MasukMata Kiran membola lebar. Kilau silver yang menembus indera penglihatannya membuatnya menggeleng pelan.“Kamu tidak akan melakukan itu.” Kiran tak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya. “El tidak akan melepaskanmu, dia akan menyeretmu ke penjara.” Kiran mencoba menggoyahkan niat pria ini.Namun, pria ini malah tertawa kecil.“Aku tidak takut mati.” Kenny mengangkat belatinya di udara.Brakk!Sebelum belati menghujam perut Kiran, suara benturan mengejutkan semua orang yang ada di dalam mobil bersamaan tubuh mereka yang terhuyung ke segala arah.Mobil berhenti setelah sebelumnya menabrak sebuah mobil yang melintang di depan mereka.“Mobil di depan muncul secara tiba-tiba.” Rekan Kenny menoleh ke belakang, wajahnya begitu panik.Tatapan Kenny tertuju ke mobil di depan mereka yang ringsek bagian sisinya karena benturan kuat. Sebelum pandangannya tertuju ke belakang, tiga mobil yang mengejar mereka kini mengepung.“Sial.” Kenny mengumpat. Saat ini tatapannya tertuju pada Kiran.Jari-jari K
Beberapa saat sebelum kejadian.Kiran asyik makan dengan Leya, sampai suara dentuman kecil mengejutkannya dan yang lainnya.“Api.”Suara itu terdengar di tengah kerumunan para tamu. Kiran menatap ke arah panggung, benar ada api di sana.Kiran panik, dia langsung menangkap tangan Leya. “Leya, ayo keluar dari sini.” Leya menatap bingung. “Kenapa Kakak Kiran? Tapi Mama belum ke sini, nanti Mama nyariin Leya.” “Panggungnya terbakar, kita keluar dulu.” Kiran sudah berdiri, tatapannya tertuju ke orang-orang yang mulai meninggalkan aula pesta. “Nanti Kakak Kiran yang akan cari Mama dan jelasin, oke.”Leya mengangguk sebelum turun dari kursi. Dia berjalan bersama Kiran menuju pintu keluar.Keduanya terdesak orang-orang yang berusaha keluar dari ruang pesta karena panik.Kiran mengajak Leya menepi agar tidak tertabrak tamu lainnya ketika mencapai luar. Mencarikan tempat yang aman dan luas agar Leya tidak terluka jika terdesak orang dewasa.Di tengah kepanikan. Di bawah lampu yang sedikit te
Saat Elvano dan Theo sampai di pintu yang tadi mereka gunakan untuk keluar. Para tamu sudah berhamburan keluar melalui pintu utama. Ada api muncul dari panggung yang ada di depan, menciptakan kepanikan yang luar biasa untuk semua tamu. “Kiran!” Elvano berteriak keras. Matanya menelisik ke setiap tamu yang sedang terburu-buru berlari meninggalkan tempat pesta. Elvano mulai panik tak mendapati Kiran di mana-mana. Sampai pandangannya tertuju pada sang kakak ipar yang berdiri panik sambil mengedar ke seluruh ruangan. “Theo, cari Arlo dan yang lain, aku akan membantu Ayudhia keluar dulu.” Setelah melihat Theo mengangguk, Elvano merangsek membelah kerumunan para tamu yang berbondong-bondong ingin meninggalkan ruangan. “Ayudhia.” Elvano memanggil sang kakak ipar. Saat tatapan Ayudhia tertuju ke arahnya, Elvano segera menarik tangan sang kakak ipar. “Bawa bayimu keluar dari sini.” “El, Leya tidak ada. Dia di mana? Dia tadi aku tinggal duduk sendirian di meja itu, tapi sekarang tidak
Kiran melangkah menuju meja Leya berada.Saat sudah berdiri di samping kursi Leya, Kiran menahan senyum melihat cara makan Leya yang begitu lahap.“Leya.” Kiran sedikit membungkuk ketika menyapa gadis kecil ini.Leya menoleh cepat masih dengan mulut yang penuh, Leya terlihat sangat senang.Setelah berhasil menelan seluruh makanan di mulut, Leya segera menyapa. “Kakak Kiran.” Senyum Leya melebar. Dia sampai turun dari kursinya.Kiran menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Leya.“Kamu tambah chubby, hmmm. Lihat pipimu, gemesin.” Kiran menusuk-nusuk pelan pipi Leya.Leya tertawa lepas. “Iya, soalnya kalau adik nggak mau makan bubur, Leya yang habisin.”Kiran tertawa kecil mendengar cerita Leya. “Kenapa duduk di sini sendiri? Mama dan Papa mana?” Kiran menegakkan tubuhnya, pandangannya mengedar ke seluruh ruangan mencari keberadaan Arlo dan Ayudhia.“Mama tadi mau kasih susu ke adik. Papa baru saja tadi pergi ke sana.” Leya menunjuk ke arah sang papa pergi.Pandangan Kiran akhirnya tertuju ke
Kiran keluar dari rumah untuk melihat siapa yang menunggu.Sampai tatapannya tertuju pada Noah.Tetapi kakaknya ini memakai kemeja polos dengan celana panjang biasa.“Kenapa kamu menungguku?” Kiran memastikan.“Elvano memberiku undangan untuk ikut datang ke pestanya, hanya saja aku merasa kedatanganku akan menciptakan masalah, jadi lebih baik aku datang tapi tidak masuk ke ruang pesta.” Noah tersenyum setelah bicara. “Anggap saja aku sopirmu. Aku akan menunggu di luar dan memastikan kamu tetap aman.’Kiran terenyuh. Tiba-tiba saja dadanya berdenyut cepat mendengar ucapan Noah yang penuh perhatian padanya.“Baiklah, hanya semalam ini saja menjadi sopirku, selebihnya kamu adalah kakakku.” Setelah bicara, Kiran tertawa kecil karena candaannya.Sedang Noah kini bergeming mendengar ucapan Kiran, rasanya masih benar-benar tak menyangka Kiran sudah menyebutnya sebagai kakak lagi.“Baiklah, ayo kita pergi. Terlambat sedikit saja, Elvano akan mengamukku dikira aku menghambat kedatanganmu.” Kir
Elvano menghela napas pelan.“Apa pun tujuannya, dia salah tempat.” Elvano menoleh pada Kiran, tatapannya penuh perhatian pada kekasihnya ini. “Kiran sudah dua kali mengalami rumor miring seperti ini. Jadi, ketiga kalinya tidak akan membuat Kiran tersudut.”Setelah bicara, kedua sudut bibir Elvano tertarik membentuk lengkungan kecil.“Apalagi, ada keluargaku yang melindungi Kiran juga. Wanita itu bisa berbuat apa di Radjasa?” Elvano kembali bicara tanpa mengalihkan tatapan dari Kiran.Noah menatap bergantian pada Kiran dan Elvano yang tersenyum sambil saling tatap.Dia seperti berada di tempat dan waktu yang salah.Tubuh Noah mendadak merinding. “Bisakah kalian tetap ingat, jika di sini, di tempat ini, di meja ini, ada aku, aku, ya aku di sini harus menyaksikan kemesraan kalian?” Noah kesal sendiri, dia menatap bergantian pada Kiran dan Elvano.Elvano dan Kiran menoleh bersamaan.“Memangnya kami memperlihatkan kemesraan?” Pertanyaan Elvano membuat Noah semakin kesal.“Sudahlah, suka
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me







