로그인Sore itu, teras rumah Bu Yatik mendadak tampak lebih hidup dari biasanya. Sebuah sepeda motor sport berwarna merah terang terparkir gagah tepat di halaman depan, mengundang perhatian setiap warga yang kebetulan melintas di depan rumah mereka. Diki, pemuda berambut klimis dengan jaket kulit hitam dan celana jeans ketat, sedang duduk santai di kursi kayu teras sambil memainkan ponsel pintar di tangannya.Sinta keluar dari dalam rumah membawa sebuah nampan berisi dua cangkir teh manis hangat dan setoples kue kering. Dengan senyum semringah yang tak pernah lepas dari bibirnya, ia meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di hadapan sang kekasih."Silakan diminum ya, Diki. Sengaja aku buatkan teh manis hangat buat kamu," ucap Sinta manis, lalu duduk di sebelah pemuda itu dengan manja.Diki meletakkan ponselnya, lalu tersenyum tipis seraya meneguk teh buatan Sinta. "Makasih ya, Sin. Duh, repot-repot banget bikin air hangat segala.""Ah, enggak repot kok sama sekali buat kamu," balas
Sesampainya di rumah, Sinta langsung membanting tas kecilnya ke atas meja ruang tamu dengan wajah cemberut. Bibirnya mengerucut sebal, matanya menyiratkan rasa kesal bercampur penasaran yang amat sangat. Ia masih tidak habis pikir dan merasa tidak terima dengan kenyataan yang baru saja ia lihat di jalan tadi pagi."Ih, bener-bener nyebelin banget!" gerutu Sinta sambil melangkah menghentak-hentakkan kakinya menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar.Bu Yatik yang baru saja melepas mukena usai salat duha langsung menghampiri anaknya dengan kening berkerut heran. "Kamu ini kenapa pagi-pagi udah ngedumel enggak jelas? Ada apa sih, Sin?" tanya Bu Yatik penasaran.Sinta menoleh dengan wajah ditekuk masam. "Aku masih kepikiran sama kejadian tadi pagi, Bu. Masa ya, Bella mantan iparnya Mas Ilham itu punya suami setampan dan sekeren itu? Padahal dulu waktu dia masih di sini, biasa aja!"Bu Yatik mendengus pelan, lalu ikut duduk di samping anaknya. Ia mengibaskan tangannya seolah
Pagi itu, kabut tipis masih tampak bergelayut malas di atas pucuk-pohon kelapa yang berbaris rapi di sepanjang jalan desa. Udara dingin khas pedesaan menyapa kulit siapa saja yang melangkah keluar rumah pagi-pagi sekali. Di jalan setapak yang dikelilingi hamparan sawah menghijau, Bella dan suaminya, Rendi, melangkah berdampingan dengan santai. Keduanya mengenakan pakaian olahraga kasir, menikmati kesegaran udara pagi sambil melunturkan penat setelah seminggu penuh disibukkan dengan urusan bisnis."Segar banget ya udaranya, Mas," ucap sambil menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma tanah basah dan dedaunan yang menenangkan. "Jauh banget bedanya sama suasana kota yang isinya polusi mulu."Rendi menoleh ke samping, tersenyum hangat melihat istrinya yang tampak begitu menikmati pagi itu. "Iya, Sayang. Makanya sesekali pulang kampung begini tuh asyik. Bikin pikiran rileks.""Oh iya, Mas. Nanti pas kita lewat dekat lapak jajanan pasar di ujung jalan, kita mampir sebentar ya. Aku pen
Satu minggu lebih telah berlalu sejak hari pertama Salma menginjakkan kaki dan mulai bekerja di toko roti milik sahabatnya. Suasana di dalam ruangan pribadi Bella yang bernuansa hangat dan elegan sore itu tampak begitu tenang. Di atas meja kerjanya, sebuah amplop putih agak tebal tergeletak rapi di samping laptop. Bella tersenyum ramah, lalu memanggil Salma yang baru saja selesai membereskan area kasir."Sal, masuk ke ruangan sebentar ya," panggil Bella lembut lewat interkom meja.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka pelan. Salma melangkah masuk dengan balutan seragam toko roti yang tampak pas dan bersih di tubuhnya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dan bercahaya dibandingkan minggu-minggu lalu saat ia masih tertekan di bawah cengkeraman mertuanya."Ada apa, Bell? Ada laporan kasir yang kurang pas ya?" tanya Salma agak cemas, langsung berdiri di depan meja Bella.Bella terkekeh pelan. Ia meraih amplop putih di atas meja, lalu menggesernya perlahan ke hadapan sahabatnya itu.
Akhirnya malam ini rasa sakit di telapak kaki Pak Rahman benar-benar luar biasa. Setelah diobati seadanya dengan kain kasa dan obat merah oleh Bu Nining, pria paruh baya itu hanya bisa berbaring di atas ranjang kamar sambil meringis kesakitan. Setiap kali jempol kakinya bergerak sedikit saja, rasa perih langsung menjalar hingga ke tulang."Aduh... Sakit banget, Bu... Aduh, Gusti..." rintih Pak Rahman dengan wajah pucat dan keringat dingin bercucuran di dahinya.Bu Nining yang duduk di tepi ranjang bukannya merasa iba, ia justru melipat kedua tangannya di dada dengan wajah ditekuk masam. Alih-alih menyesali perbuatannya menyuruh sang suami mencuri, ia malah merasa kesal setengah mati karena rencananya gagal total."Duh, Bapak ini gimana sih! Makanya kalau jalan itu pakai mata, jangan asal melangkah!" omel Bu Nining ketus, menyalahkan suaminya sendiri.Pak Rahman menoleh dengan mata melotot menahan amarah dan sakit. "Pakai mata gimana, Bu?! Gelap gulita begitu! Lagian siapa yang t
"Sayang, kamu pesan itu untuk apa?" tanya Rendi saat Bella membuka barang cod yang baru datang."Oh ini Mas, jebakan tikus mau Aku taruk di kebun soalnya di kebun banyak tiksunya kalau malam.""Hah, masak sih sayang? Kan sudah di rawat oleh Mang Marto?""Iya kalau siang Mas, kalau malam kan Mang Marto nggak di kebun.""Iya juga sih, terus kapan yang mau kamu taruk?""Ya sekarang, kan udah datang ini barang.""Kamu sendiri yang mau naruk, nggak nunggu Mang Marto?""Nggak Mas, Aku bisa kok kalau hanya masang ini, gampang!" seru Bella dengan senyum bahagia, dengan begini tidak akan ada maling lagi yang berani masuk ke kebunnya baik itu tikus asli atau tulus jadi-jadian."Udah dech, sekarang tinggal Aku taruk, Mas aku ke kebun dulu ya," ucap Bella pamitan pada suaminya."Sayang, kamu yakin mau ke belakang sendiri?""Iya donk, lagian kan ini kasih siang Mas, malam juga Aku nggak takut."Rendi tersenyum tipis, isterinya memang ajaib.Walau Bella sekarang sudah menjadi perempuan hebat tapi k







