MasukSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Pengunjung1341 dan Kak Edi Muwasin atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Gem: 10/15 Akumulasi Hadiah: 440/100 Yuk tambah Gem atau Hadiah untuk bab bonus (◍•ᴗ•◍) Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
Lima tahun kemudian. Vila Silverwood sudah berdiri lagi. Bangunannya lebih kuat, halamannya lebih luas, dan setiap sudutnya memiliki lapisan perlindungan yang tidak bisa dilihat mata biasa. Namun bagi Celeste, itu tetap rumah. Bagi Ryan, itu tempat paling berbahaya di dunia. Bukan karena musuh. Melainkan karena ada dua orang di dalamnya yang bisa membuatnya menyerah tanpa perlawanan. Satu adalah Celeste Thornfield. Yang satu lagi adalah anak perempuan kecil berusia empat tahun yang sedang berdiri di depan Ryan dengan kedua tangan di pinggang. Namanya Aruna Hendrikson. Rambutnya hitam lembut, matanya tajam seperti Celeste, tapi senyumnya jelas menurun dari Ryan. "Papa." Ryan yang sedang duduk di pos keamanan Thornfield Group mengangkat kepala. "Iya, Bos Kecil?" Aruna menunjuk seragam satpam yang Ryan kenakan. "Kenapa Papa masih jadi satpam?" Ryan menjawab serius, "Karena pekerjaan ini mulia." Aruna menyipit. "Mama bilang Papa cuma malas pakai jas." Ryan terdiam. Di be
Cahaya emas membelah langit malam. Untuk sesaat, seluruh dunia seperti kehilangan suara. Raja Dewa Dosa membeku di dalam tubuh Crimson. Kabut hitam yang menguasainya ditarik paksa oleh Aether, seperti akar busuk yang dicabut dari tanah terlalu dalam. Ryan menekan gagang pedang dengan kedua tangan. Darah terus mengalir dari telapaknya, meresap ke retakan Aether. Setiap tetes membuat cahaya pedang semakin terang. Setiap cahaya membuat wajah Ryan semakin pucat. Namun ia tidak mundur. Crimson masih menggenggam bilah itu dari sisi lain. Telapak tangannya terbakar oleh cahaya emas, tapi ia tidak melepas. "Crimson..." suara Ryan serak. "Lepaskan." Perempuan itu menatapnya dengan mata jernih yang tinggal separuh sadar. "Perintah pertamaku padamu dulu apa?" Ryan membeku. Kenangan lama muncul. Medan perang bersalju. Tubuhnya yang masih muda tergeletak penuh luka. Crimson berdiri di depannya, dingin seperti malam, lalu berkata tanpa belas kasihan, "Kalau ingin hidup, jangan tutu
Benturan itu menelan seluruh halaman. Cahaya emas dan kabut hitam saling memakan. Tanah terangkat seperti gelombang. Sisa pagar vila tercerabut dari fondasinya, lalu terlempar ke jalan. Kaca mobil di garasi pecah satu per satu. Ryan terpental lebih dulu. Punggungnya menghantam dinding samping yang belum runtuh. Retakan menyebar di belakangnya. Ia jatuh dengan satu lutut, napasnya berat, darah menetes dari hidung dan sudut bibir. Aether masih berada di tangannya. Namun bilah itu tidak lagi diam. Retakan emasnya menyala seperti urat hidup. Setiap kali darah Ryan menetes ke permukaannya, cahaya itu menjadi sedikit lebih terang. Raja Dewa Dosa berjalan mendekat memakai tubuh Crimson. Di sekelilingnya, kabut hitam membentuk enam wajah samar. Mereka berbisik, tertawa, dan menggeram, seolah dosa-dosa dunia sedang berkumpul untuk menertawakan manusia. "Kau bahkan belum bisa memakai setengah kekuatan pedang itu," ucapnya. Ryan berdiri perlahan. "Aku memang suka belajar sambi
Begitu suara Raja Dewa Dosa jatuh, tubuh Crimson lenyap dari pandangan. Ryan hanya sempat melihat kabut hitam terbelah. Detik berikutnya, lutut menghantam perutnya. Duar! Tubuh Ryan terangkat dari tanah, lalu terpental menabrak sisa pagar vila. Besi pagar melengkung, tanah retak, dan darah langsung menyembur dari mulutnya. Celeste menahan napas. Di tengah reruntuhan ruang tamu, ia memeluk Mina dengan satu tangan dan menarik Hannah dengan tangan lain. Hannah gemetar hebat, tapi tetap membantu menopang tubuh Mina yang hampir tak sadar. "Ryan!" Hannah berseru panik. Ryan tidak menjawab. Ia memaksakan tubuhnya berdiri, namun sebelum lututnya lurus, tubuh Crimson sudah muncul di depannya. Wajah perempuan itu dingin. Cantik. Kosong. Namun cara berdirinya membuat dada Ryan terasa sesak. Itu adalah posisi bertarung Crimson. Bahu sedikit turun, tangan kanan siap menusuk, kaki kiri menahan titik berat. Ryan mengenalnya terlalu baik. Dulu, posisi itu muncul setiap kali Crimson aka
Begitu Ryan selesai bicara, seluruh vila bergetar. Dinding ruang tamu retak. Lampu gantung pecah. Kaca jendela meledak bersamaan, lalu angin hitam menerobos masuk seperti gelombang kematian. Celeste langsung menunduk melindungi Mina. Dari lantai atas, terdengar jeritan Hannah. Ryan bergerak lebih dulu. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di depan sofa, menahan gelombang hitam itu dengan kedua tangan. Lantai di bawah kakinya retak. Darah mengalir dari sudut bibirnya. "Ryan!" Celeste berseru. "Jangan bergerak!" Suara Ryan belum selesai ketika atap vila terbelah. Bam! Sebagian langit-langit runtuh. Debu memenuhi ruangan. Angin malam masuk bersama kabut hitam pekat. Di tengah kabut itu, sesosok perempuan berdiri. Rambutnya panjang. Wajahnya cantik, dingin, dan pucat seperti mayat. Tatapannya kosong, tapi auranya terasa tajam seperti pedang yang sudah terlalu lama berlumur darah. Ryan membeku. Untuk pertama kalinya malam itu, semua kelakar hilang dari wajahnya. "Crimson..
Vila Silverwood masih terang ketika Ryan tiba. Di punggungnya, Mina bersandar lemah. Zirahnya retak, rambutnya kusut, dan darah mengering di sudut bibirnya. Napas gadis itu tipis, tapi masih stabil. Ryan berhenti di depan pintu. "Kaisar..." Mina berbisik. "Kenapa berhenti?" "Aku sedang menghitung peluang hidupku." Mina membuka mata sedikit. "Musuh masih ada?" "Lebih buruk." Ryan menatap pintu vila. "Istriku ada di dalam." Pintu utama terbuka sebelum Ryan sempat mengetuk. Celeste berdiri di ambang pintu, wajahnya dingin. Di belakangnya, Hannah memeluk bantal. Begitu melihat kondisi Mina, wajah Hannah langsung berubah pucat. Ia tahu. Bukan tahu semuanya, tapi cukup tahu bahwa luka seperti itu bukan karena kecelakaan biasa. Dulu, Hannah pernah melihat Ryan dan Mina bertarung. Ia juga pernah membantu menyembunyikan luka Mina dari Celeste. Celeste menatap Ryan, lalu Mina, lalu noda darah di pakaian Ryan. "Ryan Hendrikson." Ryan tersenyum kaku. "Presiden Thornfield, belu
Setelah Ryan berkelahi dengan serius, orang-orang yang tersisa dan masih bisa berdiri berkumpul di sekitar Victor dengan rapat. Entah sedang mempertahankan bos mereka atau memang tidak berani maju lagi setelah melihat kehebatan Ryan.Ryan berjalan terus maju dengan langkah santai tapi mengancam.
"Kau mau apa sebagai taruhan?" Ryan bertanya langsung, matanya tidak berkedip menatap Victor. "Bagaimana kalau kau mempertaruhkan dia saja?" Victor menatap Hannah dengan tatapan sempit yang penuh nafsu tidak senonoh. Lidahnya bahkan menjilat bibir. "Kau menang, mobil dikembalikan. Kau kalah, biar
"Benar. Aku sangat puas dengan mobil ini." Victor menepuk bahu Lucas dengan senyum lebar, tapi matanya dingin. "Bagus sekali pekerjaanmu." "Kak Victor, soal imbalannya..." Lucas menggosok tangannya dengan gugup sambil membungkuk sedikit pada Victor, gesture yang merendah. Pria berkepala botak itu
"Jadi cuma bisa bertaruh lagi untuk mendapatkannya kembali?" Ryan berpikir cepat, otaknya mengkalkulasi berbagai kemungkinan. Cara paling bisa diandalkan hanya ini. Terlalu besar gerakannya kalau langsung pergi merampas dengan kekerasan. "Hmm..." Hannah bergumam pelan dengan suara yang hampir tid







