LOGIN“Uangmu masih cukup?”
Kiran menoleh karena pertanyaan Elvano. Dia mengangguk pelan ketika menatap sang kekasih. “Masih.”
Kiran kembali fokus ke ponselnya, dia mengirimkan uang sesuai dengan janjinya pada Widya.
“Aku akan memberikan uang yang kamu butuhkan.” Elvano mengeluarkan ponsel dari s
Siang hari.Kiran mengetuk pintu ruang kerja Elvano sebelum masuk ke dalam lalu berdiri di depan meja kerja sang kekasih.“Ada pertemuan dengan PT. Angkasa satu jam lagi, lebih baik kita pergi sekarang agar tidak membuat perwakilan dari mereka menunggu.” Kiran sudah siap dengan berkas di pelukannya saat menyampaikan jadwal Elvano siang ini.“Baiklah.” Elvano menutup berkas yang ada di mejanya.Elvano bangkit dari duduknya, dia mengambil jasnya yang ada di sandaran kursi, sebelum memakainya dengan rapi lagi.“Ayo pergi,” ajak Elvano.Kiran mengangguk. Dia melangkah di belakang Elvano saat keluar dari ruangan untuk menuju lift.Kiran dan Elvano awalnya hanya berdua, sampai dari lantai lain masuk beberapa staff yang kemudian berdiri di depan mereka. Kiran dan Elvano berdiri di bagian belakang, sampai pintu lift kembali terbuka lagi di salah satu lantai dan beberapa karyawan juga masuk ke sana.Awalnya semua terasa nyaman, sampai terdengar karyawan yang ada di paling depan mulai berbicar
Kiran melihat Surya yang diam. Tangannya terulur ke arah Surya, menggenggam telapak tangan sang ayah dengan erat.“Yah, aku mengajak Ayah tinggal di sini, jauh dari mereka, hanya agar Ayah hidup tenang tanpa gangguan mereka lagi.” Kiran bicara dengan pelan dan penuh kehati-hatian.“Kamu jangan salah paham, Kiran. Ayah bertanya bukan untuk bermaksud apa-apa, Ayah hanya mau tahu saja.” Napas Kiran berembus pelan. “Kapan Ayah menemui Ibu? Bukankah sudah kubilang, Ayah jangan lagi menemuinya, atau Ibu akan berusaha keras mengubah keputusan Ayah.”“Ayah ingin aku bahagia, ‘kan? Ya, bahagiaku dengan melihat Ayah bahagia, tenang tanpa harus memikirkan sikap Ibu padaku.” Kiran bicara dengan sangat cepat walau takut ayahnya marah. “Aku tahu, sudah lancang mengatur hidup Ayah, tapi ini yang terbaik untuk Ayah saat ini.”Surya mengulurkan tangan lainnya, lalu menepuk-nepuk pelan punggung tangan Kiran. “Ayah paham maksudmu.”“Ayah tidak marah dengan keputusan yang kamu ambil, Kiran,” kata Surya
Setelah berhasil membujuk Leya. Kiran benar-benar mengantar Leya ke rumah sakit bersama Elvano dan Alina.Mereka berjalan di koridor menuju kamar inap Ayudhia, sampai Kiran merasakan genggaman tangan Leya yang sangat kuat.Kiran menoleh pada Leya, senyumnya begitu manis meski melihat ekspresi wajah Leya yang tegang.“Leya kenapa? Kan mau ketemu Mama, kok tegang? Apa Leya nggak kangen Mama?”Ucapan Kiran menarik perhatian Elvano dan Alina. Mereka ikut berhenti saat melihat Kiran berdiri sambil menatap Leya.“Leya kangen, tapi ….” Leya menundukkan kepala ketika menghentikan kalimatnya.Kiran menekuk kedua lututnya, berjongkok di depan Leya sambil memberikan senyum hangat untuk gadis kecil ini.“Leya tidak akan tahu bagaimana sayangnya Mama ke Leya, kalau Leya saja tidak mau menemuinya.”Leya menatap Kiran yang terus memberinya senyum hangat. Kepalanya mengangguk pelan.Alina terus memperhatikan Kiran saat membujuk Leya. Dia bersyukur ada Kiran yang bisa membujuk dan memberi pengertian pa
Kiran menyiapkan air mandi untuk Leya, setelahnya dia yang melepas pakaian Leya sebelum membantunya masuk ke bathtub.“Kakak Kiran tidak pulang pac Leya mandi, ‘kan?” Leya duduk di dalam bathtub yang penuh dengan air, matanya mengedip beberapa kali ke arah Kiran.Senyum Kiran begitu manis saat memandang Leya. “Tidak, Kakak Kiran akan di sini sampai Leya selesai mandi.”“Sekarang, Leya mandi dulu. Kakak Kiran siapin bajunya dulu, ya.”Setelah melihat Leya mengangguk. Kiran melangkah menuju pintu kamar mandi.Tepat saat menginjakkan kaki di luar, Kiran tersentak mendapati Elvano sudah ada di kamar Leya.“Kenapa kamu muncul tiba-tiba? Kamu benar-benar mengejutkanku.” Kiran sampai mengembuskan napas pelan sambil mengurut dada.“Apanya tiba-tiba? Sejak tadi aku sudah ada di sini.” Kiran mencebik. “Aku mau ambilin baju buat Leya dulu.”Elvano memperhatikan langkah Kiran saat melewatinya, sebelum ikut di belakang Kiran.“Apa yang ibumu mau?” Elvano penasaran dengan apa yang dibicarakan Kiran
“Kasihan sekali ibunya ….”“Apa iya Kiran memang sekejam itu?”Napas Kiran berembus semakin berat mendengar ucapan beberapa staff yang menyaksikan kejadian itu. Kiran menatap Widya yang duduk di lantai sambil menangis.“Sudah cukup sandiwaranya?” Kiran bicara dengan nada sangat datar.Tangis Widya seketika berhenti. Dia melirik lagi pada Kiran yang berdiri di hadapannya.“Sudah kubilang, jika Ibu mau Kak Yoga bebas, silakan Ibu temui keluarga Radjasa. Itu pun kalau mereka mau menemui Ibu dan bisa menerima perbuatan Kak Yoga.” Kiran bicara dengan nada penuh penekanan. “Aku tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Jika Ibu masih mau di sini menangisi keburukan putramu, silakan. Aku tidak akan mencegah.”Setelah bicara, Kiran melangkah begitu saja mengabaikan Widya.Widya tersentak. Dia segera berdiri saat pandangannya tertuju pada Kiran yang melangkah begitu saja. Jemari-jemari Widya mengepal erat, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengeluarkan putranya.Kiran terus mengayunk
Turun menggunakan lift, Kiran melangkah keluar saat lift terbuka di lobby.Sampai gerakan kaki Kiran melambat ketika melihat sosok ibunya berdiri di dekat pintu lobby.“Kiran, Kiran akhirnya kamu menemui Ibu.” Widya melangkah cepat menghampiri Kiran yang baru saja dilihatnya.Wajah Kiran masih datar. Bahkan dia tak menunjukkan rasa senang akan kedatangan sang ibu.“Ada apa Ibu ke sini?” Satu kalimat pertanyaan yang Kiran tak membutuhkan jawabannya. Dia menatap dingin pada Widya yang berdiri di hadapannya.“Ibu hanya mau tanya kabarmu.” Widya tersenyum walau sedikit dipaksakan.Kiran mengembuskan napas kasar. “Tidak usah berbasa-basi, Bu. Aku tahu, kedatangan Ibu pasti untuk meminta sesuatu dariku.”Senyum di wajah Widya memudar ketika mendengar ucapan Kiran. Jemarinya saling meremat, jika bukan karena Kiran yang bisa membantunya, dia tidak akan susah payah datang ke sana.“Baiklah, Ibu akan berterus terang.” Widya melirik ke sekitar, memperhatikan orang-orang yang melewati mereka, sebe
“Papa?” Kiran kembali mengulang panggilan gadis kecil ini. Dia masih tak percaya Elvano sudah memiliki anak yang usia sepertinya empat tahun. Gadis kecil mengulurkan tangan pada Kiran. “Mana kuenya?” “Aduh, Non Leya, kenapa buka pintu sendiri?” Sebelum Kiran menyerahkan kue yang dibawanya, s
Ketika menoleh kembali pada Alina, Kiran melihat senyum wanita tua ini semakin manis. “Ada apa, Nyonya?” Kiran berdiri menghadap pada Alina lagi. “Kamu pulang naik apa dari sini?” Suara lembut wanita di depannya ini, membuat senyum Kiran mengembang sempurna. Angin sejuk seperti berembus lembut
Kiran berusaha kembali menarik tangannya, tetapi pria ini tak melepas. “Kamu sangat manis.” Ucapan Robby membuat wajah Kiran semakin memucat. “Pak Elvano sudah mabuk, bagaimana kalau menemaniku sebentar?” Seluruh tubuh Kiran merinding ketika Robby mengusap punggung tangannya. Tangannya dia tarik
Tubuh Kiran menegak bersamaan dengan matanya yang melebar. Namun, detik berikutnya mata Kiran sedikit menyipit. Kenapa Dania begitu emosional? Kiran mengembuskan napas pelan, menekan emosinya agar tak meledak. Dia tidak mau ada keributan di kantor. Menghadapi senior seperti Dania, bukan hal baru b







