ログインKiran berdiri di depan lobby apartemen saat melihat mobil Elvano melaju menghampirinya.
Saat mobil berhenti tepat di hadapan Kiran, dia langsung membuka pintu sebelum masuk ke dalam.
“Kamu bilang ke ayahmu kalau mau menemui ibumu?”
Kiran menoleh sekilas pada Elvano saat mendengar pertanyaan kekasihnya ini. Sambil
Keesokan harinya.Kiran berangkat ke perusahaan sendiri karena Elvano harus mengurus Leya ke sekolah.Saat baru saja menginjakkan kaki di pintu masuk lobby, lengan Kiran dirangkul seseorang yang membuatnya langsung menoleh.Kiran menghela napas kasar melihat Sabrina sudah bergelayut di lengannya.“Ada apa sih, Sab? Baru juga masuk lobby, kamu sudah membuatku terkejut.” Kiran menatap pada Sabrina yang sedang mengatur napas.Sabrina menarik napas beberapa kali sebelum mengembuskan pelan. Lalu dia menatap ke Kiran yang sejak tadi sudah memandangnya.“Kamu sudah lihat berita terbaru pagi ini? Jujur, aku tidak mau percaya karena kamu tidak pernah cerita padaku.” Suara Sabrina penuh penekanan di akhir kalimat.Kiran menghentikan langkahnya. Tubuhnya kini menghadap pada Sabrina yang perlahan mengendurkan pelukan di lengan.Kiran tahu apa yang Sabrina maksud.“Berita soal apa?” Kiran mencoba memastikan.“Lihat ini, persidangan kasus Dania atas percobaan penculikan dan pembunuhan padamu dan Pak
Kiran berdiri di depan lobby apartemen. Dia harus kembali ke asrama setelah selesai makan dan membereskan dapur sang ayah.Kiran menarik napas dalam-dalam. Pembicaraannya dengan sang ayah, menariknya ke belakang, ke masa lalu yang melekat dalam ingatannya.Sampai suara klakson mobil menyadarkan lamunannya, tatapannya kini tertuju pada mobil yang berhenti tepat di hadapannya.Kiran segera masuk ke dalam mobil, dia menyapa lebih dulu sang kekasih sebelum memakai sabuk pengaman.“Kamu sudah makan malam?” Tatapan Elvano tertuju pada Kiran ketika bicara.“Sudah.” Kiran menarik napas panjang, sebelum menoleh pada Elvano.Punggung Elvano menegak saat menyadari mata Kiran merah dan bengkak. “Kamu baru saja menangis? Ada apa? Siapa yang menyakitimu?”Kiran langsung menangkup kedua pipi, dia menggeleng pelan. “Tidak, tidak apa-apa. Tadi hanya bicara dengan Ayah sampai menangis.”Satu sudut Elvano tertarik ke atas. “Apa ada masalah?”Kiran menggeleng pelan. “Tidak ada.”Elvano mengembuskan napas
Di apartemen ayah KiranKiran baru saja selesai menyiapkan makanan yang dimasaknya sendiri di atas meja.“Ayah, makan malamnya sudah siap.” Kiran melepas celemek dan menggantung kembali ke tempatnya.Kiran melongok ke kamar, tetapi ayahnya juga belum keluar dari dalam.Kiran melangkah menuju kamar sang ayah, sebelum dia mengetuk pintu kamar ayahnya, tatapan Kiran lebih dulu tertuju pada ponsel sang ayah yang ada di meja kecil dekat pintu kamar.Nomor tak dikenal terpampang di layar.Tepat sebelum Kiran menyentuh ponsel sang ayah keluar dari dalam kamar.“Ayah, ini nomor siapa? Kalau penting, jawab saja dulu.” Tangan Kiran meraih ponsel di atas meja lalu mengulurkan ke ayahnya.Surya menatap nomor yang terpampang di layar, sebelum pandangannya kembali tertuju pada Kiran.“Sepertinya ini nomor ibumu.”Kiran tersentak.“Kamu memblokir nomornya di ponsel Ayah, jadi dia menghubungi Ayah pakai nomor lain.” Surya menekan tombol tolak panggilan setelah selesai bicara.“Bagaimana Ayah tahu kala
Elvano sudah kembali ke perusahaan. Kini dia sedang memandang video antara Kiran dan Widya yang sudah menyebar di kalangan karyawan dari salah satu staffnya.Dia diam mengamati, meskipun semua orang sudah tahu soal hubungannya dengan Kiran, tetapi kenapa masih ada yang berani menyebar berita seperti ini.Tatapan Elvano begitu datar pada staffnya yang berdiri dengan kepala tertunduk.“Kamu tahu, siapa penyebar pertama video ini?” Suara Elvano benar-benar penuh penekanan.Staff itu langsung mengambil ponsel yang ada di tangan Elvano, setelahnya dia mencari pengirim pertama video itu di grup karyawan.“Ini, Pak. Sepertinya dia dari divisi operasional.” Staff langsung memperlihatkan foto profil dan nomor pengirim pertama video itu.“Divisi operasional?” Satu sudut alis Elvano tertarik ke atas.“Betul, Pak. Ada di bionya. Setiap karyawan pasti menulis divisi mereka di bio, jadi bisa dilacak siapa pemilik nomor itu, Pak.” Staff kembali menunduk setelah memperlihatkan informasi yang Elvano i
Siang hari.Kiran mengetuk pintu ruang kerja Elvano sebelum masuk ke dalam lalu berdiri di depan meja kerja sang kekasih.“Ada pertemuan dengan PT. Angkasa satu jam lagi, lebih baik kita pergi sekarang agar tidak membuat perwakilan dari mereka menunggu.” Kiran sudah siap dengan berkas di pelukannya saat menyampaikan jadwal Elvano siang ini.“Baiklah.” Elvano menutup berkas yang ada di mejanya.Elvano bangkit dari duduknya, dia mengambil jasnya yang ada di sandaran kursi, sebelum memakainya dengan rapi lagi.“Ayo pergi,” ajak Elvano.Kiran mengangguk. Dia melangkah di belakang Elvano saat keluar dari ruangan untuk menuju lift.Kiran dan Elvano awalnya hanya berdua, sampai dari lantai lain masuk beberapa staff yang kemudian berdiri di depan mereka. Kiran dan Elvano berdiri di bagian belakang, sampai pintu lift kembali terbuka lagi di salah satu lantai dan beberapa karyawan juga masuk ke sana.Awalnya semua terasa nyaman, sampai terdengar karyawan yang ada di paling depan mulai berbicar
Kiran melihat Surya yang diam. Tangannya terulur ke arah Surya, menggenggam telapak tangan sang ayah dengan erat.“Yah, aku mengajak Ayah tinggal di sini, jauh dari mereka, hanya agar Ayah hidup tenang tanpa gangguan mereka lagi.” Kiran bicara dengan pelan dan penuh kehati-hatian.“Kamu jangan salah paham, Kiran. Ayah bertanya bukan untuk bermaksud apa-apa, Ayah hanya mau tahu saja.” Napas Kiran berembus pelan. “Kapan Ayah menemui Ibu? Bukankah sudah kubilang, Ayah jangan lagi menemuinya, atau Ibu akan berusaha keras mengubah keputusan Ayah.”“Ayah ingin aku bahagia, ‘kan? Ya, bahagiaku dengan melihat Ayah bahagia, tenang tanpa harus memikirkan sikap Ibu padaku.” Kiran bicara dengan sangat cepat walau takut ayahnya marah. “Aku tahu, sudah lancang mengatur hidup Ayah, tapi ini yang terbaik untuk Ayah saat ini.”Surya mengulurkan tangan lainnya, lalu menepuk-nepuk pelan punggung tangan Kiran. “Ayah paham maksudmu.”“Ayah tidak marah dengan keputusan yang kamu ambil, Kiran,” kata Surya
Kembali ke divisi pemasaran setelah selesai makan siang. Langkah kaki Kiran terhenti di tengah koridor ketika matanya tertuju pada Elvano yang berdiri di depan ruang kerja.Jemari-jemari Kian meremat erat di sisi tubuhnya kalau melihat tatapan Elvano yang tertuju padanya.“Kemari.”Suara Elvano mem
Saat siang hari. Elvano melakukan peninjauan di Radja Mall bersama Dania dan Kiran. Kiran terus berjalan di belakang Elvano, mencatat apa pun yang Elvano komentari tanpa terlewat satu kata pun. Sedang Dania, dia berjalan di samping Elvano layaknya pasangan untuk atasannya ini. “Beberapa toko ko
Dahi Kiran berkerut dalam. Sejauh ingatan yang masih tersisa di kepalanya, Elvano tidak suka kopi pahit. Namun, bukankah kesukaan orang bisa berubah? Bahkan sifat dan perilaku saja bisa?Lantas, kenapa Kian begitu yakin kalau Elvano, masih sama seperti dulu?“Kenapa reaksimu begitu? Kamu tidak per
Sudah tertebak Widya akan membahas hal ini. Dan, seharusnya Kiran tidak terkejut sama sekali.Kiran menarik napas dalam-dalam lebih dulu. Tubuhnya sedikit menegak dengan tatapan lurus tak terpatahkan. “Aku dapat kamar asrama dari perusahaan.”“Aku juga sudah diskusi dengan Ayah kalau tidak akan tin







