MasukKiran keluar dari rumah untuk melihat siapa yang menunggu.Sampai tatapannya tertuju pada Noah.Tetapi kakaknya ini memakai kemeja polos dengan celana panjang biasa.“Kenapa kamu menungguku?” Kiran memastikan.“Elvano memberiku undangan untuk ikut datang ke pestanya, hanya saja aku merasa kedatanganku akan menciptakan masalah, jadi lebih baik aku datang tapi tidak masuk ke ruang pesta.” Noah tersenyum setelah bicara. “Anggap saja aku sopirmu. Aku akan menunggu di luar dan memastikan kamu tetap aman.’Kiran terenyuh. Tiba-tiba saja dadanya berdenyut cepat mendengar ucapan Noah yang penuh perhatian padanya.“Baiklah, hanya semalam ini saja menjadi sopirku, selebihnya kamu adalah kakakku.” Setelah bicara, Kiran tertawa kecil karena candaannya.Sedang Noah kini bergeming mendengar ucapan Kiran, rasanya masih benar-benar tak menyangka Kiran sudah menyebutnya sebagai kakak lagi.“Baiklah, ayo kita pergi. Terlambat sedikit saja, Elvano akan mengamukku dikira aku menghambat kedatanganmu.” Kir
Elvano menghela napas pelan.“Apa pun tujuannya, dia salah tempat.” Elvano menoleh pada Kiran, tatapannya penuh perhatian pada kekasihnya ini. “Kiran sudah dua kali mengalami rumor miring seperti ini. Jadi, ketiga kalinya tidak akan membuat Kiran tersudut.”Setelah bicara, kedua sudut bibir Elvano tertarik membentuk lengkungan kecil.“Apalagi, ada keluargaku yang melindungi Kiran juga. Wanita itu bisa berbuat apa di Radjasa?” Elvano kembali bicara tanpa mengalihkan tatapan dari Kiran.Noah menatap bergantian pada Kiran dan Elvano yang tersenyum sambil saling tatap.Dia seperti berada di tempat dan waktu yang salah.Tubuh Noah mendadak merinding. “Bisakah kalian tetap ingat, jika di sini, di tempat ini, di meja ini, ada aku, aku, ya aku di sini harus menyaksikan kemesraan kalian?” Noah kesal sendiri, dia menatap bergantian pada Kiran dan Elvano.Elvano dan Kiran menoleh bersamaan.“Memangnya kami memperlihatkan kemesraan?” Pertanyaan Elvano membuat Noah semakin kesal.“Sudahlah, suka
Noah tersentak.Wajahnya merah padam bersamaan jari-jarinya yang kini mengepal kuat.“Apa maksudmu? Kamu mau menuduh ayahku berselingkuh dengan Martha, lalu wanita gila itu sekarang mengincar Kiran untuk balas dendam. Itu maksudmu?” Suara Noah menggeram tertahan. Ingin meledak tetapi masih ditahan untuk menjaga situasi tetap kondusif.“Tenanglah, itu hanya tebakanku. Banyak spekulasi yang bisa kita pikirkan, tapi mendengar cerita dari orang yang aku temui, semuanya mengarah ke sana.” Theo bicara dengan sangat santai menghadapi sikap Noah.Noah mendengkus kasar. Dia memalingkan muka untuk menahan diri agar emosinya tak meledak.“Kehidupan keluargaku baik-baik saja selama bertahun-tahun ini. Kami begitu harmonis, jadi jaga pemikiranmu itu.” Noah bicara sedikit ketus.Kiran diam mencerna ucapan Theo. Bisa saja semua yang Theo katakan memang benar.Hanya saja, tanpa bukti lebih jelas, mereka juga tidak bisa langsung menyimpulkan.“Masalah ini belum jelas arahnya.” Kiran membuka suara.Tata
Sore hari.Kiran duduk di mobil Elvano.Dia menoleh pelan ke sang kekasih yang sedang mengemudi.“Apa yang Theo katakan?” Kiran menahan penasaran sejak Elvano mengatakan jika Theo sudah mendapat informasi soal Martha.“Aku juga belum tahu, tapi Theo bilang sudah ada petunjuk dan ingin bertemu langsung untuk membahas ini.”Kiran mengangguk-angguk mendengar penjelasan Elvano.“Kamu sudah menghubungi Noah?” tanya Elvano saat menoleh sekilas pada Kiran.Kiran mengangguk pelan. “Aku sudah mengirim pesan padanya untuk datang ke kafe yang kamu katakan tadi.”Elvano mengangguk-angguk pelan.Mereka tiba di kafe yang dituju.Kiran dan Elvano keluar dari mobil, kemudian berjalan masuk ke kafe.Saat menginjakkan kaki di dalam kafe, tatapan mereka tertuju ke lantai dua kafe ini.Theo menunggu di atas.Elvano dan Kiran naik ke lantai atas. Setibanya di sana, ternyata Noah sudah tiba lebih dulu dari mereka.“Kamu tiba lebih awal?” Kiran menatap Noah yang sudah duduk satu meja dengan Theo.“Kebetulan
Staff ini melirik pada Kiran yang berdiri di dekat Elvano.Dia belum berani mengangkat pandangannya. Masih dengan kepala tertunduk, staff ini berkata, “Saya tahu dari seorang pria yang meminta saya hati-hati karena di perusahaan ini sekarang ada anak dari pesaing RDJ.”Lirikan mata staff tertuju pada Kiran setelah selesai bicara.“Dan, hanya karena informasi tak jelas itu, kamu menyebar fitnah?” Elvano bicara dengan penuh penekanan.Kiran sejak tadi diam mengamati. Kiran melihat staff ini terus meremat jari, bola mata staff ini juga bergerak liar.Kiran yakin, alasannya bukan sesederhana itu.“Jujur saja, dari mana kamu tahu informasi itu. Semakin kamu jujur, akan semakin kecil konsekuensi yang akan kamu terima. Jika kamu memilih berbohong dengan mengarang cerita, maka jangan salahkan perusahaan bertindak tegas atas sikapmu yang menciptakan kegaduhan menggunakan namaku.” Kiran bicara dengan cepat tetapi lugas.Bruk!Staff langsung berlutut, kepalanya menggeleng kuat saat menatap Kira
Kiran tersentak.Dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah sumber suara.Pandangannya kini tertuju pada Elvano yang berdiri tepat di depannya.Apa Elvano mendengar semuanya?Kiran teringat dengan nasib teman-teman Dania yang dulu mengerjainya, ketika tatapannya menoleh ke dalam pantry, Kiran melihat ekspresi panik di wajah para staff ini.Apakah Elvano akan memberikan hukuman kepada mereka?Nindy dan yang lain langsung menunduk melihat keberadaan Elvano di depan pintu bersama Kiran.Dua staff tadi bicara sangat vocal, sekarang hanya bisa tertunduk diam dengan jemari saling meremat.“Jika kalian ingin bersantai sambil bergosip, silakan letakkan surat pengunduran kalian di mejaku.”Staff di pantry terperanjat. Mereka menggeleng dengan wajah panik.“Tidak, Pak. Kami tidak berani.” Mereka menggeleng bersama.“Kembali ke pekerjaan kalian!”Satu kalimat sentakkan yang mampu membuat para staff membubarkan diri.Nindy sampai meringis mendengar bagaimana Elvano mengamuk.Lima tahun bekerja d
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta







