Home / Romansa / Dimanja Mantan Posesif / Hadiah Tanpa Nama

Share

Hadiah Tanpa Nama

last update publish date: 2026-06-11 14:26:05
Elvano mengambil hadiah di tangan Kiran. Tangannya mencoba mengukur berat hadiah itu untuk menebak apa isinya.

Memastikan di dalamnya bukanlah benda yang bisa membahayakan Kiran.

Kiran menatap cemas, kenapa ada yang memberi hadiah di saat pesta sudah berakhir?

Sampai, Kiran teringat Yessica.

“Mungkinkah dari Yessica?” Kiran memastikan. Apalagi sebelumnya Yessica juga mengirim barang melalui kurir tanpa nama pengirim.

Elvano menatap pada Kiran, lantas dia kembali fokus ke kado yang ada di tangann
Aililea (din din)

Kakak, done 3 bab buat hari ini, ya. selamat membaca

| 13
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Adeena
semoga Yessica benar2 berubah....
goodnovel comment avatar
Wida
semoga aj bner2 tulus
goodnovel comment avatar
Titin Susiyana
hati2 Kiran takutnya itu cuman jebakan.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dimanja Mantan Posesif   Siapa Wanita Itu?

    Malam hari. Elvano masuk ke klub malam untuk menemui Aldo. Saat menginjakkan kaki di dalam klub, tatapannya mengedar mencari keberadaan sahabatnya. Sampai tatapan Elvano tertuju ke Aldo yang melambaikan tangan ke arahnya. Elvano melangkah menghampiri Aldo yang duduk di depan meja bartender. Elvano lebih dulu memesan minuman setelah duduk di kursi samping Aldo sebelum mulai mengulik informasi dari sahabatnya ini. “Tiba-tiba sekali kamu mengajak bertemu di klub, apa Kiran tidak akan mengamukmu karena takut kamu mabuk?” Aldo meledek Elvano. Dia menoleh ke temannya ini yang terlihat santai. Elvano tak langsung menanggapi ucapan Aldo. Dia menerima minuman dari bartender. Elvano lebih dulu menyesap minuman beralkohol rendah ini, lalu setelahnya kembali menatap pada Aldo. “Aku sudah minta izin Kiran, dia memperbolehkanku pergi ke klub.” Elvano bicara dengan sangat santai. Sedang Aldo tersenyum mencibir. “Ya, ya. Yang sekarang kalau pergi-pergi harus dapat izin.” Elvano tersenyum mi

  • Dimanja Mantan Posesif   Ikut Bingung

    Setelah bicara dengan Sabrina.Kiran naik ke ruangan Elvano berada.Kiran tak pergi ke meja kerjanya. Dia lebih dulu masuk ke ruang kerja Elvano untuk menemui tunangannya ini.Kiran melihat Elvano yang langsung menatap ke arahnya.“Bagaimana? Sudah selesai bicara dengan Sabrina?” Elvano langsung melontarkan pertanyaan.Kiran mengangguk. Wajahnya lesu.Melihat Kiran yang tak bersemangat. Elvano berdiri dari duduknya lalu menghampiri Kiran. “Kenapa? Apa ada masalah?” Kiran langsung memeluk Elvano yang sudah ada di depannya.Elvano semakin bingung. Dia mengusap punggung Kiran.“Ada apa? Kenapa datang-datang malah sedih begini? Sabrina bicara apa?” Elvano memastikan.“Peluk sebentar, nanti aku cerita.” Nada suara Kiran begitu manja.Elvano akhirnya diam. Dia membiarkan Kiran memeluknya, tangannya secara konstan mengusap rambut Kiran.Setelah cukup lama, akhirnya Kiran melepas pelukan. Dia mengajak Elvano duduk berdua.“Ada apa? Kenapa kamu lesu seperti ini?” Elvano memastikan.Kiran mena

  • Dimanja Mantan Posesif   Akhirnya Jujur Juga

    Sabrina tersentak.Dia menatap tak percaya Kiran bisa sedetail ini memperhatikan dirinya.Sabrina mengembuskan napas pelan. Dia sadar, tidak seharusnya menyembunyikan sesuatu dari Kiran, sedangkan sejak dulu, Kiran selalu jujur padanya.Sabrina tersenyum kaku. Dengan banyak pertimbangan akhirnya dia berkata, “Setelah selesai makan nanti, kita bicara berdua bisa, ‘kan?”Kiran dan Elvano saling pandang sejenak mendengar ucapan Sabrina.Saat Kiran kembali menatap ke sahabatnya ini, Kiran mengangguk. “Tentu,” katanya.“Aku boleh bicara sebentar dengan Sabrina ‘kan, El?” Kiran baru meminta izin setelah membuat keputusan.Dan Elvano hanya bisa mengangguk mengiyakan izin yang sebenarnya tak perlu persetujuannya.Setelah selesai makan.Kiran pergi bersama Sabrina. Mereka duduk di bangku taman samping gedung.Kiran memperhatikan tangan kanan Sabrina yang menutupi gelang di tangan kiri.Kiran tak bertanya lagi, dia menunggu Sabrina menceritakan apa yang ingin dikatakan.“Kemarin Aldo memang meng

  • Dimanja Mantan Posesif   Mungkin Ya, Mungkin Tidak

    Kamila diam beberapa saat. Jemarinya yang tadi menyentuh permukaan gaun lilac di dalam kotak, perlahan ditarik kembali ke pangkuan. Mata Kamila menyorot kosong, menerawang jauh ke tahun-tahun yang telah dia lewati saat Yessica tumbuh di bawah pengawasannya dengan kasih sayang yang dia berikan."Yessica itu ...." Kamila menjeda kalimatnya sejenak, napasnya berat yang terdengar lelah dan putus asa kala mengingat kegagalannya mendidik Yessica. "Dulu, setelah kamu menghilang, Yessica begitu manja, Kiran. Sangat ceria, selalu ingin menjadi pusat perhatian, dan apa pun yang dia inginkan harus terpenuhi saat itu juga. Mama menganggapnya itu wajar, sebagai anak yang baru saja kehilangan saudara dan anak yang awalnya terlahir di keluarga kurang berada."Kamila menatap pada Kiran, ada keraguan yang begitu dalam di sorot matanya."Tapi mengingat dia hampir mencelakaimu, Mama tidak berani lagi berspekulasi. Mama jadi ragu, apakah keceriaan dan kemanjaannya selama ini adalah sifat aslinya, atau h

  • Dimanja Mantan Posesif   Hadiah Tanpa Nama

    Elvano mengambil hadiah di tangan Kiran. Tangannya mencoba mengukur berat hadiah itu untuk menebak apa isinya.Memastikan di dalamnya bukanlah benda yang bisa membahayakan Kiran.Kiran menatap cemas, kenapa ada yang memberi hadiah di saat pesta sudah berakhir?Sampai, Kiran teringat Yessica.“Mungkinkah dari Yessica?” Kiran memastikan. Apalagi sebelumnya Yessica juga mengirim barang melalui kurir tanpa nama pengirim.Elvano menatap pada Kiran, lantas dia kembali fokus ke kado yang ada di tangannya.Untuk memastikan, Elvano segera menarik pita yang mengikat dan membuka pembungkusnya, memperlihatkan kotak berwarna hitam dengan logo merk fashion ternama.Kening Elvano berkerut dalam. Dia sudah cemas itu teror yang dibungkus rapi untuk mengelabuhi, tetapi mungkin ini tak seperti yang Elvano pikirkan.“Coba, aku yang lihat di dalamnya.” Kiran mengambil alih kotak dari tangan Elvano.Dengan hati-hati Kiran membuka penutup kotak. Dan, sekarang dia melihat sebuah gaun berwarna lilac nan elegan

  • Dimanja Mantan Posesif   Kesepakatan Para Orang Tua

    Sabrina terkejut. Dia menatap pada Aldo yang terus tersenyum setelah meminta pelayan toko membungkus gelang yang Sabrina pandangi.“Apa kalung tadi masih kurang?” Sabrina memastikan.Aldo menoleh pada Sabrina, dia menggeleng. “Gelang itu untukmu, hadiah karena kamu mau membantuku.”Sabrina terkejut. Dia siap membuka mulut untuk memprotes, tetapi Aldo sudah lebih dulu berkata, “Jangan menolak, karena aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu yang sudah mau membantuku. Jadi, terima ya.”Bibir Sabrina kembali terkatup. Dia mengangguk-angguk pelan.Walau Sabrina sedikit ragu karena gelang itu harganya pasti mahal, tetapi Aldo dengan mudahnya memberikan gelang itu untuknya.Setelah mendapatkan barang yang Aldo butuhkan. Dia mengantar Sabrina sampai di rumah kontrakan.Aldo menatap pada Sabrina yang sedang membuka sabuk pengaman. “Lain kali, jika aku membutuhkan bantuanmu, apa kamu bersedia membantuku?”Sabrina menoleh pada Aldo, senyumnya terangkat lebar. “Tentu saja, kamu bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status