LOGINSiang itu, mama Ayara baru saja selesai Yoga dengan privat trainer sewaktu ponselnya bergetar pendek.
Ada satu pesan masuk dari nama yang sangat ia kenal:Herni— Sahabat ArisanAyara mengernyit.Herni biasanya hanya chat kalau ada dua hal yaitu membicarakan tentang model tas terbaru atau drama keluarga.Tapi kali ini mama Ayara tahu apa yang akan sahabatnya itu bicarakan.Mama Ayara membuka pesannya.Herni : Ay, bisa ketemu? Butuh bicara… soal Stevie.Ayara langsung menutup ponselnya, menghela napas pelan.“Ah… ini pasti tambah seru,” gumamnya.***Kafe Mewah di Sudirman – dua jam kemudianAyara memasuki kafe itu dengan langkah anggun, kacamata hitam besar, dan aura yang membuat semua pengunjung menoleh.Herni sudah duduk lebih dulu di corner sofa, wajahnya tampak sedikit berantakan.Mama Ayara mendekat.“Herniii, sayangkuuu,” sapanya dengan pelukan ala sosialita yang penuh bunyi mwah mwah.Begitu duduHanya beberapa menit saja mobil Rex sudah berhenti di depan Daycare. Begitu turun, Nathan langsung menggenggam tangan Rex erat-erat. “Papi ikut masuk yaaa!” “Iyaaa Papi ikut…” Pintu daycare terbuka dari dalam, semua guru langsung menoleh. “Oh, ini papinya Nathan?” salah satu guru bertanya sambil tersenyum lebar—mungkin karena Rex terlalu tampan untuk ukuran papa muda. Nathan langsung menarik tangan Rex masuk ke dalam kelasnya. “Ibu! Ini papi Nathan! Papi mandiin Nathan! Papi kasih susu! Papi tidur sama Nathan!” Rex tersenyum kaku tapi bangga. Guru-guru mulai cekikikan gemas. “Wah, jarang-jarang ada ayah yang terlibat banget kayak gini, ya Ayah.” Anita yang berdiri di belakang Rex tersenyum sembari menatap teduh punggung Rex. Nathan lalu menarik seorang anak laki-laki kecil. “Zio! Ini Papi aku!” “Waaa papi Nathan tinggi!” kata Zio sambil menatap Rex seperti melihat Optimus Prime. Nathan mendengus bangga, “Iyaa… Papi Nathan paling tinggi di du
FLASHBACK — 3 JAM SEBELUM TIBA DI RUMAH ANITARex menatap jam digital di ruang meeting.14:05.“Sial. Petugas Dinsos pasti sebentar lagi datang ke rumah. Anita pasti gelisah. Nathan pasti….” Dalam hati Rex bicara.Rex mengetukkan jarinya ke meja, gelisah, tapi wajahnya harus tetap profesional karena ia sedang berhadapan dengan klien terbesar perusahaan.“Terkait revisinya… akan saya kirim besok pagi.” Suaranya tegas, padat, tanpa menunjukkan kepanikan yang mendidih di benaknya.Begitu meeting selesai, ia hampir lari keluar ruangan.Tika yang melihatnya langsung mengernyit.“Pak Rex? Bapak mau ke mana? Bapak masih ada rapat dengan orang dinas sepuluh menit lagi.”Rex menelan napas.“Tika, tolong handle rapat itu. Aku harus ke Bandung.”“Sekarang?” Nada suara Tika meninggi.“Pak … orang dinas sudah di sini, di ruang meeting lantai lima belas.” Tika hampir menjerit.“Lagian Pak, ke Bandung itu … minimum tiga jam perjalanan!”“Aku tahu.” Rex menatap Tika dengan mata gelap pe
Nathan sudah berada di pelukan Rex selama hampir lima menit tanpa bernapas lega. Bocah kecil itu memeluk leher Rex erat-erat, seolah dunia luar terlalu besar dan yang bisa membuatnya aman hanyalah satu orang yaitu sang Papi.Rex mencium ubun-ubun Nathan berkali-kali.“Papi… Nathan takut… tadi ada om sama tante dateng…Nathan pura-pura tidur,” gumam Nathan pelan sambil menyembunyikan wajahnya di dada Rex.Rex menahan napas.“Papi tahu… makanya papi pulang. Papi enggak mau Nathan dan mami sendirian.”Anita yang berdiri di dekat lemari pun menundukan kepala. Kata-kata itu terlalu menancap. Terlalu dalam. Terlalu lembut.“Nathan mandi dan makan dulu ya?” Anita mengusap kepala Nathan lalu pergi ke kamar mandi di dalam kamar untuk menyiapkan peralatan mandinya.“Biar aku yang mandiin, kamu siapkan makan malam aja,” kata Rex setelah langkahnya sampai di kamar, pria itu mulai membuka kancing kemejanya.“Oke ….” Anita tersenyum lalu mengangguk.Dia menarik langkah pergi setelah menyi
Setelah menyelesaikan kelas keduanya, Anita bergegas menjemput NathanSaat Anita datang, Nathan langsung memeluknya.“Mamiiii! Nathan mau pulang!”“Perutnya masih sakit?”“Enggak … Nathan cuma kangen papi sama Mami.”Anita mengusap kepala anak itu.Ada rasa bersalah.Ada rasa sayang.Ada rasa sendiri.Mereka pulang, Anita menyuapi Nathan, setelah itu Nathan tidur siang.Anita meletakkan kepala di sofa.Baru mau menarik napas…TOK…TOK …TOK …TOK …Ada suara ketukan keras di pintu.Anita bangkit, dia terkejut.Jam lima sore.Siapa?Ia berjalan ke pintu dan membukanya sedikit.Dua orang berdiri dengan map dan identitas resmi.“Selamat sore, Bu. Kami dari Dinas Sosial Kota Bandung.”“Oh … iya.” Anita baru ingat.“Beda ya petugasnya sama yang kemarin?” Anita bergumam sembari mempersilahkan mereka masuk.“Betul Bu, setiap kunjungan hingga satu tahun setengah ke de
Pagi itu—untuk pertama kalinya sejak Rex pergi—Anita bangun dengan kepala yang tidak terlalu berat.Masih remuk, iya.Masih capek, jelas.Tapi setidaknya, Nathan tidak tantrum seperti pagi kemarin.Bocah kecil itu hanya memeluk dinosaurusnya dan merengek kecil. “Mami… papi belum pulang ya?”Anita mengusap kepala Nathan.“Belum, Sayang. Tapi papi nanti video call.”Nathan mengangguk pelan, lebih tenang.Pagi ini jauh lebih rapi.Lebih terkendali.Lebih manusiawi.Sarapan berhasil dibuat tanpa hampir membakar dapur.Nathan mau mandi tanpa drama level Hollywood.Anita bahkan sempat pakai cushion tipis.“Progres,” gumam Anita sambil melihat cermin kecil di dekat pintu.“Ayo sayang, biar nanti kita enggak terlambat.”Nathan mengangguk.“Mami …,” panggil Nathan ketika Anita sedang mengunci pintu.“Ya sayang?”“Nanti sore, papi pulang?”Anita tediam sebentar, dia ingat nanti sore adalah kunjungan kedua petugas dinas.“Belum kayaknya, sayang … papi masih harus kerja.”Wa
Setelah pulang dari bertemu maminya Stevie, mama Ayara merasa tidak tenang.Tidur siangnya terganggu, ada kesal dan marah karena maminya malah membela Stevie yang jelas-jelas licik dan serakah sementara selama ini, mama Ayara diam saja ketika anaknya bucin mati-matian kepada Stevie padahal mamaknya tahu kalau Rex mencintai Stevie.“Aaah … sebeeel ….” Mama Ayara bangkit dari atas ranjang kemudian bergerak turun ke lantai satu.“Nyonya enggak tidur siang?” Reni, kepala rumah tangga Lazuardy bertanya.Mama Ayara mengembuskan nafas panjang. “Lagi kesel aku, Ren … panggilin pak Joko ya, bilang sama dia … bantuin aku rapihin taman.”“Baik Nyonya.”Ketika sore menjelang, papa Nicholas masuk ke dalam rumah sambil melepas jas kerjanya, wajahnya lelah namun tetap berwibawa.“Ma… Papa pulang.”“Sini Paaa … Mama di teras samping.” Mama Ayara berteriak.Papa segera pergi ke sana.Memeluk sang istri yang sedang duduk di kursi rotan berlapis bantal empuk dengan melipat kedua kakinya ke ata







