تسجيل الدخولDirektur-direktur beranjak keluar satu per satu. Begitu pintu tertutup, hanya ada Rex dan sang papa di ruangan besar itu.Rex tidak langsung bicara.Ia berdiri diam.Lalu akhirnya berkata lirih, “Pa… ini semua rencana Papa, ya?”Papa menoleh.“Maksudmu?”Rex menatapnya—mata gelap itu penuh rasa ingin tahu, ragu, takut salah mengerti.“Papa sengaja menempatkan aku di Bandung,” lanjut Rex lalu menahan napas.“…supaya aku dekat sama Anita dan Nathan?”Papa Nicholas mengembuskan napas panjang, penuh kebijaksanaan seorang ayah yang sudah melewati terlalu banyak badai hidup.“Rex,” katanya pelan, “Papa tahu kamu tidak pernah setengah-setengah kalau mencintai seseorang.”Rex menunduk, rahangnya menegang.“Papa melihat bagaimana kamu berubah sejak tinggal di Bandung. Kamu lebih tenang, lebih hidup, lebih… bahagia.”Papa melangkah mendekat, menepuk bahu Rex.“Dan Papa ingin kamu mempertahankan itu.”Rex menelan ludah.
Setelah makan malam, Nathan tertidur cepat, dia kelelahan karena seharian ini terus mengoceh bertanya tentang Rex.Anita duduk di meja makan sendirian.Rumah terasa lebih hening ketika Rex tidak ada.Ia menelan ludah—jujur saja, ia merindukan suara langkah Rex, tawa Rex, gumaman kesal Rex dan kecupan Rex.Ia merindukan…Semuanya.Ketika pikiran mulai bergejolak dan bayangan tentang cumbuan Rex di sofa kembali datang, ponselnya bergetar.Video call masuk dari Rex AlderAnita menempelkan tangan ke dada.Astaga.Dia punya pengaruh seperti apa sih?Jempol Anita secepat kilat menggeser icon berwarna hijau. Wajah Rex muncul dengan rambut sedikit berantakan, masih memakai kemeja putih yang dilipat di bagian lengan.“Anita .…” Suaranya serak, lelah, tapi hangat.“Kenapa? Kamu sudah makan?” tanya Anita tanpa sadar.Rex tersenyum kecil. “Udah. Dan sekarang aku lagi pengen lihat kamu.”Anita langsung menunduk, malu.“Gimana Nathan? Nangis lagi?”“Enggak… dia cuma rindu kamu.”
Pagi itu kampus terasa lebih riuh dari biasanya.Mungkin karena matahari yang terlalu cerah.Mungkin karena mahasiswa yang terlalu bersemangat.Atau…Mungkin karena ada satu orang yang mendadak tidak bisa memusatkan pikirannya, siapa lagi kalau bukan Anita.Ia berjalan menuju gedung kampus sambil menunduk, berusaha mengatur napas setelah kejadian super memalukan di parkiran barusan.Keningnya masih berdenyut.Jantungnya… ya ampun, jangan ditanya.Kenapa Rex harus mencium keningnya seperti itu?Di depan Raga pula?Dengan intensity seperti di drama Korea jam sembilan malam?Anita menutup wajah dengan kedua tangan, menahan pekikan kecil.“Bu Anita!”Anita terlonjak kaku seperti ketahuan mencontek.“Oh… pagi.” Anita balas menyapa mahasiswa yang barusan menyapanya.Mahasiswa itu tersenyum konyol. “Bu… tadi di parkiran… eh… itu suami Ibu ya?”Anita menelan ludah. “Iya.”“Wuih… romantis banget sumpah. Tadi aku lewat dan lihat semua adegannya.”“…ADEGANNYA???”Mahasiswa itu
Hanya beberapa menit saja mobil Rex sudah berhenti di depan Daycare. Begitu turun, Nathan langsung menggenggam tangan Rex erat-erat. “Papi ikut masuk yaaa!” “Iyaaa Papi ikut…” Pintu daycare terbuka dari dalam, semua guru langsung menoleh. “Oh, ini papinya Nathan?” salah satu guru bertanya sambil tersenyum lebar—mungkin karena Rex terlalu tampan untuk ukuran papa muda. Nathan langsung menarik tangan Rex masuk ke dalam kelasnya. “Ibu! Ini papi Nathan! Papi mandiin Nathan! Papi kasih susu! Papi tidur sama Nathan!” Rex tersenyum kaku tapi bangga. Guru-guru mulai cekikikan gemas. “Wah, jarang-jarang ada ayah yang terlibat banget kayak gini, ya Ayah.” Anita yang berdiri di belakang Rex tersenyum sembari menatap teduh punggung Rex. Nathan lalu menarik seorang anak laki-laki kecil. “Zio! Ini Papi aku!” “Waaa papi Nathan tinggi!” kata Zio sambil menatap Rex seperti melihat Optimus Prime. Nathan mendengus bangga, “Iyaa… Papi Nathan paling tinggi di du
FLASHBACK — 3 JAM SEBELUM TIBA DI RUMAH ANITARex menatap jam digital di ruang meeting.14:05.“Sial. Petugas Dinsos pasti sebentar lagi datang ke rumah. Anita pasti gelisah. Nathan pasti….” Dalam hati Rex bicara.Rex mengetukkan jarinya ke meja, gelisah, tapi wajahnya harus tetap profesional karena ia sedang berhadapan dengan klien terbesar perusahaan.“Terkait revisinya… akan saya kirim besok pagi.” Suaranya tegas, padat, tanpa menunjukkan kepanikan yang mendidih di benaknya.Begitu meeting selesai, ia hampir lari keluar ruangan.Tika yang melihatnya langsung mengernyit.“Pak Rex? Bapak mau ke mana? Bapak masih ada rapat dengan orang dinas sepuluh menit lagi.”Rex menelan napas.“Tika, tolong handle rapat itu. Aku harus ke Bandung.”“Sekarang?” Nada suara Tika meninggi.“Pak … orang dinas sudah di sini, di ruang meeting lantai lima belas.” Tika hampir menjerit.“Lagian Pak, ke Bandung itu … minimum tiga jam perjalanan!”“Aku tahu.” Rex menatap Tika dengan mata gelap pe
Nathan sudah berada di pelukan Rex selama hampir lima menit tanpa bernapas lega. Bocah kecil itu memeluk leher Rex erat-erat, seolah dunia luar terlalu besar dan yang bisa membuatnya aman hanyalah satu orang yaitu sang Papi.Rex mencium ubun-ubun Nathan berkali-kali.“Papi… Nathan takut… tadi ada om sama tante dateng…Nathan pura-pura tidur,” gumam Nathan pelan sambil menyembunyikan wajahnya di dada Rex.Rex menahan napas.“Papi tahu… makanya papi pulang. Papi enggak mau Nathan dan mami sendirian.”Anita yang berdiri di dekat lemari pun menundukan kepala. Kata-kata itu terlalu menancap. Terlalu dalam. Terlalu lembut.“Nathan mandi dan makan dulu ya?” Anita mengusap kepala Nathan lalu pergi ke kamar mandi di dalam kamar untuk menyiapkan peralatan mandinya.“Biar aku yang mandiin, kamu siapkan makan malam aja,” kata Rex setelah langkahnya sampai di kamar, pria itu mulai membuka kancing kemejanya.“Oke ….” Anita tersenyum lalu mengangguk.Dia menarik langkah pergi setelah menyi







