LOGINDone 5 bab buat hari ini, ya. Jangan lupa komentarnya. Makasih
Mobil sport merah Elvano perlahan menepi di bahu jalan yang agak temaram.Di bawah lampu jalan yang kekuningan,Noah sudah berdiri menunggu di samping mobilnya. Tubuhnya langsung menegak saat matanya menatap ke arah mobil Elvano yang baru saja berhenti.Noah berdiri tenang menunggu, sampai Kiran dan Elvano turun dari mobil lalu menghampiri Noah."Bagaimana kondisi Nona Nandira? Apa dia baik-baik saja?" Noah langsung memberondong Kiran dengan pertanyaan begitu Kiran tiba di hadapannya.Kiran mengembuskan napas panjang, dia merapikan sedikit gaunnya yang tertiup angin malam. Lalu menatap sang kakak lagi. "Nona Nandira baik-baik saja. Kata Pak Edo, dia hanya kelelahan." Noah mengembuskan napas pelan mendengar balasan Kiran. Wajahnya terlihat lebih lega.Kiran menatap lurus ke dalam manik mata sang kakak, lalu dia kembali bicara, "Tapi jujur saja, sikap suaminya benar-benar tidak mengenakkan, Noah."Noah tertegun sejenak, keningnya berkerut dalam. "Tidak mengenakkan bagaimana maksudmu?"K
Di rumah sakit.Kiran dan Elvano berjalan menuju UGD setelah mendengar permintaan Noah yang meminta mereka memastikan kondisi Nandira.Kiran penasaran kenapa Noah peduli pada istri orang, tetapi sang kakak memohon agar Kiran lebih dulu melihat kondisi Nandira, sebelum Noah nanti menceritakan semuanya.Mereka masuk ke UGD, tatapan mereka tertuju pada Edo yang berdiri di depan salah satu ruang penanganan.Kiran dan Elvano berhenti sejenak, keduanya saling tatap lalu mengangguk bersama.Kiran dan Elvano mendekati Edo."Selamat malam, Pak Edo." Kiran menyapa begitu berdiri di dekat Edo.Edo menoleh setelah mendengar suara Kiran. Dia menatap Kiran dan Elvano yang berdiri di dekatnya."Anda siapa?" tanya Edo dengan nada dingin. Dia menyipitkan mata, menatap Kiran dengan pandangan penuh selidik. "Saya ingat. Anda wanita yang tadi di pesta dan bicara dengan Noah Bimantara, bukan? Ada urusan apa Anda di sini?" Kiran tetap tersenyum walau sedikit tidak senang dengan nada bicara Edo yang tak me
Mata Noah menyipit. Pertanyaan Edo barusan tidak terdengar seperti kekhawatiran seorang suami, melainkan sebuah interogasi yang penuh selidik. "Maksud Anda apa, Pak Edo?" Suara Noah merendah, menahan aneh yang singgah di dadanya karena sikap pria ini. "Saya kebetulan lewat koridor toilet dan melihat istri Anda hampir pingsan. Saya hanya menyampaikan apa yang diminta Nona Nandira." Bukannya segera membalas, Edo justru terkekeh sumbang. Pria itu maju satu langkah ke arah Noah, mengikis jarak di antara mereka. "Hanya menyampaikan?" Suara Edo pelan tetapi penuh penekanan. Dia menaikkan sebelah alisnya, menatap Noah dari atas ke bawah dengan tatapan remeh padahal Noah adalah rekan bisnisnya. "Saya tahu kalau Nandira itu teman SMA Anda dulu. Dunia ini sempit sekali, Pak Noah. Apa di antara kalian sebenarnya masih ada hubungan yang belum selesai?" Noah tersentak. Dia menatap tak percaya pada Edo yang baru saja selesai bicara. Apa maksud pria ini membahas masa lalunya dengan Nandira? Seda
Di toilet.Noah berdiri di samping pintu toilet. Punggungnya menyandar ke dinding dan kedua tangannya masuk ke saku celana.Napasnya berembus panjang berulang kali. Kenapa dia harus menghindar? Sedangkan tidak ada kesalahan sedikit pun yang dia lakukan?“Bodoh, kenapa aku melakukan ini?”Noah mendengkus kasar.Hubungan Noah dan Nandira sudah berakhir sejak bertahun-tahun lalu, tidak ada komunikasi dan tidak ada kabar satu sama lain.Dia anggap semuanya sudah selesai, tetapi kenapa sekarang Noah yang harus panik? Bukan dia juga yang memutuskan jalan hubungan di antara mereka?Noah menegakkan tubuhnya lagi. Dia siap kembali ke ruang pesta, sampai tatapannya tertuju pada Nandira yang sedang berjalan ke arahnya.Noah kembali membeku. Matanya tak henti menatap pada penampilan Nandira yang sekarang ini.Wajahnya begitu tirus, rambutnya sedikit tipis tak selebat dahulu, bahkan tubuhnya lebih kurus dari terakhir mereka bertemu bertahun-tahun dulu, hampir 16 tahun berlalu. Dan matanya, dia yak
Mata Elvano membola lebar. Elvano mengikis jarak di antara dia dan Noah. Dagunya sedikit terangkat, matanya menyorot tajam pada Noah. “Apa maksudmu aku tidak boleh membawa Kiran? Terserah aku mau pakai mobil apa? Tapi kamu tidak bisa mencegahku membawa Kiran.” Kiran merasakan atmosphere sekitar menjadi sedingin es. Dia menggunakan kedua tangan untuk menjauhkan Elvano dan Noah satu sama lain. Kiran kini berdiri di antara kedua pria ini, lalu dia berkata, “Noah sebenarnya hanya ingin berangkat ke pesta bersama kita.” Kiran menoleh lebih dulu ke Elvano lalu menatap sang kakak. “Tinggal bilang begitu, kenapa masalah mobil saja diperkarakan?” Elvano tersentak mendengar ucapan Kiran. Dia menatap Noah yang memalingkan muka. “Oh, kukira kamu berniat menghalangiku mengajak Kiran.” Elvano merapikan tepian jasnya. “Kamu bisa pakai mobil sendiri, aku dan Kiran pakai mobilku. Mudah bukan? Kita bertemu di tempat pesta dan masuk bertiga.” “Kenapa hal begini saja harus kamu buat rumit?” Elvano b
Kening Kiran berkerut dalam. Dia semakin menatap aneh pada kakaknya.“Tiba-tiba sekali kamu bertanya seperti itu. Kenapa?” Kiran menyelidik.Noah terkejut mendengar pertanyaan balik dari Kiran. Dia lalu segera menjelaskan, “Oh tidak, tadi aku melihat Farhan bertemu seorang wanita, lalu ekspresi wajahnya berubah aneh.”Kini kedua alis Kiran berkerut sampai saling bertautan. Dia diam beberapa detik, lalu akhirnya membalas pertanyaan sang kakak.“Ya, awal ketemu El lagi setelah enam tahun berpisah, aku merasa jantungku berdebar cepat.”Saat mendengar ucapan Kiran, Noah tanpa sadar menyentuh dadanya.“Karena dulu aku yang meninggalkannya, jadi aku benar-benar bersalah dan membuatku takut padanya. Hanya itu.” Kiran mengedikkan kedua bahunya pelan, lalu dia menatap kembali pada Noah.Noah buru-buru menurunkan tangan dari dada. Dia merapikan tepian jas lalu berdeham.“Oh, jadi seperti itu.” Noah mengangguk-angguk. “Pantas saja tadi Farhan bersikap aneh.”Kiran menatap Noah dengan mata menyip







