INICIAR SESIÓNKakak, 2 bab buat pagi ini ya. Makasih
Yessica tersentak.Wajahnya seketika memucat.Tangan di samping tubuhnya mengepal erat. Yessica tetap tenang, dia tersenyum untuk menghindari kecurigaan Noah.“Bagaimana bisa Kakak menuduhku ingin mencelakai Kiran?” Yessica bersikap seolah keberatan dengan tuduhan yang dilayangkan padanya. “Aku tadi sudah menjelaskan, kalau ada debu di pakaian Kiran. Tahu akan dituduh seperti ini, lebih baik aku membiarkannya.”Yessica memasang wajah sedih setelah menjelaskan.Noah mengembuskan napas pelan. “Kuharap memang seperti itu.” “Kak, bagaimana bisa kamu mencurigaiku seperti itu?” Yessica merengek. Bagaimanapun caranya dia harus meyakinkan Noah jika dia tak seperti yang Noah pikirkan. “Setelah kehilangan Calissa. Kamu yang paling dekat denganku dan mengenal sifatku dengan baik. Bagaimana bisa kamu mengira aku ingin mencelakai Kiran?”Di balik sandiwaranya, Yessica memasang wajah sendu penuh keputusasaan.Noah menatap Yessica yang seperti menangis. “Aku memang tahu sifatmu, dan aku harap tida
Seringai berhias di bibir Yessica. Dia sedikit memperlambat langkahnya, membiarkan Kiran berada di depannya.Tangannya sudah siap untuk menyentuh punggung Kiran.“Kalian baru turun.”Suara dari belakang mengejutkan Yessica.Yessica menoleh ke belakang, dia tersentak melihat Noah berdiri di tangga atas.Begitu juga dengan Kiran yang berhenti melangkah. Saat menoleh, Kiran menyadari tangan Yessica masih di udara, menghadap ke arahnya.“Apa yang kamu lakukan?” Kiran menatap pada Yessica.Yessica kembali terkejut. Tatapannya tertuju pada Kiran. Dan dia baru menyadari tangannya masih menggantung di udara.Yessica menatap Kiran dan Noah bergantian, sampai dia buru-buru menepuk punggung Kiran.“Aku tadi melihat ada debu di pakaianmu, jadi berniat membersihkannya.”Kening Kiran berkerut dalam.Yessica segera menjauhkan tangan dari punggung Kiran setelah selesai menepuk. Dia memaksakan senyum di wajahnya.“Sudah bersih sekarang.” Yessica masih menunjukkan senyumnya.Noah melangkah turun mengha
Yessica tersentak.Dia tidak menyangka Noah akan mempertanyakan ini.Apalagi Noah seperti menatap tak suka.“Iya, maaf.” Yessica langsung memasang wajah bersalah. “Aku tadi terlalu capek, selesai mandi malah ketiduran.”Mata Yessica berkaca-kaca menatap pada Noah.“Besok aku akan menemui Kiran dan minta maaf karena tidak menyambutnya. Aku benar-benar menyesal sudah ketiduran.” Yessica kembali bicara untuk mengambil perhatian Noah.Noah mengembuskan napas kasar.“Kalian bersaudara dan saat kecil dulu sering bersama. Jadi akan aneh rasanya kalau kamu bahkan tidak menyambut kedatangannya.” Nada bicara Noah begitu datar.Yessica menundukkan kepala. Jemarinya saling meremat, menunjukkan sikap seolah bersalah. Padahal sebenarnya tidak sama sekali.Yessica sengaja tidak keluar. Tentu saja dia malas bertemu Kiran.Namun, Yessica harus kembali ingat. Dia harus tetap bersandiwara di depan keluarganya.Yessica mengangkat pandangan sambil memasang wajah sedih.“Iya, aku minta maaf. Aku benar-benar
Kiran memandang rumah mewah keluarga Bimantara.Dia dan Noah tiba di malam hari, sopir menjemput mereka di bandara dan langsung membawa mereka pulang.“Ini rumah kita, masih sama seperti dulu waktu kita kecil.” Noah menatap pada Kiran yang terus memperhatikan rumah mereka.Kiran hanya diam tanpa kata.Dia juga tak mengenali rumah ini dan tidak ingat apa pun tentang rumah ini.Kiran mengangguk karena Noah terus menatapnya.Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan teras.Noah turun lebih dahulu sebelum membukakan pintu untuk Kiran.Kiran menatap keluar. Kamila dan Raihan sudah menyambutnya.“Kiran, ayo.” Noah mengulurkan tangan ke Kiran.Kiran mengangguk. Dia menggapai uluran tangan Noah.Kiran keluar dari mobil.Kamila dan Raihan mendekat. Kamila segera memeluk Kiran.“Akhirnya kamu tiba juga. Mama sangat senang.” Tangan Kamila mengusap-usap lembut punggung Kiran.Kiran mengangguk-angguk kecil.Saat Kamila melepas pelukan, senyum Kiran pajang di bibirnya.“Kamu pasti capek, ayo mas
Malam berikutnya. Kiran, Noah, dan Surya duduk di ruang tunggu bandara. Mereka segera pergi ke bandara begitu Kiran pulang dari RDJ. Saat menunggu panggilan untuk masuk ke pesawat, tatapan Noah tertuju ke cincin di jari manis kiri Kiran. “Cincin baru?” Pertanyaan Noah mengalihkan tatapan Kiran pada Noah, sebelum dia menurunkan pandangan ke jari manisnya. “Pemberian El.” Tidak ada yang Kiran tutupi. “Di jari manis?” Kening Noah berkerut dalam. Kiran kembali mengamati cincin di jarinya. “Ada yang salah?” Noah ingin bicara, tetapi sekuat tenaga dia tahan. Mempertimbangkan apakah ucapannya akan menyinggung Kiran. “Memang dipakaikan di jari manis. El akan melamarku segera.” Kiran jujur pada Noah. Lagi pula, cepat atau lambat rencana mereka akan diketahui semua orang. “Melamar?” Noah terkejut dan menatap tak percaya. “Ada yang salah?” Kiran menatap aneh melihat reaksi Noah. “Usiaku sudah dua puluh sembilan tahun, bukankah wajar kalau El ingin melamarku?” “Ini ….” Tatapan Noah me
Kiran keluar dari dalam lift yang baru saja terbuka di lantai ruang kerja Elvano yang baru.Tangan kanannya menenteng paper bag yang sudah dia siapkan dari rumah.Kaki Kiran berhenti melangkah di depan pintu ruang kerja Elvano.Dia mengetuk lebih dulu, sebelum masuk ke dalam ruangan.“Kamu sudah datang.”Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang melangkah cepat menghampirinya.Dari sudut pandangannya, Kiran bisa melihat aura yang berbeda dari Elvano.Kekasihnya ini sekarang lebih dewasa dan tampak berwibawa.“Kebetulan aku juga mau ke sini menemuimu, ternyata kamu mengirim pesan dulu untuk memintaku datang.” Kiran menghentikan langkah saat berhadapan dengan Elvano.“Benarkah?” Senyum Elvano begitu lebar.Sampai tatapannya tertuju ke paper bag yang Kiran angkat di hadapannya.“Apa ini?” tanya Elvano.“Hadiah.” Kiran menyerahkan paper bag ke tangan Elvano. “Bukankah kemarin aku sudah bilang, aku akan memberimu hadiah lain untuk kenaikan pangkatmu.”Elvano tak sabar. Dia menerima paper bag
Saat jam makan siang.Kiran keluar dari dalam lift yang baru saja terbuka di area lobby. Senyumnya mengembang kala matanya tertuju pada Sabrina yang menunggunya.“Habis cuti, kukira kamu dikasih kerjaan banyak.” Sabrina langsung menggandeng lengan Kiran yang baru saja tiba di hadapannya.Keduanya m
Wajah Kiran memucat melihat kepanikan sang ayah. Jangan sampai ayahnya syok dan sakit lagi kalau tahu dia menggadaikan kalung itu demi biaya operasi ayahnya.“Tidak, Yah. Tidak aku jual, kok. Tapi, memang tidak aku pakai karena takut hilang karena kalung itu sangat berharga.” Senyum Kiran begitu kak
Sore hari. Kiran melangkah meninggalkan RDJ menuju halte bus terdekat, sampai langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang menghadang jalannya. “Kenapa Kak Yoga di sini?” Kiran menatap waspada karena kemunculan Yoga. Tangan Yoga terulur cepat mencengkram kuat lengan Kiran. “Kemarin kamu tidak me
Operasi ayah Kiran berjalan dengan lancar, meskipun Surya belum sadar setelah operasi yang dijalaninya, tetapi Kiran akhirnya bisa sedikit lega.Hari selanjutnya.Kiran berangkat ke perusahaan seperti biasa sesuai janjinya pada Elvano sebelumnya karena sudah diberi cuti.Kiran datang lebih awal. Kak







