เข้าสู่ระบบMartha tersentak. Dia panik.Noah dan yang lain menyergapnya di sini, tidak ada tanda-tanda Yessica datang. Itu artinya putrinya tak ada di tangan mereka.“Hubungi? Kenapa aku yang harus menghubungi? Dia tinggal di rumah kalian, harusnya kalian bisa menghubunginya.” Martha bicara dengan entengnya.Jika Yessica benar kabur, maka Martha tidak akan membiarkan Raihan dan yang lain menangkap Yessica.Kamila kembali geram dengan sikap Martha yang menyebalkan.“Mana ponsel wanita sialan ini. Biar aku beri dia pelajaran, kalau dia sudah salah memilih lawan.” Kamila mengedarkan pandangan mencari-cari ponsel Martha.Semua orang mencari tetapi tak ditemukan.Sampai tatapan Kamila kembali tertuju pada Martha yang sangat tenang.Kamila mendekat, tangannya langsung meraba ke tubuh Martha.“Mau apa kamu? Jangan menyentuhku.” Martha memberontak.Kamila tak menggubris. Dia meraba ke pakaian Martha, sampai akhirnya menemukan ponsel wanita ini di saku rok yang dipakai.Kamila menyeringai.“Kamu tidak mau
Martha menipiskan senyum. “Tentu saja, apa kalian mau melihatnya? Ada di dalam lemari, di laci tengah, ambil saja dan lihat.”Kening Noah berkerut dalam. Martha terlalu percaya diri jika mengira mereka akan percaya begitu saja.Sedang Kamila sudah menatap tajam, seperti ada kilatan dari sorot matanya yang menyambar-nyambar ke arah Raihan jika benar suaminya memiliki anak lain dari Martha.Terlebih, anak itu sudah membuatnya terpisah dengan putri kandung Kamila selama bertahun-tahun lamanya.‘Awas kamu, Raihan. Kalau benar Yessica putrimu, aku tidak akan pernah memaafkanmu,’ batin Kamila dengan wajah merah padam.Raihan diam melihat tatapan Kamila. Dia bukan takut pada bukti yang Martha akan tunjukan, tetapi takut jika kesalahpahaman antara dia sang istri terus berlanjut.Noah datang kembali, dia membawa kertas berlogo rumah sakit di tangan kanannya.Wajah Noah begitu datar saat menatap Martha. Dia tidak langsung memberikan kertas itu pada ibu atau ayahnya.“Bagaimana bisa kami tahu ka
Raihan, Kamila, dan Noah pergi ke rumah tempat Martha berada.Saat sampai di sana, Kamila langsung turun dari mobil.Kamila sudah tak sabar dan geram ingin mendengar penjelasan dari Martha soal perselingkuhan yang dituduhkan ke suaminya.Belum lagi, Kamila juga ingin membuat perhitungan karena Martha sudah mencelakai putri kandungnya.Kamila merangsek masuk ke dalam rumah.Sampai tatapannya tertuju pada Martha yang sudah diikat di kursi, memunggungi arah pintu.“Lepaskan, kalian mau apa?” Mendengar teriakan Martha, Kamila melangkah mendekat. Dia berhenti tepat di depan Martha.Kamila melihat keterkejutan di wajah Martha saat melihatnya.Reaksi Martha cukup menunjukkan jika wanita ini mengenal dirinya.“Jadi kamu ….” Kamila sengaja menjeda ucapannya.Saat itu, Raihan dan Noah baru saja tiba. Mereka menatap Martha. Benar, wanita ini yang mereka cari.Martha menatap bergantian pada Raihan, Noah, dan Kamila.Wajah Martha pucat. Bola matanya bergerak liar.“Jadi, ternyata kamu dalang diba
Di tempat Kiran.Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang baru saja mengakhiri panggilan.Kiran memperhatikan ekspresi wajah kekasihnya yang terlihat cemas.“Apa terjadi sesuatu di sana?” Kiran memastikan.Elvano kini menoleh pada Kiran. Dia menghela napas kasar, sebelum melangkah kembali mendekat pada Kiran.Begitu duduk di kursi samping ranjang, Elvano menatap serius pada Kiran saat berkata, “Yessica kemungkinan sudah tahu kalau rencananya semalam gagal. Noah tidak mendapatinya di rumah saat tiba, sekarang Noah sedang mencarinya.”Wajah Kiran sangat datar mendengar informasi yang Elvano katakan.“Jika benar dia pelakunya, dia pasti sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk sehingga dia memilih kabur lebih dulu.” Elvano bicara dengan sangat serius.“Wanita seperti Yessica pasti tidak akan berhenti begitu saja. Dia penuh ambisi dan ego. Dia akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya.” Kiran sudah ingat semua tentang masa kecilnya, sekarang dia bisa menilai seperti apa Yessica i
“Ke mana? Ke mana dia pergi?” Wajah Noah berubah tegang. Dia tidak akan melepas Yessica begitu saja.Raihan menggeleng. “Yessica hanya mengatakan ingin keluar.”Sedang Kamila yang baru saja menghentikan tangisnya, kini menatap pada Noah sambil berkata, “Semalam, Mama melihat Yessica panik saat menghubungi seseorang. Mama mendengar dia menggerutu karena orang yang dihubunginya tak membalas.”“Semalam?” Noah mengulang. “Apa Mama dan Papa tahu? Yessica meminta orang untuk membunuh Kiran lagi. Aku tebak, dia pasti pergi untuk menemui pria itu. Berarti dia ke tempat Kiran tinggal.”Noah melebarkan bola mata saat menebak ke mana Yessica pergi.Kamila dan Raihan tersentak.“Yessica ingin membunuh Kiran?” Suara Kamila meninggi. “Noah!” Kamila menatap tak percaya.“Saat di danau waktu itu, Yessica juga berniat menenggelamkan Kiran, itu bukan sebuah permainan.” Noah bicara dengan tegas.“Aku harus mengejar Yessica, tidak ada waktu untuk menjelaskan lagi. Jika kalian menyayangi Kiran, maka kalian
Kamila dan Raihan semakin syok.“Apa maksudmu, Noah?” Raihan menatap semakin bingung.“Noah, Mama sudah sangat syok dengan semua bukti yang kamu berikan. Katakan semua sekaligus, Noah. Mama tidak bisa menahannya lagi.” Kamila benar-benar frustasi, kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya, dia kembali terduduk di kursi, kedua tangan menekan kepala kuat.Raihan mendekati Noah, saat berdiri di depan putranya, Raihan segera bertanya, “Apa maksud ucapanmu jika Yessica itu anak Papa, Noah. Apa kamu punya bukti? Jangan membuat keluarga kita kacau dengan memberikan pernyataan tanpa bukti, Noah.”“Aku memang tidak punya bukti valid kalau Yessica anak Papa. Hanya saja tindakan Martha, bukanlah hal yang bisa dianggap wajar. Martha takut jika Calissa tetap ada di rumah ini posisi putrinya akan tergeser, yaitu Yessica. Lalu, apa lagi hubungannya jika bukan karena sesuatu yang erat? Kenapa Martha harus takut dengan keberadaan Calissa?” Noah mengungkap asumsinya berdasarkan fakta yang didapat.Raih
Keesokan harinya.Elvano memperhatikan Kiran yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.Elvano memperhatikan wajah Kiran yang lesu. “Ada apa, Ki? Apa ada masalah?”
Elvano tersentak mendengar semua omelan sang mama, apalagi kini Aksa juga melotot ke arahnya.Dia menarik napas dalam-dalam dan siap menjelaskan ke sang mama, tetapi sebelum bibirnya sukses bergerak, Elvano kembali mend
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta







