MasukCiee, nggak jadi ngambek, wkwkwk kayak kalian kalau nggak jadi ngambek kalau jumlah babnya nggak jadi dipotong kan, wkwkwkwkw ngaku lah
Surya menatap tegang pada Kiran.“Psikiater?” Surya mengulang.Kiran mengangguk.“Aku bisa mendengar suara ban meledak, bisa mendengar suara-suara keras lainnya yang tidak nyaman di telinga. Tapi, kenapa aku tidak bisa mendengar suara petir? Aku hanya ingin tahu, apa ini karena aku punya trauma.” Kiran mengembuskan napas kasar.Surya terdiam. “Ayah tenang saja, aku akan pergi dengan El. Aku akan baik-baik saja.” Kiran melebarkan senyumnya setelah meyakinkan Surya.Surya menatap Kiran yang penuh semangat.Dia tidak mau mematahkan, apa pun yang ingin putrinya lakukan.“Baiklah, kalau kamu pergi dengannya, Ayah bisa tenang.” Senyum lebar Surya terangkat di wajah tuanya. “Kalau begitu, sekarang kamu harus sarapan yang banyak, agar punya banyak tenaga dan bisa menjalani harimu dengan lancar.”Ucapan penuh semangat sang ayah, mampu membuat kepala Kiran mengangguk kuat.“Aku pasti akan makan banyak, apalagi jika makanannya masakan Ayah.”Setelah bicara, Kiran tertawa lepas.Sedang Surya leg
“Bagaimana bisa kamu lalai menjaganya, hah?”“Lihat sekarang, Noah! Lihat apa yang terjadi padanya, Noah. Bahkan jasadnya saja tidak bisa kita temukan. Bagaimana bisa kamu lalai seperti ini, Noah!”“Bagaimana aku bisa memeluknya sebelum menguburkannya. Dia pasti kedinginan di sana, putriku yang malang.”Dalam sekejap, Noah terbangun dari mimpi buruknya.Keringat dingin bermanik di keningnya. Suara raungan dan tangis histeris sang ibu kembali hadir dalam mimpinya.Begitu nyata, begitu jelas.Noah mengguyar kasar rambutnya ke belakang.Tatapannya tertuju ke arah gorden, gelap, tidak ada cahaya dari luar, menandakan hari masih begitu malam.Selimut yang menutupi kakinya dia sibak kuat.Noah turun dari ranjang. Dia berjalan menuju meja.Satu tangan Noah meraih botol wine, tangan satunya lagi mengambil gelas yang ada di sisi kiri.Dia menuang pelan wine dari botol ke gelas, sebelum menenggaknya dengan cepat hingga tandas.Menaruh gelas sedikit kasar di meja, Noah mendengkus kasar.Matanya
Elvano memperhatikan Kiran yang baru saja minum obat setelah dia paksa makan siang.“Apa benar-benar tidak perlu ke rumah sakit? Badanmu masih hangat.” Elvano menatap cemas, apalagi Kiran masih mengeluh agak pusing.Kiran baru saja selesai meneguk air putih. Dia menoleh pada Elvano yang menatapnya.“Tidak usah. Aku sudah lebih baik. Istirahat setengah hari lagi juga besok membaik.” Kiran tersenyum lembut setelah membalas. “Kamu kembalilah ke perusahaan, aku sudah baik-baik saja.” Kiran meletakkan gelas di atas meja setelah selesai bicara.Elvano mencebik. “Mana bisa aku meninggalkanmu?”Kening Kiran berkerut dalam mendengar balasan Elvano.“Ayahmu memintaku menjagamu, itu artinya sebelum dia kembali, aku tidak akan pergi.”Kiran sampai tak bisa berkata-kata mendengar penolakan Elvano.“Tapi aku mau istirahat.” Kali ini Kiran menatap serius.“Tidurlah. Aku akan berjaga, atau mau tidur di sini?” Dengan tenang Elvano menepuk pahanya.Elvano meminta Kiran berbaring berbantal pahanya.Kira
Setelah mobil terparkir sempurna.Noah turun dari dalam mobil. Dia memang sengaja tidak mau diturunkan di depan restoran agar bisa mendekati Surya.Begitu kedua kakinya menapak di luar mobil. Senyum Noah langsung mengembang saat Surya menatap ke arahnya.“Anda lagi.” Surya sedikit membungkukkan tubuhnya, menyapa dengan senyum ramah pada pria yang beberapa kali datang di restoran ini.Senyum Noah masih terangkat di bibirnya ketika mendekat ke Surya.“Anda kerja dari pagi sampai malam, Pak?” Noah mulai berbasa-basi.Surya tersenyum canggung. Baru kali ini ada pelanggan restoran yang mau mengajak bicara pekerja seperti dirinya.“Sebenarnya hanya malam saja. Tapi karena teman saya harus mengantar istrinya cek kehamilan di rumah sakit, jadi saya yang menggantikan.” Surya bicara dengan sopan.“Kiran berangkat bekerja?” Noah mulai memancing.Surya tidak cukup mengenal pria di depannya ini, sehingga dia tidak sepenuhnya jujur dengan membalas, “Iya.”Noah mengangguk-angguk.“Apa Anda mau makan
Ketika masih bicara, terdengar suara ponsel Kiran yang terus berdering.Tatapan Elvano dan Kiran sama-sama tertuju ke arah kamar.Kiran segera berdiri untuk melihat ponselnya.Sedang Elvano menatap dingin. Dia menebak siapa yang menghubungi Kiran lagi.Kiran masuk ke kamar.Dia mengambil ponsel lamanya, nama Adrian terpampang di layar.Kiran tidak langsung menjawab panggilan itu.Kiran menoleh ke pintu kamarnya sejenak. Elvano ada di sini, Kiran tidak mau menyinggung sang kekasih jika menjawab panggilan dari Adrian.Akhirnya, Kiran memilih memasukkan ponsel ke laci. Dia keluar dari kamar.Saat kembali ke ruang tamu.Kiran menatap pada Elvano yang sedang makan buah.“Kamu masih menggunakan nomor lamamu?”Kiran terkejut mendengar pertanyaan Elvano.Dia lebih dulu duduk di samping Elvano.Sengaja, kepala Kiran disandarkan di pundak Elvano.“Iya, buat jaga-jaga saja ada teman atau Bibi Anggit menghubungi, karena mereka tahunya nomor lamaku. Aku tidak memberitahu ke banyak orang soal nomor
Elvano membiarkan saja ponsel Kiran terus berdering. Sampai panggilan itu berakhir sendiri.Dia menoleh pada Kiran yang benar-benar tidak terganggu dengan suara ponsel.Elvano duduk di tepian ranjang.Menatap Kiran yang sangat pulas. Elvano mengulurkan tangan menyentuh kening Kiran.Masih hangat.Baru saja akan menarik kembali telapak tangannya, Elvano terdiam saat Kiran menahan telapak tangannya, lalu menyentuhkan ke pipi.“Tangan Ayah dingin, nyaman.” Suara Kiran begitu lirih.Bibir Elvano tersenyum kecil.“Dasar anak ayah,” gumam Elvano menatap gemas pada Kiran.Kekasihnya ini benar-benar tidak bisa lepas dari sosok ayahnya.Elvano membiarkan Kiran merasakan tangannya yang dingin, sampai perlahan genggaman tangan Kiran terlepas.Elvano bangun dari duduknya.Dia keluar dari kamar Kiran untuk menyiapkan buah dan kue yang dibawanya.Elvano sibuk di dapur saat mendengar suara Kiran memanggil Surya.“Ayah, aku masih mengantuk. Ayah di mana?”Kedua alis Elvano sampai tertarik ke atas.Di
Kaki Kiran berhenti bergerak. Matanya terpaku pada wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan Elvano.Wanita dengan rambut panjang berkilau, wajahnya begitu manis dan terawat, polesan make up di wajahnya bahkan tak menutup kecantikan alami wanita ini.Dan yang membuat tubuh Kiran membeku ketika p
Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me
Kelopak mata Kiran perlahan terbuka. Kepalanya seperti sulit digerakkan, tubuhnya terkulai tak bertenaga. Tangan Kiran terangkat pelan untuk menekan kepala, ketika itu dia baru menyadari kalau selang infus terpasang di lengannya. Mata Kiran mengedar, bau disinfektan yang begitu pekat, menyadarkann
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta







