Ting! Ting!
Ponsel Aisyah berbunyi, pertanda sebuah pesan masuk. Ia raih ponsel tersebut, pesan dari Rian muncul di layar ponselnya. [Aisyah, nanti malam kita ketemu di tempat biasa ya.] Rian, lelaki yang setahun belakangan ini menjalin hubungan dengannya. Aisyah pikir, pria itu menjadi satu-satunya orang yang ia harapkan untuk membantunya. “Oke, Mas. Kebetulan aku juga ingin membicarakan sesuatu yang penting.” Aisyah membalas pesan itu, ia kemudian bangkit dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tak boleh larut dalam kesedihan. Dalam hati gadis itu, ia berharap agar Rian bisa menemukan solusi yang baik. “Semoga saja kamu bisa membantuku, Mas.” Gumam Aisyah lirih. Jelas saja ia berharap bahwa Rian pasti akan membantunya. Ia pikir, Rian pasti tidak akan rela bila Aisyah menikah dengan lelaki lain. °°° Pukul 19.30 wib. Rian dan Aisyah bertemu di sebuah cafe yang berada di dekat rumah gadis itu. Rian memang belum pernah menjemput Aisyah langsung di rumahnya, meski hubungan mereka terbilang cukup lama. Entah apa yang menyebabkan Rian bersikap seperti itu. Selama ini, pria itu selalu beralasan, jika dirinya belum siap untuk bertemu dengan keluarga Aisyah. “Mau bicara apa, Mas?” Tanya Aisyah saat mereka sudah duduk bersama sambil menikmati minum di cafe tersebut. Rian Menghela napas perlahan, pria itu menatap Aisyah dengan pandangan minta maaf, “Hem... Begini, Aisyah. Maaf, aku gak bisa nerusin hubungan kita!” Ucapnya to the point. Dada Aisyah terasa sesak, kerongkongannya seakan tercekat. Pria itu mengakhiri hubungannya begitu saja? “Maksud kamu kita putus??” Tanya Aisyah memastikan. Rian mengangguk, “Minggu depan pertunangan aku dengan Mila di laksanakan. Mama aku sudah menyiapkan semuanya, Aisyah!” Deg! “Tunangan, Mas?” Ulang Aisyah, terkejut bukan main. Tubuhnya hampir saja limbung saking kagetnya dengan penuturan sang kekasih. “Iya, Syah. Maaf, aku nggak bisa menolak perjodohan ini karena aku sangat menyayangi Mama aku!” Jelas Rian, semakin membuat pilu hati gadis itu. “Tapi, Mas. Kamu sendiri dulu yang bilang ingin memperjuangkan aku?” Aisyah masih tak percaya. “Maaf... Keputusanku sudah bulat, Aisyah! Lupakan saja, anggap semua hayalan kita selama ini hanya sebuah mimpi indah yang mampir sebentar!” Ucapnya dengan enteng. Setelah pria itu berbicara, Rian pun bangkit dan pergi begitu saja meninggalkan Aisyah yang sangat terpukul. Aisyah tak mencegah pria itu, ia masih duduk sambil meremas ujung bajunya. Sedetik kemudian air matanya mengalir tanpa ia sadari. Dunia rasanya tidak adil, pikirnya. Satu-satunya orang yang ia harapkan bisa menolongnya, tapi malah orang itu menambah luka yang sama perihnya. ‘Ya Allah... Bagaimana ini? Kenapa dia jahat banget sama aku...’ Batin Aisyah dalam hatinya, seiring dengan sesak yang menghimpit dada. “Ehem!” Aisyah terlonjak kaget saat mendengar suara deheman seorang pria yang saat ini berada di depannya. “Nangis lagi... Cengeng banget sih jadi cewek! Laki-laki pecundang kayak gitu ngapain kamu tangisin??!” Ucap pria itu. “Kamu??” Pekik Aisyah, gadis itu terkejut melihat Galih yang tiba-tiba berada di hadapannya. “Kamu itu suka banget nangis ya.” Ucap Galih. Gadis itu dengan cepat mengusap air matanya. Tak mau terlihat cengeng di depan pria sok dekat itu! “Siapa yang nangis? Aku cuma kelilipan!” Balas Aisyah, tak mau mengakui. “Hem... Laki-laki pecundang seperti dia ngapain di tangisin? Mending kamu aku anter pulang aja! Daripada tinggal disini nangis terus!” Tawarnya, sorot matanya penuh keseriusan. “Nggak usah! Makasih!” Aisyah buru-buru bangkit, kemudian berjalan keluar dari cafe tersebut. “Tunggu!” Seru Galih, membuat langkah Aisyah terhenti dan menoleh pada pria itu. “Karena kamu sudah jomblo... Lebih baik kamu terima tawaran aku! Daripada kamu harus menjadi istri ke empat juragan Bram.” “Nggak minat keduanya!!” Tegas Aisyah, ia kemudian melanjutkan langkah menuju parkiran untuk mengambil motornya. Setelah di area parkiran, Aisyah segera mencari sepeda motornya. “Ya ampun... Kenapa bannya harus kempes segala sih.” Gerutu Aisyah saat melihat ban motornya yang kempes. Ia menghembuskan napas berat, seberat masalahnya hari ini. Gadis itu akhirnya lebih memilih menuntun motornya untuk mencari bengkel terdekat. Namun, sudah jauh Aisyah berjalan, tetapi belum juga menemukan tanda-tanda adanya bengkel. “Ya Allah... Mana jalanan disini sepi banget lagi.’ Gumam Aisyah, merinding. Bukan hantu yang Aisyah takuti. Melainkan mahkluk bejat yang akhir-akhir ini selalu membuat onar di jalan. Siapa lagi jika bukan club motor yang meresahkan. Dari kejauhan, suara bising knalpot tiba-tiba terdengar. Jantung gadis itu seketika berdebar kencang. “Ya Allah, lindungi hambamu ini Ya Allah.” Ucapnya penuh ketakutan. Aisyah pun mengeluarkan seluruh tenaga untuk mendorong motornya dengan cepat. Suara bising knalpot itu semakin dekat. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuh gadis itu. Sorot lampu terlihat sangat terang dari arah belakang seiring dengan suara knalpot yang juga semakin mendekat ke arahnya. “Motor kamu kenapa?” Tanya seseorang dari samping. Aisyah menoleh ke arah sumber suara, “Kamu lagi?!” Pekiknya. “Ooh, ban motor kamu kempes.” Ujarnya setelah melihat ban motor Aisyah. “Berhenti dulu!” Pinta Galih. Tak menghiraukan perkataan Galih, Aisyah terus saja berjalan sambil menuntun motornya. “Dasar cewek budek.” Umpat Galih, kesal. “Aku budek karena knalpot kamu yang bocor itu.” Jawab Aisyah judes. Bibir Galih seketika melengkung, tersenyum samar. Ia pun mematikan mesin motornya, lalu berhenti di pinggir jalan. Galih berjalan mendekati Aisyah, ingin mengecek ban motor gadis itu. “Jam segini gak ada bengkel yang buka. Motornya di tinggal aja, biar aku yang antar kamu pulang!” Tawar Galih. Aisyah mendelik. Apa mau pria ini sebenarnya? “Iih... Modus! Gak mau ah.” Tolak Aisyah. Sejujurnya, ia takut melihat penampilan Galih yang seperti preman bejat. “Oh, ya udah! Terserah kamu aja sih. Tapi jangan nangis lagi kalau nanti kamu ketemu geng motor terus kamu di_” Aisyah bergidik ngeri membayangkan perkataan Galih barusan. “Tunggu! Iya iya! Aku ikut, tapi kamu jangan apa-apain aku.” Potong Aisyah cepat. “Gak selera!” Sahut Galih, membuat Aisyah berdecak kesal. Dengan rasa terpaksa, ia ikut dengan Galih. Gadis itu tidak ada pilihan lain, daripada harus mendorong motor sampai rumahnya dengan segala resikonya, lebih baik ia terima tawaran pria itu. Ia berharap, semoga Allah melindunginya dari preman yang satu ini. “Motorku gimana?” Tanya Aisyah saat Galih menyuruhnya ikut di motor pria itu saja. “Nanti aku suruh orang buat anterin motor kamu!” Jawab Galih sambil menyalakan mesin motornya. “Astaga... Berisik sekali suara motormu ini!” Gerutu Aisyah. Aisyah dengan menahan rasa kesal, naik ke motor tepat di belakang pria itu. Galih tak menggubris perkataan Aisyah. Ia kemudian melajukan motor, meninggalkan tempat tersebut. “Pegangan!” Teriak Galih. “Udah! Ini aku udah pegangan!” Sahut Aisyah sedikit berteriak, suara knalpot motor Galih sangat berisik.“Halo Dio, ada apalagi? Mama gak kuat liat Papamu lama-lama,” Ucap Renita masih dengan suara parau. [Maa... Papa, Ma...] “Iya, Mama sudah memaafkannya Dio. Bilang sama Papamu, Mama sudah memaafkannya!” Ujar Renita dengan dada yang sesak. [Maa... Papa pergi, Ma. Papa pergi...] “Pergi? Pergi ke mana maksud kamu Dio?” Tanya Renita, jantungnya seketika berdebar-debar. [Papa pergi meninggalkan kita untuk selamanya, Ma...] Deg! Tubuh Renita seketika lemas. “Ka-Kamu gak bohong kan Dio?” Tanyanya dengan suara bergetar. [Enggak, Ma. Ini Dio lagi di RS, tadi abis nelpon Mama, Papa langsung drop, pas perjalanan ke RS kondisi Papa makin lemah, dokter barusan bilang kalau Papa udah gak ada, Ma...] [Dio bingung, Ma. Ini jenazah Papa mau dimakamkan di mana?] “INNALILAHI WAINNAILAIHI RAJI'UN... Bawa ke sini Dio. Makamkan di sini saja!” Jawab Renita tanpa banyak pikir. [Jenazah Papa di bawa pulang ke rumah?] “Iya, rumah itu akan menjadi milikmu kelak, dan kamu berhak membawa Papamu ke sana
Beberapa bulan berlalu sejak hasil tes DNA itu keluar, hubungan Dio dan Renita tetap baik-baik saja, bahkan di katakan jauh lebih baik dari sebelumnya. Renita sama sekali tak mengurangi kasih sayangnya, hanya saja terkadang Dio sendiri yang merasa sungkan karena merasa tak pantas mendapatkan semua kasih sayang dari Renita. Terasa berat untuk menerima kenyataan ini bagi Renita. Namun, ia sudah ikhlas. la yakin bahwa apa yang di gariskan Tuhan dalam hidupnya tidak akan pernah salah. Setelah hasil tes DNA itu keluar, Dio juga akhirnya meminta Wijaya untuk mengatakan dimana letak pemakaman anak kandung Renita yang sebenarnya. Ternyata Wijaya memakamkan anaknya di dekat makam keluarganya. Renita dan yang lainnya pun langsung mendatangi makam itu. Meskipun makam bayi, ternyata Wijaya memberikan tempat yang istimewa, bahkan di tata dan di rawat selayaknya makam orang dewasa. Renita juga tak bisa menyalahkan Wijaya sepenuhnya, lagi-lagi ia berusaha ikhlas dalam menerima takdir dalam hidu
“Bisa langsung to the point saja gak sih, Bang?!” Pinta Dio jengah, lelah membuatnya enggan banyak bertanya. “Nunggu Mama dulu. Sebentar lagi Mama turun,” Jawab Galih. Dio menghela napas panjang, ia pun beristirahat sambil menunggu Ibunya turun. Beberapa menit kemudian, Renita akhirnya turun juga dan langsung menyapa putranya yang baru saja datang. “Bagaimana perjalananmu, Dio? Macet gak?” Tanya Renita sambil berjalan menghampiri kedua putranya. “Gak kok, Ma. Buktinya Dio bisa sampai sini tepat waktu,” Jawab Dio. la memang berangkat tengah malam agar pagi-pagi sudah sampai di rumah. Tak mau membuang waktu, Renita pun akhirnya menjelaskan maksudnya kenapa meminta Dio pulang kali ini. la menceritakan semua kronologinya mulai dari cerita Wijaya yang tak di percaya oleh Renita itu. “Jadi Papa bilang aku bukan anak kandung Mama?” Ulang Dio, memastikan bahwa kabar yang baru di dengar itu tidak salah. Renita mengangguk. “Itu hanya ucapan Papa kamu aja, Dio. Nyatanya Mama mengandung
Galih masih tercengang setelah mendengar cerita Renita, “Jadi sebenernya yang ngejar itu Tante Indri? Bukan papa?” Tanya Galih memastikan. “Halah sama saja! Papa kamu aja yang bodoh! Sudah Mama peringatkan sejak dulu, masih aja bisa ketipu sama si janda itu. Entah apa yang di lakukan si janda itu sampai papamu akhirnya tergoda. Dasarnya bajingan ketemu wanita bajingan ya begitu.” Ungkap Renita, berusaha menahan kesal dalam dada, ia sudah berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. “Ma...” Panggil Galih pelan, merasa sangat iba, ia menatap Ibunya dengan raut wajah yang sendu. “Mama gak apa-apa, Nak. Mama sudah ikhlas, sekarang biarkan Papamu menikmati hasil dari apa yang lakukan. Mama juga gak akan balas dendam pada mereka. Biarkan karma berjalan sesuai dengan ketentuan Tuhan. Mama sudah cukup puas dengan mengalihkan semua aset dan berpisah dari lelaki itu.” Ujar Renita seraya menyunggingkan senyum. Senyum yang menutupi segala kesakitannya. “Mama hebat! Galih sangat bangga sama Mama!” U
Indri mendadak berdiri dari kursinya, wajahnya memerah dengan amarah bercampur kepanikan. “Ini pasti salah, Dokter! Anda pasti salah memeriksa,” Ujar Indri dengan suara gemetar. Masih tak bisa menerima. Tanpa menunggu jawaban dari dokter, Indri menoleh ke arah Rian yang tampak bingung dan cemas. “Ayo, kita pulang saja, Rian! Tidak ada gunanya periksa di sini!” Indri segera melangkah keluar ruangan dengan terburu-buru, air mata mulai mengalir di pipinya. Hati Indri begitu kalut, tak sanggup menerima kenyataan pahit yang baru saja ia dengarkan. Sementara itu, Rian masih duduk terpaku, mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi. Dengan berat hati, ia menatap ke dokter dengan serius. “Dok, saya mohon, tolong jelaskan bagaimana cara penyembuhan penyakit ini? Apa yang harus kami lakukan?” Tanya Rian dengan nada penuh harap. Dokter menghela napas sejenak lalu menjelaskan dengan tenang bahwa HIV memang belum bisa di sembuhkan sepenuhnya, tetapi dengan pengobatan yang tepat, pasien
Sebelum menemui istrinya di balkon kamar, Galih lebih dulu masuk ke kamar Ibunya. Ternyata Renita sudah tertidur pulas, wanita itu terlihat pucat, tak seperti biasanya. Galih menghampiri dan berdiri di samping ranjang, ‘Ma, lekas sehat ya, besok Mama harus melakukan tes!! Galih gak akan maafin Papa kalau sampai Mama tertular penyakit itu!’ Batin Galih. Ia tak akan bisa memaafkan perbuatan Wijaya yang berimbas hal fatal seperti ini. Galih kemudian membetulkan selimut Renita, kemudian mengecup kening Ibunya dengan penuh kasih sayang. Ia pun keluar dan menutup pintu dengan hati-hati. “Mama sudah tidur ya, Mas?” Tanya Aisyah. Mereka kini berada di balkon kamarnya yang ada di lantai atas. Galih mengangguk, “Iya, Sayang...” Jawabnya lembut. “Syukurlah, kasian Mama, Mas... Sepertinya Mama lagi banyak pikiran sampai akhirnya drop seperti itu,” Ujar Aisyah merasa iba pada Ibu mertuanya. “Mama masih sering nangis gak, sayang?” Tanya Galih, penasaran. Ingin tahu apa saja yang di lakukan I