Masuk
Sorry Ye! ] Sudah paham isi otaknya.
"Loh! Kamu Bella, kan? Yang gagal nikah waktu itu?" Bella menoleh ke sumber suara, lalu tersenyum melihat tetangganya yang menyapa dengan wajah heran. Bella salah satu gadis di kampung di sini yang baru saja kembali dari kota setelah sekian lama merantau sejak sang ibu meninggal dunia, kembalinya Bella adalah untuk memenuhi janji pada almarhum sang ibu sehebat apapun di kota, kampung halaman adalah tempat pulang paling nyaman dan menetap setelah impiannya tercapai. Kehidupan Bella di masa silam memang sedikit miris karena ia hanya hidup berdua dengan dengan almarhum sang ibu dalam keadaan miskin. "Eh iya, Bu Mirna kan?" jawab Bella sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berselaman sama Bu Mirna. "Apa kabar, Bu?" Bu Mirna menerima uluran tangan Bella tapi sebelumnya ia menyeret lengan bajunya yang jatuh untuk memperlihat gelangnya yang berjejeran. "Kamu kembali ke kampung ini lagi Bel? Sama siapa? Jangan bilang kamu belum nikah karna tidak laku?" ucap Bu Mirna agak ketus. Namun Bella yang bukan orang baru di kampungnya itu cukup mengerti sama satu persatu-satu otak warga yang ada. "Alhamdulillah Bu, saya sudah menikah saya balik ke sini bersama suami kok."jawab Bella dengan seulas senyuman tulus. "Oh jadi kamu kembali kesini karna di kota kamu sudah nggak sanggup menderita ya Bel, jadi kembali lagi ke kampung, ya, setidaknya di sini kamu masih punya rumah walau kecil dan sudah hampir riyot itu." ejek Bu Mirna. Bella hanya tersenyum getir, lalu ia tidak menanggapi ucapan Bu Mirna. Bella melanjutkan niatnya yang mau belanja sayur dan ikan. Beberapa meter seorang ibu paruh baya bergestur gemoi dengan daster selutut dan dandanan sedikit minor berjalan mendekati arah ibu-ibu yang sedang berbelanja. Bella yang sempat melirik mengetahui siapa orang tersebut tapi tangannya kembali fokus memilih barang di depannya. "Ada apa ini jeng Mirna, Kok pagi-pagi tumben rame?" begitu orang itu mendekat langsung melempar pertanyaan pada sholidnya Bu Mirna. "Eh jeng Yatik, ini loh ternyata mantan calon menantu mu dulu kembali lagi, sudah nggak sangup hidup di kota yang kesusahan."tunjuk Bu Mirna, mereka berdua kalau memanggil memakai sebutan jeng kayak ibuk-ibuk sosilita di perumahan elit saja. Shontak wajah Bu Yatik menoleh ke arah yang di tunjuk oleh sholidnya, begitu bertatapan dengan Bella yang saat itu juga menoleh karena reflek dengan kata-kata Bu Mirna yang menunjuhkan pada dirinya. Sorot mata Bu Yatik yang sempat menelisik ke arah Bella langsung mendengus dan membalikan muka pada Bu Mirna sambil berkata. "Aduh.... Jeng Mirna ini bilang apa? Aku mah ogak mengakuinya walau hanya sebagai mantan calon. Nggak sudi." kibas Bu Yatik, ia sudah tahu kalau Bella kembali lagi ke desa ini kemaran tak sengaja melihatnya pas lewat di depan rumahnya. "Loh, jeng Yatik sudah tahu kalau Bella kembali kagi, kok nggak kaget gitu?" "Iya jeng, nggaklah! Ngapain kaget justru aku prihatin datang dari kota kok masih tetep kere ya, ya gimana lagi emang dasar orang kere ya sampai kapanpun tetep kere." mulut Bu Yatik dan Bu Mirna sama-sama seperti cabe rawit. "Iya jeng, aku pikir juga begitu, lihat saja cara berpakaianya tetep saja tak ada perubahan." padahal Bella sama umumnya memakai pakaian dinas ibuk-ibuk kalau lagi di rumah yaitu daster yang aman dan nyaman. Namum Bella cuek saja, ia tidak memperdulikan ocehan Bu Mirna dan Bu Yatik ia tetep tenang sambil memilih sayur dan juga ikan segar. "Assalamu'alaikum, ibuk-ibuk." sapa Bu RT yang namanya Bu Jamilah. "Waalaiukumsalam, eh Bu RT juga mau belanja?"sahut Bu Mirna yang lebih panjang. " iya Bu Mirna,"sambung Bu RT. "Ini Bella, ya?" tanya Bu RT lupa ingat. "Iya Bu RT, ini saya Bella, maaf belum silatururrhami ke rumah karena baru datang." "Iya Mbak, nggak papa." "Ibu RT harus hati-hati zaman sekarang banyak loh orang datang dari kota itu karena bawa masalah." ujar Bu Yatik lagi. "Iya bener itu Bu RT, harus selidiki dulu warga yang mau tinggal di sini, dan mata ya Bella, anak saya sekarang memang sudah mapan tapi saya tidak akan membiarkan ada bibit sampah yang mau merebutnya dari saya." ucapan Bu Yatik begitu pedas. "Ibuk Yatik tenang saja, aku tidak akan tergoda sama anak ibuk karna suamiku sudah lebih cukup dari segalanya."jawab Bella tersenyum. "Alah sombong banget, iya karna kamu belum tahu anak saya sekarang. Sedangkan suami mu kan hanya orang kecil sama kayak kamu."ejek Bu Mirna. Bella hanya menggelengkan kepala,"Mang berapa semuanya?"Bella menotal belanjaannya. "Semuanya ini ya Bu Bella?" tanya mang sayur. "Iya mang, total saja." Mang seyur mengkalkulator total belanjaan Bella yang mengambil ikan segar seperti cumi, ikan gabus dan udang, daging, ayam dan juga tahu tempe dan sayur serta lombok tomat Bella mengambilnya langsung setengah kg dan juga bawang merah dan putih juga satu kg an. Tak lupa juga Bella mengambil buah-buahan karna belum sempat belanja salama ada disini maklum mereka baru sampek. "Semuanya habis 285 Bu."jawab mang sayur usai mengitung belanjaan Bella. Bella mengangguk lalu mengeluarkan uang dari dompetnya 300 ribu. "Ini Mang, kembaliaanya di tambah apa gitu mang!" ucap Bella seraya menyerahkan uang warna merah. "Kerupuk mau, Bu?" "Iya mang, nggak papa." "Besok-besok belanja di sini lagi ya Bu Bella," ucap mang sayur yang senang karana dagangannya pagi-pagi sudah laris manis. Bella hanya mengangguk dan pamit pulang duluan sama ibuk-ibuk yang ada. "Alah, itu paling buat setok selama sebulan takut uanganya keburu habis."ucap Bu Yatik. "Iya benar, lagian dia siapa? orang balik ke kampung ini karna sudah di usir sama orang kota." timpal Bu Mirna. "Aduh Bu, nggak boleh nuduh tanpa bukti entar jatuhnya bisa fitnah."sahut Bu RT. "Memang begitu kenyataannya Bu RT lihat saja tuh penampilannya begitu tak ada pantes-pantesnya kalau dari kota."ejek Bu Yatik masih tetep menghina Bella. "Tapi kan juga belum tentu begitu Bu, lagian Bella kembali ke sini ke rumahnya sendiri." "Halah... Punya rumah kecil saja di banggain." "Maaf Bu, jadi belanja nggak ini?" tanya mang sayur karna dari tadi Bi Mirna dan Bu Yatik hanya ngibah saja tak milih-milih ikan maupun sayur. " ini aku mang, ambil sayur sop sama tempe."ujar Bu Mirna, lalu pergi setelah memberikan uang enam ribu. "Belanja itu doang lama banget."grutu mang sayur. "Mang punya ku sudah, itu." Bu RT menyudahi belanjaanya. "Oh Bu RT. Semuanya 50ribu." "Iya mang ini, uang nya pas ya." ucap Bu RT. "Iya Bu RT makasih. "Bu Yatik, saya duluan ya."pamit Bu RT sedangkan Bu Mirna tadi tidak pamit tinggal nyeloyor saja. "Ibu apa saja?"tanya mang sayur sama Bu Yatik yang tinggal sendirian. Dan itu memang jurus Bu Yatik pergi kebelakangan karna mau ngutang tidak bayar. "ini aku ambil telur puyuh dan juga daging sama kayak Bella tadi jangan lupa juga tuh bumbu krengsengnya dua, mang."ucap Bu Yatik ketus, ia tidak mau kalah sama Bella mantan calon menantunya itu. Dulu putranya Bu Yatik yang bernama ilham pernah menyukai Bella dan mau menikahinya tapi karna Bella anak orang tidak punya Bu Yatik menolaknya mentah-mentah akhirnya mereka tidak jadi menikah. "Ini Bu, totalnya 95 ribu." ucap mang sayur, meminta bayarannya. "Sudah sini, aku ngutang dulu seperti biasa." ketus Bu Yatik. "Nggak bisa gitu donk Bu. Hutang Bu Yatik sudah banyak bisa tekor aku kalau begini terus?"ucap mang seyur marah, karna Bu Yatik kebiasan ngutang tak mau bayar. "Apa an sih mang sampek marah gitu, orang hutang ku hanya sedikit." "Dikit apanya Bu, sudah mencapai 400ribu belum di tambah yang ini." kessal mang sayur. "Alah, segitu saja belagu. Entar saya bayar kalau anak dan menantu saya sudah gajian."jawab Bu Yatik berkacak pinggang. "Nggak bisa, ibuk harus bayar sekarang juga." desak mang sayur ia tidak mau rugi terus gara-gara ibu Yatik. "Kalau gitu saya ngagk jadi belanja mang, itu saja kok pelit amet kayak saya mau kabur saja lagian tukang sayur itu banyak tapi nggak galak seperti mamang." cetus Bu Yatik, malah tak mau mengakui kesalahannya sendiri. "Loh nggak bisa gitu buk, silahkan ibuk mau pindah tempat belanja tapi ibuk bayar dulu hutanganya kalau nggak bakal saya kasih tahu semua pada tukang sayur yang keliling dan juga ibuk-ibuk kampung di daerah sini kalau ibuk tukang hutang tak mau bayar," ancam mang Sayur seriyus. "Eh mamang jangan macem-macem, ya." "Makanya Bu bayar," Bu Yatik berdecak kessal jika saja nanti mang sayur bilang ke semua orang bisa turun derajat dia. Dengan perasaan dongkol akhirnya Bu Yatik mau membayar hutangnya dan mengeluarkan uangnya setengah terpksa. "Ini saya bayar, lunas ya."ucap Bu Yatik ketus sama mang sayur. "Nah gitu kan enak." kata mang sayur tersenyum karna uang hasil badinya selama dua hari akhirnya kembali. "Mulai sekarang saya ogak belanja di sini lagi, medning di supermarket. Masih fres dan higenis." omel Bu Yatik, tapi tak di tanggapi oleh mang sayur ia hanya bergeleng kepala sama sikap Bu Yatik yang berlagak sok kaya tapi aslinya kere. BISMILLAH KALAU RAME LANJUT....."Bun, Riska mau ayam kentaci itu," tunjuk anak kecil yang berumur empat tahun menunjuk mengarah pedagang kichen di pinggir jalan."Riska pengen ya, nak?" tanya Salma bundanya. Mereka baru saja dari ambil baju di penjahit atas perintah sang nenek.Salma menghela napasnya berat, terasa tercekat tenggorokannya saat dengar putrinya Riska pengen kentaci, padahal tadi dirumahnya lagi masak itu tapi sayang Riska dan Salma tidak kebagian, jatah lauk mereka hanya tempe dan tahu saja setiap hari padahal yang masak Salma tapi tak bisa menikmati hasil masakannya sendiri karna sang mertua selalu menghitung jumlah ikan dan lauk yang ada jika saja kurang satu dia pasti marah-marah dan pastinya juga Salma dan Riska anaknya yang di omelin tidak ada habis-habisnya."Sayang, Riska belinya nanti saja ya kalau Bunda sudah ada uanganya," ucap Salma teriris sebab ia tidak tahu kapan bakal punya uang."Ya Bunda, padahal Riska sudah pengen banget lagian kalau di rumah ada lauk enak kita juga tidak kebagian,"
"jangan seudzon Bu Mirna, mungkin Bella masih punya banyak stok makanan, jadi nggak belanja hari ini." ucap ibu-ibu yang tahu kemaren Bella belanja banyak."Dia bukan karena punya stok Bi, memangnya di rumah ada kulkas? tahu sendiri Bu juminten selama ini gimana hidupnya?" Ungkir Bu Mirna soal hidup almarhum Bu juminten.Tin tin."Loh, jeng Mirna mau kemana pagi-pagi sudah cantik?" tiba-tiba bu Mirna lewat dengan pakaian rapinya kayak orang mau senam."Biasa jeng Yatik aku mau ikut senam dulu biar tubuh tetep sexi lagian di rumah aku juga nggak sibuk, biasalah ada asisten yaang siaga," balas bu Mirna pertanyaan sholidnya itu."Enak banget jadi kamu ya Mir, bebas di rumah tidak ngapa-ngapain tapi rumah bisa bersih dan kinclong.""Ya ialah Mir, rugi donk punya menantu kalau tidak di andalkan." katanya dengan nada santainya."Kalau aku jadi menantunya Bu Mirna nggak bakal mau hanya di jadi'in pembantu saja, padahal di sana juga yang kerja suaminya Erik." bisik ibuk yang belanja yang jug
Loh! ibuk sudah datang, mana berkatnya?" todong Sinta pas melihat ibuknya duduk di ruang tamu sambil ngedumel padahal ia baru datang pengajian katanya."Kamu itu Sin, makanan meluluk yang di pikirin nggak ada lain apa selain itu." omel bu Yatik sama anak putrinya."Lah, ibuk di semprot setan dari mana sih, biasanya juga begitu kalau datang dari yasinan dapat berkat." batin Sinta curiga ibuknya habis Ketemu setan di jalan."Assalamu'alaikum, salam dari luar ternyata ilham Putra sulung bu Yatik baru pulang kerja jam sembilan anak itu makin hari makin rajin saja."Waalaikumsalam, kamu baru pulang Ham, lembur lagi?" sahut ibuk Yatik."Iya buk, ibuk habis dari mana? Kok wajahnya di tekuk gitu!" kata ilham yang sebenarnya tidak heran sama raut sang ibuk yang memang jarang damai itu."Dari pengajian di rumah Sohilah, tapi ibuk kessel," desis bu Yatik."Lah, kenapa, pulang pengajian kok kessel bukannya tambah adem hatinya?" balas ilham."Ya jelas ibuk kessal Ham, apa lagi sama tuh anak kere y
Ya kalau ibuk-ibuk mau menganggap seperti itu ya nggak papa saya nggak masalah apapun pekerjaan suami saya yang penting halal dan bisa membahagiakan istri." jawab Bella santai."Bagus memang itu yang terpenting Bu, ya sudah labih baik kita mulai acara yasinannya bila ada yang ingin di bahas kita lanjut nanti lagi pas selesai kocokan arisan." ucap Bu RT melerai keadaan agar tetep kondusif."Alah, jadi istri supir saja sok romantis pakeh ngomomg bisa ngebahagiakan istri di buat sensara iya." batin bu Yatik siriknya tidak bertempat.Yasinan pun selesai dan di tutup dengan do'a lalu di lanjut kembali kocokan untuk arisan selanjutnya dan ternyata di rumah bu Selamet."Selamat ya, Bu selamet pengajian dan arisan selanjutnya di rumah sampean." kata bu Nindi bagian megang keuangan.Dan acarapun di lanjut ramah tamah yang sambil di selingin obrolan dan sering sesama ibuk kampung sumber asih."Mbak Bela mungkin mau ikut arisan RW lumayan loh mbak dapat banyak, dan disana juga ada arisan emasnya
Sorry Ye! [ enak saja mau ngalahin saya ] Setelah sholat mangrib Bella baru selesai siap-siap yang mau berangkat pengajian di rumah ibuk sholihah, di luar suara ibuk-ibuk sudah berteriak memanggil nama Bella hingga membuatnya gopoh.Beruntung Bella sudah dandan tinggal ambil tas saja namun saat ia keluar kamar, Bella malah lupa mau makai perhiasan gelangnya namun suara gelegar ibuk-ibuk terdengar nyaring terpaksa Bella urungkan niatnya yang mau mengambil gelang alhasil ia berangkat dengan lengan kosong."Iya ibuk sebentar." sahut Bella perasaan masih baru mangrib kenapa pada kesusuk.Bella keluar yang sudah siap dengan setelan gamis syar'i nya yang baru ia beli kala mau kembali ke desa dan itu syar'i keluar terbaru rancangan desainer kelas atas limeted edicion itu keliatan dari banget dari kain dan bandrolnya."Bel, kamu lama banget keburu sudah di tinggal ibuk-ibuk dari tadi." ucap bu Nining yang nyamperin Bella."Iya bu, maaf baru selesai sholat bukankah waktunya masih kurang sete
Sementara itu Bella baru sampek depan rumahnya dan masuk,"Assalamu'alaikum."salam Bella. Ia mendapati sang suami baru saja selesai mandi dan tersenyum manis pada Bella."Waalaikumsalam sayang, udah selesai belanjanya? Kenapa tadi tidak nunggu Mas biar ku anter ke supermarket saja."jawab suaminya Bella, Rendi." Nggak papa Mas, lagian dekat kok tadi sayur dan ikannya juga segar-segar."sahut Bella, ia memang lebih memilih belanja di mang sayur selain dekat ia bisa bersedekah sama pedagang kecil."Ya sudah terserah kamu, yang penting kamu jangan capek-capek. Masak seadanyan dulu sebelum nanti kita pindah ke rumah baru kita dan dapat asisten ART." ucap Randi tak mau sang istri terlihat kecape'an."Iya, Mas tenang saja. Terimakasih banyak ya Mas, sudah mau tinggal di kampung ku sesuai keinginan almarhum ibukku." ucap Bella senang, karna almarhum ibuknya ingin jika Bella sukses tetep tinggal di kampungnya dan bisa berbagi sama tetangganya sendiri.Randi sudah menyiapkan rumah untuk Bella ya







