INICIAR SESIÓNKakak, done 2 bab buat pagi ini, ya. 2 Bab lagi nyusul, makasih, selamat membaca.
Siang hari di perusahaan anak cabang Bimantara Group.Noah duduk di kursi sambil menatap beberapa lembar kertas gambar teknis yang baru saja diletakkan Farhan di atas meja. Tangannya memegang pena, sementara matanya bergerak teliti, mengecek dengan seksama setiap detail coretan revisi untuk mencocokkannya dengan daftar permintaan tertulis dari tim Edo Pratama.Farhan berdiri tegak di depan meja kerja Noah, dia terus memperhatikan atasannya yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara sedikit pun.“Bagaimana, Pak? Apa ada bagian yang kurang?” Farhan akhirnya memastikan. “Semuanya sudah disesuaikan dengan catatan komplain yang dikirimkan oleh tim internal Pak Edo kemarin. Tim arsitek kita juga sudah lembur untuk menyelesaikan ini.”Noah menghentikan gerakan matanya. Noah meletakkan kembali lembar revisi itu ke atas tumpukan dokumen, lalu mengembuskan napas . “Semuanya sudah bagus dan sesuai catatan. Tidak ada yang kurang.”Noah menyerahkan kembali berkas hasil revisian itu ke arah Farhan.
Nandira meringis menahan tekanan yang Edo berikan, air matanya perlahan luruh membasahi pipi akibat rasa sakit yang menjalar di sekitar rahangnya. Cengkeraman tangan Edo sangat kuat, seolah ingin meremukkan tulang wajah Nandira detik itu juga. Nandira mencoba menahan napas, tidak sanggup mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan suaminya yang penuh dengan prasangka buruk.Melihat Nandira yang hanya diam dengan mata berkaca-kaca, emosi Edo justru semakin memuncak.Edo melepaskan cengkeramannya dengan kasar sambil mendorong tubuh Nandira ke samping.Nandira terhuyung ke samping, kedua kakinya tak bisa menopang tubuhnya yang masih lemah sampai membuatnya jatuh tersungkur di lantai. Nandira diam dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya mengepal erat di atas lantai saat bibirnya terkunci rapat tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela dirinya sendiri.Tatapan Edo begitu dingin pada Nandira.“Dengar baik-baik, Nandira.” Suara Edo pelan tetapi penuh dengan penekanan untu
Noah mengembuskan napas kasar dari mulutnya. Dia meletakkan kedua siku di lutut lalu menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.Noah lagi-lagi mengembuskan napas kasar lalu bicara. “Entahlah, kalau hanya karena cemburu, menurutku dia sudah keterlaluan.” Nada bicara Noah terdengar pasrah. “Tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak. Statusnya saat ini adalah klien utama untuk proyek ini.”Kiran ikut mengembuskan napas panjang. Dia menopang dagunya dengan sebelah tangan, ikut memikirkan jalan keluar untuk masalah kakaknya.Sampai Kiran menatap lagi ke wajah Noah yang seperti sedang menanggung beban berat.“Noah, kalau memang Pak Edo terus-terusan mempersulitmu seperti ini, bagaimana kalau proyek ini diserahkan saja ke orang lain saja?” Kiran memberikan saran demi kebaikan kakaknya juga. “Maksudku, biarkan tim direksi lain yang memegang kendali penuh. Jadi kamu tidak perlu berinteraksi langsung lagi dengan Pak Edo.”Noah menegakkan punggungnya lagi. Dia menoleh pada Kiran dengan ekspres
Sore hari. Di kediaman BimantaraKiran yang baru saja turun dari mobil Elvano. Dia melambai ke arah mobil Elvano yang perlahan menjauh darinya.Saat mobil Elvano sudah menghilang dari pandangannya. Kiran membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah.Tetapi, langkah Kiran terhenti saat tatapannya tertuju pada Noah sedang duduk di bangku taman samping rumah.Kiran mengerutkan kening melihat Noah duduk di bangku sambil memejamkan mata, bahkan Noah masih memakai setelan jas lengkap.Kiran melangkah menghampiri. Saat sudah berdiri di dekat ayunan, Kiran melihat guratan lelah dan beban berat tercetak jelas di kening Noah.Tanpa menyapa lebih dulu, Kiran langsung duduk di samping Noah. “Apa ada masalah di kantor? Wajahmu kenapa kusut begitu.”Noah terkejut mendengar suara adiknya, dia langsung membuka mata dan menoleh hingga mendapati Kiran sudah ada di sampingnya. Noah menegakkan posisi duduknya sembari mengembuskan napas pelan. “Hanya urusan pekerjaan biasa.”Kiran menyipitkan mata, me
Kiran memaksakan senyum ramah di wajahnya saat menatap pada Edo yang masih memandangnya.Kiran tenang meski isi kepalanya dipenuhi tanda tanya besar karena sikap Edo ini. “Ah, iya, Pak Edo. Kebetulan sekali.” Kiran bicara dengan nada suara begitu tenang. “Kami baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien.” Kiran menjelaskan singkat.Edo mengangguk-angguk paham. Senyumnya tidak luntur sedikit pun, bahkan binar matanya terlihat begitu bersahabat, sangat berbeda dengan kilat penuh amarah yang terlihat malam tadi di UGD.“Anda sendiri?” Kiran berbalik bertanya, dia ingin melihat sikap Edo apakah akan berubah seperti semalam.Di luar dugaan Kiran, Edo tersenyum dan tak menunjukkan tanda-tanda kesal atau tak suka.“Hanya baru saja makan siang dan sekarang harus kembali ke kantor.” Nada bicara Edo begitu tenang tanpa emosi.Kiran mengangguk-angguk pelan. Melihat perubahan Edo ini, Kiran berinisiatif bertanya, “Bagaimana dengan kondisi Nona Nandira, Pak? Apa keadaannya sudah membaik?”Jika
Keesokan harinya.Kiran keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi. Saat baru saja menutup pintu kamarnya, dia melihat Noah yang juga baru saja keluar dari kamar.Kiran melangkah mendekat. Saat berdiri di dekat sang kakak, Kiran memperhatikan penampilan sang kakak yang tampak kontras dengan setelan jas mahalnya. Wajah Noah terlihat sedikit lesu, ada lingkaran hitam samar di bawah mata Noah.“Sini, aku rapikan dasimu. Agak miring itu.” Kiran mengulurkan tangan ke kerah kemeja Noah yang baru saja menghadapnya.Noah tidak menolak. Dia hanya berdiri diam, membiarkan jemari adiknya lincah membetulkan simpul dasinya yang sedikit longgar. Saat Kiran selesai merapikan ikatan dasinya, senyum Noah terangkat kecil. “Terima kasih.”Kiran mengangguk pelan, dia menatap lekat-lekat wajah Noah yang benar-benar terlihat lesu tak bersemangat. “Apa semalam kamu begadang?”Noah langsung memalingkan wajahnya sedikit ke samping, menghindari kontak mata dari Kiran. “Tidak. Aku tidur tepat waktu.”“







