Home / Romansa / Dilamar Nenek-nenek / 5. Bertemu Lagi

Share

5. Bertemu Lagi

Author: pramudining
last update Last Updated: 2025-11-29 10:54:58

Kumandang azan yang menandakan waktu magrib terdengar di telinga Cakra. Tergesa, si sulung mengambil ponsel hendak mengirimkan chat pada sang pujaan. Namun, ketika teringat pertemuannya dengan Venya tadi siang, Cakra menghentikan gerakan jemarinya.

"Astagfirullah. Kenapa aku bisa lupa. Mana mungkin aku masih ingin berhubungan dengan perempuan yang pantas menjadi nenekku," gumam Cakra.

Selesai menjalankan semua ritual serta kewajibannya pada Sang Pencipta. Cakra termenung, biasanya di jam-jam seperti sekarang, si sulung selalu menghubungi Venya untuk mengabarkan bahwa dirinya sudah pulang dan free. Lalu, keduanya akan menelepon menceritakan semua kejadian yang telah dilalui seharian. Namun, semua itu tak lagi bisa dilakukan oleh lelaki dengan potongan rambut upper cut tersebut.

Cakra menghela napas panjang. Merebahkan tubuhnya setelah melipat sajadah, dia harus membiasakan diri dengan segala aktifitas hariannya tanpa kehadiran Venya lagi. Walau bagaimanapun perasaan yang sudah berkembang selama setahun itu tidak mudah dihilangkan begitu saja.

"Kenapa, sih, kamu harus berbohong padaku, Ve? Padahal aku tulus mencintaimu. Andai umurmu nggak setua itu, meski wajahmu jelek, aku tetap akan menerimanya. Tapi ...." Cakra menyandarkan kepalanya. Memejamkan mata dan mengingat setiap momen yang telah dilewati bersama Venya.

"Astagfirullah," ucap Cakra beberapa saat ketika bayangan wajah si nenek terlintas apalagi saat perempuan sepuh tersebut melamarnya. Terlalu banyak memikirkan kisahnya dengan Venya, tanpa terasa kedua indera Cakra menutup sempurna. Dia pun terlelap dengan sendirinya.

Suara panggilan Arimbi disertai ketukan pintu yang cukup keras mampu membuka mata Cakra. Lelaki itu bergegas membuka pintu kamar sebelum sang ratu di rumahnya mengeluarkan taring.

"Mama," ucap Cakra sambil menguap. "Bangunin anaknya kayak ada kebakaran aja."

"Kamu kalau nggak dibangunin seperti itu, pasti masih molor." Arimbi berkacak pinggang dengan mata mendelik.

Cup ....

Cakra mencium pipi mamanya untuk menghentikan kemarahan dan ternyata berhasil. Arimbi berhenti menasihati dan tersenyum manis. Si sulung paling tahu caranya mengubah kemarahan sang mama.

"Cepet mandi sana. Adik sama Papa sudah nungguin," titah Arimbi, masih dengan mode galak, tetapi cuma pura-pura saja.

"Iya. Nggak sampai dua menit sudah selesai."

"Tumben mbangkong. Biasanya bangun lebih dulu dari yang lain?"

Cakra menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Susah, ah. Kalau Mama ngomel terus, aku nggak bakalan bisa cepat ngerjain semua." Segera menutup pintu membuat Arimbi berteriak keras.

Rutinitas pagi keluarga Cakra, selalu diawali dengan salat subuh. Untuk para lelaki, mereka akan pergi berjamaah di Musala, sedangkan Arimbi cukup di rumah saja. Setelahnya, barulah mereka sarapan dan memulai segala aktivitas masing-masing.

Seperti pagi ini, Cakra tergesa-gesa menghabiskan sarapannya karena sudah mendapat telepon dari sang atasan.

"Tumben, Mas?" tanya Kresna. Pasalnya, si sulung adalah yang paling santai dalam hal pekerjaan. Biasanya dia berangkat belakangan setelah papa dan adiknya. Namun, hari ini lain.

"Ada proyek baru, Dik. Jadi, harus datang lebih pagi. Kata si bos, kliennya kali ini adalah orang yang paling tepat waktu. Telat sedetik saja bisa gagal mendapatkan proyek," jelas Cakra. Dia sudah berdiri dan bersiap menyalami tangan kedua orang tuanya.

"Bagus itu, biar kamu lebih menghargai waktu, Mas," sahut Arimbi.

"Wah, jarang-jarang ada bos seperti itu. Kalau perempuan dan belum menikah wajib kamu dekati, Mas. Dia bisa mengontrol kamu yang sering telatan," tambah Sapta membuat anggota keluarga lainnya tertawa.

"Ejek terus," jawab Cakra, tetapi lelaki itu tidak marah sama sekali. Suasana seperti ini sudah hal biasa di keluarganya. Saling mengejek satu sama lain tanpa berniat menjatuhkan.  Sekedar untuk menghangatkan suasana kekeluargaan di antara mereka.

"Hati-hati di jalan, Mas. Nggak usah ngebut. Jaga keselamatan. Ingat, Mama masih pengen gendong cucu darimu," nasihat Arimbi ketika putranya berjalan menjauhi meja makan.

Cakra menjawab dengan mengangkat tangan dan menyatukan jempol serta telunjuknya. Setelahnya, dia pergi dengan mengendarai motor karena tidak ingin terjebak macet.

Kurang dari sepuluh menit, lelaki itu sudah sampai di kantor, tetapi sang atasan malah menyuruhnya untuk mendatangi klien mereka di tempat kerjanya.

"Elah, Pak. Tahu gitu saya langsung ke alamat ini saja. Biar nggak ngabisin bensin," gerutu Cakra. Dia berani protes karena sang atasan adalah kakak kelas dan juga teman satu organisasi ketika meraih gelar sarjana.

"Protes aja. Sana samperin dia di kantornya. Siapa tahu dari klien akan jadi pasangan," seru sang atasan penuh semangat.

Sebenarnya di perusahaan itu tidak ada atasan atau bawahan karena mereka mendirikan perusahaan tersebut secara bersama-sama. Cuma lelaki yang dipanggil bos itu menyetorkan modal lebih banyak dari lainnya. 

"Memangnya dia cewek dan belum nikah?" Cakra mulai kepo.

"Yup. Pepet aja, Cak. Setahuku, umurnya nggak beda jauh denganmu dan dari desas-desus yang aku dengar, keluarga sudah mendesaknya nikah. Siapa tahu kalian berjodoh, kan, sama-sama jomblo." Si bos tertawa setelah mengatakan jomblo.

"Duh, malah diperjelas." Cakra memasang tampang melas. "Bisa nggak, sih. Nggak usah nyebut kata jomblo."

"Kalau nggak jomblo, apa namanya?" Si bos terkikik.

"Aku nggak jomblo, cuma terlalu idealis saja soal pasangan. Makanya, belum ketemu sama cewek yang diharapkan," jelas Cakra.

Si bos mengeraskan tawa. "Sana pergi keburu telat, dia ngambek nanti."

"Oke, deh. Doakan berhasil, ya. Jadi, kita bisa tetap mempertahankan nama baik perusahaan pemasaran dan iklan ini," ucap Cakra.

"Insya Allah, usaha kita akan tetap yang terbaik dan semakin baik lagi."

Memasuki sebuah mall yang cukup besar di kota tersebut, Cakra sempat melirik ke segala arah sebelum memutuskan naik ke kantor pengelola. Di lantai 4, tepatnya di depan resepsionis, Cakra mengatakan maksud dan tujuannya.

"Silakan, Pak. Sudah ditunggu oleh Ibu," ucap sang resepsionis.

"Terima kasih." Cakra berjalan mengikuti sang resepsionis.

Beberapa orang sempat menatapnya aneh. Cakra sampai salah tingkah dibuatnya, takut jika ada yang salah dengan pakaian ataupun penampilannya.

Di depan pintu berwarna gading, resepsionis tersebut berhenti karena ada asisten si bos.

"Mbak, ini utusan Pak Hardinata, kantor pemasaran yang terkenal itu," terang si resepsionis.

"Oke." Sang asisten mengangkat wajah dan menatap lelaki di depannya. Keningnya berkerut dengan mata menyipit. "Lha, kok?"

"Ada apa, Mbak?" tanya Cakra tanpa rasa curiga sedikitpun.

Sang asisten segera menggelengkan kepala, mengenyahkan segala macam pikiran buruknya. "Mari silakan masuk, Pak. Ibu sudah menunggu di dalam."

"Apa dia lupa sama aku?" tambah sang asisten dalam hati. "Bukankah dia cowok yang kemarin?"

Cakra menganggukkan kepala. Sopan, dia menyapa perempuan yang duduk membelakanginya saat ini.

"Selamat pagi, Bu," ucap Cakra sekali lagi ketika sapaannya tadi tidak ditanggapi.

Sang pemilik ruangan memutar kursi hingga kini berhadapan dengan Cakra.

"Kamu?" ucap mereka bersamaan. Saling terkejut karena bisa bertemu lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dilamar Nenek-nenek   71. Pantai dan Segala Keinginan

    Happy Reading *****"Coba balas kalau berani," tantang Ari karena yakin sang kekasih tidak akan pernah bisa membalas perbuatannya tadi."Baby, kamu kok curang sih? Dah tahu Mas nggak akan pernah bisa membalas," keluh Cakra. Bibirnya maju dan bergerak-gerak lucu membuat Ari tertawa bahagia. "Aku tahu kalau Mas nggak bakalan bisa membalas." Ari menjulurkan lidahnya."Baby, nggak usah mengoda gitu, ih." Suara Cakra meninggi, bukan marah, tetapi berusaha menahan sesuatu yang tengah bergejolak di tubuhnya saat ini. "Lupakan, kita nggak boleh mengecewakan para orang tua yang sudah sangat percaya dan membiarkan kita pergi berduaan seperti sekarang.""Hmm. Makanya, jangan nakal kayak tadi. Kalau khilaf bahaya. Mas bisa nggak diakui sebagai anak Mama," kata Cakra yang membuat perempuan cantik di sampingnya tertawa keras. "Oke ... Oke. Aku janji nggak akan nakal kayak tadi.""Terima kasih, Baby." Cakra mengusap lembut kepala kekasihnya.Beberapa menit kemudian, pasangan yang baru meresmikan

  • Dilamar Nenek-nenek   70. I Love You

    Happy Reading ****Cakra tersenyum salah tingkah bahkan kini lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk mengalihkan perasaan salah tingkahnya. "Mas, pasti akan menjelaskan semuanya. Cuma, menjelaskan sesuatu itu kan butuh tenaga dan sekarang, perut Mas sudah keroncongan. Gimana kalau kita makan dulu aja?" alibi Cakra untuk mengalihkan pembahasan sebelumnya. "Huh, dasar. Ngeles aja kamu, Mas," kata Arimbi. "Tapi, emang bener Mas Cakra, Ma. Kita harus segera makan sebelum makanan yang kita pesan tadi dingin. Adek juga lapar, kok," sahut Kresna membela si sulung. "Ya, sudah. Ayo kita makan dulu," putus Sapta. "Ayo ... Ayo," sahut si nenek. Selesai acara makan bersama. Keluarga memberi kesempatan pada dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu untuk berduaan. Cakra tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Segera mengajak kekasihnya ke suatu tempat setelah meminta ijin pada si nenek untuk tidak langsung mengantarkan Ari pulang. "Mas, kita mau ke mana?" tanya Ari ketika jalan

  • Dilamar Nenek-nenek   69. Hutang Penjelasan

    Happy Reading*****Bukan cuma Cakra yang terkejut mendengar kalimat penolakan yang diucapkan Ari. Namun, seluruh anggota keluarga termasuk sang nenek juga terkejut. "Ar, bukannya kamu mengatakan sama nenek kalau sudah siap untuk menikah. Lalu, kenapa sekarang malah menolak?" Perempuan sepuh yang menjadi satu-satunya keluarga Ari tersebut tampak sangat tidak suka ketika sang cucu melakukan penolakan seperti tadi. "Nek, tenang," sahut Cakra begitu bijak tak mau wanita pujaannya mendapat marah. "Mungkin Ari punya alasan sendiri kenapa menolak pernikahan denganku. Jadi, kita dengarkan saja alasannya." "Benar kata Mas Cakra, Nek. Ari pasti memiliki alasan kenapa sampai nggak mau menikah dengan Mas Cakra dalam waktu dekat," tambah Arimbi. "Iya benar. Bukankah tadi, dia sangat antusias menerima lamaran Mas Cakra. Jadi, kalau sekarang menolak, pasti punya alasan yang kuat." Sapta mencoba menjadi penengah di antara nenek dan cucunya. Baginya, sosok perempuan yang dicintai si sulung adala

  • Dilamar Nenek-nenek   68. Ditolak

    Happy Reading*****Cakra menatap semua orang dengan tatapan seperti orang yang teraniaya."Sembarangan kalau ngomong. Mas, aja nggak boleh meluk dia apalagi kamu. Ayo, Baby." Cakra mengarahkan sang kekasih tanpa menyentuh perempuan tersebut sedikitpun menuju kursi yang sudah disediakan. Lelaki itu begitu patuh dengan ucapan serta perkataan para orang tua. Apalagi ketika mendengar ucapan Sapta, setahun lebih dia sudah berhasil menahan diri, lalu mengapa hari ini Cakra tidak bisa menahan diri. Toh, tak lama lagi, Ari akan menjadi miliknya seutuhnya. "Duduk di sini, ya, Beb," bisik Cakra begitu lembut dan sangat merdu di telinga si perempuan. Hati perempuan yang selama ini dikenal galak dan judes itu berbunga-bunga. Ternyata, lelaki yang dikenal lewat maya, tidak hanya romantis ketika chatting saja. Namun, Cakra juga sangat romantis di dunia nyata. "Terima kasih, Sayang," ucap Ari ketika Cakra menyeret kursi untuk diduduki."Sama-sama, Baby," balas si lelaki dengan senyum semringah

  • Dilamar Nenek-nenek   67. Nyosor

    Happy Reading*****"Hmm, gombal. Sejak kapan kamu jadi perayu ulung gitu, Mas?" kata Arimbi yang tak menyangka jika putra sulungnya pandai merayu seperti sekarang.Sapta merangkul sang istri. Lalu, berbisik tepat di telinga kiri Arimbi. "Mama nggak akan pernah menyangka jika bayi mungil yang kita besarkan saat itu sudah pandai merayu perempuan. Ah, waktu sungguh cepat berlalu dan mungkin sebentar lagi, kita akan segera menggendong bayi lagi, tapi cucu." Arimbi menoleh ke arah sang suami. "Iya, padahal rasanya baru kemarin Mas Cakra lulus sekolah," katanya menjawab perkataan sang suami. Cakra memutar bola mata sambil mengerucutkan bibir menatap sang Mama. Seolah-olah, lelaki itu mengatakan supaya Arimbi diam dan cuma bisa melihat apa yang akan dia lakukan untuk mewujudkan keinginan Arimbi. Mengerti arti tatapan putranya, Arimbi memutuskan untuk diam, melihat apa yang akan dilakukan sang putra sulung selanjutnya. Cakra kembali menatap Arimbi. Setelah melihat anggukan kepala perem

  • Dilamar Nenek-nenek   66. Lamaran

    Happy Reading *****Ari kembali berjalan gontai ke arah ruangannya, hatinya mendadak sangat kacau. Semua pekerjaan yang dia lakukan berantakan bahkan hingga jam kerja berakhir, perempuan itu masih saja tidak bisa fokus pada pekerjaannya bahkan chat yang dikirimkan pada sang kekasih maya juga belum dibalas sama sekali. Suasana hati si bos makin kacau jadinya.Sore, sepulang kantor, Ari sengaja langsung menuju kamar neneknya. Walau hatinya, hancur. Dia harus tetap bisa bahagia melihat kebahagiaan satu-satunya keluarga yang disayangi. "Nek," panggil Ari manja. Perempuan itu langsung meletakkan kepalanya di pangkuan si nenek yang duduk di sofa sambil menonton tayangan favoritnya. "Tumben. Ada apa?" kata si nenek sambil menoleh. Perempuan sepuh itu melihat tampilan Ari yang semrawut."Besok, Nenek akan makan malam dengan keluarganya Cakra dan bahas tanggal pernikahan. Kayaknya, aku nggak bakalan ikut.""Kenapa?" Si nenek mengerutkan kening. "Kerjaanku banyak banget yang belum tersele

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status