MasukKiran menggeleng saat melihat kepanikan di wajah Widya.“Kami tidak akan menuntut apa pun lagi,” kata Kiran dengan tenang.“Dengarkan dulu penjelasan Kiran.” Surya akhirnya bicara setelah sejak tadi diam karena larut dalam kecanggungan.Widya benar-benar panik. Bagaimanapun mereka baru saja mau memulai kehidupan mereka agar lebih baik, sehingga pembahasan masa lalu menjadi begitu sensitif untuk mereka.Kiran menatap semua orang yang diam. Dia lebih dulu mengambil napas panjang, sebelum bicara.“Rumah itu sebenarnya aku tebus.” Kiran menatap satu persatu pada Widya, Mila, dan Yoga setelah dia bicara. “Tapi, aku menjualnya agar adil untuk semua orang.”Widya seperti ingin memprotes, tetapi dia sadar diri juga sudah menerima uang dari Kiran, sehingga Widya memilih diam.“Ayah sudah setuju, uang itu harus dibagi untuk tiga anaknya. Aku, Kak Mila, dan Kak Yoga, setelah dipangkas biaya penebusan rumah dan biaya lainnya.” Kiran bicara dengan tegas.Kiran mengeluarkan selembar kertas berisi ri
Mila menahan senyum dan air matanya secara bersamaan.Sampai dia memeluk erat sang ayah, walau terhalang perutnya yang besar.“Aku lega Ayah mau datang ke sini.” Suara Mila bergetar.Surya menarik napas dalam-dalam. Dia usap lembut punggung Mila tanpa kata.Saat sudah melepas pelukan dari Surya, tatapan Mila kini tertuju pada Kiran.“Bagaimana kabarmu, Kiran?” Mila menatap penuh syukur. Jika bukan karena bantuan Kiran, Mila tidak akan bisa membuka usaha miliknya ini.Kiran mengangguk pelan menjawab pertanyaan Mila. “Sepertinya sebentar lagi kamu akan melahirkan?” tanya Kiran balik.Mila mengangguk-angguk. “Jika tidak meleset, harusnya bulan depan.”Mila kembali menatap pada Surya. Setelah beberapa bulan tak melihat ayahnya, akhirnya sekarang Mila bisa melihatnya.Mata Mila tiba-tiba berkaca-kaca, lalu dia berkata, “Ayah, maafkan kesalahanku dulu yang sering membangkang dan tak patuh pada Ayah. Aku belum sempat minta maaf.”Melihat Mila yang siap menangis, Surya langsung mengusap lenga
Dua hari kemudian. Kiran mendapatkan pembayaran dari Aldo. Sore itu Kiran menemui ayahnya yang ada di kamar. “Kamu sudah pulang.” Surya menatap pada Kiran yang baru saja masuk. Senyumnya mengembang sempurna menyambut kedatangan putrinya. Langkah Kiran begitu riang menghampiri sang ayah. Di tangan kirinya, memegang amplop cokelat berisi uang hasil penjualan rumah. “Sini, ada yang mau aku bicarakan dengan Ayah.” Kiran merangkul lengan Surya, lalu mengajak ayahnya duduk di tepian ranjang. Surya menatap Kiran yang baru saja meletakkan amplop cokelat di pangkuannya. “Apa ini?” tanya Surya sambil menatap penasaran pada Kiran. “Uang penjualan rumah. Rumahnya sudah laku dan hasil penjualannya lebih dari harga pasar. Ayah lihatlah dulu.” Kiran menjelaskan lalu meminta ayahnya mengecek uang di dalamnya. Surya malah diam memandang amplop cokelat di pangkuannya, lalu dia menoleh pada Kiran. Amplop itu dia serahkan kembali ke tangan Kiran. Kiran terkejut, dia menatap bingung pada sang ay
Kening Kiran berkerut dalam.Mendadak Kiran melihat sorot mata menggebu-gebu dari Aldo.“Apa kamu sudah ada sesuatu yang butuh bantuanku?” Kiran menebak.Aldo melipat bibir sejenak, senyumnya terangkat penuh arti.“Palingan soal Sabrina.” Tebak Elvano cepat.Kiran langsung menoleh pada Elvano yang baru saja bicara, dan tebakan itu sepertinya benar saat melihat senyum kecil di bibir Aldo.“Kamu, masih ingin mengejar Sabrina meski dia sudah menolakmu?” Kiran memastikan lagi.Aldo tidak langsung menjawab. Dia diam sepersekian detik karena kepalanya penuh dengan banyak pikiran.“Kamu jangan salah paham, aku tidak terobsesi. Aku memang menyukainya dan aku ingin tahu pasti alasan dia menolakku.” Aldo menjelaskan. “Dia bilang tidak bisa saat aku mengajaknya bersama.”Napas Aldo dihela kasar, lalu dia kembali bicara. “Maksudku, apa yang membuat dia tidak bisa? Bukankah harusnya ada alasannya? Tidak bisa karena dia punya pacar? Tidak bisa karena dia mau fokus kerja? Atau tidak bisa karena dia
Sabrina melotot.“Enak saja.” Sabrina menyambar cepat. “Jangan mentang-mentang kamu atasan ya, jadi membullyku.”Kiran menahan tawa mendengar perdebatan Elvano dan dia yang mencoba mengakhiri.“Sudah, kalian ini seperti mahasiswa yang berdebat saja. Jadi ingat, dulu kalian juga suka berdebat seperti ini waktu diskusi. Yang ada bertengkar jadi gagal diskusi.” Kiran terkekeh pelan saat ingatannya kembali ke masa-masa mereka kuliah.“Rasanya senang jika ingat dulu bisa membully El, sekarang mana berani, bisa-bisa aku dipecat, benar ‘kan, Pak El?” Ucapan Sabrina bernada candaan di akhir kalimat.Elvano menahan tawanya. Dia menggeleng pelan..“Soal pasangan, apa kamu tidak mau mempertimbangkan Aldo, Sab? Dia masih menyukaimu sampai sekarang.” Tatapan Elvano kembali tertuju pada Sabrina yang ada di hadapannya.Sabrina tersedak. Dia buru-buru mengambil minumnya di atas meja.Kiran dan Elvano saling lirik, wajah mereka menyiratkan rasa penasaran karena reaksi Sabrina ini.Kiran memperhatikan S
Napas Elvano embuskan kasar.“Tidak ada kabar apa pun dari Theo,” kata Elvano dengan wajah frustasi. “Tidak tahu di mana Yessica sekarang, yang jelas Theo tidak bisa melacaknya.” Kiran diam menatap Elvano yang baru saja menoleh sekilas padanya.Ini memang aneh. Di mana Yessica sampai tidak terlihat atau diketahui di mana pun.“Theo juga sudah mengerahkan orang untuk mencari Martha membantu ayahmu, hanya saja hasilnya sama. Dua orang ini menghilang seperti ditelan bumi.” Elvano kembali bicara dengan rasa penasaran.Bagaimana dua orang ini bisa menghilang tak berjejak.Kiran mengembuskan napas kasar.“Jika Yessica dibawa kabur untuk menghindari jeratan hukum, aku harap dia benar-benar pergi untuk menghindar dan tidak pernah kembali.” Kiran masih memegang janji Yessica, walau dia tidak sepenuhnya yakin.“Kita juga tidak yakin dia bisa berubah. Sekarang kita hanya bisa waspada lebih dulu.” Elvano menoleh sejenak pada Kiran sebelum kembali fokus ke jalanan.Kiran dan Elvano tiba di perusa
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta
Keesokan harinya.Elvano memperhatikan Kiran yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.Elvano memperhatikan wajah Kiran yang lesu. “Ada apa, Ki? Apa ada masalah?”
Elvano tersentak mendengar semua omelan sang mama, apalagi kini Aksa juga melotot ke arahnya.Dia menarik napas dalam-dalam dan siap menjelaskan ke sang mama, tetapi sebelum bibirnya sukses bergerak, Elvano kembali mend







