LOGIN3-02-2025. Halo Kakak, Welcome to Kisah El yang gemesin, wwkwkwk. Kak, buku El masih belum bisa up rutin, kadang 1 kadang 2, kalau misal ga up, dimaklumi ya, wkwkkwwk. udah gitu aja, makasih yang udah baca kisah ElKi. (◠‿◕)
Bibir Kiran terlipat dalam. Dia buru-buru berdiri, lalu mengambil rantang di atas meja.Kiran melirik sejenak ke Elvano, sebelum melangkah menjauh.Saat akan melewati Aksa yang berdiri di dekat pintu, Kiran lebih dulu membungkukkan tubuhnya. “Saya permisi dulu, Pak Aksa.” Kiran melewati Aksa begitu saja. Panik dan malu bercampur menjadi satu.Sedang Aksa menatap kepergian Kiran dengan kening berkerut dalam.Begitu pintu tertutup, tatapan Aksa kini beralih pada Elvano yang baru saja bangkit dari duduknya.“Kalian ….” Aksa sengaja menjeda kalimatnya.Tatapannya penuh curiga.Dia tidak melihat jelas apa yang baru saja Elvano dan Kiran lakukan, tetapi dia melihat kepanikan di wajah Kiran.“Kami kenapa? Tidak ada salahnya mencium calon istri, tapi Papa keburu masuk ruangan.” Setelah bicara, senyum Elvano dilebarkan sempurna.Bola mata Aksa membulat lebar.Bisa-bisanya putranya ini bicara dengan sangat blak-blakkan.“Calon istri?” Nada bicara Aksa penuh penekanan. “Memangnya kamu sudah mem
Kiran tersenyum geli mendengar pertanyaan Elvano.Dia menegakkan tubuhnya. Duduk sedikit miring menghadap Elvano.“Tidak, mereka tidak melakukan itu.” Senyum Kiran terangkat kecil. “Mereka senang bisa bertemu denganku.”“Bagaimana denganmu?” Pertanyaan Elvano mengembangkan senyum Kiran. “Aku hanya lega, tapi tidak tahu apakah itu perasaan senang dan bahagia, atau hanya menerima.” Pasti tidak mudah untuk Kiran menerima begitu saja keluarganya setelah bertahun-tahun berpisah. Elvano memahaminya.“Tidak apa-apa. Kamu berhak mengungkap perasaanmu tanpa tekanan.” Tangan Elvano terulur untuk mengusap rambut Kiran.Kiran mengangguk-angguk manja, sampai dia teringat Yessica.“Masalahnya, sekarang aku bersaudara dengan wanita sombong itu.” Kiran mengembuskan napas kasar setelah bicara. Dia tidak rela memiliki hubungan status dengan wanita yang suka berbuat semena-mena.“Wanita sombong?” Satu sudut alis Elvano tertarik ke atas. “Maksudmu wanita yang berdebat denganmu di toko tas? Siapa namany
Kiran menatap Elvano yang masih berdiri.“El, kenapa masih tidak duduk.” Kiran menarik tangan Elvano, membawa sang kekasih duduk di dekatnya.Setelahnya Kiran mengambil rantang dari atas piring. Kini dia memegang satu rantang di tangan kiri, lalu tangan kanan memegang sendok.Mendapati Kiran tak menyodorkan sendok untuknya, mata Elvano menelisik ke meja, mencari-cari benda itu.“Mana sendokku?” Elvano kembali menatap pada Kiran, dia tak menemukan sendok selain yang ada di tangan Kiran.Senyum Kiran melebar. Kiran mengangkat sendok yang sudah berisi suapan makanan.“Untuk apa sendok lain? Aku yang akan menyuapimu hari ini.”Elvano menatap tak percaya, tetapi juga senang mendapat perhatian dari Kiran.“Buka mulutmu.” Satu suapan siap dimasukkan ke dalam mulu Elvano.Elvano membuka mulut. Dia menerima suapan dari Kiran.Tak hanya sekali, beberapa kali Kiran menyuapkan makanan ke mulut Elvano.“Kamu tidak makan?” Permukaan jempol Elvano menyentuh bibirnya yang terkena sisa makanan. Tatapa
Kiran menatap bingung.Kelopak matanya mengedip beberapa kali.“Melakukan apa, Bibi?”“Ini pun masih tanya.” Alina menepuk-nepuk pelan punggung Kiran. “Tentu saja, membujuk El. Minta dia tetap memikirkan istirahat dan makan yang teratur.”Bibir Kiran terlipat, kepalanya mengangguk-angguk pelan.“Bibi tenang saja, aku pasti akan menasihatinya untuk tetap menjaga kesehatan.” Ucapan melegakan dari Kiran, membuat Alina bernapas panjang.“Ayahnya keras karena memikirkan kakaknya yang memiliki banyak beban tanggung jawab, karena itu El juga ditekan agar segera menguasai. Bibi hanya berharap setidaknya El memikirkan kesehatannya juga.”Kiran mengangguk-angguk lagi. “Bibi jangan cemas, aku akan menasihatinya.”Setelah bicara cukup lama.Alina pamit pulang.Kiran berdiri di dekat pintu.Dia diam cukup lama, sampai tatapannya tertuju ke rantang yang Alina berikan.Jika yang Alina katakan benar, berarti selama dua hari ini Elvano benar-benar penuh tekanan. Tetapi kenapa Elvano tidak bercerita p
Di rumah Surya.Kamila dan Raihan masih duduk di ruang tamu bersama Surya.Kamila mengamati rumah ini. Sederhana dan kecil, bahkan ruang tamunya tak lebih besar dari kamarnya.“Pak Surya, apa Anda tidak berniat pindah ke rumah yang lebih besar? Jika mau, kami bisa carikan rumah yang lebih besar dari rumah ini.”Surya tersentak.Dia menatap Kamila yang baru saja selesai bicara. Entah apa maksud Kamila, tetapi Surya menanggapi dengan senyum ramah.“Rumah ini Kiran yang pilih. Aku hanya ikut apa yang Kiran rencanakan dan lakukan. Mungkin Kiran ingin rumah kecil yang hangat saja. Lagi pula kami tinggal hanya berdua, jadi kalau besar-besar malah akan seperti kosong.”Kamila mengangguk-angguk.Noah sudah bercerita kalau Surya bercerai dengan istrinya, jadi Kamila tidak mau membahas masalah itu.“Lalu soal Kiran, apa Pak Surya bisa membujuknya agar mau pulang bersama kami?” Raihan kini angkat suara.Surya lagi-lagi dibuat terkejut dengan pertanyaan dua orang ini.“Benar, Kiran seharusnya pu
Noah mengangguk pelan. “Sudah.”“Semalam Kiran pasti sudah tidur saat Paman pulang, jadi belum sempat memberitahu.” Noah menjelaskan.Napas Surya berembus pelan.“Kiran tidak marah, ‘kan?” Surya kembali memastikan.Sekali lagi Noah mengangguk pelan.Surya lega.Akhirnya Kiran bertemu dan menerima keluarganya.Walau mungkin ini akan menjadi akhir kebersamaannya dengan Kiran, tetapi Surya senang Kiran kembali mendapatkan apa yang seharusnya didapat.“Kami ke sini juga atas sepengetahuan Kiran. Anda jangan cemas.” Kamila angkat suara setelah melihat Surya yang cemas.Surya mengembangkan senyum. Mereka duduk bersama.Menunggu Kiran yang sedang mandi karena harus berangkat ke perusahaan.“Terima kasih karena bertahun-tahun ini Anda sudah menjaga Kiran dengan baik.” Kamila menatap penuh syukur. “Kami benar-benar tidak menyangka kalau selama ini dia masih hidup dan kami dibohongi.”“Anda tidak perlu berterima kasih. Aku juga sudah mendengar semuanya dari Noah. Jadi aku memahami alasan kalia
Ragu-ragu, Kiran duduk di sofa berhadapan dengan Elvano. Matanya melirik sejenak pada Elvano yang sudah membuka penutup kotak makan siangnya. Dia lantas membuka makanan bagiannya.Ketika melihat ada daun bawang di atas makanan yang dibelinya, bibir Kiran sedikit berkerut.Kiran tidak suka daun bawa
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu
Kiran mengembuskan napas kasar, tak percaya dengan apa yang didapatnya dan didengarnya. Wajahnya sedikit terangkat, matanya menyorot tajam pada Mona.Telunjuk Mona tertuju ke wajah Kiran, sebelum berucap, “Ingat,
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu







