ログインRestoran Prancis mewah – Pukul 13.10 Suasana restoran dipenuhi wangi bunga segar, musik jazz lembut, dan ibu-ibu sosialita yang memakai outfit seharga DP rumah cluster.Mama Ayara melenggang masuk dibalut dress biru lembut, rambut disanggul rapi, kaki jenjangnya yang putih nan mulus melangkah berwibawa khas wanita sosialita. Begitu ia muncul, beberapa sosialita langsung melambai.“AYARAAAA! Sini sayang! Duduk sama kita!”Mama Ayara tersenyum anggun.Tapi lalu ia melihat seseorang duduk di ujung meja.Herni, mamanya Stevie.Dengan kacamata hitam, lipstick merah gelap, dan wajah yang jelas-jelas masih menyimpan dendam makan siang tempo hari.Mata mereka bertemu.Duar.Aura permusuhan langsung terasa.Namun karena arisan adalah arisan dan martabat sosialita harus dijaga, mereka tersenyum tipis.Senyum palsu kelas Sultan.Ayara duduk di kursi kosong— hanya berjarak satu kursi dari Herni padahal selama ini mereka selalu duduk berdua.Mama Ayara sangat dekat dengan mamanya
Setelah makan malam, mama dan papa pindah ke ruang televisi untuk menonton film dokumenter tentang singa.Sedangkan Axel langsung ke kamarnya dan Rex belum pulang. Pekerjaan yang terpending karena audit di Bandung masih menumpuk dan targetnya harus selesai sebelum dia pindah ke Bandung.Jadi mau tidak mau, Rex lembur hari ini.“Astaga Pa, itu singanya galak banget. Mirip Mama kalau PMS.”“Ma… itu singa betina lagi berburu.”“Makanya mirip Mama ‘kan, Pa?”Papa Nicholas menarik nafas dalam kemudian menghelanya perlahan, masih berpikir menggunakan kalimat apa yang tepat karena khawatir salah menjawab dan malah berakhir tidur di sofa.Dari lantai dua terdengar suara Axel berteriak pada dirinya sendiri.“SIAPA YANG NGAMBIL CHARGER AKU?!”Lalu muncul sosoknya yang turun tangga setengah berlari, rambut acak-acakan seperti habis duel dengan angin ribut.“Maaa! Charger aku hilang!”Mama dan papa menatap Axel bingung.“Coba cari di hidup kamu dulu, Xel.” Mama menimpali.“Itu… mak
Direktur-direktur beranjak keluar satu per satu. Begitu pintu tertutup, hanya ada Rex dan sang papa di ruangan besar itu.Rex tidak langsung bicara.Ia berdiri diam.Lalu akhirnya berkata lirih, “Pa… ini semua rencana Papa, ya?”Papa menoleh.“Maksudmu?”Rex menatapnya—mata gelap itu penuh rasa ingin tahu, ragu, takut salah mengerti.“Papa sengaja menempatkan aku di Bandung,” lanjut Rex lalu menahan napas.“…supaya aku dekat sama Anita dan Nathan?”Papa Nicholas mengembuskan napas panjang, penuh kebijaksanaan seorang ayah yang sudah melewati terlalu banyak badai hidup.“Rex,” katanya pelan, “Papa tahu kamu tidak pernah setengah-setengah kalau mencintai seseorang.”Rex menunduk, rahangnya menegang.“Papa melihat bagaimana kamu berubah sejak tinggal di Bandung. Kamu lebih tenang, lebih hidup, lebih… bahagia.”Papa melangkah mendekat, menepuk bahu Rex.“Dan Papa ingin kamu mempertahankan itu.”Rex menelan ludah.
Setelah makan malam, Nathan tertidur cepat, dia kelelahan karena seharian ini terus mengoceh bertanya tentang Rex.Anita duduk di meja makan sendirian.Rumah terasa lebih hening ketika Rex tidak ada.Ia menelan ludah—jujur saja, ia merindukan suara langkah Rex, tawa Rex, gumaman kesal Rex dan kecupan Rex.Ia merindukan…Semuanya.Ketika pikiran mulai bergejolak dan bayangan tentang cumbuan Rex di sofa kembali datang, ponselnya bergetar.Video call masuk dari Rex AlderAnita menempelkan tangan ke dada.Astaga.Dia punya pengaruh seperti apa sih?Jempol Anita secepat kilat menggeser icon berwarna hijau. Wajah Rex muncul dengan rambut sedikit berantakan, masih memakai kemeja putih yang dilipat di bagian lengan.“Anita .…” Suaranya serak, lelah, tapi hangat.“Kenapa? Kamu sudah makan?” tanya Anita tanpa sadar.Rex tersenyum kecil. “Udah. Dan sekarang aku lagi pengen lihat kamu.”Anita langsung menunduk, malu.“Gimana Nathan? Nangis lagi?”“Enggak… dia cuma rindu kamu.”
Pagi itu kampus terasa lebih riuh dari biasanya.Mungkin karena matahari yang terlalu cerah.Mungkin karena mahasiswa yang terlalu bersemangat.Atau…Mungkin karena ada satu orang yang mendadak tidak bisa memusatkan pikirannya, siapa lagi kalau bukan Anita.Ia berjalan menuju gedung kampus sambil menunduk, berusaha mengatur napas setelah kejadian super memalukan di parkiran barusan.Keningnya masih berdenyut.Jantungnya… ya ampun, jangan ditanya.Kenapa Rex harus mencium keningnya seperti itu?Di depan Raga pula?Dengan intensity seperti di drama Korea jam sembilan malam?Anita menutup wajah dengan kedua tangan, menahan pekikan kecil.“Bu Anita!”Anita terlonjak kaku seperti ketahuan mencontek.“Oh… pagi.” Anita balas menyapa mahasiswa yang barusan menyapanya.Mahasiswa itu tersenyum konyol. “Bu… tadi di parkiran… eh… itu suami Ibu ya?”Anita menelan ludah. “Iya.”“Wuih… romantis banget sumpah. Tadi aku lewat dan lihat semua adegannya.”“…ADEGANNYA???”Mahasiswa itu
Hanya beberapa menit saja mobil Rex sudah berhenti di depan Daycare. Begitu turun, Nathan langsung menggenggam tangan Rex erat-erat. “Papi ikut masuk yaaa!” “Iyaaa Papi ikut…” Pintu daycare terbuka dari dalam, semua guru langsung menoleh. “Oh, ini papinya Nathan?” salah satu guru bertanya sambil tersenyum lebar—mungkin karena Rex terlalu tampan untuk ukuran papa muda. Nathan langsung menarik tangan Rex masuk ke dalam kelasnya. “Ibu! Ini papi Nathan! Papi mandiin Nathan! Papi kasih susu! Papi tidur sama Nathan!” Rex tersenyum kaku tapi bangga. Guru-guru mulai cekikikan gemas. “Wah, jarang-jarang ada ayah yang terlibat banget kayak gini, ya Ayah.” Anita yang berdiri di belakang Rex tersenyum sembari menatap teduh punggung Rex. Nathan lalu menarik seorang anak laki-laki kecil. “Zio! Ini Papi aku!” “Waaa papi Nathan tinggi!” kata Zio sambil menatap Rex seperti melihat Optimus Prime. Nathan mendengus bangga, “Iyaa… Papi Nathan paling tinggi di du







