinding kaca di belakang kursiku. Pemandangan seluruh kota di bawah langit biru yang cerah.“Apa yang terjadi dengan Daniel?”“Sudah ditangani.”Aku menggigit bibir bagian dalamku. Seharusnya itu menjadi jawaban yang memuaskanku juga, tetapi aku merasa ini bukan sekedar ditangani dengan baik. “Apakah dia bicara?”Lucien tak langsung menjawab. Pria itu menarik napas panjang dan dalam sebelum kemudian menatapku lagi. Tangannya terulur, merangkum sisi wajahku. Ibu jarinya mengelus pipiku dengan lembut. Sekilas
Lucien berjalan masuk seolah tidak ada yang terjadi. Penuh kepercayaan diri dan tak tersentuh seperti biasanya. Jas hitamnya tampak rapi. Serapi rambutnya yang sedikit panjang dan disisir ke belakang. Wajahnya tenang. Terlalu tenang seperti biasa. Aku berdiri dan berputar menyambut kedatangannya. Baru mnenyadari buket bunga yang ada di tangan kanannya. Bunga mawar merah dan hitam, tergenggam rapi membuatku terpanah. Kedua wanira itu berpadu dengan indah.“Sepertinya,” katanya pelan, “aku datang di waktu yang sangat tepat.”Tanganku mengambil buket tersebut dan tersenyum lebar ketika membaca kertas kecil yang ditulis tangan oleh Lucien sendiri. ‘Selamat untuk langkah barumu. Suamimu.’Hidungku tidak bisa menolah keinginan untuk sedikit menunduk dan mencium aroma bunga tersebut. Harumnya lembut dan kuat di saat bersamaan. Mawar hitam? Keningku mengernyit, bertanya apa artinya. Namun aku tetap mengucapkan, “Terima kasih.”Lucien membalas dengan senyum tipis dan tatapan hangatnya. Barula
Emmit Blackstone tak punya pilihan untuk mengakui keberadaanku. Meja makan besar sudah dipenuhi semua anggota keluarga Blackstone. “Dia tidak seharusnya ada di sini.” River langsung menemukan keberadaanku di samping Lucien. “Ayah sudah memberi persetujuan.” Lucien melirik Emmit yang duduk di sebe
“Aku yang akan menangani proyeknya.”“Ayahmu cukup berpengaruh di antara para elit, Lucien. Kau tidak bisa …”“Mereka hanya memikirkan keuntungan dan aku akan memberikan mereka lebih dari yang didapatkan darinya.”Aku menutup pintu dan suara perdebatan yang diselimuti ketegangan tersebut menyambutk
“Wanita gila!” teriak Nick yang ditahan kedua anak buah Lucien.Aku melangkah mundur, menatap kobaran api yang mulai meninggi. Melahap apa pun yang tersentuh.“Tasku, bajuku, sepatuku, perhiasanku,” ratap Grace. Air matanya jatuh berhamburan di wajahnya. Rambut berantakan wanita itu menempel di pip
Aku tidak bisa menemukan foto ibu kandung Lucien di mana pun. Di rumah utama Blackstone maupun di rumah Lucien. Bahkan tidak mendapatkan namanya.“Mungkinkah beliau anak dari kakak Emmit Blackstone yang sudah meninggal.”“Emmit punya seorang kakak?”Kael mengangguk. “Meninggal dalam kecelakaan pesa







