MasukSatu bulan kemudian.Hari acara pertunangan Noah dan Nindy pun tiba. Acara pertunangan itu diadakan sederhana di rumah keluarga Nindy atas permintaan kedua orang tuanya dan dihadiri kerabat dekat.Noah menatap Nindy yang tampak cantik dengan balutan gaun berenda dan make up sederhana yang sangat cantik.Setelah menyematkan cincin di jari Nindy juga sebaliknya, Noah mengecup lembut kening Nindy yang diikuti suara riuh tepuk tangan dari keluarga.“Masih tunangan, belum sah sebagai suami-istri, nantinya jangan kebablasan,” celetuk Aldo yang ikut hadir di acara itu.Elvano memukul pelan lengan Aldo yang bicara blak-blakan di depan banyak orang seperti ini.Mengundang tawa orang-orang yang mendengar perkataan Aldo, sampai membuat Nindy mengulum bibir sambil menunduk dengan kedua pipi merona.Setelah acara tukar cincin, keluarga dan tamu yang datang dipersilakan menikmati makanan yang sudah dihidangkan.Di sela-sela acara jamuan makan, Noah yang sedang berdiri menikmati hidangan tiba-tiba di
Nindy terkejut dan diam sambil mengunyah makanan di mulutnya ketika mendengar ucapan Kamila.Dia tidak tersinggung atau kesal karena belum apa-apa Kamila sudah mengatur soal pekerjaannya.Nindy justru mengulas senyum kecil lalu menjawab pelan. "Sebenarnya kerja juga capek, tapi aku juga tidak bisa kalau harus diam di rumah saja, Bibi."Kamila menatap Nindy lekat. "Kenapa? Kamu takut tidak punya penghasilan sendiri?"Nindy terkejut mendengar sambaran kalimat dari Kamila."Eh, bukan begitu, Bibi!" Nindy buru-buru menyanggah. Dia takut Kamila salah paham dan mengira dia sedang menuduh Noah tidak bisa mencukupi kebutuhannya kelak. Nindy pun buru-buru meluruskan alasannya. "Aku hanya sudah terbiasa bekerja. Kalaupun tidak kerja, aku maunya tetap ada kegiatan."Kamila tersenyum kecil mendengar balasan Nindy, lalu dia kembali bicara. "Kalau begitu resign saja. Nanti bikin kegiatan bersama Bibi. Banyak hal yang bisa dilakukan meski jadi ibu rumah tangga."Nindy seketika bingung dan panik menca
Nindy menggeleng sambil terus tersenyum. “Tidak, tidak untuk menyenangkan siapa pun, Bibi.”“Siapa yang tidak mengakui Noah tampan, tapi siapa juga yang berani mendekati pria dengan status tinggi sepertinya. Karena itu, meski tertarik padanya, aku mana berani mengakui itu.” Nindy meyakinkan kalau semua ucapannya benar-benar sebuah kejujuran yang dia miliki.Kamila diam beberapa detik mendengar ucapan Nindy, sampai senyum kecil terangkat di bibirnya.“Bibirmu manis sekali, hm ….” Tatapan Kamila berubah hangat ke Nindy. “Pantas saja Noah menyukaimu.”Meski masih ada senyum di bibirnya, tetapi Nindy tidak tahu apakah ucapan Kamila ini sebuah sindiran atau pujian untuknya.Sampai Kamila menggenggam telapak tangan Nindy, lalu menepuk-nepuk punggung tangan Nindy dengan lembut.“Aku senang kamu mau bersama Noah, setidaknya sebentar lagi dia akan menanggalkan status lajangnya di usianya ini.” Senyum Kamila merekah, begitu tulus dan hangat seperti saat pertama kali Nindy dan Kamila bertemu.Da
Beberapa hari kemudian, siang hari di RDJ Group.Nindy sedang fokus merapikan beberapa dokumen di mejanya ketika ponsel di samping laptopnya berdering. Nomor telepon interkom dari bagian resepsionis gedung kantor terpampang di layar ponselnya. Nindy segera menjawab panggilan itu karena dikhawatirkan ada hal mendesak yang ingin disampaikan.“Halo, selamat siang.” Nindy menyapa ramah."Selamat siang, Bu Nindy. Di lobby ada tamu yang ingin bertemu dengan Mbak." Terdengar suara petugas resepsionis dari seberang panggilan.Nindy sedikit berkerut keningnya. "Tamu? Siapa, ya?" tanya Nindy memastikan."Beliau menyebut namanya Ibu Kamila."Nindy tertegun sejenak mendengar nama sang calon mertua disebut. Meski Kamila merestui hubungannya dengan Noah, tetapi sikap Kamila belum sepenuhnya menghangat seperti dulu. Namun, Nindy juga tak menolak atau menghindar. Tanpa menunda waktu, dia segera mengiyakan dan merapikan pakaiannya sebelum melangkah turun menuju lobby utama.Begitu sampai di lobby, N
Malam hari. Di kamar Elvano. Suasana kamar terasa tenang dan hangat. Kiran baru saja selesai mandi saat tatapannya tertuju ke suaminya yang baru saja keluar dari walk in closet."Ki, coba kamu lihat isi lemari pakaian di walk-in closet. Tadi Mama bilang ada beberapa baju baru yang disiapkan buatmu dan sudah mengatur lemari khusus untukmu," ujar Elvano dengan senyum penuh arti.Kiran menaikkan sebelah alisnya heran. Namun, dia tetap melangkah masuk ke dalam walk-in closet. Kiran mengedarkan pandangan ke banyaknya pintu kaca yang ada di ruangan ini, sampai tatapannya tertuju ke beberapa lemari yang memang terisi dengan tas, sepatu, sampai pakaian wanita.Sampai saat membuka salah satu pintu lemari kaca yang ada di sudut ruangan, mata Kiran seketika membola lebar.Di dalam sana tersusun rapi berbagai jenis pakaian tidur, dan di rak bagian tengah, berderet beberapa helai lingerie dengan bahan sutra dan renda yang minim. Pipi Kiran seketika memerah panas. Dia berdiri tertegun penuh rasa
Mata Kiran membola lebar mendengar pengakuan Kamila.Bukan hanya Kiran, semua orang juga langsung tersenyum lega mendengar penuturan wanita ini soal hubungan Noah dan Nindy.Suasana ruang keluarga yang semula sempat tegang kini berubah penuh kehangatan."Lamarannya akan diadakan sebulan lagi," tambah Noah memajang senyum lebar. "Mengingat Kiran juga baru saja menikah, kami merasa waktu sebulan cukup pas untuk persiapan."“Baguslah.” Nada bicara Kamila sedikit mencair lebih hangat dari sebelumnya. “Dengan begitu, kamu bisa cepat-cepat nyusul Kiran, masa kakaknya kalah dari adiknya.” Kali ini ucapan Kamila mengandung sedikit nada sindiran.Kiran melipat bibir mendengar ucapan Kamila, sepertinya mulai terbiasa dengan sikap sang mama yang seperti ini.Raihan mengangguk-angguk setuju. Dia memandang Noah dan Nindy dengan raut bahagia. "Papa akan siapkan semuanya. Yang penting kamu dan Nindy benar-benar serius membina rumah tangga nantinya.""Pasti, Pa," sahut Noah cepat tanpa keraguan sediki







