ログインKakak, 2 bab dulu ya. Sisanya nyusul, selamat membaca
Setelah acara lamaran dan penentuan tanggal acara selesai.Semua orang menikmati jamuan yang disiapkan oleh keluarga Bimantara.Alina dan Kamila duduk berdua dengan tatapan tertuju pada Leya yang sedang bermain bersama Kiran dan yang lain.Kamila tersenyum, dia tatap Alina lalu berkata, “Aku suka pakaian buatan Atelier, bahkan aku memiliki tiga gaun edisi terbatas yang kalian luncurkan. Dulu aku tidak memakainya, hanya menyimpannya karena orang-orang seperti menatap aneh jika aku memakai produk dari pesaing bisnis keluarga, tapi sekarang sepertinya aku bisa memakainya.”Alina terkejut. Dia menoleh pada Kamila yang baru saja selesai bicara. “Gaun edisi terbatas Atelier?” Alina memastikan.Kamila mengangguk. “Iya, sudah terpajang di kamarku sangat lama, tidak bisa aku pakai. Tapi sekarang, akhirnya aku bisa memakainya. Dengan menikahnya Kiran dan Elvano, membuatku bebas membeli dan memakai gaun dari Atelier, ini sangat luar biasa, ‘kan?”Setelah bicara panjang dan sangat cepat, Kamila t
Di rumah baru keluarga Bimantara.Kiran melangkah cepat saat mendengar kalau Sabrina datang.“Sab.” Kiran membuka kedua tangan. Dia langsung memeluk Sabrina seolah sudah sangat lama tidak melihat sahabatnya ini.Sabrina tersenyum melihat sikap Kiran. Sudah biasa, tetapi kali ini agak luar biasa. “Ya, yang mau dilamar secara resmi, senangnya minta ampun sampai peluknya nggak kira-kira.”Kiran tertawa kecil. Dia melepas pelukan, lalu dia tatap Sabrina yang memajang senyum untuknya.“Ya, belum resmi juga, masih perlu banyak hal yang dibahas.” Kiran bicara dengan senyum semringah.“Kamu, mau menemui keluarga Elvano pakai pakaian santai begini?” Sabrina memperhatikan penampilan Kiran. Kaus dan rok selutut yang sahabatnya ini pakai.Kiran menurunkan pandangan, mengamati penampilannya sebelum kembali memandang Sabrina.“Acaranya tidak resmi banget, kok. Lagian keluarga El datang sekalian buat acara pindah rumah.” Kiran menjelaskan.Sabrina mencebik. Tangan kanannya menarik pelan telinga Kira
“Papa El!” Leya terus berteriak dengan kaki berayun cepat. Ayudhia dan Arlo sampai terkejut mendengar suara Leya. “Leya, ada apa?” Ayudhia memanggil putrinya yang berlari menaiki anak tangga dengan cepat, tetapi Leya tidak berhenti. “Ar, coba lihat kenapa Leya berlari sambil berteriak-teriak seperti itu.” Ayudhia menatap cemas. Arlo baru saja akan menyusul Leya, ketika Alina muncul di sana. “Hish, anak ini.” Alina menatap ke lantai dua. “Leya kenapa, Ma?” tanya Ayudhia. Tatapan Alina menoleh ke Ayudhia dan Arlo, lalu dia berkata, “Leya mendadak histeris tahu El akan menikah, dia tidak rela kalau El punya anak selain dia.” Ayudhia dan Arlo melotot. “Anak kalian ini bener-bener unik.” Setelah bicara, Alina meninggalkan Ayudhia dan Arlo untuk kembali menyiapkan barang bawaan. Sedang Ayudhia dan Arlo saling tatap cengo, mereka bingung sendiri dengan cerita Alina yang hanya sepenggal. Di lantai dua. Leya masuk ke dalam kamar Elvano. Wajahnya sudah sangat basah saat Leya mengh
“Kenapa aku harus keberatan?” Noah menanggapi dengan santai. Dia memasukkan suapan ke mulut, lalu kembali bicara. “Aku akan memastikan kamu benar-benar bahagia dulu, baru aku akan menikah.”Kiran dan semua orang langsung terdiam mendengar apa yang Noah katakan.Sampai Kiran sama sekali tidak bisa, pandangannya dari sang kakak.Sedang Noah kini menatap satu persatu ke semua orang, dia bingung kenapa keluarganya menatapnya seperti itu.Kening Noah berkerut dalam. “Apa? Kenapa kalian memandangiku seperti ini?” Kamila berdeham sambil mengalihkan tatapan dari Noah. Begitu juga dengan Surya dan Raihan yang kembali menyantap makan malam mereka.Kiran masih menatap ke sang kakak. Bibirnya tersenyum kecil saat dia berkata, “Kamu tidak perlu mencemaskanku. Pilihanku tidak salah, aku akan bahagia. Jadi, kamu harus mulai memperhatikan masa depanmu sendiri.”**Satu minggu berlalu.Hari ini, Kiran dan keluarganya pindah ke rumah baru yang sudah disiapkan Kamila dan Raihan.Rumahnya besar dengan h
Di rumah keluarga Bimantara.Senyum Kiran terangkat lebar membaca pesan dari Elvano.Meski keluarga Radjasa dan Bimantara bersaing dalam bisnis, Kiran lega karena orang tuanya dan orang tua Elvano tidak menghalangi hubungan mereka.Kiran keluar dari kamarnya. Dia pergi ke ruang makan dan mendapati semua orang sudah ada di sana.“Hm … kamu sudah selesai mandi? Duduklah, kita makan malam bersama.” Kamila langsung menarik kursi sampingnya untuk Kiran.Kiran mengangguk pelan lalu duduk di kursi yang Kamila siapkan.“Tapi aku tidak ikut makan, Ma. Tadi, sebelum pulang, El sudah mengajak makan.” Senyum Kiran begitu lebar setelah bicara.“Huft … kamu bilang ingin membuat list panjang yang harus kami kerjakan untukmu, tapi kamu tetap sibuk dengan Elvano Radjasa.” Noah menatap lesu, sampai kapan pun sepertinya memang tidak akan bisa mendapatkan waktu bersama Kiran.Kiran terkekeh pelan.Kedua pundak Kiran kini mengedik dengan wajah mengejek sang kakak.“Ya, bagaimana lagi? Sulit menjauhkan El d
Menjelang malam.Langkah Elvano begitu ringan kala memasuki dalam rumah.Senyum tak lekang dari wajahnya, sejak dia mengantar Kiran hingga kini tiba di rumah.Elvano siap melangkah menaiki anak tangga, tetapi gerakan kakinya berputar arah ke ruang keluarga, saat tatapannya tertuju ke sang mama dan papa.Kakinya bergerak pasti, sebelum dia menghempaskan tubuhnya di sofa tunggal dekat sang mama.Alina mengerutkan kening. Dia tatap Elvano yang bersikap sedikit … berlebihan.“Ada apa? Datang-datang sikapmu aneh sekali?” Mata Alina sampai menyipit saat memperhatikan putranya.Senyum Elvano semakin lebar. Dia duduk bersandar, tatapannya tertuju ke Alina dan Aksa.“Minggu depan Kiran akan pindah rumah bersama ayah dan orang tuanya.” Elvano lebih dulu menyampaikan kabar ini.Alina menegakkan punggung. “Tunggu, maksudnya pindah kota?” Alina memastikan, wajahnya berubah panik.“Bukan.” Kini Elvano mencondongkan tubuhnya ke depan. “Pindah rumah, tapi tetap di kota ini. Orang tuanya akan tinggal
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta
Keesokan harinya.Elvano memperhatikan Kiran yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.Elvano memperhatikan wajah Kiran yang lesu. “Ada apa, Ki? Apa ada masalah?”
Elvano tersentak mendengar semua omelan sang mama, apalagi kini Aksa juga melotot ke arahnya.Dia menarik napas dalam-dalam dan siap menjelaskan ke sang mama, tetapi sebelum bibirnya sukses bergerak, Elvano kembali mend







