MasukMata Elvano melirik ke tas di samping kakinya.Senyumnya terangkat lebar.“Hanya kopi instan dan camilan.” Senyumnya semakin lebar sampai kedua mata Elvano sedikit menyipit.“Ternyata kamu sudah mempersiapkan semuanya, hm? Sengaja sekali mengganggu kebersamaanku dengan Ayah.” Kiran mengambil lagi ikan bakar yang ada di tangan Elvano. “Kamu bawa camilan, sudah makan camilan saja sana.”Elvano tersentak.“Camilan saja tidak cukup, Ki. Bagi ikannya, itu sepertinya enak.” Tangan Elvano terulur ke ikan yang Kiran pegang.Kiran menjauhkan ikannya dari gapaian Elvano. “Tidak bisa, ini milikku.”“Bukannya tadi diberikan padaku? Ayolah jangan pelit, kita makan bersama.”Melihat Elvano memaksa ingin mengambil ikannya, Kiran sampai tertawa.“Baiklah, kita makan bersama.” Kiran kembali mendekatkan ikan bakarnya.Tangan kanannya mengambil potongan kecil daging dari durinya. Kiran mengulurkan ke mulut Elvano.“Makanlah,” kata Kiran dengan tatapan begitu tulus.Dengan senang hati, Elvano membuka mulu
Kiran bangun dari kursinya.Matanya menajam ke arah kegelapan.Sampai bola matanya membulat lebar.“El.” Kiran menatap tak percaya sang kekasih ada di area perkemahan, semalam ini.Di saat Kiran dan ayahnya menatap tidak percaya dengan keberadaan Elvano di sana.Pria yang sedang menjadi obyek perhatian ini, baru saja bisa bangun setelah tak sengaja jatuh tersandung tanah yang tidak rata.Elvano tersenyum canggung.Kehadirannya tiba-tiba di sana, malah diawali tragedi yang memalukan.Kiran menghampiri Elvano.“Apa yang kamu lakukan di sini?” Kiran menatap penasaran.Elvano menggaruk kepala tidak gatal.“Aku ada perlu denganmu. Tapi ponselmu tidak bisa dihubungi.”Kiran tersentak.“Mungkin karena malam, jadi sinyalnya sulit.” Kiran menjelaskan, sebelum tatapannya tertuju ke kaki Elvano.“Apa lututmu sakit?” Kiran kembali menatap ke wajah Elvano.“Sepertinya.” Elvano membalas ragu.Kiran mengajak Elvano mendekat ke tenda.Saat tiba di hadapan Surya. Elvano langsung menyapa.“Maaf jika me
Sore hari, di area perkemahan.Kiran duduk bersama ayahnya yang sedang menunggu umpan kail disambar ikan.Keduanya duduk dengan damai. Sebagai ayah dan anak yang menikmati hari dengan tenang.“Setelah pulang dari kemah, kita langsung pindah ke kontrakan ya, Yah.” Kiran menoleh pada Surya yang ada di sampingnya.Surya mengangguk-angguk pelan. Tatapannya teralihkan ke Kiran.“Ayah ikut saja apa rencanamu.” Senyum Surya begitu tulus. “Tapi, Ayah mungkin akan ikut kerja, Kiran. Ayah tidak bisa hanya duduk memangku tangan di rumah.” Tatapan Surya kembali tertuju ke air.Hening.Kiran tidak membalas ucapan sang ayah.Surya mengembuskan napas pelan.Dia kembali menoleh ke Kiran.“Ayah tahu kamu mencemaskan kondisi Ayah. Tapi Ayah juga tidak bisa jika harus berdiam diri saja dan hanya bergantung padamu.”“Tapi aku masih sanggup menafkahi Ayah. Uang gajiku dan tunjanganku, lebih dari cukup untuk hidup bersama Ayah.” Kiran menatap sendu. Bagaimana bisa Kiran diam saja melihat pria tua ini beke
Hari berikutnya.Kiran pergi berkemah dengan Surya.Mereka pergi ke tempat yang Surya ingin datangi. Sebuah area perkemahan dengan hamparan kebun teh yang luas.Lalu di dekat tenda tempat mereka berkemah, ada danau yang bisa mereka jadikan spot memancing.[El, aku sudah tiba di lokasi dan baru saja mendirikan tenda.]Kiran mengirimkan nama tempat dia dan ayahnya berkemah, bahkan Kiran mengirim foto tendanya agar Elvano tidak cemas.“Ki, kamu sudah selesai merapikan tendamu?”Suara sang ayah mengalihkan perhatian Kiran dari ponselnya. Kiran menoleh. Bibirnya tersenyum ke sang ayah yang duduk di kursi kecil menghadap ke kompor portable dengan panci kecil di atasnya.Kiran segera menyimpan benda pipihnya ke dalam saku jaket.“Ya, Ayah.” Kiran menghampiri Surya. Duduk di samping sang ayah, Kiran seperti anak kecil yang menunggu makanannya disajikan orang tuanya.“Mienya sudah matang.” Kiran mengangguk.Matanya terus tertuju ke sang ayah yang sedang menyajikan mie di mangkuk.“Hati-hati
Kiran duduk di ruang tunggu lobby.Sampai, Elvano akhirnya tiba di sana.“Sudah luang?” Kiran berdiri menyambut Elvano.“Kenapa tidak naik saja langsung?” Elvano sudah berdiri tepat berhadapan dengan Kiran.Kiran menggeleng. “Tidak enak saja. Aku sedang diskors, tidak nyaman jika berkeliaran di perusahaan.”Melihat Elvano yang diam, Kiran kembali bicara. “Aku bawa makan siang, bagaimana kalau kita makan di taman samping?”Kiran mengangkat paper bag yang dibawanya.Elvano mengangguk pelan. Mana mungkin dia menolak.Mereka pergi ke taman samping.Di bawah pohon rindang, di bangku yang biasa digunakan karyawan melepas penat. Kiran dan Elvano duduk di sana.“Kamu bilang mau pergi dengan ayahmu?” Elvano menatap pada Kiran yang sedang mengeluarkan kotak makanan dari dalam paper bag.“Besok, tadi aku baru saja menemui Kak Mila.” Kiran bicara tanpa menatap Elvano.Kiran sibuk menyiapkan alat makan untuk sang kekasih.“Bagaimana? Apa yang dia mau?”Kiran mengangkat pandangan ke Elvano. Sambil m
Siang hari.Kiran pamit ke Surya jika mau mengurus sesuatu.Dia pergi ke kafe setelah menghubungi Mila.Di sana, Kiran melihat Mila yang sudah menunggu.“Kamu benar-benar datang.”Melihat senyum semringah Mila. Kiran tetap memasang wajah datar.Kiran duduk berhadapan dengan Mila.“Sudah berapa bulan?” Kiran bicara tanpa ekspresi.Mila menyentuh perutnya. “Baru dua bulan.”Pandangan Mila tertunduk. “Aku juga baru tahu kalau hamil kemarin. Karena itu, aku bingung.”Kiran mengembuskan napas pelan.“Sekarang kamu maunya bagaimana? Aborsi?”Kiran melihat Mila tersentak karena ucapannya.“Aku tidak tahu.”Jawaban Mila membuat Kiran mengembuskan napas pelan.“Dari kejadian ini, apa kamu sudah sadar apa kesalahanmu?” Kiran bicara dengan tegas. Sorot matanya penuh penekanan.Mila memejamkan mata sejenak sebelum mengangkat pandangannya ke Kiran. “Aku tahu.”“Jika melakukan aborsi, dosamu akan semakin besar karena membunuh bayi yang tidak bersalah.” Kiran kembali bicara. “Tapi jika kamu pertahan
Mata Kiran terpejam ketika melihat Yoga mengangkat tangan, tetapi matanya kembali terbuka ketika tak kunjung merasakan hantaman dari tangan Yoga.Kiran melebarkan matanya ketika melihat Elvano berdiri memunggunginya sambil menahan pergelangan tangan Yoga.Kiran mengerjap tak percaya.“Lepas, sialan!
Malam hari.Elvano tiba di rumah saat pukul delapan malam. Kakinya melangkah menuju tangga, ketika telinganya mendengar suara sang kakak ipar di ruang keluarga.Berbalik arah ke arah suara kakak dan kakak iparnya berada, Elvano menemukan keduanya sedang bicara di ruang keluarga.“Kalian di sini? Le
Kiran dan Sabrina berada di dalam lift setelah mereka selesai makan siang.“Soal sekretarisnya itu, lebih baik kamu hati-hati ya, Kiran. Dengar-dengar pamannya salah satu direktur di sini, makanya dia bisa semena-mena sampai berniat memfitnahmu.” Wajah Sabrina begitu cemas ketika menoleh pada Kiran.
Bibir Aldo tersenyum tipis, matanya memperhatikan ekspresi wajah Elvano dengan segala reaksi yang temannya ini tunjukan.“Apa lagi? Kamu bilang tidak mau tahu?” Aldo melepas tangannya dari cengkraman Elvano.Masih dengan wajah datar, Elvano berucap, “Katakan saja apa yang mau kamu katakan sebenarny







