MasukSetelah menyelesaikan kelas keduanya, Anita bergegas menjemput NathanSaat Anita datang, Nathan langsung memeluknya.“Mamiiii! Nathan mau pulang!”“Perutnya masih sakit?”“Enggak … Nathan cuma kangen papi sama Mami.”Anita mengusap kepala anak itu.Ada rasa bersalah.Ada rasa sayang.Ada rasa sendiri.Mereka pulang, Anita menyuapi Nathan, setelah itu Nathan tidur siang.Anita meletakkan kepala di sofa.Baru mau menarik napas…TOK…TOK …TOK …TOK …Ada suara ketukan keras di pintu.Anita bangkit, dia terkejut.Jam lima sore.Siapa?Ia berjalan ke pintu dan membukanya sedikit.Dua orang berdiri dengan map dan identitas resmi.“Selamat sore, Bu. Kami dari Dinas Sosial Kota Bandung.”“Oh … iya.” Anita baru ingat.“Beda ya petugasnya sama yang kemarin?” Anita bergumam sembari mempersilahkan mereka masuk.“Betul Bu, setiap kunjungan hingga satu tahun setengah ke de
Pagi itu—untuk pertama kalinya sejak Rex pergi—Anita bangun dengan kepala yang tidak terlalu berat.Masih remuk, iya.Masih capek, jelas.Tapi setidaknya, Nathan tidak tantrum seperti pagi kemarin.Bocah kecil itu hanya memeluk dinosaurusnya dan merengek kecil. “Mami… papi belum pulang ya?”Anita mengusap kepala Nathan.“Belum, Sayang. Tapi papi nanti video call.”Nathan mengangguk pelan, lebih tenang.Pagi ini jauh lebih rapi.Lebih terkendali.Lebih manusiawi.Sarapan berhasil dibuat tanpa hampir membakar dapur.Nathan mau mandi tanpa drama level Hollywood.Anita bahkan sempat pakai cushion tipis.“Progres,” gumam Anita sambil melihat cermin kecil di dekat pintu.“Ayo sayang, biar nanti kita enggak terlambat.”Nathan mengangguk.“Mami …,” panggil Nathan ketika Anita sedang mengunci pintu.“Ya sayang?”“Nanti sore, papi pulang?”Anita tediam sebentar, dia ingat nanti sore adalah kunjungan kedua petugas dinas.“Belum kayaknya, sayang … papi masih harus kerja.”Wa
Setelah pulang dari bertemu maminya Stevie, mama Ayara merasa tidak tenang.Tidur siangnya terganggu, ada kesal dan marah karena maminya malah membela Stevie yang jelas-jelas licik dan serakah sementara selama ini, mama Ayara diam saja ketika anaknya bucin mati-matian kepada Stevie padahal mamaknya tahu kalau Rex mencintai Stevie.“Aaah … sebeeel ….” Mama Ayara bangkit dari atas ranjang kemudian bergerak turun ke lantai satu.“Nyonya enggak tidur siang?” Reni, kepala rumah tangga Lazuardy bertanya.Mama Ayara mengembuskan nafas panjang. “Lagi kesel aku, Ren … panggilin pak Joko ya, bilang sama dia … bantuin aku rapihin taman.”“Baik Nyonya.”Ketika sore menjelang, papa Nicholas masuk ke dalam rumah sambil melepas jas kerjanya, wajahnya lelah namun tetap berwibawa.“Ma… Papa pulang.”“Sini Paaa … Mama di teras samping.” Mama Ayara berteriak.Papa segera pergi ke sana.Memeluk sang istri yang sedang duduk di kursi rotan berlapis bantal empuk dengan melipat kedua kakinya ke ata
Siang itu, mama Ayara baru saja selesai Yoga dengan privat trainer sewaktu ponselnya bergetar pendek.Ada satu pesan masuk dari nama yang sangat ia kenal:Herni— Sahabat ArisanAyara mengernyit.Herni biasanya hanya chat kalau ada dua hal yaitu membicarakan tentang model tas terbaru atau drama keluarga.Tapi kali ini mama Ayara tahu apa yang akan sahabatnya itu bicarakan.Mama Ayara membuka pesannya.Herni : Ay, bisa ketemu? Butuh bicara… soal Stevie.Ayara langsung menutup ponselnya, menghela napas pelan.“Ah… ini pasti tambah seru,” gumamnya.***Kafe Mewah di Sudirman – dua jam kemudianAyara memasuki kafe itu dengan langkah anggun, kacamata hitam besar, dan aura yang membuat semua pengunjung menoleh.Herni sudah duduk lebih dulu di corner sofa, wajahnya tampak sedikit berantakan.Mama Ayara mendekat.“Herniii, sayangkuuu,” sapanya dengan pelukan ala sosialita yang penuh bunyi mwah mwah.Begitu dudu
Alarm ponsel Anita yang berada di atas nakas samping tempat tidur, berbunyi nyaring.Anita membuka mata dengan kepala berat, karena semalam ia tidur sambil memeluk Nathan yang rewel minta ketemu Rex.Belum sempat nyawanya terkumpul semua …“Uwaaaaaa!”Nathan menangis histeris seperti dunia mau runtuh.Anita spontan duduk. “Sayang, kenapa? Sakit? Atau mimpi buruk?”Nathan menggeleng sambil menangis, kedua tangannya terangkat meminta dipeluk.“Mau papi .…”Hati Anita langsung remuk.Ia menarik napas dalam lalu memeluk Nathan erat.“Iya Sayang… Mami juga kangen papi ….” Anita terdiam sesaat saling tatap dengan Nathan yang tangisnya mereda mendengar sang mami jujur dengan perasaan.Anita keceplosan.“Tapi kita harus siap-siap. Mami kerja hari ini dan Nathan main sebentar di daycare ya?” lanjut Anita.Nathan semakin menangis.Anita yang sudah telat lima belas menit dari jadwal bangunnya, akhirnya harus melakukan combo mission seorang ibu tunggal.Misi pertama memandikan anak
Rex bangun dengan mata sembab.Bukan karena menangis.Tapi karena kurang tidur.Kurang tidur setelah video call satu jam semalam dengan dua makhluk yang entah kenapa rasanya sangat dia sayangi karena rapuh dan dua makhluk itu bernama Anita dan Nathan.Begitu Rex membuka mata, ia melihat langit-langit kamarnya yang mewah selama beberapa menit lalu menghela napas.“Kenapa rasanya aku kayak jauh dari rumah…,” gumamnya sambil memegang ponsel yang layarnya masih menampilkan foto Nathan yang ketiduran tadi malam hasil dari screenshoot.Ia bangkit, mandi lalu turun ke ruang makan.Dan langsung disambut tiga makhluk yang seharusnya tidak merusak mood pagi ini tapi sama-sama sedang menatapnya seperti sedang menatap panda kebun binatang.Mama Ayara pura-pura menyeruput teh sambil menatap Rex seperti menilai barang lelang.Papa Nicholas sendiri berusaha menahan senyum.Axel dengan wajah tengilnya, sudah siap ngejek.“Pagi .…” Suara Rex terdengar lemas.Mama Ayara meletakkan cangkirny







