Mag-log inMata Widya melebar mendengar ucapan Kiran, wajahnya gelisah dengan kepanikan yang luar biasa dia rasakan.
“Sya-syarat apa, Kiran?” Widya memastikan.
“Bercerailah dari Ayah. Aku akan memberikan kompensasi untuk kalian. Tapi setelah itu, aku ingin Ibu tak pernah mengganggu Ayah lagi.”
Widya, Yoga,
Wajah Kiran sudah basah.Kiran ikut tak bisa menghentikan tangis karena mendengar suara isakkan Sabrina.“Sab, katakan ada apa? Jangan menangis terus menerus seperti ini. Kamu membuatku benar-benar sedih, Sab.”Kiran benar-benar bingung dengan apa yang membuat Sabrina sampai menangis seperti ini.Sabrina sesengguka. Dia bangkit dari pelukan Kiran masih dengan kepala tertunduk.Bahkan Sabrina tak berani membalas pelukan Kiran karena rasa bersalah.Kiran mengusap air matanya sendiri, sebelum dia menatap Sabrina yang terus menunduk.“Ceritakan padaku, ada masalah apa sebenarnya sampai kamu seperti ini?” Kiran berta
Wina tersentak.Dia tatap Sabrina yang tampak emosional.Surat di tangan yang masih menggantung di udara, Wina tarik kembali.Belum juga bibirnya yang sedikit bergetar berucap, Wina sudah kembali mendengar Sabrina berkata, “Wina, jangan bilang perbuatan Ayah ada hubungannya dengan keluarga Bimantara?!”Wina menggeleng kuat. “Tidak, tidak seperti itu.”Kening Sabrina berkerut dalam melihat reaksi Wina.Jadi, apakah Wina tahu apa yang sebenarnya dilakukan ayah mereka dulu? Dan tahu, siapa saja yang terlibat?“Apa yang kamu ketahui tapi tidak aku ketahui, Wina? Jujur padaku, atau aku akan benar-benar membuangmu!” ancam Sabrina.Wina menggeleng kuat.Wajah Wina berubah pucat.“Aku diminta mengantar surat ini ke keluarga Bimantara, karena Ayah bilang bersalah pada mereka dan ingin mengungkap kebenaran. Semua kebenaran ada di surat ini. Ayah tidak mau kebebasan, hanya saja Ayah ingin memperbaiki kesalahan, walau terlambat.”Sabrina terdiam dengan mata membola lebar.Bimantara?Pembunuhan?M
Sabrina berlari cepat menuju UGD, setelah mendapat panggilan telepon dari Wina.Sabrina begitu panik mengetahui Wina keluar rumah dan mengalami kecelakaan.Yang membuat Sabrina semakin panik, Wina pergi sangat jauh dari kontrakan mereka.Saat masuk ke dalam UGD. Tatapan Sabrina tertuju pada Wina yang berbaring di atas ranjang.Wajah paniknya kini berubah kesal karena ucapannya tidak Wina patuhi.Tiba di samping ranjang, Sabrina melihat Wina siap membuka mulut, tetapi Sabrina sudah lebih dulu bicara.“Bukankah sudah kubilang untuk tetap di rumah? Kenapa kamu malah berkeliaran sejauh ini dan sekarang tertabrak mobil? Menyusahkan sekali!” Sabrina langsung meluapkan semua kekesalannya.Sabrina melihat Wina yang perlahan menundukkan kepala.“Maaf.”Kata itu yang Sabrina dengar dari bibir Wina.Napas Sabrina masih naik turun tak beraturan karena berlarian untuk memastikan kondisi Wina.Tatapan Sabrina tertuju pada kaki dan tangan Wina yang terluka.Sabrina mencoba tenang. Dia sampai menarik
Hari berikutnya.Kiran duduk menatap Sabrina yang mengaduk-aduk makanan saat jam makan siang.Kening Kiran berkerut dalam melihat wajah frustasi temannya ini.“Apa Wina membuat masalah?” Kiran memastikan.Sabrina menghela napas panjang.“Tidak membuat masalah, tapi sejak pembicaraan semalam, entah kenapa aku masih saja kesal sampai pagi ini.”Kiran menoleh pada Elvano, keduanya saling pandang karena ucapan Sabrina.Kiran kembali menatap Sabrina, sampai dia mendengar Sabrina menceritakan apa yang Wina katakan.“Bagaimana bisa dia percaya begitu saja dengan apa yang didengarnya.” Sabrina kesal karena sampai berdebat.Walau pagi ini Wina tetap membersihkan rumah dan membuat sarapan, tetapi keduanya sama-sama diam tak ada yang bicara.“Tapi Wina yang sering berinteraksi dengan ayahmu, meski dia dipenjara. Mungkin saja, apa yang Wina katakan benar.” Kiran mengungkap pandangannya setelah mendengar cerita Sabrina.“Bisa saja dia dibohongi, jelas-jelas dia ini terlalu polos.” Sabrina mendengk
Sabrina pulang setelah menenangkan diri.Dia berdiri termangu menatap pintu kayu di depannya.Sabrina tak langsung masuk.Beberapa kali dia menghela napas kasar.Saat tangannya terulur untuk meraih gagang pintu, Sabrina terkejut pintu di depannya sudah terbuka.Wina berdiri menyambutnya dengan senyum di wajah.“Apa kamu sudah makan? Aku masak nasi goreng, bagaimana kalau makan bersama?” Wina bicara dengan nada cerita. Tak setegang sore tadi.Sabrina menatap datar.Dia memandang Wina yang terus saja tersenyum.Haruskah dia melakukan apa yang Kiran sarankan padanya?Sabrina memilih masuk lebih dulu.Dia menuju meja makan bersama Wina.“Aku tidak tahu, kamu suka pedas atau tidak. Jadi aku buat tidak terlalu pedas.” Tatapan Sabrina tak tertuju pada Wina yang sedang bicara. Dia memandang seporsi nasi goreng di atas meja.Tanpa kata, Sabrina memilih duduk dulu. Dia mengambil alat makan dan mulai mencicipi masakan Wina.Ketika mengunyah makanan, pandangan Sabrina tertuju ke arah Wina.Anak
Wina urung melangkahkan kaki saat mendengar suara Sabrina.Kepalanya berputar pelan, tatapannya kini tertuju pada Sabrina.Sabrina berdiri dari duduknya setelah menghela napas kasar.“Kamu tidak bisa tinggal di sini, aku tidak mau membahayakan nyawa Ibu.” Suara Sabrina tegas tak terbantah.Ranti menatap putrinya yang keras kepala, dia saja tidak bisa mencegah.Sedang Wina menundukkan kepala lagi. Dia tak berani menatap mata Sabrina.“Kamu tinggal bersamaku.”Kalimat yang meluncur dari Sabrina, sukses mengangkat pandangan Wina ke arah Sabrina.Bibir Wina terangkat kecil, kelegaan terpancar di wajahnya.Ranti menatap tak percaya Sabrina membuat keputusan seperti ini.“Tapi, kamu tidak akan tinggal gratis. Kalau kamu tidak punya uang, kamu harus masak, mengepel, mencuci baju di kontrakan yang aku tempati. Kalau kamu bisa menghasilkan uang, kamu harus membayar uang sewa.” Sabrina bicara dengan ekspresi datar. Wina mengangguk-angguk mengiyakan. “Iya, aku mau. Aku bisa melakukan semuanya.”
Kedua pundak Dania menegang, bola matanya bergerak liar mencari kata-kata untuk membalas ucapan Kiran.“Kamu tidak usah mengelak lagi! Aku tahu, semua yang aku alami ini karena laporan darimu!” Kiran tersenyum hambar. Dania masih saja kukuh memfitnahnya.Melihat tenangnya Kiran, emosi Dania semaki
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama
Suasana mendadak tegang. Apalagi saat Kiran melihat Dania menatap tajam padanya. “Bukan seperti itu maksud saya, Bu. Saya hanya–” “Aku tahu, mungkin kamu sulit percaya pada orang lain, apalagi posisimu sekarang bisa dibilang lebih tinggi dari staff lain di divisi pemasaran.” Dania memotong ucapan







