Share

Bab 24

Author: Allina
last update Last Updated: 2025-12-14 09:00:32

"Jangan sentuh ak—awww!" Nona Shella mencoba menepis, tapi rasa sakit di kulit kepalanya membuatnya menyerah.

Aku berdiri tepat di belakang punggungnya sehingga jarak kami kini benar-benar nol sentimeter.

Tubuh bagian depanku hampir menempel sepenuhnya dengan punggung Nona Shella yang terbalut dress satin licin.

Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang menembus kain tipis itu, dan yang paling menyiksa, aroma rambutnya yang tersangkut itu langsung menampar wajahku.

Aroma itu bisa aku cium seperti wangi sampo mahal, conditioner berkelas, dan aroma alami kulit kepala wanita yang baru saja mandi.

"Diem bentar ya, Non. Ini nyangkutnya di paku ukiran, ruwet banget kayak benang layangan." Aku berujar pelan, tanganku yang be

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 136

    Paman Sudra menyodorkan map itu ke hadapanku. "Ini... perawat administrasi barusan kasih rincian. Jenazah Emak harus segera diurus. Dimandiin, dikafani, terus dibawa pulang. Pumpung masih jam segini katanya, masih bisa diusahain buat dimakamin malam ini."Aku menunduk, menatap lembaran kertas yang menyembul dari balik map biru itu.Deretan angka-angka nominal rupiah tercetak tebal di sana.Biaya penanganan jenazah, biaya ruang perawatan, biaya obat-obatan yang tadi sempat masuk, dan biaya sewa ambulans jarak jauh."Ambulans desa lagi rusak, Le, turun mesin minggu lalu, terus Pak Lurah juga udah ngajuin dana ke kantor Kecamatan, masih belum ada jawaban," tambah Paman Sudra dengan nada bingung, matanya nanar menatap angka yang baginya mungkin setara penghasilan panen setahun."Kalau pake ambulans RSUD, biayanya mahal banget, apalagi Mamakmu sama Paman ini ga pernah ikut asuransi. Paman bawa uang kas masjid cuma ada lima ratus ribu. Itu aja nggak cukup buat bensinnya."Kata-kata Paman Su

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 135

    Pelukan Shella perlahan melonggar, memberiku ruang untuk bernapas meski dadaku rasanya masih terhimpit batu besar.Aku melepaskan diri dari dekapan hangatnya, lalu berbalik menatap tubuh kaku yang kini terbaring diam di atas ranjang besi. Tangan kananku terulur gemetar, menyentuh pipi Emak yang baru saja tertutup kain putih sebagian.Dingin.Sensasi itu menyengat ujung jariku.Kulit Emak yang biasanya hangat karena keringat kerja keras, kini terasa seperti menyentuh dinding keramik di pagi buta. Kontras yang menyakitkan dengan dadaku yang bergemuruh panas oleh tangisan yang tak kunjung henti."Maaf, Mas. Kami harus melepas alat-alat medisnya sekarang," ucap salah satu perawat pria dengan nada datar tanpa emosi.Tanpa menunggu persetujuanku, dia mulai bekerja. Tangan perawat itu bergerak cepat menarik plester yang menempel di punggung tangan Emak.Sreeet.Suara plester yang ditarik paksa dari kulit keriput itu terdengar nyaring di telingaku.Aku meringis ngilu, seolah kulitku sendiri y

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 134

    Bunyi melengking panjang dari monitor itu memecahkan gendang telingaku. Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada akal sehat.Aku tidak terima.Aku menolak percaya pada garis lurus hijau yang menyala di layar itu.Aku mengguncang bahu Emak dengan kasar. Tubuhnya yang ringkih terguncang-guncang di atas kasur, kepalanya terkulai miring ke kiri dan ke kanan seperti boneka rusak."Jangan bercanda, Mak! Nggak lucu!" teriakku tepat di depan wajahnya. Air liurku muncrat mengenai pipinya yang mulai dingin. "Katanya mau liat Rafli nikah! Katanya mau liat cucu! Bangun, Mak, Rafli mohon banguuunn!"Pintu ruangan tiba-tiba terbuka kasar.Tiga orang berseragam putih, satu dokter dan dua perawat, berlarian masuk dengan wajah tegang. Mereka mendengar alarm flatline dari pos jaga.Perawat laki-laki langsung mencoba menarik tubuhku menjauh dari ranjang. "Minggir, Mas! Kami harus periksa!" bentak perawat itu sambil mencengkeram lengan atasku.Aku menyentakkan tanganku kuat-kuat, melepaskan cengkeramannya,

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 133

    Bukan anak kandung?Berarti selama dua puluh enam tahun ini, wanita yang menyusuiku, yang menggendongku ke sawah, yang memukul pantatku kalau aku bolos ngaji, hanyalah orang titipan?"Mamak ngomong apa? Ngelindur ya?" Tawaku pecah, tawa sumbang yang terdengar menyedihkan dan dipaksakan.Aku menggelengkan kepala cepat, mencoba mengusir kalimat keramat tadi dari kepalaku. Tanganku meraba dahinya yang basah oleh keringat dingin, suhunya rendah sekali."Mak, jangan becanda. Ini bukan waktunya mengatakan hal yang enggak-enggak," ucapku dengan suara bergetar, berusaha terdengar santai tapi gagal total. "Efek obat bius ini pasti. Emak ngantuk kan? Mak, kita pindah ke kamar VVIP ya, Mak, beneran, Rafli sanggup buat bayar semuanya."Emak hanya diam dan menatapku dengan air mata mengalir.Air mata bening menetes dari sudut matanya yang keriput, mengalir turun melewati pelipis dan jatuh ke bantal. Tatapannya begitu putus asa, seolah dia kesakitan bukan karena penyakitnya, tapi karena kebenaran y

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 132

    Aku menolak percaya pada isyarat menyerah itu.Tanganku melepaskan genggaman Shella dengan kasar, lalu aku menerjang pintu kayu berwarna cokelat kusam di depanku.Brak!Suara benturan pintu membuat beberapa penunggu pasien di dalam ruangan menoleh kaget.Bau pengap langsung menyergap wajahku, campuran aroma obat-obatan murah, keringat manusia, dan bau makanan basi yang tertinggal di udara.Ruangan itu sempit, diisi oleh enam tempat tidur besi yang berjejer rapat, hanya dipisahkan oleh tirai kain berwarna hijau pudar yang sudah kumal.Aku tidak peduli dengan tatapan mata orang-orang yang merasa terganggu.Shella tidak ikut masuk. Dia menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Dia berdiri diam, tangannya mencengkeram kusen pintu, matanya menatap nanar ke arah pojok ruangan.Dia tahu ini momen pribadiku.Dia memberikan ruang bagiku untuk menemui surgaku, namun kehadirannya di sana tetap terasa sebagai penjaga yang mengawasi dari kejauhan.Langkahku terhenti tepat di samping ranjang b

  • Dimanja Tiga Majikan Cantik   Bab 131

    "Ayo!"Aku mengulurkan tangan kanan ke dalam, meraih pergelangan tangan Shella tanpa permisi. Aku tidak membiarkannya turun dengan anggun. Aku menariknya keluar dengan sentakan cukup keras sampai tubuhnya terhuyung sedikit saat mendarat di sampingku."Raf! Sabar!" pekik Shella kaget, kakinya nyaris keserimpet.Aku tidak menjawab. Jari-jariku langsung menyelinap di sela-sela jarinya, mencengkeram tangannya erat-erat, sangat erat sampai buku-buku jariku memutih. Aku butuh pegangan. Aku butuh dia."Jangan lepasin. Temenin aku," pintaku parau, mataku menatapnya nanar.Shella melihat kepanikan yang terpampang jelas di wajahku. Dia tidak protes, tidak marah karena ditarik kasar. Dia membalas genggamanku sama kuatnya, lalu mengangguk mantap.Kami berlari kecil menembus pintu otomatis lobi rumah sakit. Suasana di dalam sangat kacau. Orang-orang berlalu-lalang, brankar didorong cepat, suara tangisan anak kecil bersahutan. Aku menerobos kerumunan itu, setengah menyeret Shella di belakangku. Bah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status