ANMELDENSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Pengunjung1341 dan Kak Edi Muwasin atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Gem: 10/15 Akumulasi Hadiah: 440/100 Yuk tambah Gem atau Hadiah untuk bab bonus (◍•ᴗ•◍) Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
Ryan tidak bergerak dari tempatnya. Matanya tetap di arah bangunan yang baru runtuh itu.'Belum selesai.'Dia merasakannya. Aura Frost Howl masih ada, redup tapi belum padam. Tekanan energi yang ia kumpulkan untuk Murka Sang Dewa tidak ia lepaskan sepenuhnya. Masih ada sisa yang ia tahan, siap dilepaskan kapanpun diperlukan.Instingnya tidak pernah salah.Dari bawah runtuhan itu, suara tawa muncul. Pelan dulu, lalu semakin keras.Beton pecah. Besi bengkok tersingkir. Frost Howl berdiri kembali dari puing-puing yang menimpanya, bahunya gemetar bukan karena kesakitan melainkan karena tawa yang ia tahan."Hanya segini?" Ia menatap Ryan dengan wajah penuh ejekan, alur merah tua di kulitnya berdenyut lebih cepat dari sebelumnya. "Ini yang disebut jurus terkuat War God Ares? Mengecewakan sekali."Para werewolf yang masih hidup menghela napas lega bersamaan. Plot berbalik. Frost Howl masih hidup, bahkan menertawakan pukulan terkuat itu.Tapi kemudian sesuatu berubah.Frost Howl terdiam.
Para werewolf yang tadi berlari tunggang-langgang mendadak berhenti.Bukan karena mereka memilih untuk berhenti. Tekanan dari ledakan energi itu menekan dari segala arah, membuat tubuh mereka terasa berat seperti ditekan ke tanah oleh tangan raksasa yang tidak terlihat. Kaki mereka tidak bisa melangkah maju.Tapi di balik rasa takut itu, sesuatu yang lain mulai tumbuh.Aura itu familiar.Sangat familiar."Itu... Frost Howl!"Tidak jelas siapa yang berteriak pertama. Tapi begitu satu nama itu disebut, kepala-kepala yang tadinya tertunduk mulai terangkat. Mata-mata yang tadinya kosong mulai menyala kembali. Satu per satu, tulang punggung mereka menegak.Harapan.Aura yang mengembang dari pusat ledakan bukan aura asing. Itu aura yang sudah mereka kenal selama bertahun-tahun, penjamin kelangsungan markas Corvinia ini. Aura Frost Howl. Tapi bukan aura yang sama seperti sebelumn
Werewolf-werewolf yang berhasil lolos dari ledakan Marcus sudah mencapai jarak dekat dengan Ryan dan Adrian. Tapi yang menyambut mereka bukan Ryan. "Astaga, ribut sekali." Sebuah belati berputar ringan di antara jari-jari tangan kanan seseorang yang baru muncul dari sisi kiri arena. "Aku sudah bilang berkali-kali, lupakan seni membunuh yang halus kalau sudah berurusan dengan werewolf. Tapi tidak ada yang pernah mau mendengar." Dixon Harper menghela napas pendek, lalu melangkah maju. Belati itu berkilat sekali di bawah cahaya ledakan yang masih meredup di kejauhan. Yang terjadi berikutnya terlalu cepat untuk diikuti dengan mata biasa. Dixon menerobos dari sisi kiri, belatinya menyayat tiga tenggorokan sekaligus dalam satu ayunan bersih. Tiga tubuh ambruk tanpa sempat berteriak, darah mengucur deras ke tanah. Tanpa berhenti, ia berputar ke kanan dan menghantam siku werewolf keempat dengan tumitnya. Sendi itu terbalik arah dengan bunyi patah yang nyaring, dan pemiliknya jat
Suara-suara bersahutan di antara para werewolf yang mengawasi dari kejauhan. "Pasti ketakutan! Lihat saja tadi, dia terus mundur!" "Betul! Bahkan War God Ares pun gentar menghadapi Frost Howl kita!" Mereka yang tadi membisu saat botol keempat dikeluarkan kini menemukan keberanian kembali lewat mulut masing-masing. Tapi meski suara-suara itu keras, bahu mereka tidak sepenuhnya rileks. Beberapa di antara mereka mengepalkan cakar tanpa sadar, mata melirik ke arah pusaran asap yang masih mengepul perlahan di tengah arena. Nasib mereka malam ini bergantung pada satu pertanyaan yang belum terjawab, apakah Frost Howl berhasil menembus batas Ranah Super God, atau tidak? Kalau berhasil, Blood Raven mendapatkan Serigala Nol yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kekuatan yang selama ini bergantung pada Bilah Vane akan menjadi milik Frost Howl secara penuh, dan markas Zarva akan tetap berdiri tegak. Kalau gagal... Tidak ada yang mau meneruskan kalimat itu sampai akhir. Seolah mengucap
Frost Howl menatap keempat botol di tangannya. Lalu menatap Ryan. "Aku tidak tahu apakah tubuhku bisa menanggung ini." Suaranya datar, tanpa dramatisasi berlebih. "Tapi hari ini, kalau bukan kamu yang mati, maka aku yang mati. Lebih baik mati dari dalam sendiri daripada mati di ujung bilahmu." Ryan tidak menjawab. Tapi rahangnya mengunci rapat, matanya tidak lepas dari keempat botol yang baru saja dikeluarkan satu per satu di hadapannya. 'Kalau dia berhasil menembus batas itu...' Frost Howl yang sudah setingkat Super God dengan bantuan Bilah Vane, kalau berhasil memaksa tubuhnya naik ke Ranah Super God yang sesungguhnya lewat pil ini, pertarungan ini akan berubah sepenuhnya. Kekuatan yang selama ini dipinjam dari bilah kuno akan melebur menjadi miliknya sendiri yang permanen, tidak lagi bergantung pada Vane sama sekali. Bahkan Murka Sang Dewa mungkin tidak lagi cukup untuk menutup pertarungan dalam satu serangan bersih. ** Frost Howl membuka botol pertama dan menuang isinya
Untuk mengakhiri pertarungan ini dengan pasti, ia harus mengeluarkan Murka Sang Dewa. Teknik terkuat yang ia miliki, warisan paling berharga yang pernah tertancap dalam dirinya.Tapi teknik itu tidak bisa dilepaskan sembarangan.Semakin kuat serangan yang ingin dihasilkan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan dan memadatkan energinya. Dan selama proses pengumpulan itu berlangsung, konsentrasi tidak bisa terpecah sedikit pun. Satu gangguan kecil saja, satu serangan yang menembus konsentrasi, dan energi yang sudah terkumpul akan terbuang percuma, kembali ke titik nol.Sebelum Ryan sempat mulai mengakumulasi energinya, Frost Howl melakukan sesuatu yang tidak terduga.Frost Howl tidak ikut bergerak maju memanfaatkan jarak yang baru terbuka.Sebaliknya, ia berdiri di tempatnya dan merogoh ke balik pelindung tubuhnya. Jari-jarinya mengeluarkan beberapa botol satu per satu, pelan dan metod
"Jadi cuma bisa bertaruh lagi untuk mendapatkannya kembali?" Ryan berpikir cepat, otaknya mengkalkulasi berbagai kemungkinan. Cara paling bisa diandalkan hanya ini. Terlalu besar gerakannya kalau langsung pergi merampas dengan kekerasan. "Hmm..." Hannah bergumam pelan dengan suara yang hampir tid
"Ryan, kita masih pasangan suami istri sekarang." Tatapan Celeste tidak pernah meninggalkan Ryan. Matanya mengunci wajah pria itu dengan intensitas yang tajam, takut melewatkan detail apa pun, takut ada kebohongan yang terselip di ekspresinya. Begitu ada masalah, langsung main kartu emosional.
Beruntung Ryan bereaksi cepat. Dia berguling di tanah saat tubuhnya menghantam, menyerap dampak dengan teknik jatuh yang benar, kemudian berdiri dengan mantap dalam satu gerakan mulus. Begitu mengangkat kepala, dia melihat kaki menendang ke arah wajahnya dengan kecepatan penuh. Tendangan yang ter
Ryan benar-benar tidak mengerti bagaimana Miranda Stone bisa menjadi kapten. Kalau pemimpin tahu dia hampir tertembak di kepala, pasti dia tidak akan memberikan jabatan kapten padanya. Ryan tidak tahu bahwa Miranda bisa menjadi kapten juga berkat bantuannya. Pertama, gerombolan preman yang meng







