MasukSementara itu Bella baru sampek depan rumahnya dan masuk,"Assalamu'alaikum."salam Bella. Ia mendapati sang suami baru saja selesai mandi dan tersenyum manis pada Bella.
"Waalaikumsalam sayang, udah selesai belanjanya? Kenapa tadi tidak nunggu Mas biar ku anter ke supermarket saja."jawab suaminya Bella, Rendi. " Nggak papa Mas, lagian dekat kok tadi sayur dan ikannya juga segar-segar."sahut Bella, ia memang lebih memilih belanja di mang sayur selain dekat ia bisa bersedekah sama pedagang kecil. "Ya sudah terserah kamu, yang penting kamu jangan capek-capek. Masak seadanyan dulu sebelum nanti kita pindah ke rumah baru kita dan dapat asisten ART." ucap Randi tak mau sang istri terlihat kecape'an. "Iya, Mas tenang saja. Terimakasih banyak ya Mas, sudah mau tinggal di kampung ku sesuai keinginan almarhum ibukku." ucap Bella senang, karna almarhum ibuknya ingin jika Bella sukses tetep tinggal di kampungnya dan bisa berbagi sama tetangganya sendiri. Randi sudah menyiapkan rumah untuk Bella yang masuk jejeran rumah para warga yang kaya, tapi masih termasuk desa sumber asih dan rencananya rumah peninggalan ibuknya ini nanti mau Bella bangun untuk pantiasuhan dan anak yang kurang mampu. Dan tanah milik almarhum ibuknya Bella lumayan luas hanya rumahnya memang kecil karna Bella belum merenovasinya. Semenjak ibuknya meninggal Bella jarang pulang ia masih fokus menata usahanya di kota dan baru tahun ini ia bisa kembali dengan keadaan rumahnya belum selesai. Di kota Bella memiliki usaha konveksi dan butik juga ada usaha kuliner yaitu rumah makan dan toko roti yang telah punya beberapa cabang. Semua itu di rintis oleh Bella seorang diri yang awalnya ia hanya menjadi karyawan biasa di konveksi milik mertuanya. Dan karna ke uletan Bella dan karya-karya yang bagus membuat usaha konveksi milik ibuk Ratna berkembang pesat dan butiknya yang di masukkan hasil karya Bella memblulak di terima para konsumen. Dari situ Bella di terima sebagai karyawan tetap sama Bu Ratna yang kini malah menjadi mertuanya dan juga sangat menyayangi Bella. Dan keluarga suami Bella orang kaya raya yang tak bakal habis hartanya sampai tujuh turunan tapi Bella yang orangnya tak mau tergantung sama orang lain dan ingin mandiri ia mendirikan usaha sendiri dengan bekerja sama dengan mertuanya tersebut alhasil saat ini usaha mereka tambah maju sampai ke kancah negara itu murni hasil rancangan Bella untuk di dunia fashion. Kalau untuk ushana kuliner itu hanya permintana almarhum ibuknya yang ingin Bella memiliki rumah makan yang ekonumis tapi enak. Alasannaya sederhana biar orang kecil juga ikut merasakan di tempat yang mahal juga dan setiap hari jum'at di rumah makan Bella bagi-bagi makanan gratis buat orang yang membutuhkan dan itu berhasil bukan bikin bangkrut malah makin rame dan berkah. Untuk toko roti itu karna Bella sangat menyukai roti dan sebangsanya makanan manis makanya ia berisiniativ buka usaha toko roti mulai yang biasa sampak roti kelasnya artis. Dan ternyata usaha yang menjadi makanan favorit Bella itu menguntungkan dan rame pesat bahkan sudah banyak riseler yang mau mengambil untuk di jual di toko-toko terdekat. * * * Bu Yatik sampai rumahnya masih dengan perasaan dongkol dan wajah masam. Sinta putri bungsunya yang sebentar lagi lulus kuliah dan percaya diri kalau ia akan di terima di perusahaan besar nantinya. "Ibuk kenapa? Kok wajahnya masam gitu, kayak orang lagi kessel?" tanya Sinta yang juga baru keluar dari kamarnya. Biasa anak itu selalu bangun kala matahari sudah tinggi itupun jika ia mau kuliah kalau tidak bisa sampai siang molornya. "Gimana ibuk nggak kessel Sin, itu sih Mamang sayur coba ngancem ibuk segala kalau nggak bayar hutang mau di kasih tahu ke ibuk-ibuk kampung, mau di taruk di mana wajah ibuk kalau mereka sampai tahu jika ibuk tukang ngutang selama ini." jawab Bu Yatik mengebu-ngebu Jelas sekali ia masih kessal. "Kok bisa gitu sih Bu, lagian kan ibuk tetep bayar kan hutangnya?" "Iya, tapi niat ibuk nanti kalau mas mu sudah gajian. Soalnya uang nya mau ibuk beli baju baru besok malam kan ada pengajian di rumah ibuk sholeh. Eh sekarang sudah lenyap gara-gara mang sayur sialan itu."kesaal Bu Yatik. "Ya ibuk pakeh bajunya yang ada dulu, kan baju ibuk banyak yang masih bagus." ucap Sinta, padahal dua perempuan itu sama saja setiap ada acara pasti pengen baju yang baru yang belum pernah di pakeh. "Ya nggak bisa gitu donk Sin, kalau ibuk ketahuan pakeh baju yang pernah ibuk pakeh kan malu, di tambah jeng Mirna itu hafal betul sama baju-baju ibuk." "Ya terus gimana, donk!" "Tahulah, ibuk pusing." "Ya sudah ibuk masak saja sana, Sinta sudah laper." cicit Sinta sambil memegang perutnya yang sudah kroncongan. "Sekali-kali kamu Sin yang masak ibuk capek, masak bisanya cuma makan saja." dumel bu Yatik. "Kan ibuk tahu aku nggak bisa masak, lagian nggak level donk buk anak kuliahan suruh masak." cemberut Sinta. "Ya, ya. Tapi nanti kamu harus dapat suami yang kaya biar bisa ngenakan ibuk. Dan kamu juga kerja di perusahaann yang besar, rugi donk ibuk nyekolahin kamu tinggi-tinggi kalau tidak jadi apa-apa." seru Bu Yatik pada anak gadisnya. "Ibuk tenang saja, itu mah kecil secara Sinta ini cantik dan sexi jadi mudahlah nanti dapat cowok tampan + tajir. Pokoknya ibuk tenang saja dan jangan buat anak gadisnya ini bekerja kasar biar tangan ku tetep halus, buk." sungut Sinta mencuci otak ibuknya sendiri. "Iya juga ya, Sin. Ya suah kalau gitu ibuk mau masak, belum juga nyuci banyak tuh di belakang."ucap Bu Yatik beranjak dari duduknya menuju ke dapur. Sedangkan Sinta tersenyum lebar karna ia bisa lolos dari perintah sang ibuk. Padahal kalau hanya untuk masak tidak juga bakal bikin tangannya rusak memang dasarnya saja pemalas tapi bukannya itu juga salah Bu Yatik sendiri yang memanjakan Sianta sejak kecil. ______ Bella yang masih baru menempati rumahnya ia masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, seperti menata ulang perabotan rumahnya yang sudah tidak layak pakai Bella simpan bukan karna eman tapi karna semua yang ada di rumah ini menjadi saksi bisu kenangan bersama ibuknya. Bella yang belum selesai menyapu dan habis ngepel tiba-tiba ada tamu yang datang mengetuk rumahnya. Daa ia memang sedikit kotor badanya tapi Bella tak perduli karna memang ia belum selesai, Bella mengambil hijab bergonya dan mengintip tamu siapa yang datang. "Assalamu'alaikum." sapa tamu dari luar. "Waalaikumussalam," jawab Bella seraya membuka pintunya. Ternyata ibuk-ibuk yang datang ada tiga orang yang berdiri di depan rumah Bella, dia itu ibuk Hani, ibuk Tika dan ibuk jennah. "Iya ibuk-ibuk ada apa ya, ayo masuk." ajak Bella tidak enak kalau tidak mempersilahkan tamu masuk. "Tidak usah Bel, kami hanya sebentar cuma mau nganter undangan ini besok malam ada pengajian rutin bagi-bagi ibuk dan juga arisan, karna kamu sudah ada disini lagi dan kamu sudah menikah jadi kami ajak kamu untuk bergabung."ucap ibuk Hani yang memegang undangan. "Iya Bel, dulu kan ibuk kamu tidak pernah ikut kegiatan ibuk-ibuk di sini masak kamu, juga? Tapi ya nggak tahu kalau kamu nggak sanggup bayar arisannya atau nanti kamu tidak punya yang mau di suguhkan buat acara nanti."sela Bu Mirna yang tiba-tiba muncul entah dari mana tuh orang. "Insya allah aku ikut Bu, dan aku juga siap kok untuk bayar arisannya. Memang berapa?" tanya Bella, ia sedikit saja tak tersinggung sama ucapnya bu Mirna. "Cuma 50 ribu kok Bel," sahut bu Hani. "Iya Bu, saya ikut insya Allah besok malam saya hadir." kata Bella menerima undangan tipis berwarna putih. "Tapi kamu jangan berpakaian seperti ini ya Bel, malu-maluin sama ibuk-ibuk yang lain karna besok malam itu juga di hadiri sama ibuk RW juga." lagi-lagi bu Mirna menghina Bella. "Siap Bu, tenang saja saya akan memakai baju yang sopan nantinya." "Bukan hanya sopan saja tapi juga yang bagus, bukan daster kayak gini." ejek bu Mirna. "Ya sudah Bel, kami permisi dulu masih mau nganter undangan yang lain." pamit ibuk Hani dan temannya. "Iya Bu, sekali lagi makasih ya." kata Bella tersenyum ramah. "Hem. Sok manis," desis bu Mirna. "Harus kasih tahu jeng Yatik nih Kalau Bella juga ikut pengajian dan arisan." monolog bu Mirna sinis."Bun, Riska mau ayam kentaci itu," tunjuk anak kecil yang berumur empat tahun menunjuk mengarah pedagang kichen di pinggir jalan."Riska pengen ya, nak?" tanya Salma bundanya. Mereka baru saja dari ambil baju di penjahit atas perintah sang nenek.Salma menghela napasnya berat, terasa tercekat tenggorokannya saat dengar putrinya Riska pengen kentaci, padahal tadi dirumahnya lagi masak itu tapi sayang Riska dan Salma tidak kebagian, jatah lauk mereka hanya tempe dan tahu saja setiap hari padahal yang masak Salma tapi tak bisa menikmati hasil masakannya sendiri karna sang mertua selalu menghitung jumlah ikan dan lauk yang ada jika saja kurang satu dia pasti marah-marah dan pastinya juga Salma dan Riska anaknya yang di omelin tidak ada habis-habisnya."Sayang, Riska belinya nanti saja ya kalau Bunda sudah ada uanganya," ucap Salma teriris sebab ia tidak tahu kapan bakal punya uang."Ya Bunda, padahal Riska sudah pengen banget lagian kalau di rumah ada lauk enak kita juga tidak kebagian,"
"jangan seudzon Bu Mirna, mungkin Bella masih punya banyak stok makanan, jadi nggak belanja hari ini." ucap ibu-ibu yang tahu kemaren Bella belanja banyak."Dia bukan karena punya stok Bi, memangnya di rumah ada kulkas? tahu sendiri Bu juminten selama ini gimana hidupnya?" Ungkir Bu Mirna soal hidup almarhum Bu juminten.Tin tin."Loh, jeng Mirna mau kemana pagi-pagi sudah cantik?" tiba-tiba bu Mirna lewat dengan pakaian rapinya kayak orang mau senam."Biasa jeng Yatik aku mau ikut senam dulu biar tubuh tetep sexi lagian di rumah aku juga nggak sibuk, biasalah ada asisten yaang siaga," balas bu Mirna pertanyaan sholidnya itu."Enak banget jadi kamu ya Mir, bebas di rumah tidak ngapa-ngapain tapi rumah bisa bersih dan kinclong.""Ya ialah Mir, rugi donk punya menantu kalau tidak di andalkan." katanya dengan nada santainya."Kalau aku jadi menantunya Bu Mirna nggak bakal mau hanya di jadi'in pembantu saja, padahal di sana juga yang kerja suaminya Erik." bisik ibuk yang belanja yang jug
Loh! ibuk sudah datang, mana berkatnya?" todong Sinta pas melihat ibuknya duduk di ruang tamu sambil ngedumel padahal ia baru datang pengajian katanya."Kamu itu Sin, makanan meluluk yang di pikirin nggak ada lain apa selain itu." omel bu Yatik sama anak putrinya."Lah, ibuk di semprot setan dari mana sih, biasanya juga begitu kalau datang dari yasinan dapat berkat." batin Sinta curiga ibuknya habis Ketemu setan di jalan."Assalamu'alaikum, salam dari luar ternyata ilham Putra sulung bu Yatik baru pulang kerja jam sembilan anak itu makin hari makin rajin saja."Waalaikumsalam, kamu baru pulang Ham, lembur lagi?" sahut ibuk Yatik."Iya buk, ibuk habis dari mana? Kok wajahnya di tekuk gitu!" kata ilham yang sebenarnya tidak heran sama raut sang ibuk yang memang jarang damai itu."Dari pengajian di rumah Sohilah, tapi ibuk kessel," desis bu Yatik."Lah, kenapa, pulang pengajian kok kessel bukannya tambah adem hatinya?" balas ilham."Ya jelas ibuk kessal Ham, apa lagi sama tuh anak kere y
Ya kalau ibuk-ibuk mau menganggap seperti itu ya nggak papa saya nggak masalah apapun pekerjaan suami saya yang penting halal dan bisa membahagiakan istri." jawab Bella santai."Bagus memang itu yang terpenting Bu, ya sudah labih baik kita mulai acara yasinannya bila ada yang ingin di bahas kita lanjut nanti lagi pas selesai kocokan arisan." ucap Bu RT melerai keadaan agar tetep kondusif."Alah, jadi istri supir saja sok romantis pakeh ngomomg bisa ngebahagiakan istri di buat sensara iya." batin bu Yatik siriknya tidak bertempat.Yasinan pun selesai dan di tutup dengan do'a lalu di lanjut kembali kocokan untuk arisan selanjutnya dan ternyata di rumah bu Selamet."Selamat ya, Bu selamet pengajian dan arisan selanjutnya di rumah sampean." kata bu Nindi bagian megang keuangan.Dan acarapun di lanjut ramah tamah yang sambil di selingin obrolan dan sering sesama ibuk kampung sumber asih."Mbak Bela mungkin mau ikut arisan RW lumayan loh mbak dapat banyak, dan disana juga ada arisan emasnya
Sorry Ye! [ enak saja mau ngalahin saya ] Setelah sholat mangrib Bella baru selesai siap-siap yang mau berangkat pengajian di rumah ibuk sholihah, di luar suara ibuk-ibuk sudah berteriak memanggil nama Bella hingga membuatnya gopoh.Beruntung Bella sudah dandan tinggal ambil tas saja namun saat ia keluar kamar, Bella malah lupa mau makai perhiasan gelangnya namun suara gelegar ibuk-ibuk terdengar nyaring terpaksa Bella urungkan niatnya yang mau mengambil gelang alhasil ia berangkat dengan lengan kosong."Iya ibuk sebentar." sahut Bella perasaan masih baru mangrib kenapa pada kesusuk.Bella keluar yang sudah siap dengan setelan gamis syar'i nya yang baru ia beli kala mau kembali ke desa dan itu syar'i keluar terbaru rancangan desainer kelas atas limeted edicion itu keliatan dari banget dari kain dan bandrolnya."Bel, kamu lama banget keburu sudah di tinggal ibuk-ibuk dari tadi." ucap bu Nining yang nyamperin Bella."Iya bu, maaf baru selesai sholat bukankah waktunya masih kurang sete
Sementara itu Bella baru sampek depan rumahnya dan masuk,"Assalamu'alaikum."salam Bella. Ia mendapati sang suami baru saja selesai mandi dan tersenyum manis pada Bella."Waalaikumsalam sayang, udah selesai belanjanya? Kenapa tadi tidak nunggu Mas biar ku anter ke supermarket saja."jawab suaminya Bella, Rendi." Nggak papa Mas, lagian dekat kok tadi sayur dan ikannya juga segar-segar."sahut Bella, ia memang lebih memilih belanja di mang sayur selain dekat ia bisa bersedekah sama pedagang kecil."Ya sudah terserah kamu, yang penting kamu jangan capek-capek. Masak seadanyan dulu sebelum nanti kita pindah ke rumah baru kita dan dapat asisten ART." ucap Randi tak mau sang istri terlihat kecape'an."Iya, Mas tenang saja. Terimakasih banyak ya Mas, sudah mau tinggal di kampung ku sesuai keinginan almarhum ibukku." ucap Bella senang, karna almarhum ibuknya ingin jika Bella sukses tetep tinggal di kampungnya dan bisa berbagi sama tetangganya sendiri.Randi sudah menyiapkan rumah untuk Bella ya







