LOGINCeleste tidak bisa tidur nyenyak malam itu.
Bagaimana bisa?
Ada pria asing di rumahnya, meskipun secara teknis pria itu adalah suaminya yang sah.
Dia sudah mengunci pintu kamar dengan semua kunci yang tersedia, bahkan mendorong lemari pakaian besar ke depan pintu sebagai penghalang tambahan.
Tapi tetap saja, pikirannya tidak bisa tenang.
Bagaimana kalau Ryan mencoba masuk?
Bagaimana kalau dia memiliki niat jahat?
Celeste terjaga hingga tengah malam, telinga menajam menangkap setiap suara kecil dari luar kamar.
Tapi rumah tetap sunyi. Sangat sunyi. Bahkan terlalu sunyi.
Hingga akhirnya, sekitar pukul dua dini hari, Celeste tertidur karena kelelahan.
Keesokan paginya, dia terbangun dengan mata sembab dan kepala berdenyut. Alarm di ponselnya berbunyi pukul enam pagi, waktu biasa dia bangun untuk bersiap-siap berangkat kerja. Dengan langkah gontai, Celeste mendorong lemari yang menghalangi pintu, membuka kunci, dan keluar dari kamar.
Dia menuju kamar mandi untuk cuci muka dan memulai rutinitas pagi,
Lalu berhenti di tengah koridor.
Dengkuran.
Suara dengkuran keras datang dari arah ruang tamu.
Celeste berjalan pelan, mengintip ke ruang tamu. Di sana, Ryan masih tertidur pulas di sofa, satu tangan tergantung di tepi sofa, mulut sedikit terbuka, dan suara dengkuran yang... sangat keras.
Celeste menggertakkan giginya.
Jadi selama dia tidak bisa tidur semalam karena khawatir akan keselamatannya, pria ini tidur seperti bayi? Bahkan mendengkur?!
"Menyebalkan..." gumam Celeste kesal sambil masuk ke kamar mandi.
Tapi ada satu hal yang dia syukuri, setidaknya Ryan tidak mencoba masuk ke kamarnya semalam.
**
Empat puluh menit kemudian, Celeste keluar dari kamarnya dengan makeup sempurna, rambut rapi diikat french twist, mengenakan blazer hitam, rok pensil navy, dan sepatu hak tinggi.
Siap untuk hari di kantor.
Dia berjalan ke ruang tamu lagi, dan Ryan sudah tidak ada.
Hanya ada secarik kertas di atas meja.
Celeste mengambil kertas itu dan membaca:
"Sayang, aku sudah siapkan sarapan. Ada bubur di panci, makan yang hangat dulu sebelum berangkat kerja. Jangan lupa sarapan.
-Ryan"Di bawah tulisan itu ada gambar smiley yang digambar dengan canggung.
Celeste menatap kertas itu dengan perasaan... rumit.
Campuran antara kesal, bingung, dan sedikit... tersentuh?
"Aneh," gumamnya sambil meremas kertas dan melemparnya ke tempat sampah. "Siapa yang punya waktu makan bubur di pagi hari? Aku selalu terburu-buru!"
Dia berjalan ke dapur untuk mengambil susu dari kulkas, kebiasaannya setiap pagi. Tapi saat membuka kulkas, ada kertas lain menempel di karton susu.
"Aku tahu kamu akan langsung ke kulkas mencari susu. Jangan minum susu dingin saat perut kosong! Aku sudah menghangatkan susunya dan menaruh di termos di meja makan. Ada roti panggang juga. Makan rotinya dulu, baru minum susu. Jaga kesehatan.
-Ryan (lagi)"Ada gambar smiley lagi di bawahnya.
Celeste menatap kertas itu lama. Lalu menghela napas panjang.
Dengan langkah yang sedikit gontai, dia berjalan ke meja makan. Benar saja, ada termos berisi susu hangat, dan di sampingnya piring berisi tiga potong roti panggang dengan selai strawberry yang ditata rapi.
Celeste duduk. Makan rotinya dalam diam. Minum susunya pelan-pelan.
Rasanya... enak.
Setelah selesai, dia menatap piring kosong itu dengan perasaan bersalah yang aneh. Lalu menggeleng keras.
"Jangan terpengaruh, Celeste," gumamnya sambil berdiri. "Dia hanya ingin mencari perhatian. Sebentar lagi pasti dia akan meminta uang."
Dia mengambil tasnya, keluar dari rumah, dan berangkat kerja dengan mobil pribadinya.
Tapi sebelum naik ke mobil, dia melirik kembali ke rumah, dan untuk sesaat, dia merasa sedikit bersalah karena sudah melempar kedua kertas dari Ryan ke tempat sampah.
"Ah, sudahlah!"
Celeste masuk ke mobil dan pergi.
**
Sementara itu, Ryan sudah tiba di depan gedung Moonbrook Tower, gedung pencakar langit besar tempat Thornfield Group dan Horizon International berlokasi.
Ryan bangun pukul lima pagi. Kebiasaan lama dari kehidupan sebagai tentara bayaran, jam biologisnya sudah terlatih sempurna. Dia memasak bubur untuk Celeste, menghangatkan susu, memanggang roti, lalu pergi lebih awal.
Tidak ingin terlambat untuk melamar pekerjaan.
Sekarang dia berdiri di depan gedung, mengenakan kemeja putih sederhana dan celana jeans, pakaian paling rapi yang dia miliki. Dia akan melamar sebagai satpam seperti yang disarankan Celeste kemarin.
Dari War God Ares yang ditakuti di seluruh dunia... menjadi satpam.
Hidup memang penuh kejutan.
Ryan berjalan mendekati pintu masuk gedung dan melihat sekelompok satpam berkumpul di depan pintu. Tampaknya ada masalah.
"Kau berani menghalangi saya?! Mau berantem?!"
Suara melengking yang familiar terdengar. Ryan mengerutkan kening. Dia mengenali suara itu.
Ryan berdiri dari kursinya dengan gerakan yang tenang.Celeste menatapnya dengan terkejut. "Apa yang kau lakukan? Saya belum selesai berbicara.""Saya pikir sudah jelas," kata Ryan. "Anda ingin saya pergi. Baiklah. Saya akan pergi."Dia berbalik dan berjalan menuju pintu.Celeste terpaku. Tangan Ryan sudah di handle pintu."Ryan, tunggu!" kata Celeste tanpa berpikir.Ryan berhenti. Dia berbalik sedikit. "Ya?"Celeste membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. "Aku... saya maksudnya... lalu apa yang akan kau lakukan?"Ryan mengangkat bahu dengan santai. "Ke Horizon International di sebelah untuk menemui Nona Sinclair. Dia sudah menjanjikan saya posisi manajer dengan gaji tiga puluh juta per bulan.""KAU TIDAK BOLEH KE HORIZON INTERNATIONAL!"Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Celeste sebelum dia bisa menahannya. Begitu dia menyadari apa yang dia katakan, wajahnya langsung memerah.Ryan menatapnya dengan sedikit terkejut.Celeste menenangkan diri. Horizon International milik Elara
Emma Snow dan Ryan berdiri di dalam lift yang bergerak naik dengan tenang. Keheningan yang sangat tidak nyaman menyelimuti ruang sempit itu.Emma berdiri dengan postur sempurna di sudut lift, menatap angka lantai yang berubah tanpa melirik Ryan sedikitpun. Wajahnya dingin dan profesional, seperti patung es yang tidak bisa disentuh.Ryan berdiri dengan santai di sisi lain lift, tangannya di saku celana. Dia mencoba mencairkan suasana."Sudah lama bekerja untuk Presiden Thornfield?" tanya Ryan dengan nada ramah."Tiga tahun," jawab Emma dengan singkat tanpa menoleh. Suaranya datar, tidak memberikan ruang untuk percakapan lebih lanjut."Pasti menyenangkan bekerja dengannya."Emma akhirnya melirik Ryan dengan tatapan yang tajam dan penuh penilaian. "Presiden Thornfield adalah pemimpin yang sangat baik dan sangat profesional. Saya menghormatinya dengan sepenuh hati."Nada bicaranya seperti memberikan peringatan halus: jangan macam-macam dengan bossku.TING!Lift berbunyi saat tiba di lanta
Daniel Hayes menutupi pipinya yang bengkak sambil menatap Ryan dengan tatapan penuh dendam yang menyala-nyala. Matanya berputar-putar seakan-akan melihat bintang karena efek tamparan keras tadi. Tetapi karena ada David dan Sophie di ruangan, dan dia tidak ingin kehilangan muka lebih jauh lagi, dia hanya berkata dengan gigi yang terkatup rapat, "Tidak... apa-apa."Ryan membantu Daniel duduk di sofa kecil di samping ruangan dengan sikap yang sangat perhatian, seolah benar-benar merasa bersalah atas "kesalahpahaman" tadi.David menatap Ryan dengan kagum sekaligus bingung. Temperamen macam apa yang dimiliki orang ini? Satu detik dia bisa sangat garang seperti singa yang melindungi wilayahnya, detik berikutnya dia terlihat sangat jujur dan penuh penyesalan. Transisi terlalu cepat sampai dia tidak bisa mengikuti ritmenya!Sophie menatap Ryan dengan pandangan yang kompleks. Awalnya dia merasa sangat berterima kasih karena Ryan membelanya dari pelecehan Daniel. Tetapi setelah melihat R
"Baiklah, baiklah," kata Marcus sambil bertepuk tangan untuk menarik perhatian semua orang. "Cukup bergosip. Ryan, ayo kita urus dokumen keamananmu. Setelah selesai, kau bisa langsung mulai bekerja.""Terima kasih, Bro Marcus."Ternyata, dengan dukungan tidak langsung dari kedua presiden cantik itu, dokumen keamanan Ryan diproses dengan sangat lancar. Dalam waktu kurang dari satu jam, semua administrasi selesai dan dia resmi menjadi anggota tim keamanan Moonbrook Tower.Tim keamanan terdiri dari 31 orang termasuk Ryan, dibagi menjadi tiga kelompok yang bertugas secara bergiliran. Marcus Stone adalah kepala tim keamanan sekaligus memimpin kelompok pertama. Ryan ditugaskan ke kelompok Marcus.Karena ini hari pertamanya, Ryan tidak langsung diberi tugas patroli. Marcus yang terlalu sibuk dengan pekerjaan administrasi meminta David Porter untuk membawa Ryan berkeliling mengenal lingkungan kerja dan area patroli."Bro Ryan, ikut saya," kata David dengan ramah. "Saya akan menunjukkan rua
Keheningan yang canggung menyelimuti area depan Moonbrook Tower.Ryan dan Celeste saling menatap. Elara berdiri di antara mereka dengan ekspresi bingung, mencoba memahami situasi yang tiba-tiba menjadi tegang ini.Marcus dan para satpam lainnya juga merasakan atmosfer yang aneh, tetapi tidak berani bertanya.Celeste adalah orang pertama yang memecah keheningan. Dia menatap Ryan dengan tatapan tajam yang seolah mengatakan "jangan macam-macam," lalu sedikit mengangkat dagunya dan berjalan melewati Ryan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan ritme yang tegas saat dia memasuki gedung.Ryan menatap punggung Celeste yang menjauh dengan ekspresi rumit.Elara memperhatikan interaksi singkat antara Ryan dan Celeste dengan rasa penasaran, tetapi dia tidak bertanya. Sebagai gantinya, dia kembali fokus pada tawaran yang sudah dia berikan."Jadi, Ryan," kata Elara sambil melipat tangannya. "tiga puluh juta per bulan, belum termasuk bonus dan komisi. Ini taw
Marcus tertawa, pertama kali sejak insiden dimulai. "Orang biasa? Orang biasa tidak bisa memukul Garrett Blackwood seperti itu dan tetap tenang." Dia mengulurkan tangannya. "Marcus Stone. Kepala keamanan Moonbrook Tower."Ryan menjabat tangannya. "Ryan Hendrikson.""Dengar, Ryan," kata Marcus dengan nada serius. "Aku menghargai apa yang kau lakukan tadi. Kami semua menghargainya. Tapi... kau harus tahu konsekuensinya. Garrett akan melapor ke ayahnya. Ayahnya akan telepon perusahaan security kami. Dan kemungkinan besar...""Aku akan dipecat sebelum sempat dipekerjakan?" Ryan menyelesaikan kalimatnya."Ya," jawab Marcus dengan nada menyesal."Tidak masalah," kata Ryan. "Saya sudah terbiasa dengan situasi sulit."Marcus menatapnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, salah satu satpam muda berteriak..."Pak Marcus! Nona Sinclair datang!"Semua orang menoleh.Suara sepatu hak tinggi terdengar dari arah gedung. Seorang wanita cantik berjalan keluar d







